My Little Wife (My Doctor)

My Little Wife (My Doctor)
Kepulangan Via dan berend


__ADS_3

Sepanjang perjalanan via hanya diam, tidak ada satupun perkataan yang keluar dari mulut via, rasa khawatir itu tiba tiba datang dari mana membuat via tidak tenang


“Kamu kenapa sayang” tanya berend menatap via yang hanya dia selama di pesawat


“Kamu baik baik saja” tanya berend lagi memegangg tangan via


“Eum”


Hingga sampai ke amsterdan via juga tidak mengucapkan satu kata pun


Kini berend maupun via sudah sampai di depan rumah via, melihat viia yang menatap kosong pandangan membuat berend menyentuh pipi via


“Ada apa sayang, kakak perhatikan kamu dari tadi sudah tidak bicara”


“Tidak ada kak”


“Jika kamu tidak mau bicara kakak tidak akan mau turun dari mobil, kita akan di sini sampai kamu mau cerita semuanya sama kakak”


Via terdiam begitupun dengan berend hingga beberapa menit sudah berlalu membuat via memberanikan diri untuk bertanya pada berend


“Kak” panggil via memegang tangan berend


“Iya sayang”


“Boleh gak kalau seandainya kita menyembunyikan dulu tentang hubungan kita” ujar via lirih tanpa berani menoleh ke arah berend


Via takut jika keinginannya membuat berend kecewa padanya, namun via juga tidak ingin vino maupun gira salah paham pada dirinya, bagaimana pun vino dan juga gira sama berharganya bagi via


Berend terdiam mendengar ucapan via, ternyata ini alasan via diam selama satu hari ini, berend hanpir gila memikirkan alasan via terdiam salama perjalanan


“Kenapa, kamu malu” tanya berend


“Tidak tidak bukan itu maksud via” ucap via cepat, via khawatir jika berend aan salah paham padam maksudnya


“Jadi kenapa” tanya berend lagi, padahal berend sudah tau pasti alasan via tidak ingin semua orang tau tetang hubunganya


“Beri via waktu untuk mengungkapkan semua ini sama kak vino, via enggak mau kak vino salah faham, via juga enggak mau gira salah paham kak” ujar via tanpa menoleh ke arah


“Sayang ke mari” ujar berend menepuk pahanya dan mendorong sedikit kursi kemudi agar via lebih nyaman


Melihat tindakan berend membuat via ragu ragu untuk nuruti apa yang di perintahkan oleh berend


“Sayang ke marilah” ujar berend lagi menepuk pahanya


Dengan ragu ragu akhirnya via bangun dan duduk di pangkuan berend, via melingkarkan kedua tanganya pada leher beritupun dengan berend, melihat via sudah di pengkuanya berend melingkarkan kedua tanganya di pinggang ramping via


Berend menarik pinggang via hingga kini jarak mereka sangat dekat, bahkan keddua tubuh itu saling berdekatan, via bisa melihat wajahnya berend dengan jarak yang sangat dekat


Berend mencium bibir mungil itu ********** dengan kasar, bibir yang sangat mengoda sendari tadi, di pesawat


Berend tidak paham pada dirinya sendiri, semua hal yang di lakukan oleh via menjadi titik focus baginya, berend tidak paham pada semua yang ada dalam dirinya seolah semua yang bersankutan dengan via menjadi objek yang menarik baginya, bahkan saat ini berend tidak bisa menahan untuk tidak memeluk dan mencium via


Dulu berend juga pernah menjalin hubungan dengan gira maupun dengan wanita lain, namun berend tidak pernah merasa hatinya untuk terus berdekatan dengan wanita lain, berend bahkan bisa melakukan hubungan jarak jauh dengan kekasihnya bertahun tahun, tapi tidak dengan via, berend seolah tidak ingin jauh dari via


Via membalas ciuman berend dengan lembut, berend menghisap bibir via..


Hingga deringan ponsel yang ada di sakunya bergetar membuat via melepaskan ciuman itu…


Angkat dulu kakak mungkin penting” ujar via melihat saku celana berend bergetar


Berend menatap kesal ke arah ponselnya, berend mengambil ponselnya, melihat nama yang ada di layar panggilan itu membuat berend harus menggangkat panggilan itu


Sebelum menganggkat panggilan itu berend menatap via yang kahawatir, lalu berend menarik via hingga via ambruk ke dada berend


Tenang saja, istirahatlah” ujar berend mengelus rambut via yang sedang tertidur di dada berend


*hallo ada apa kak*


*kamu dimana, kamu bersama via* tanya vino langsung pada point


*tidak aku tidak tau dimana via, bahkan via tidak menelpon ku hari ini* jelas berend menatap via yang sudah menatapnya


Berend tersenyum lalu mendartkan ciumanya di dahi via, mendengar itu membuat via sedikit lega jika berend tidak mengakui hubungannya dengan via pada vino, via memeluk berend dengan erat membuat senyum di bibir berend mengembang


*kamu ada dimana sekarang*


*jepang, aku baru lepas landas kak, tapi hanya satu hari disini, mungkin aku akan ke paris besok *


*Baiklah aku tunggu kamu di sini, kita akan pulang Amsterdam sama sama*


*ok see you kak*

__ADS_1


*see you soon*


Berend mamatikan ponselnya dan melihat via yang sudah terlelap dalam mimpinya, melihat itu membuat berend tertawa kecil


“Bagaimana kamu bisa tidur baby di saat aku di kekang olek kakak kamu yang galak” ujar berend lirih, membenarkan posisi rambut yang menghalangi wajah via yang imut


Lalu tiba tiba ponsel berend kembali bergetar membuat berend menarik nafas panjang, berend lalu mengangkat tubuh via untuk membawanmasuk kemarnya agar via bisa tidur dengan nyenyak


Ponsel berend terus bergetar membuat berend kesal pada ponselnya (ini si sendi enggak bisa nunggu ya) batin berend kesal


Setelah mengangkat tubuh via berend membaringkanya di kasur, mendaratkan ciuman di dahi via dan berend langsung keluar dari kamar via untuk mengangkat panggilan dari pria yang paling cerewet


*Hallo*


*Kemana saja kamu, kamu tau aku hampir gila di sini, sebaiknya kamu menyiapkan uang untuk membawa ku ke rumah sakit jiwa agar aku segera ditangani oleh doctor sebelum aku benar benar gila dan memukul kamu hingga kamu tidak bisa berjalan satu langkah pun, darikota paris” teriak sendi membuat berend terpaksa menjauhkan ponselnya dari telinganya


*Maaf* ucap berend menghembuskan nafasnya


Kamu bilang maaf setelah semua kekacau yang sudah kamu buat, dan aku harus menanggung itu semua, kamu gila! Jika kamu ingin aku memaafkan kamu kembali ke paris sekarang* teriak sendi membuat berend menjauhkan kembali ponselnya


*Aku akan kembali besok*


Mendengar ucapan berend membuat emosi sendi sedikit berkurang


*Kamu sedang ada dimana sekarang*


*Aku sedang di jepang*


*Jangan bilang kamu bersama via* beriak sendi lagi


*Tidak aku tidak bersama via*


*Aku tidak percaya itu, tidak ada wanita lain yang bisa membuat kamu pergi meninggalkan acara penting, ini udah kedua kalinya kamu lari dari paris berend*


*Kamu cari tau tentang aku, jangan bilang kamu suruh orang* tanya berend tidak percaya pada sendi


*Aku mau kamu kembali ke paris besok jika tidak aku akan jemput kamu ke Amsterdam besok* ancam sendi mambuat berend kesal


*Aku akan pulang besok, jangan berani kemari* ancam berend *aku tutup*


“Aku tidak percaya dia melakukan ini” ujar berend lalu kembali masuk ke dalam kamar via dan tidur bersama via yang sudah terlelap dari tadi


Sepanjang perjalanan via hanya diam, tidak ada satupun perkataan yang keluar dari mulut via, rasa khawatir itu tiba tiba datang dari mana membuat via tidak tenang


“Kamu kenapa sayang” tanya berend menatap via yang hanya dia selama di pesawat


“Kamu baik baik saja” tanya berend lagi memegangg tangan via


“Eum”


Hingga sampai ke amsterdan via juga tidak mengucapkan satu kata pun


Kini berend maupun via sudah sampai di depan rumah via, melihat viia yang menatap kosong pandangan membuat berend menyentuh pipi via


“Ada apa sayang, kakak perhatikan kamu dari tadi sudah tidak bicara”


“Tidak ada kak”


“Jika kamu tidak mau bicara kakak tidak akan mau turun dari mobil, kita akan di sini sampai kamu mau cerita semuanya sama kakak”


Via terdiam begitupun dengan berend hingga beberapa menit sudah berlalu membuat via memberanikan diri untuk bertanya pada berend


“Kak” panggil via memegang tangan berend


“Iya sayang”


“Boleh gak kalau seandainya kita menyembunyikan dulu tentang hubungan kita” ujar via lirih tanpa berani menoleh ke arah berend


Via takut jika keinginannya membuat berend kecewa padanya, namun via juga tidak ingin vino maupun gira salah paham pada dirinya, bagaimana pun vino dan juga gira sama berharganya bagi via


Berend terdiam mendengar ucapan via, ternyata ini alasan via diam selama satu hari ini, berend hanpir gila memikirkan alasan via terdiam salama perjalanan


“Kenapa, kamu malu” tanya berend


“Tidak tidak bukan itu maksud via” ucap via cepat, via khawatir jika berend aan salah paham padam maksudnya


“Jadi kenapa” tanya berend lagi, padahal berend sudah tau pasti alasan via tidak ingin semua orang tau tetang hubunganya


“Beri via waktu untuk mengungkapkan semua ini sama kak vino, via enggak mau kak vino salah faham, via juga enggak mau gira salah paham kak” ujar via tanpa menoleh ke arah


“Sayang ke mari” ujar berend menepuk pahanya dan mendorong sedikit kursi kemudi agar via lebih nyaman

__ADS_1


Melihat tindakan berend membuat via ragu ragu untuk nuruti apa yang di perintahkan oleh berend


“Sayang ke marilah” ujar berend lagi menepuk pahanya


Dengan ragu ragu akhirnya via bangun dan duduk di pangkuan berend, via melingkarkan kedua tanganya pada leher beritupun dengan berend, melihat via sudah di pengkuanya berend melingkarkan kedua tanganya di pinggang ramping via


Berend menarik pinggang via hingga kini jarak mereka sangat dekat, bahkan keddua tubuh itu saling berdekatan, via bisa melihat wajahnya berend dengan jarak yang sangat dekat


Berend mencium bibir mungil itu ********** dengan kasar, bibir yang sangat mengoda sendari tadi, di pesawat


Berend tidak paham pada dirinya sendiri, semua hal yang di lakukan oleh via menjadi titik focus baginya, berend tidak paham pada semua yang ada dalam dirinya seolah semua yang bersankutan dengan via menjadi objek yang menarik baginya, bahkan saat ini berend tidak bisa menahan untuk tidak memeluk dan mencium via


Dulu berend juga pernah menjalin hubungan dengan gira maupun dengan wanita lain, namun berend tidak pernah merasa hatinya untuk terus berdekatan dengan wanita lain, berend bahkan bisa melakukan hubungan jarak jauh dengan kekasihnya bertahun tahun, tapi tidak dengan via, berend seolah tidak ingin jauh dari via


Via membalas ciuman berend dengan lembut, berend menghisap bibir via..


Hingga deringan ponsel yang ada di sakunya bergetar membuat via melepaskan ciuman itu…


“Angkat dulu kakak mungkin penting” ujar via melihat saku celana berend bergetar


Berend menatap kesal ke arah ponselnya, berend mengambil ponselnya, melihat nama yang ada di layar panggilan itu membuat berend harus menggangkat panggilan itu


Sebelum menganggkat panggilan itu berend menatap via yang kahawatir, lalu berend menarik via hingga via ambruk ke dada berend


“Tenang saja, istirahatlah” ujar berend mengelus rambut via yang sedang tertidur di dada berend


*hallo ada apa kak*


*kamu dimana, kamu bersama via* tanya vino langsung pada point


*tidak aku tidak tau dimana via, bahkan via tidak menelpon ku hari ini* jelas berend menatap via yang sudah menatapnya


Berend tersenyum lalu mendartkan ciumanya di dahi via, mendengar itu membuat via sedikit lega jika berend tidak mengakui hubungannya dengan via pada vino, via memeluk berend dengan erat membuat senyum di bibir berend mengembang


*kamu ada dimana sekarang*


*jepang, aku baru lepas landas kak, tapi hanya satu hari disini, mungkin aku akan ke paris besok *


*Baiklah aku tunggu kamu di sini, kita akan pulang Amsterdam sama sama*


*ok see you kak*


*see you soon*


Berend mamatikan ponselnya dan melihat via yang sudah terlelap dalam mimpinya, melihat itu membuat berend tertawa kecil


“Bagaimana kamu bisa tidur baby di saat aku di kekang olek kakak kamu yang galak” ujar berend lirih, membenarkan posisi rambut yang menghalangi wajah via yang imut


Lalu tiba tiba ponsel berend kembali bergetar membuat berend menarik nafas panjang, berend lalu mengangkat tubuh via untuk membawanmasuk kemarnya agar via bisa tidur dengan nyenyak


Ponsel berend terus bergetar membuat berend kesal pada ponselnya (ini si sendi enggak bisa nunggu ya) batin berend kesal


Setelah mengangkat tubuh via berend membaringkanya di kasur, mendaratkan ciuman di dahi via dan berend langsung keluar dari kamar via untuk mengangkat panggilan dari pria yang paling cerewet


*Hallo*


*Kemana saja kamu, kamu tau aku hampir gila di sini, sebaiknya kamu menyiapkan uang untuk membawa ku ke rumah sakit jiwa agar aku segera ditangani oleh doctor sebelum aku benar benar gila dan memukul kamu hingga kamu tidak bisa berjalan satu langkah pun, darikota paris” teriak sendi membuat berend terpaksa menjauhkan ponselnya dari telinganya


*Maaf* ucap berend menghembuskan nafasnya


Kamu bilang maaf setelah semua kekacau yang sudah kamu buat, dan aku harus menanggung itu semua, kamu gila! Jika kamu ingin aku memaafkan kamu kembali ke paris sekarang* teriak sendi membuat berend menjauhkan kembali ponselnya


*Aku akan kembali besok*


Mendengar ucapan berend membuat emosi sendi sedikit berkurang


*Kamu sedang ada dimana sekarang*


*Aku sedang di jepang*


*Jangan bilang kamu bersama via* beriak sendi lagi


*Tidak aku tidak bersama via*


*Aku tidak percaya itu, tidak ada wanita lain yang bisa membuat kamu pergi meninggalkan acara penting, ini udah kedua kalinya kamu lari dari paris berend*


*Kamu cari tau tentang aku, jangan bilang kamu suruh orang* tanya berend tidak percaya pada sendi


*Aku mau kamu kembali ke paris besok jika tidak aku akan jemput kamu ke Amsterdam besok* ancam sendi mambuat berend kesal


*Aku akan pulang besok, jangan berani kemari* ancam berend *aku tutup*

__ADS_1


“Aku tidak percaya dia melakukan ini” ujar berend lalu kembali masuk ke dalam kamar via dan tidur bersama via yang sudah terlelap dari tadi


__ADS_2