MUJAHADAH CINTA ZAKIA HUMAIRA

MUJAHADAH CINTA ZAKIA HUMAIRA
jangan di paksakan, menjalani hubungan jika di paksakan tak akan baik hasilnya


__ADS_3

Dua insan itu saling diam dengan pikirannya masing-masing, Aris pun merutuki ucapannya kenapa dia seolah memaksa Aulia. Aulia pun berfikir kemana hubungan ini nantinya akan berjalan. Kedua orang tua mereka masih membicarakan tentang pernikahan anak-anak nya, bahkan papa nya bahagia bisa berbesanan dengan temannya. Sampai konsep pernikahan sudah mereka bicarakan hingga detail.


" kak, apa kakak mencintai wanita lain". tanya Aulia kemudian, ia tak ingin menyakiti wanita lain dengan adanya perjodohan antara mereka.


" apa kamu pernah melihat kakak dekat dengan wanita lain". Aris balik bertanya.


" kakak suka tebar pesona bersama kak Tomi waktu itu". Aris justru terkekeh.


" jadi selama ini kamu juga memperhatikan kakak". goda Aris kemudian membuat Aulia jadi gugup.


" bukan begitu kak, kakak sewaktu di kampus selalu menggoda wanita". Aris mengusap kepala Aulia, ia tak melakukan nya tanpa sadar terbukti jika Aris menyayangi Aulia.


" kamu itu polos sekali Aulia, aku dan Tomi memang suka tebar pesona tapi itu hanya tebar pesona saja kami tak pernah pacaran bahkan tak ada satu wanita pun yang menarik hati kami. buat kami itu adalah sebuah hiburan agar kami semangat untuk berangkat ke kampus". jelas Aris sembari tertawa.


" terus...".


" sekarang kakak sudah bukan remaja lagi tapi sudah saatnya kakak mencari seorang pendamping, di sini kakak dari lubuk kakak yang paling dalam....". hening sejenak Aris berhenti berucap, Aulia gugup mendengar ucapan Aris lagi.


" bismillahirrahmanirrahim kakak ingin meminang mu menjadi istri kakak". Detak jantung Aris lebih kencang dari sebelumnya, Aulia diam tanpa mengucapkan kata sepatah pun suasana jadi hening kembali.


" jangan di paksakan Aulia, menjalin hubungan jika di paksakan tak akan baik hasilnya. Jangan menerima sesuatu karena terpaksa meskipun itu adalah perjodohan keinginan orang tua mu". Aris menghidupkan suasana lagi.


" apa kakak terpaksa". Aris terhenyak ia menanti jawaban justru Aulia malah memberinya pertanyaan lagi.


" insyaAlloh tidak, jujur selama dua hari kakak menunggu mu di rumah sakit ada hati yang selalu rindu ketika aku di rumah". mulai ya Aris mempraktekkan gombalannya lagi saat dulu suka tebar pesona kini ia di hadapkan dengan kenyataan.


" Aulia menerima kakak". Aris langsung menegakkan tubuhnya, seandainya tak malu mungkin ia akan berteriak sekencang-kencangnya karena bahagia.


" tanpa keterpaksaan"...


" insyaAlloh kak".

__ADS_1


" Alhamdulillah, kalau gitu sekarang kita beritahu sama orang tua kita ya". ia membantu Aulia untuk naik kursi roda yang ada di sebelah ranjang. sebenarnya Aulia sudah bisa berjalan namun tak boelh sering.


" ma kapan pernikahan kita di laksanakan". para tetua langsung menoleh ke arah Aris. Aulia hanya tersenyum saja dengan malu.


" kamu sudah ngebet hmmm..." ucap mama Aris, ia ingat tadi pagi saja Aris menolak perjodohan itu.


" mana ada datang ke rumah calon mertua dengan pakaian preman seperti itu mana celana sobek kesana kemari". papa nya sedang menggoda Aris, Aris hanya nyengir saja ia merutuki kebodohannya.


" maaf pa, Aris minta maaf om Tante". Aulia melihat muka merah Aris terkekeh.


Ya sudah kita bicarakan nanti lagi tadi ke sini niatnya mau jenguk nak Aulia saja, semua sudah setuju sepakat tinggal melancarkan acara sakralnya saja. Aris duduk di depan Aulia ia tak henti memandang wajah Aulia yang manis itu, Aris benar-benar jatuh cinta. kalau di ekspektasi kan ada kupu-kupu yang cantik bertebaran dari hatinya.


***


Hamdan memang belum berangkat ke kantor dari semenjak kejadian, ia ingin melihat istrinya benar-benar pulih. umma sudah menelepon dari kemarin berharap anak dan menantunya lekas pulang umma merasa kesepian, sebenarnya dua hari itu Aisha dan Azzam menginap di rumah Abah agar umma tak menanyakan kia terus. itu rencana Azzam dan Aisha ia menghibur umma dan Abah dengan adanya si kecil. namun tak bisa berlaku lama Azzam harus bekerja dan kasihan juga mama Raisa jika di rumah sendirian.


" sayang besok kita pulang ya, umma sudah telepon sejak tadi". Hamdan yang tidur kepalanya berada di pangkuan kia.


" Alhamdulillah berarti nanti malam bisa ya". Hamdan begitu merindukan istri nya terhitung satu Minggu sudah ia tak ngebunuh syetan.


" insyaAlloh mas, sekarang pun bisa". tantang kia sembari terkekeh.


" beneran nih kamu menantang mas,"


" siapa takut".


" beraninya istriku ini, di sini kamarnya dekat jika ada alunan syahdu nanti kedengaran Abi sama umi, malu sayang". kia terkekeh Hamdan gemas lalu mencubit hidung istri nya yang mancung itu.


" Sayang gimana kuliahmu". harusnya kia sebentar lagi selesai terhitung sudah berada di semester lima.


" tinggal setahun lagi mas, kia lulus. enaknya kerja di mana ya". kia mencoba menggoda suaminya dengan keinginan nya untuk bekerja.

__ADS_1


" apa belum cukup nafkah yang mas berikan hingga kamu mau bekerja, mas mau kamu di rumah saja melayani ku dan merawat anak-anak. anak-anak akan tumbuh dengan baik jika ibu salihahnya ini yang merawat nya langsung. mas mau anak kita selain pintar juga salih dan salihah seperti ibunya". Hamdan duduk mengahadap kia, ia bicara begitu serius. kia tersenyum melihat keseriusan suaminya.


" mas keluar yuk". ajak kia.


" kemana..."


" ke depan kia mau beli sesuatu, pingin rujak juga es krim".


" mas belikan saja sayang tunggu di rumah". pinta Hamdan takut jika istri nya kenapa-napa.


" ngga mau kia mau makan langsung di tempat nya, yuk mas". kia merajuk membuat Hamdan tak tega menolaknya.


" janji tak akan apa-apa nanti, mas ngga mau kamu lelah terus ngga jadi nanti malam". kia tertawa ternyata suaminya masih memikirkan itu saja. mana tahan di hadapkan dengan istri yang sangat cantik.


" iya kia janji kita naik motor saja, punya kak Zidan".


" motor matic Zidan itu, emang masih".


" ya masih itu motor kesayangan kak Zidan tak akan ia jual paling di pakai Abi buat antar umi ke pasar atau pengajian. motor itu kenangan kak Zidan sebelum mas memberi nya banyak fasilitas". ucap kia sembari merapikan gamisnya, memakai jilbab yang lebih besar lalu memakai cadar.


" mas bisa belikan Abi mobil biar bisa antar umi kemanapun"


" mas tak segalanya harus di selesaikan dengan uang, dengan naik motor kita bisa bermesraan. Abi dan umi bisa romantis lagi seperti pengantin baru." kia mengambil tas kecilnya dan memakai kaos kaki siap untuk jalan-jalan.


" kamu ngga apa-apa kepanasan sayang".


" kulitku tak akan hitam atau kebakar mas hanya karena sedikit kepanasan naik motor". Hamdan mengikuti langkah istri nya mencari motor yang di maksud.


______


bersambung

__ADS_1


jangan lupa kasih vote othor sudah beberapa bab up nih.


__ADS_2