
Zidan melajukan mobilnya santai ia tak tergesa-gesa, sampai rumah sakit Zidan mengantar umi dan Abi sampai ruangan kia. Semua sudah di kumpulkan sebelumnya agar mereka tak berbicara atas kejadian yang telah terjadi. Para tetua tak ada yang boleh tau, hanya ibunya Aulia saja yang di beri tahu atas kejadian anaknya. mama Aulia dan papa tak bisa menunggu Aulia di rumah sakit karena ada neneknya yang sudah sakit tua dan tak bisa di tinggal lama di rumahnya, jadilah Yara pihak perempuan yang di amanah kan untuk menjaga Aulia. Sebenarnya Aulia sudah tidak sabar ingin melihat kia tapi belum di izinkan banyak bergerak dulu begitu juga dengan Zakia.
" assalamu'alaikum". salam umi yang baru masuk ruangan kia.
" wa'alaikumsalam, umi..." kia tak sabar memeluk uminya, mata kia berembun.
" anak umi ngga boleh cengeng, beginilah perjuangan menjadi seorang ibu sayang. Nanti akan hilang rasa sakitnya saat ia sudah keluar dalam perut ini melihat dunia." ucap umi yang menguatkan kia. padahal kia menangis bukan karena ia lemah tapi mengingat kejadian yang semalam terjadi.
" iya umi, maafkan kia yang suka buat umi marah."
" umi tak pernah marah, sebelum kia meminta maaf pasti sudah umi maafkan". umi mengusap kepala kia. kia bergelayut manja di lengan uminya.
" sudah punya suami masih manja saja". kia tersenyum malu, rasanya ia rindu apalagi saat ia di seret oleh Alex hanya ibunya yang terngiang di benaknya.
" umi bawakan makanan kesukaan mu, di makan ya sedikit-sedikit saja jika mual". Umi menyiapkan makanan nya sedangkan Hamdan dan Abi duduk didepan mengobrol layaknya anak dan ayah. Zidan ia memilih tidur di karpet yang ada di ruangan Kia, matanya tak sanggup mellek.
_
_
" maafkan mama ya kak, nanti akan Aulia jelaskan pada mama". merasa tak enak dengan Aris, mama nya tak ingin ia jelaskan.
" tidak apa-apa Aulia, orang tua memang selalu senang jika melihat anaknya punya pasangan yang di cintai nya. Katanya kamu di jodohkan, sudah bertemu dengan calonmu." tanya Aris menghidupkan suasana.
" Belum kak, itu baru wacana mama saja. Aulia belum bertemu." ucap Aulia ia memakan buah yang Aris kupaskan.
" Apa kamu tak mau di jodohkan siapa tau yang mama pilihkan untukmu sesuai dengan kriteria kamu".
" bukan tak mau tapi belum saja, Aulia hanya menjawab nanti setelah Aulia selesai menyusun skripsi". terang Aulia.
" oh, sebaiknya katakan dengan jujur kepada orang tua mu agar tak menyakiti perasaan nya". ucap Aris kemudian, hari ini ia izin tak ke kantor menemani Aulia, Yara juga ada di situ namun ia sedang melakukan shalat duha di musola dekat rumah sakit. Tomi yang di tugaskan Hamdan untuk ke kantor bersama Kiran.
" iya kak, Aulia minta maaf sekali".
__ADS_1
" jangan bahas masalah itu lagi tidak apa-apa buat kakak". Aris termasuk orang yang paling sulit menentukan pilihan jodoh, sudah beberapa kali kenal dengan wanita namun ia hanya kagum saja bukan perasaan cinta.
" terima kasih kak sudah menolong Aulia juga menemani Aulia di rumah sakit". kata Aulia sembari memandang mata Aris. mata mereka bertatapan namun Aris membuang wajahnya ia tak mau jika hanya kagum saja untuk kesekian kalinya, apalagi Aulia sudah di jodohkan oleh orang tuanya.
" sudah menjadi tugas saya menolong mu, kamu sudah menolong sahabat ku dan aku sekarang ikut bertanggung jawab atas kesehatan mu." Aulia tersenyum ia kagum dengan Aris, apalagi melihat persahabatan antara mereka sungguh membuat nya kagum.
Yara yang baru saja datang ia tak ingin menganggu dua insan itu, Yara datang langsung duduk di sofa yang berada di ruangan itu. Ruangan VVIP yang dipilih kan Hamdan untuk Aulia juga Zakia.
'tumben Aris sikapnya dan kata-katanya sungguh dewasa, biasanya dia sedikit absurd' monolog yara dalam hati, ia sangat mengenal Aris yang paling sulit menentukan pasangan hidup.
***
Rendi sedang melakukan interogasi kepada para preman yang di bayar Alex untuk menculik kia, satu persatu dari mereka mengatakan hal yang sebenarnya. bahwa mereka memang tidak tau misi dari Alex, mereka hanya di bayar untuk menculik saja. sedangkan di lapas Alex belum mau berkata apapun, ia benar-benar mendalam dendamnya dengan Hamdan.
" Padahal Hamdan tidak melakukan apapun tapi Alex sungguh menyimpan dendam, hingga ia nekat melakukan hal yang justru merugikan dia sendiri". ucap Rendi kepada Tomi yang saat itu ia ke lapas ingin tau lanjutan kasus nya...
" Dendam saat SMA di tambah ia selalu kalah tender dengan Hamdan, Hamdan melakukan nya dengan persaingan sehat bahkan ia mengajak semua perusahaan untuk bekerja sama hanya perusahaan Alex yang tidak mau". jelas Tomi kepada Rendi yang masih bertugas di polres.
" Sudah siuman semua, tapi jika di mintai keterangan ke lapas pasti belum bisa mereka masih sangat lemah juga syok".
" setelah sehat saja kami akan menemuinya untuk menginterogasi.". ucap Rendi memberikan segelas kopi untuk Tomi.
" kamu masih ingat kesukaan ku bro".
" ya iyalah kalian Sahabat ku".
" aku kira dulu kamu melupakan kami, ".
" maaf bukannya melupakan aku melakukan pendidikan dan tak bisa pegang handphone, saat itu handphone ku hilang dan nomer kalian juga hilang." terang Rendi ia merasa bersalah, memang ia tak pernah pulang meski libur ia memilih di sana ada saudaranya karena ia tak ada orang tua. di sini Mr Jack yang menjadi saudara nya.
" oke sekarang kita sudah kembali untuk berkumpul, tak sabar aku untuk kebut-kebutan lagi dengan mu."
" kalian masih suka melakukan itu". Rendi makin membara ia juga merindukan hal itu.
__ADS_1
" iya tapi tak sering seperti dulu, hanya sesekali saja." Tomi melayangkan senyuman termanis nya.
" tak apa lain waktu aku mau ikut". ucap Rendi bersemangat.
" okey".
" tom kapan menikah nampaknya kamu sudah punya calon"
" pinginnya sih cepet tapi belum minta restu orang tua nya". ucap Tomi.
" oke deh semoga cepat dapat restu, kalian ini sudah cepat sekali menikahnya".
" namanya jodoh sudah dekat tak perlu menunggu lama lagi ren". ucap Tomi.
" sama Yara lagi, tak nyangka kamu bisa sama dia. dulu aku kira Hamdan bakalan sama Anita".
" belum jodoh bro, Hamdan juga di jodohkan itu bahkan saat belum lulus kuliah.ia di paksa menikah sama orang tua nya, begitulah setelah kak Hanafi meninggal umma ingin Hamdan cepat menikah. umma nya merasa kesepian karena istri pertama kak Hanafi sudah menikah lagi".
" kak Hanafi apa maksud mu" .
" iya bro kak Hanafi meninggal "
" innalilahi, aku beneran tak tahu kabar itu".
" baca saja kisah nya kak Hanafi di novel sebelumnya judulnya " titip istriku" bagaimana kak hanafi meninggal hingga cerita kami di buat oleh kak Feni penulis nya".
" oke siap aku akan baca, pasti banyak bawangnya hiks..." .
" tak apa menguras emosi hati dikit kok". akhirnya Tomi pamit pulang.
____
bersambung
__ADS_1