
Sudah dua hari Zakia di rawat, ia sudah lumayan membaik kini Zakia menggunakan kursi roda untuk bertemu dengan sahabat nya Aulia. Aulia belum boleh banyak bergerak, Aris masih saja menunggu Aulia entah kenapa perasaan nya terpaku untuk tidak tega meninggalkan Aulia. Baru dua hari saja mereka sudah begitu dekat, Aris tak pernah melewatkan menyuapi Aulia saat makan.
" Zakia gimana keadaan mu..." Aulia yang tau saat Zakia masuk langsung bertanya tanpa memberi jeda Zakia untuk mengucapkan salam.
" Alhamdulillah aku baik Aulia, kamu sendiri bagaimana" tanya Zakia ia mencoba berdiri agar bisa dekat dengan Aulia, Hamdan membantu Zakia hingga ia bisa duduk di tepi ranjang Aulia hingga mereka bisa saling berpelukan.
" hey... kenapa kamu menangis, ibu hamil tak boleh banyak menangis". Aulia menghapus air mata Zakia, ia mengingat pengorbanan Aulia saat Alex akan melukainya bahkan ia mau menggantikan Zakia untuk melayani laki-laki bejat seperti Alex.
" maafkan aku Aulia, karena aku kamu jadi luka begini". kia masih terisak dengan tangisnya, Hamdan keluar dengan Aris ia membiarkan dua wanita itu berbicara tanpa di ganggu oleh mereka.
" tak ada yang perlu di maafkan kia semua sudah takdir, aku berada di situ karena Allah memgirimku untuk melindungi mu". jelas Aulia.
" tapi kamu jadi terluka begini, ".
" tak apa aku akan lebih terluka lagi jika kamu dan calon keponakan ku kenapa-napa. ia baik-baik saja kan". Aulia mengusap perut kia dengan lembut.
" dia kuat Aulia, ia bertahan demi kita semua. semua di sini sangat mengharapkan kehadirannya di dunia." Aulia tersenyum senang.
" begitupun dengan diriku kia, tak sabar aku melihatnya". akhirnya mereka tertawa cekikikan melepas rindu.
" lupakan kejadian kemarin kia, kita fokus saja sama kehamilan mu". walau pun berusaha melupakan tapi tetap saja bagi kia kejadian itu cukup mengerikan.
" sebenarnya aku tak enak dengan kak Aris kia, sudah dua hari ia menunggu ku dan tidak pulang sama sekali".
" kata mama mu kalian..."
" tidak kia mama salah paham, aku tak mengenal kak Aris baru dua hari ini saat ia menungguiku. kamu pasti tau kan semua kehidupan ku kia, tak ada yang aku sembunyikan sedikit pun dari dirimu. mama menjodohkan ku dengan pria anak dari teman papa."
" padahal aku sudah senang jika memang kalian akan menikah". ucap kia.
" kamu kia, ngga mungkin itu".
" tak apa jika mungkin, jodoh tak ada yang tau". sahut Hamdan ketika ia masuk bersama Aris setelah dari luar.
" tidak kak, mama ku salah paham. maaf ya kak Aris atas nama mama, Aulia akan menerima perjodohan itu. Insyaallah ini yang terbaik".
deg
__ADS_1
hati Aris seperti di hujam oleh batu yang tajam ia tak tau kenapa hatinya merasa sakit begini saat dengar kabar Aulia akan menerima perjodohan orang tuanya.
" kamu serius Aulia". tanya kia memastikan.
" iya kia mana pernah soal pribadi aku bercanda padamu". ucap Aulia sembari terkekeh.
" sebelum janur kuning melengkung ris masih bisa ". ucap Hamdan menggoda Aris yang dari tadi diam saja mendengar celotehan Aulia.
" apaan sih ". Hamdan terkekeh melihat sikap Aris, ia yakin jika Aris menaruh rasa dengan Aulia, dua hari cukup untuk mereka memupuk cinta.
" sayang sudah siang sebentar lagi makan siang minum obat lalu istirahat, nanti di marah sama dokter. kita ke sini lagi nanti sore ya, istirahat dulu". ucap Hamdan membantu kia duduk di kursi roda. wajah kia sendu, Aulia mengerti mereka memang masih melepas rindu.
" iya kia kamu boleh tak memikirkan dirimu tapi pikirkan calon anakmu, kamu tak boleh stress dan harus jaga kesehatan". Aulia menasehati sahabatnya.
" ayo sayang sebentar lagi makan siang nya datang". hamdan sudah siap mendorong kursi roda kia untuk masuk ke kamarnya.
Zakia pamit ia melepaskan senyum kepada Aulia.
Aris masih tetap menunggu Aulia, ia berusaha untuk bersikap biasa saja dengan Aulia. Yara pulang sebentar untuk berganti pakaian, orang tua Aulia tidak bisa datang neneknya kambuh lagi. Sama halnya dengan Aris Aulia juga bingung untuk memulai percakapan agar suasana jadi tidak tegang, lamunan mereka buyar ketika suster yang membawa makanan datang.
" biar Aulia saja kak, Aulia bisa sendiri". ketika Aulia ingin mengambil makanan ia merasakan sakit di bekas operasi nya.
" sudah biar kakak saja, lagian ini juga yang terakhir kalinya kakak suapin kamu. kamu diam saja nanti sakit lagi Aulia". pinta Aris kini ia mulai menyuapi Aulia.
" maaf ya kak"
" kenapa minta maaf lagi " Aulia tersenyum.
" besok kamu sudah di perbolehkan pulang, ini terakhir kalinya kakak tungguin kamu. besok-besok tak bisa, sudah ada suamimu nanti bisa-bisa kakak kena bogem". Aulia terkekeh.
" tapi kakak datang ya ke pernikahan aulia, ini undangan khusus resmi langsung dari yang punya hajat". ucap Aulia ia menekankan jika ia benar-benar akan menikah dengan wanita pilihan orang tua nya.
" insyaallah kakak akan datang, ayo habiskan makanannya biar cepet sembuh". hati Aris sedikit tercubit mendengar Aulia akan menikah, baru dua hari saja dekat rasa itu tumbuh dengan sendirinya.
-
" setelah makan dan minum obat istirahat sayang, supaya lekas sehat dan besok bisa pulang" Hamdan mengusap kepala kia ia merasa bersalah karena nya istri nya harus menanggung nya.
__ADS_1
" iya mas, Alhamdulillah besok kia boleh pulang. bagaimana dengan Aulia mas, lukanya apakah bisa dilakukan rawat jalan saja". kia mengkhawatirkan sahabatnya.
" bisa besok juga di perbolehkan pulang, mas akan mengirimkan perawat ke rumah Aulia untuk merawat nya". kia tampak berbinar.
" terimakasih mas, terimakasih banyak".
" untuk apa".
" untuk perhatian mu terhadap sahabat ku".
" sudah seharusnya sayang ia terluka karena melindungi kita". ucap Hamdan sembari menyelimuti istri nya agar istirahat.
" mas juga istirahat, mata mas terlihat sekali kurang istirahat".
" mas tak akan nyenyak tidur tanpa kau peluk". Hamdan bergelayut manja di lengan istri nya yang sudah berbaring.
" mas ini rumah sakit"
" iya mas tau, besok kalau pulang ya mas kangen sama calon anak kita".
" kan tiap hari bertemu ini". kia mengusap perutnya.
" tapi tidak bertatap mas mau tengokin besok malam".
" astaghfirullah mas". Hamdan terkekeh, kia malu ia bersembunyi di bawah selimut.
Di biarkan nya kia istirahat, Zidan datang membawa makan siang yang di bawanya dari rumah. umi yang memasak untuk makan siang Hamdan.
" kia sedang istirahat baru saja ia terlelap". ucap hamdan sembari membuka bekal yang di bawa Zidan.
" umi bawakan bubur sum-sum"
" letakkan saja situ nanti setelah bangun akan ku berikan, ayo makan". ajak Hamdan.
" aku sudah makan tadi di rumah, siapa yang menunggu Aulia".
" ada Aris, pasti dia belum makan. akan aku gantikan tunggu Aulia biar Aris ke sini untuk makan". Zidan berlalu ke ruangan Aulia.
__ADS_1
___
bersambung