
Masih dengan perasaan khawatir, dokter yang menangani Zakia belum ada yang keluar. Hamdan masih duduk di depan ruangan istrinya di rawat, Niko datang memberi air mineral juga roti dan makanan ringan.
" Makanlah dulu juga minum, kami tau perasaan mu tapi kamu harus kuat demi kia. Apakah kau akan menyia-nyiakan pengorbanan nya. Di saat dia bangun nanti aku yakin kia tak ingin melihat mu kacau seperti ini". Niko menasehati sahabatnya yang sedari tadi tak kemasukan sesuatu pun. Kiran membukakan roti juga air mineral ia berikan untuk Hamdan.
Tomi dan Aris menghampiri yang lainnya setelah mendengar kabar baik dari Dokter Azzam. ia menghampiri Hamdan yang masih sangat kusut, ada Kiran di samping sedang merayu Hamdan agar mau makan dan minum.
" bagaimana keadaan kia, belum ada kabar juga". tanya Tomi
" belum". ucap Hamdan singkat padat dan jelas.
Tak lama dokter dari ruangan Zakia keluar, Hamdan langsung berdiri menghampiri dokter.
" bagaimana keadaan istri saya dok". tanya Hamdan antusias.
" Alhamdulillah baik, beruntung istri anda langsung di bawa ke sini jika terlambat mungkin tidak tau apa yang akan terjadi. Kandungan nya juga sangat kuat masih bisa tertolong darahnya sudah langsung berhenti." semuanya merasa sangat lega, Hamdan juga mengulum senyum.
" saya bisa menemui dok". tanya Hamdan yang tidak sabar ingin masuk menemui kia.
" maaf sebenarnya pasien harus istirahat hingga esok pagi, jika pak Hamdan ingin melihat boleh tapi tak lebih dari 10 menit. setelah itu anda harus keluar menunggu di luar, biarkan pasien istirahat total saya memberi nya obat tidur dalam dosis kecil ia akan siuman besok pagi". ucap dokter yang menangani Zakia.
Hamdan lalu pamit kepada teman-temannya untuk masuk. Pilu hati Hamdan saat melihat istrinya yang lemah tak berdaya, semua karena masalahnya kia yang menjadi korban. Hamdan yang hanya bisa memegang tangan kia dan mengecup nya, ia mengingat pesan dokter jika tak boleh menunggu di dalam. demi kesehatan istri dan calon anak nya Hamdan menuruti apa kata dokter ia kemudian keluar ruangan. Zidan mengambilkan baju Hamdan yang masih di dalam koper saat pulang dari Australia koper itu masih berada di mobil karena Hamdan belum pulang ke rumah.
" mandilah Hamdan supaya lebih segar, aku dan teman-teman akan menunggu kia di sini. Badanmu sangat kotor tak baik jika kamu pakai beribadah sedangkan kamu bisa mengganti nya dengan yang lebih bersih". akhirnya Hamdan beranjak berdiri ia mandi kemudian shalat mendoakan istri nya juga Aulia yang telah menolongnya.
Setelah urusannya di kantor beres Rendi langsung menyusul ke rumah sakit, namun ia sudah tak memakai baju dinasnya lagi. Alex sudah berada di balik jeruji besi.
" Bagaimana keadaan semuanya". tanya Rendi ia tau jika Aulia tertusuk dan kia pingsan.
__ADS_1
" Alhamdulillah sudah lebih membaik masih dalam masa pemulihan mereka di perintahkan dokter untuk beristirahat hingga besok". ucap Tomi yang juga duduk bersama temannya.
Malam itu tak ada yang pulang satupun, mereka masih ingin memastikan keadaan keduanya besok pagi.
" Alex sudah di tangani polisi tinggal menunggu keterangan dari korban nanti". ucap Rendi.
" dia Kiran..." tanya Rendi ia sejak tadi mengingat-ingat seseorang yang berada di samping Hamdan. Kiran tersenyum, sebenarnya sejak tadi ia ingat jika itu adalah Rendi kakak kelasnya sahabat Hamdan.
" iya dia adik kesayangan kita". ucap hamdan mengingatkan rendi.
" MasyaAlloh dek kamu jadi gadis yang begitu cantik". ucap Rendi mendekat lalu mengusap kepala Kiran, masih sama sikapnya dari dulu selalu mengusap kepala. Zidan sejak tadi melihat sikap Rendi kepada Kiran, ada rasa cemburu dalam diri Zidan. Namun ia mengingat jika Kiran tumbuh dari panti, semua sahabat Hamdan menyayangi Kiran selayaknya adek.
" kakak keren jadi polisi, sudah lama tak tau kabar kakak". Kiran bersuara, dulu ia juga begitu dekat dengan Rendi.
" masa kakak keren dek dulu berarti ngga". tanya Rendi serius. namun kiran malah terkekeh.
" kak Hamdan cs semuanya keren, kalau sekarang kan lebih berwibawa aja udah pada bisa cari duit". ucap Kiran kembali terkekeh.
" iya kak Alhamdulillah Kiran juga kerja di perusahaan kak Hamdan".
" syukurlah kamu punya tekad buat ngelanjutin kuliah".
" semua berkat kakak-kakak " . Rendi tersenyum kembali ia mengusap kepala Kiran.
" mau..." selalu permen nano-nano yang ada di kantong Rendi itu juga yang mengingatkannya pada Kiran.
" kakak masih suka makan permen ini". Kiran mengambil satu butir permen ia juga rindu permen yang selalu di berikan rendi.
__ADS_1
" iya biar hidup kakak juga jadi nano-nano, saat kakak pendidikan kalau kakak makan permen ini jadi ingat kamu dek. ingat kamu nangis jatuh dari sepeda, ingin rasanya bertemu tapi kakak tak bisa. dengar kabar kalian pun tak bisa, Alhamdulillah ternyata Kiran masih juga di sekitar kita." Kiran tersenyum ia senang.
' ya Allah banyak banget ujiannya, semuanya muda tampan dan banyak cuan. sedangkan aku lebih tua. hiks...' batin Zidan ngenes, ia merasa ada saingan untuk mendapatkan Kiran.
" belajar yang rajin, jika ada perlu langsung hubungi kakak. sekarang kakak di tugaskan di sini kita akan bisa sering bertemu,". Rendi sangat menyayangi Kiran sama halnya dengan Hamdan, tak ada maksud lain selain menganggapnya seorang adik.
" siap kak" Kiran memberi hormat.
Anita memposisikan diri tidur kepalanya ia taruh di pangkuan Niko, Rendi dalam hati bertanya apakah dia pacar Anita atau kakaknya karena Rendi ngga kenal dengan Niko.
" tak usah melihat begitu, mereka suami istri," bentak Aris mengagetkan Rendi, ia mengenal Anita saat dulu menyukai Hamdan namun mereka memang tidak berjodoh.
" jadi Anita juga sudah menikah, aishhhh... akan dapat banyak ponakan deh aku ini". kemudian Rendi menunjuk pada Tomi yang duduk di samping Yara namun tak dekat.
" kalau mereka sedang proses" lalu Rendi menunjuk Aris.
" belum laku hiks..." Rendi tertawa namun pelan karena masih berada di rumah sakit.
" kita sam tos..." ucap Rendi, Aris pun ikut tertawa.
" dia itu siapa..." tanya Rendi mengarahkan matanya pada Zidan.
" itu kakak iparnya Hamdan, namanya zidan ". Rendi hanya ber oh ria. kini ia sudah tau semuanya satu-satu, kedepannya mereka akan saling bersama.
Sudah pukul dua malam semuanya tidur namun, Zidan dan Hamdan tak bisa memejamkan matanya. Kiran tidur sembari duduk di samping kiri Hamdan, kepala kiran akan terjatuh langsung saja Zidan menangkap nya dan Zidan duduk di sebelah kiran ia letak kan kepala Kiran di bahunya.
' maaf ya Allah sedikit saja bukannya aku mau berbuat dosa, tapi ini bentuk pertolongan jika tidak Kiran akan jatuh ' batin Zidan membuat nya tertawa kecil.
__ADS_1
_____
bersambung