
Gira memeluk sahabatnya dengan erat, menumpahkan semua kesedihannya di pundak sahabatnya air mata gira berjatuhan seperti hujan yang membasahi bumi, entah itu hujan maupun air mata kini pundak via sudah bahas akibat air tersebut…..
Setelah sedikit tenang kini gira melepaskan pelukannya
“Kamu baik baik saja gir…..” Tanya via dengan tangannya yang membasuh wajah gira yang sudah basah
“Euuummmm….”
Kini dengan tangan yang gemetaran dan air mata yang terus berjatuhan gira mengambil ponselnya yang ada di dalam tasnya… sesekali gira melihat henzi yang tersenyum pada wanita yang kini menjadi lawan bicaranya…..
Senyuman itu, senyuman yang dulu di berikan henzi untuk gira kini sudah menjadi milik orang lain…..
Sangat sakit saat ini melihat henzi tersenyum pada wanita lain….
Bagaimana gira bisa bertahan pada henzi jika saat ini henzi memberikan semua yang ada pada dirinya untuk wanita lain dan wanita itu bukanlah dirinya….
Kini ponsel yang gira pegang jatuh dari genggamannya, saat melihat doctor henzi mengelus elus lembut pipi milik wanita tersebut….
Melihat ponsel gira jatuh via langsung mengambilnya
“Girr….” Kini via memberikan kembali ponsel gira ynag jatuh karna ulah doctor henzi
Gira mengambi ponsel tersebut dan tersenyum pada via
Gira menghubungi henzi dan sayangnya panggilan tersebut tidak di respond oleh henzi padahal gira melihatnya dengan jelas jika ponsel henzi ada di sampingnya
Berulang kali gira menghubungi henzi namun tidak ada jawaban dari henzi….
`` Apa gira tidak penting lagi di dalam hati doctor??? Apa sangat susah menjawab panggilan dari gira???? Apa gira begitu menggangu waktu doctor dengan wanita tersebut???? `` tanyaa gira pada dirinya saat melihat henzi tidak menjawab panggilannya
“Mari kita pulang vi, aku ingin istirahat” ujar gira yang menghapus air matanya yang ada di wajahnya lalu bersender di kursi dan menutup matanya
“Eumh” via meniyakan ajakan gira dan melihat gira yang sudah sedikit tenang, via tau bagaimana keadaan sahabatnya saat ini
Mobil via melaju dengan kecepatan rata, mata via sesekali melirik gira yang hanya terdiam dengan pandangan yang kosong, hingga kini mobil tersebut sudah berada di depan rumah milik via…..
“Girrr” panggil via membangunkan gira yang masih larut dalam lamunannya
“Eum” ucap gira sedikit terkejut melihat via lalu beralih melihat pemandangan yang ada di sekitarnya
“Kita sudah sampai???” ujar via
“Euum mari masuk” ucap gira yang melepaskan seatbeltnya
“Girrr kamu baik baik saja” itu pertanyaan yang konyol yang via lontarkan untuk gira saat ini, bagaimana bisa dirinya bertanya demikian
“Eummm aku baik baik saja, mari masuk” jelas gira tersenyum pada via
Kini via dan gira masuk ke dalam kamar dan via ingin merebahkan dirinya ke atas kasur besar tersebut saat melihat gira yang sudah merebahkan tubuhnya, namun tiba tiba ponsel via berbunyi…
“Gir” panggil via saat melihat siapa yang menelpon dirinya
“Ada apa” Tanya gira membuka matanya dan melihat panggilan di layar ponsel via
“Doctor henzi menelpon ku” jelas via
“Ponsel ku mati sebab itu doctor henzi menelpon mu, sebaiknya kamu menjawa panggilan tersebut” jelas gira yang tak acuh terhadap panggilan tersebut
“Kamu saja, jelas jelas doctor henzi menelponku karna kamu, jawab lah” ujar via memberikan ponsel tersebut
“Baik lah kemarikan” titah gira lalu mejawab panggilan tersebut dan menekan speaker
“Hallo doc” sapa gira lembut namun hatinya masih sakit
“Iya sayang ada apa kamu menelpon ku” terdengar suara doctor henzi di balik ponsel tersebut
“Ah tidak gira hanya ingin tau doctor ada dimana sekarang??” Tanya gira lembut
“Di rumah sakit” jawab henzi berbohong pada gira
Menedengar jawaban dari henzi membuat gira sedih, tidak dengan via dirinya sangat kesal pada henzi saat ini namun dirinya tidak bisa masuk campur ke dalam hubungan rumah tangga sahabatnya
__ADS_1
“Apa yang doctor lakukan” Tanya gira lagi
“Aku baru saja melalukan operasi pada pasien” jawab henzi dan itu adalah kebohongan
“Eum baik lah, gira akan tidur di tempat via malam ini???” jelas gira sedikit gemetaran
“Baik lah sayang tidur lah aku akan melihat pasien, aku tutup” jelas henzi
Lalu panggilan tersebut terputus dan gira memberikan ponsel tersebut pada via
“Hanya itu” Tanya via
“Eum hanya ini” jawab gira sedikit tersenyum menampakan gigi putihnya yang tertera rapi
“Waw doctor henzi benar benar berubah” ujar via sediki kesal
“Kamu juga merasakanya???” Tanya gira
“Tentu dulu saat kalian berpisah 2 hari saja doctor henzi merengek seperti anak kecil meminta kamu untuk pulang menemaninya tidur, tapi sekarang kalian bahkan hampir berpisah 1 mingu namun ini saja reaksinya” jelas via
“Aku sudah membuat keputusan vi” ujar gira sedikit menahan sesak di hatinya
“Apa itu” Tanya via dengan nanda yang sedikit acuh akibat kesal pada henzi
“Aku akan bercerai” jelas gira
“What” teriak via terkejut dengan uapan gira
Mendengar nada terkejut dari via gira hanya tersenyum, dirinya tau via akan terkejut atas apa yang di katan oleh dirinya barusan
“Kamu bercanda bukan” Tanya via sedikit menyelidiki ucapan gira barusan
“Aku juga ingin bercanda vi, namun ini adalah kenyataannya dan aku harus melepaskan doctor henzi” jelas gira lemas dengan menyimpan semua emosinya
“Tapi gir, bukannya kamu mencintai doctor henzi” Tanya via pada gira dengan meneyentuh tangan gira
“Tapi aku tidak ingin bersama laki laki yang tidak mencintai ku vii, aku harus melepaskan doctor henzi karna kebahagian doctor henzi tidak ada pada ku melain kan wanita lain” kini air mata gira terus berjatuhan saat menyebut jika kebahagian henzi bukan lah dirinya
“Aku tau ini pasti berat untuk kamu gir” ucap via di balik peluka mereka
“Kamu akan bersama ku buka” Tanya gira khawatir, jika bukan via siapa lagi yang akan bersama dengan nya
“Tentu aku akan selalu ada bersamamu, apa pun keadaan mu” ujar via juga ikut larut dalam kesedihan sabahatnya
“Meskipun nantiinya aku terluka, menangis dan aku juga…” ucapan gira terputusankan karna jawaban via
“Apapun keadaan kamu aku akan selalu ada untuk kamu girr” ujar via lembut, melepaskan pelukannya dan kembali memeluk gira
“Terima kasih vii”
“Apa pun keputusan kamu akau akan dukung kamu, kita akan selalu dan selamanya bersama bukan” ujar via
“Eum bersama”
“Kamu sudah membicarakan dengan tante dan nenek???” Tanya via lembut, via tidak ingin gira terluka karna ucapannya karna saat ini hati gira sangat sensitif
“Belum vi, kamu yang pertama aku beritahu” jawab gira sedikit khawatir
“Baik lah mari sama sama kita lewati ini” jelas via
“Maksih vi kamu selalu ada di samping aku” ujar gira berterima kasih pada sahabatnya yang selalu ada di samping gira dalam keadaan apapun dan bagaimana pun keadaan mental gira via selalu ada di sampingnya
“Sudh lah jangan mennagis lagi, aku juga ikut menangis gara gara kamu” ujar via mengajak bercanda sahabatnya
“Maaf” ucap gira
Kruk kruk kruk…… bunyi suara perut via membuat gira tertawa dengan sangat keras
“Suara apa itu” Tanya gira
“Sepertinya cacing ku kelaparan” jelas via
__ADS_1
“Kamu belum makan siang” Tanya gira mengingat kejadian yang menyedihkan tadi siang
“Eum” jawab via sedikit memanyungkan bibirnya
“Maafkan aku gara gara aku kamu tidak jadi membeli makan” ucap gira sedikit merasa bersalah
“Tidak masalah berhenti bersedih bisakah kamu memasak makanan buat diriku sepertinya cacing ku sangat ke laparan” titah via tersenyum
“Baik lah kemari”
“Ayo kita makan cacing” ujar via menegelus perutnya membuat gira tertawa kembali
🌿🌿🌿
Via bangun dari tidurnya melihat gira sudah tidak ada di dekatnya dan melihat jam sudah menunjukan 11 siang……
“Kamu sudah bangun putri tidur” ucap gira yang baru saj keluar dari kamar mandi dan duduk di meja rias
“Kamu ingin kemana sudah rapi???” Tanya via penasaran melihat gira yang sudah rapi dengan pakaiannya
“Aku ingin bertemu dengan seseorang” jawab gira sedikit tersenyum
“Siapa” Tanya via melihat gira tersenyum melalui pantulan cermin, sungguh membuat via curiga
“Jika ingin tau bagaimana jika kamu bangun dan mandi” ujar gira
“Kenapa aku harus pergi”
“Bangun lah cepat, kita bisa telat ke sana” titah gira yang menarik selimut milik via
“Kamu ingin bertemu dengan siapa, jujur pada ku” Tanya via sedikit curiga
“Seseorang teman” jawab gira
“Teman????” ujar via dengan mata yang menatap tanjam kea rah gira
“Cepat lah”
“Pria atau wanita” Tanya via lagi sebelum beranjak dari tempat tidurnya
“Pria”
“Tampan???”
“Eum sangat tampan kamu akan menyukainnya dan sedikit membencinya” ujar gira sedikit lirih
“Siapa pria itu????” Tanya via sedikit curiga
“Pergi lah berpakain jika kamu ingin tau, cepat!!!!” teriak gira membuat via langsung bangun dari duduknya
“Baik lah tuan putri”
Setegah gira dan via juga berkemas dan kini mereka masuk ke dalam sebuah mall dan duduk di sebuah restorant menunggu seseorang…
“Kamu ingin bertemu dengan siapa???
Kenapa sangat lama dia datangnya” oceh via sat mereka sedang menunggu seorang teman yang di sebut oleh gira
“Tunggu lah sebentar lagi”
“Aku sudah lapar” rengek via pada gira
“Tunggu sebentar lagi”
“Shhhh” kini via benar benar kesal pada pria tersebut bagaimana bisa dirinya harus menunggu sedangkan makan sudah ada di depannya saat ini membuat perut via keroncongan
Kini saat ini mata dan wajah via benar benar tidak bisa di aja bicara kini via memberikan tatapan tajam pada sahabatnya
“Hilangkan wajah cemberut mu itu” ujar gira tersenyum “Itu sudah datang” sambung gira lagi
“Hey ledies” sapa pria tersebut
__ADS_1
“Doctor vino” ucap via saat melihat vino kini ada di depannya