
“Kakak dengar gira sedang di rumah mu, dimana gira saat ini” Tanya berend pada via membuat via terbangun dari lamunannya
“Ah gira pergi menemui doctor henzi” jawab via sedikit berbisik di saat nama henzi di sebut
“Oh aku harus menunggunya bukan???”
“Hah apa yang harus kak berend tunggu” Tanya via penasaran
“Tunggu gira”
“Dalam segi apa???”
“Apa maksud dari pertanyaan kamu, kamu tau bukan jika aku masih resmi kekasihnya gira”
“Tapi gira sudah menikah kak, apa kak berend masih mengharapakan gira kembali pada kakak” ucap via setengah berteriak pada berend
“Via bisa urus diri via sendiri, kakak bisa pulang jika ingin pulang karna gira tidak akan pulang lagi kemari, dia pasti sedang bersama doctor henzi saat ini” sambung via sedikit berbisik dan bangun dari duduk nya pergi meninggalkan berend di sofa besar tersebut
Berend terdiam mendengar ucapan via, bukan ucapan namun nada dari ucapan via
(Kenapa via berteriak pada ku??? apa via marah padaku?? Kenapa??) Tanya berend ada dirinya sendiri
Berend terdiam di tempat duduknya hanya bisa melihat kepergian via yang meninggalkannya
Kini berend duduk setengah tidur di sofa via sambil mengacak gaca ponselnya yang tadinya di alihkan ke mode pesawat oleh berend saat dalam perjalanan, sendi sahabat berend yang satu universitas dengan nya menelpon berend sendari tadi, melihat banyak nya pesan dari sendi kini berend menelponya kembali
Berdering…….
“Dimana kamu” teriak sendi tepat di telinga berend, dengan cepat berend menjauhkan ponsel dari telinga nya
(waw dia sangat suka berteriak ) ucap berend sedikit berbisik
“Aku sedang di belanda” jawab berend datar lalu sedikit merebahkan tubuhnya di sofa
“Kamu di belanda???” Tanya sendi lagi meyakinkan jawaban berend
“Iya aku di belanda” ucap berend datar
“Kamu bercanda” teriak sendi lagi
“Berhenti berteriak aku masih bisa mendengar suara mu, aku tidak bercanda saat ini aku sedang berada di belanda” jelas berend pada sahabatnya
“Kenapa kamu di sana, bukannya kamu ada acara besar malam ini” Tanya sendi mengingat acara malam ini saat lah penting untuk perusahaan milik ayah nya berend, tidak itu milik dirinya, dialah yang memulai perusahaan tersebut
Jujur saja sebelum berend kembali ke paris berend meminta sendi untuk mengatur jadwal dirinya di paris karna ingin menyibukkan dirinya dengan bekerja agar bisa sedikit melupakan gira
“Aku minta maaf bisakah kamu membantu ku, ada sesuatu yang harus aku selesaikan di sini aku akan kembali secepatnya tolong bantu aku handel semuanya sebelum aku kembali ke paris”
“Kamu gila mana mungkin aku bisa”
“Kamu bisa, bukannya kamu sudah bersama ku 7 tahun, kamu tau bukan aku tidak akan meninggalkan paris jika ini tidak penting” ucap berend sedikit melembutkan bicaranya
“Apa karna gira mu” Tanya sendi pada berend
Mendengar nama gira di sebut kini berend seketika terdiam
“Benarkah aku kembali karna gira ingin bicara dengan ku, aku juga tidak tau tapi hati ku tidak tenang setelah gira menelpon ku” ucap berend sedikit lirik dan masih bisa di dengar oleh sendi
“Dimana kamu sekarang???? kamu sudah bertemu dengan gira
“Aku sedang di rumah via” jawab berend tanpa beban
“Kenapa kamu disana” Tanya sendi heran
“Via sedang sakit jadi aku ingin melihat keaadanya”
“Bukannya kamu pulang ke paris ingin bertemu dengan gira lalu kenapa sekarang di rumahnya via”tanya sendi heran bukan tidak suka pada via namun sendi heran dengan arah tujuan berend
seorang berend tidak akan mengubah arah tujuannya saat dirinya sudah melangkan lalu kenapa ada di rumah via
“Sudah ku katakan bukan via sedang kurang sehat”
“Dari mana kamu tau via sedang kurang sehat”tanya sendi curiga
“Gira menelpon ku dan memberitahukan ku”
“Ah kamu kembali ke paris karna mendengar kabar tentang via” dengan nada yang sulit di atrikan
“Tidak aku kembali karna gira ingin bertemu dan bicara dengan ku” jawab berend cepat
“Lalu kenapa kamu masih di tempat via saat ini”
“Ah aku dengan gira sedang di rumah sakit jadi aku tidak bisa kesana, aku takut kak henzi mengetahui hubungan ku dengan gira”
“Benarkah kenapa kamu tidak menelponnya, jika kamu benar ingin bertemu dengan gira”
“Kenapa dengan pertanyaan kamu, apa kamu sedang mengigau”
“Tidak aku tapi kamu, kamu pulang ke paris karna gira namun sampai saat ini kamu masih bersama via, apa aku salah”
“Berhenti aku sedang tidak ingin berdebat”
__ADS_1
“Tidak aku hanya bertanya apa kamu pulang ke paris karna via”
“Tidak” jawab berend sedikit berteriak
“kenapa harus via??” Tanya berend
“Aku tidak tau, kamu yang tau kenapa harus via,” ucap sendi pada berend
“Kamu tau sendiri bukan aku sudah menganggap via seperti adik ku sendiri, wajar saja aku khawatir pada dirinya, dan kamu juga tau aku tidak akan jatuh cinta pada via, dimata ku via hanya gadis kecil yang manja” ucap berend sedikit tersenyum
“jangan salah menilai, dari manja bisa saja kamu jatuh cinta” titah sendi pada berend
“Diam” ujar berend sedikit tegas
Tanpa berend sadari seseorang yang mendengar ucapanyaan saat ini sedang terluka, bagaimana tidak via sudah mencintai berend dengan waktu yang sangat lama namun sayangnya berend hanya menggangapnya sebagai seorang gadis kecil yang manja
“Aku tidak mau tau masalah cinta mu, aku hanya ingin selesai kan secepat mungkin dan kembali lah ke paris pekerjaan ku menumpuk karna ulah mu, aku tutup” ucap sendi lalu mematikan ponselnya
“Kenapa dengan anak ini” ucap berend pada dirinya sendiri lalu bangun dari tidurnya
“Aahuw kau mengejutkan ku” ujar berend saat melihat via yang ada di belakangnya
“Kenapa kamu diam di situ” Tanya berend pada via
“Ah kak berend tidak menghubungi gira, mungkin gira bisa bertemu dengan kakak, karna gira sudah pergi ke rumah sakit sejak tadi pagi”
(Pergi lah kak, itu lebih mudah untuk via melupakan kak berend, ini sungguh sakit kak, sangat sakit melihat kakak di sini untuk gira) batin via kini mata via sudah berkaca kaca
“Baik lah aku akan menelponnya” ujar berend lalu via pun bangun dari duduknya karna jika via masih duduk di dekat berend bisa biasa berend melihat via mengangis
“Kamu akan kemana” berend menarik Tanya via sebelum via bisa melangkah kan kakinya menjauh dari berend
“Via ingin ke kamar mandi kak” ujar via namun sayangnya air mata via tidak bisa lagi di tahan tumpah dengan sendirinya
(Biarkan via pergi kak, via tidak bisa menggangap kak berend seperti kakak via, via sudah terlanjur jatuh cinta kak, jika kakak menghentikan via, via takut via akan menjadi jahat mengambil kakak dari gira) batin via dengan pipi yang sudah basah akibat air matanya yang terberjatuhan
“Viiii....” panggil berend lalu berend memberanikan melihat wajah via yang berdiri membelakangi dirinya, betapa terkejutnya berend melihat mata via sudah merah dan wajah cantik via di penuhi dengan air mata
“Viii kenapa kamu mengangis” Tanya berend pada via lalu menarik via hingga kini via jatuh tepat di samping berend
“Kenapa kamu mengangis” Tanya berend panic dengan mengusap ke dua pipi via yang sudah basah
Melihat mata berend yang panic dan khawatir membuat via semakin menangis
“Hey kenapa????” Tanya berend tidak ada jawaban dari via, kini berend menarik via hingga via jatuh ke dalam pelukan berend
Bukan diam kini tangisan via semakin besar
Melihat via mempererat pelukannya tidak menanyakan hal lain kini berend hanya memeluk via dengan erat dan menenggalamkan wajah via pada dada nya
Sunyi yang terdengar hanyalah insakan tangisan via lirik
(Kenapa ini begitu sakit kak, apa kakak tidak bisa mencintai via sebagai seorang wanita, kenapa harus sebagai adik, apa sedikit pun tidak ada rasa untuk via????) batin via di dalam pelukan berend
Setelah via sedikit tenang kini via melepaskan pelukannya
“Kamu sudah tenang” Tanya berend
“Eum...” jawab via sedikit ternyum
“Kenapa via menangis” Tanya berend penasaran yang melihat via tiba tiba menangis
“Eum” jawab via sedikit gugup
“Kenapa via mengangis, siapa yang melakukannya”
“Seseorang yang begitu jahat”
“Siapa????”
“Kak berend akan melalukan apa jika via mengatakan orangnya” Tanya via datar
“Via ingin kakak memukulinya atau membunuhnya” ujar berend sedikit tersenyum dan menatap wajah cantik via
(Kak berend akan membunuh nya, bagaimana jika orang itu adalah kakak, bahkan mendengar kak sakit saja sudah membuat via hancur, bagaimana bisa via melihat orang lain memukuli kakak) batin via saat melihat berend yang sudah menatapnya
(Laki laki mana yang sudah membuat kamu terluka seperti ini viii, jika kakak mengenalnya kak akan memukulinya, beraninya laki laki itu membuat wajah cantik mu basah dengan air mata) batin berend yang tidak sekalipun mengedipkan matanya dari wajah via
“Kak berend sudah menghubungi gira” ujar via akhirnya membuka suaranya
“Ah…. belum aku kan menghubunginya sekarang” jawab berend sedikit gugup
Berdering…..
Melihat nama gira yang tertetera dengan sebutan `sayang❤` membuat via menghembuskan nafas panjang
“Hallo gir….”
“Kak” paanggil gira dengan suara tangisannya membuat berend panik
“Kenapa, kamu baik baik saja, kenapa dengan suaramu kamu menangis” Tanya berend sedikit berteriak dan bangun dari duduknya membuat via terkejut dan juga ikut panic melihat reaksi berend
__ADS_1
“Ada apa kak” Tanya via
“Gir kamu di mana saat ini biar kakak ke sana” Tanya berend khawatir
“Gira tidak tau kak…. Semuanya gelap, bahkan tidak satu orang pun ada di sini” ujar gira dalam tangisnya
“Baik lah kalau begitu kirim kakak lokasi mu saat ini dan jangan kemana mana tetap lah di situ tutut kaca mobil mu dan kunci mobil mu, kamu paham” ucap berend tegas pada gira
“Kenapa dengan gira kak” Tanya via khawatir
“Kakak juga tidak tau viii, yang kakak dengar gira menangis seperti orang ketakutan, kamu tunggu di sini kakak aka jemput gira”
“Tidak vii ikut” ucap via tegas
“Vii kamu masih belum sehat”
“Tapi vii juga khawatir kak, gira adalah sahabat via, via ingin melihat keadaaan gira”
“Baik lah ganti pakaian mu yang lebih tebal, kakak tidak ingin kamu sakit lagi”
“Tunggu” ujar via lalu hilang dari pandangan berend
“Kenapa gira pergi sejauh ini malam bergini” tanya berend pada dirinya sendiri saat melihat lokasi yang di kirimkan oleh gira pada dirinya
“Mari kak” ajak via yang sudah rapi dengan mantel tebal miliknya dan menarik tangan berend untuk keluar dari rumahnya
Setelah hampir satu jam menempuh perjalanan akhirnya berend dan via menemukan mobil milik gira yang berhenti di pinggiran jalan desa wajar saja di sana tidak ada satu pun orang yang lewat karana jalan itu sudah di tutup hanya bererapa orang saja yang lewat untuk melihat kebun bunganya
Berend langsung turun dari mobil nya dan melihat gira di balik kaca mobilnya, dan via juag ikut turun melihat keaadaan gira
Tuk tuk tuk….
“Gira buka ini kakak”
“Kak” panggil gira sat keluar dari mobilnya
“Sayang kamu baik baik saja” Tanya berend pada gira dan memeluk gira dengan erat
Melihat kedua insan itu berpelukan membuat via sedikit sedih namun tidak bisa di hindari jika kedua orang itu sangat berarti bagi via
Via tidak ingin egois hanya karna cinta sepihak membuatnya kehilanggan gira, karna via tau betul jika dirinya jujur tentang hatinya maka tidak mustahil gira akan mundur namun bukan itu yang di ingin kan oleh via, lebih baik via menyimpan perasaan itu
“Gir kamu baik baik saja” Tanya via mengelus punggung gira
Mendengar suara via brend melepaskan pelukaanya
“Viii” kini tangisan gira pecah di dalam pelukan sahabatnya
“Tenang lah aku ada di samping mu eum….” Ujar via dengan tangan megelus elus rambut gira
Setelah gira sedikit lebih tenang, dan gira melepaskan pelukannya
“Mari kita pulang”
“Eum mari”
“Masuk lah ke dalam mobil” ujar berend
Via memapah gira hingga masuk ke dalam mobil berend, berend berlarian kecil untuk membuka pintu mobilnya
“Pulang lah bersama kak berend aku akan bawa pulang mobil kamu”
“Tapi vii”
“Tenang lah aku baik baik saja lagi pulang aku akn mengikuti kalian di belakang”
“Tidak vii kamu harus pulang bersama kami”
“Kak bagaimana dengan mobil gira???” Tanya via melihat mobil gira yang ada di depan mobil berend
“Kita akan kemari lagi besok pagi”
“Tapi ini desa bukan di kota kak, akan sangat bahaya nantinya”
“Kamu harus khawatirkan kesehatan kamu, mobil bisa kita urus besok”ucap berend sedikit berteriak
“Kak ini bukan di drama yang mobilnya bisa aman kita dirikan di mana saja, dan lihat lah jalan ini jika kita mengambilnya tidak tetap waktu maka mereka akan ke susah untuk ke kebunnya, lagi pula aku baik baik saja, pergi lah aku akan ada di belakang kalian”
Mendengar perkataan via berend terdiam
“Gir pergi lah aku kan menyusul di belakang”ucap via lembut dan menutup pintu mobil berend
“Hati hati kak” `tolong jaga gira dengan baik` (tanpa ku suruh pun kakak akan menjaga gira dengan baik) batin via pergi kea rah mobil gira lalu tersenyum pada berend
Sepanjang jalan berend dan gira hanya diam namun tidak dengan mata berend, berend selalu bahkan hampir setiap menit melihat ke arah kaca sepionnya meliihat keberadaan via
“Tidur lah, akan kakak bangun kan jika sudah sampai di rumah via”
“Eum” ujar gira lalu menutup matanya
Melihat itu seulas senyuman terukir di wajah berend namun juga khawatir `kenapa wanitanya menangis apa gira sedang dalam masalah????` Itu lah yang di pikirkan oleh berend
__ADS_1
“Boleh aku membawa kamu pergi jauh gir” kini berend mengenggam tanganya gira