
“Minum lah pak berend” ucap nessa saat pelayan membawakan berend minuman
“Panggil berend saja buk karna kita di luar kantor” ujar berend pada nessa mengingat saat ini dirinya buka sedang dalam suasana di perusahaan
Berend datang ke rumah nessa untuk mengambil beberapa berkas yang harus di tanda tangi oleh berend karna mereka sudah membuat janji di paris karna urusan hati berend maka janji tersebut tertunda hingga akhirnya berend sendiri datang ke rumah nessa….
Nessa sudah hampir 1 tahun bekerja sama dengan perusahaan berend, nmun berend tidak tau jika nessa adalah wanita yang melahirkah wanita yang di cintai oleh berend
“Kalau begitu jangan panggil buk panggil tante saja” ucap nessa tersenyum pada berend
“Baik Terima kasih minumannya” titah beerend meminum minuman yang sudah di sediakan oleh pelayan
“Kamu sudah lama tinggal di sini” Tanya nenek yang baru saja tiba di ruangan keluarga mereka
“Tidak baru beberapa minggu” jawab berend ramah
“Saya dengan kamu sempat kembali ke paris namun kamu balik lagi kemari” Tanya nessa penasaran karna harusnya berkas ini di tanda tangani oleh berend saat acara di paris, namun berend tidak datang saat malam tersebut
“Iya, kebetulan ada urusan pribadi” jawab berend tersenyum mengingat dirinya langsung pulang ke belanda setelah dapat kabar dari gira
“Saya sudah tanda tangan surat ini, semoga bisnis ini berjalan dengan lancar” ujar nessa pada berend dengan berjabat tanga
“Tentu saja, saya juga berharap begitu, terima kasih sekali lagi sudah bekerja sama dengan perusahaan kami” ucap berend tersenyum
“Eum baik lah jika begitu sama pamit pulang” ucap berend ingin pergi
“Tidak jangan pulang dulu, mari kita makan malam bersama” tegas nenek meminta berend untuk menetap
“Tidak perlu nek, lagi pula rumah saya dekat dari sini” ujar berend lembut merasa tidak enak harus makan malam karna tujuannya ke rumah ini hanya untuk berkas
“Tidak jangan pulang dulu lagi pula pelayan memasak makan yang sangat banyak malam ini karna itu makan lah bersama kami” jelas nenek ramah pada berend
“Benar nak berend makan lah di sisni lagi pula saya ingin memperkenalkan putri saya” ujar nessa ramah pada berend
“Baik lah”
“Nak berend orang paris” Tanya nenek pada berend
“Tidak nenek saja orang belanda namun karna papa saya punya bisnis di sana jadi kami lebih sering di sana” jelas berend pada nenek
“Kapan mereka akan sampai???” tanya nenek pada nessa
“Sepertinya sebentar lagi” jelas nessa
“Nek kami pulang” teriak via seperti biasa nya saat dirinya sampai di rumah neneknya
“Mereka sudah sampai” ujar nenek mendengar teriak via mebuatnya tersenyum
“Kemari lah” ujar nenek tersenyum menantika cucu cucunya pulang
“Kak berend” ucap via dan gira bersamaan saat melihat berend ada di ruang keluarga saat ini
“Gira, via” ucap berend tidak kalah terkejutnya
Hati berend berdetak lebih cepat entah apa sebabnya berend juga tidak tau atau sebenarnya dirinya belum melupakan gira…..
“Kenapa kakak di sini” Tanya gira pada berend
“Ada urusan pekerjaan, kamu?” tanya berend balik melihat gira dan via bergantian
“Ini rumah nenek gira” jawab gira membuat berend terkejut dan kini pandangan berend beralih ke arah nenek dan juga nessa
“Nenek” Tanya berend meyakinkan apa yang di dengarnya
“Eum nenek gira dan via” ujar gira menunjukan ke arah via yang berdiri di dekatnya
“Nak berend sudah kenal dengan gira dan via??” Tanya nessa heran melihat mereka sudah saling kenal
“Kenal” jawab berend singkat lalu melihat gira dan via bergantian
“Mama kenal kak berend” tanay gira pada nessa yang ebrsiri di dekat berend
“Mama?” Tanya berend dengan terkejut jika nessa adalah mama gira
“Iya kenali kak ini mama gira, mam kenalin ini kakak berend, kak berend ini ma….”
Ucapan gira terhentikan saat berend langsung mengangkat suara
“Sepupu doctor henzi” jawab berend cepat, karna dirinya tidak ingin gira mengatakan hubungan yang sebenarnya pada orang tua gira
Nenek dan nessa seolah terkejut mendengar ucapa berend saat ini…..
“Kamu sepupunya doctor henzi” Tanya nessa
“Eum saya sepupunya kak henzi”
“Lihat lah dunia ini sangat kecil” ujar nenek tersenyum “kamu putranya veric yang tinggal di paris” ucap nenek pada berend
“Iya nek”
“Kamu sudah besar rupanya” ujar nenek pada berend
“Mama kenal papanya berend??” Tanya nessa lebih terkejut lagi, karna saat pernikahan gira nessa bahkan tidak melihat berend dan keluarganya
“Neneknya sering cerita namun mama juga tidak terlalu kenal sama papanya, saat muda papanya berend yang paling tampan, tidak beda dengan putra nya” jelas nenek tersenyum melihat berend
“Nek berhenti memuji kak berend lihat lah wajahnya sampai merah begitu” titah gira
Via hanya tersenyum melihat berend begitu dekat dengan keluarga nya. Tiba tiba pikiran bodoh terbesit di pikiran via, akan kah gira dan kak berend akan bersama kembali……..
“Apa kamu akan selalu berteriak saat masuk ke dalam rumah” ujar nenek lalu memukul bahu via yang melamun membuat via berteriak kesakitan
“Aawww sakit nek” ucap via kesakitan dengan mengelus elus bekas pukulan nenek
“Kamu akan berteriak lagi” Tanya nenek pada via
“Tidak akan” ujar via “Lalu kenapa nenek tidak menunggu cucu cantik nenek pulang” ujar via lalu lari ke belakang gira karna jika tidak dirinya akan di pukul habis habisan oleh neneknya
“Apa kamu bilang, kemarilah ingin sekali nenek mengcubit mulut kamu” ucap nenek bangun dari duduknya
__ADS_1
Berend dan gira hanya tersenyum melihat kelakuan via saat ini, nessa benar benar tidak abis pikir dengan keponaknya itu
“Maaf” ujar via lalu pergi memeluk neneknya
“Bagaimana kabar nenek, nenek baik baik saja buka” ucap via di balik pelukannya
“Nenek baik baik saja” ucap nenek membalas kedua pelukan cucunya yang sedang memeluk nenek saat ini
“Sudah sudah mari makan malam” ujar nessa yang melihat kedua putrinya bermanja manja
“Mari via sangat lapar” ucap via
“Kamu selalu kelaparan” ujar nenek pada via
Seisi ruangan tertawa melihat nenek membalas ucapan via......
“Benar nek via selalu ke laparan” sambung gira
“Tidak” bantah via cepat
“Sudah sudah mari duduk nak berend” ujar nenek
Gira dan via duduk berdekatan dengan nenek dan kini berend duduk di samping via yang berhadapan dengan nessa
“Makan lah yang banyak kak” ujar via berbisik pada berend, melihat itu berend hanya tersenyum
Setelah acara makan malam kini berend dan keluarga gira duduk kembali di ruangan keluarga…
Awalnya berend ingin langsung pamit namun tidak semudah itu berend harus mengadapi kedua wanita tersebut, gira dan via sudah siap untuk berdiri didepan berend di tambah ddengan tatapan tajam dari via membuat berend memundurkan dua langkahnya
“Gir” panggil nessa saat mereka sudah ada di ruanga keluarga untuk memakan cemilan dan berbincang bincang
“Iya mama”
“Nenek sudah tau semuanya, tentang hubungan kamu dengan henzi” ucap nessa lirih membuat gira dan via terkejut begitu pun denga berend
“Mam” panggil gira
“Tidak masalah” jawab nenek melihat cucunya khawatir
“Nek maafkan gira” ucap gira mersa bersalah pada neneknya
“Tidak masalah lagi pula ini bukan salah kamu semua ini karna nenek, maafkan nenek sayang nenek sudah buat kamu menderita”
“Tidak ini bukan salah nenek, nenek sudah melakukan yang terbaik untuk gira” ujar gira lalu memeluk neneknya
“Nenek kak berend sudah tau semuanya” ujar via membuat nenek dan nessa terkejut
“Nak berend tau” Tanya nessa
“Iya ma, nek kakak berend sudah tau semuannya” tegas gira lagi membuat nenek dan nessa kebinggungan
“Bagaimana bisa, kalian sedekat itu” Tanya nessa pada via dan gira dan kini tatapan nessa berhenti pada via
“Eum mam, gira dan via sudah duluan dekat dengan kak berend dari pada doctor henzi” jawab via lirih sedikit gugup karna takut
Kini semua mata tertuju pada via begitu juga dengan berend, berend khawatir jika via akan mengatakan yang sebebnarnya tentang hubungan dirinya dengan gira….
Melihat semua tatapan tertuju pada via kini via mulai gugup, di tambah dengan tatatpan berend yang sangat dekat dengan via saat ini membuat via semakin gugup di buatnya, saat ini semua orang menunggu jawaban dari via
“Mantan kekasih via kebetulan sahabat kek berend” ujar via tanpa berfikir panjang
“Sebab itu kami dekat dengan kakak berend” sambung via lirih
Semua orang terkejut begitu pun dengan berend. Berend menapat via tidak percaya, entah mengapa hati berend sakit mendegar jika via pernah menjadi kekasih sahabat berend
Melihat kebodohan via gira hanya bisa tersenyum ….
Melihat mata curiga milik neneknya via langsung menundukan wajahnya….
“Maaf” ujar via lirik
“Sekarang kalian sudah putus” Tanya nessa pad via
“Eum” jawab via lesu saat melihat tatapan tajam dari neneknya
(Asssiiiaaalll jika nenek tau ini kebohongan aku bisa mati sebelum waktunya) batin via tertekan (Bagaimana bisa aku masuk dalam kandangan harimau sebelum waktunya)
“Pasti karna sifat kamu yang keras kepala” ujar nenek menjailin
“Nekkk” rengek via melihat neneknya menjalin dirinya, membuat semua orang tertawa
“Nenek dengar kalian akan pergi” Tanya nenek pada gira
“Iya nek gira akan pergi untuk sememntara waktu, sampai papa sedikit lebih tenang” jelas gira pada neneknya yang maish di dalam pelukan neneknya
Via yang duduk bersampingan dengan berend ikut sedih mendengar ucapan gira bagaimana tidak gira harus berkorban masa depannya hanya karna ke egoisan papanya…
Via bangun dari duduknya dan duduk di sebelah kanan neneknya via juga memeluk nenek dan gira bersamaan, melihat itu nessa sungguh terharu ketika kedua putrinya saling menguatkan
Meskipun via bukan lahir dari ramihnya nessa namun nessa sudah mengganggap via sebagai putri, begitupun dengan via meskipun dari kecil tidak pernah merasakan kaksih sayang yang tulus dari mama dan papanya setidaknya saat ini nessa sudah menjadi mama nya via….
“Kemana kalian akan pergi” tanya nessa memecahkan suasana sunyi dan pilu tersebut
“Paris” jawab gira singkat melihat berend yanag tersenyum padanya
“Paris!!!” Tanya nessa meyakinkan jawaban putrinya
“Tapi sayang mama khawatir papa akan menemukan kamu di sana” ujar nessa khawatir jika suaminya bertemu dengan putrinya
“Taante dan nenek tanang saja saya akan menjaga gira disana” jawab berend membuat nenek dan nessa terkejut
“Berend, kamu juga ikut” Tanya nessa terkejut pada berend
“Mama kak berend akan jada gira dan via di sana mama tenang saja”
“Kebetulan di sana ada rumah peninggalan nenek saya jadi via dan gira bisa tinggal di sana” jelas berend pada nessa dan juga nenek
“Saya yakin tidak ada yang tau jika gira dan via akan tinggal di sana, karna yang mereka tau kami tidak sedekat itu” sambung berend meyakin kan nessa dan nenek
__ADS_1
“Baik lah jika begitu, tolong jaga kedua putri saya nak berend”
“Kapan kalian akan berangkat??” Tanya nenk pada gira dan via yang masih betah bersender pada bahunya
“3 hari lagi” jawab gira lesu
“Kenapa sangat cepat” Tanya nessa terkejut
“Gira berfikir lebih cepat lebih baik nek, saat ini semuanya sedang kacau bukan??” ujar via tersenyum pada neneknya
“Jika itu yang terbaik untuk kalian, nenek dukung kalian”
“Terima kasih nek” ujar gira lembut
Setalah berbinsang bincang kini gira, via maupun berend pun pulang…
“Terima kasih makan malamnya dan juga waktunya” ucap berend berterima kasih pada semua orang
“Sama sama nak berend, hati hati di jalan” ucap nessa
“Baik, lah saya pamit” ujar berend lalu mundur selangkah menunggu gira dan juga via
“Nek gira dan via juga pamit” ucap gira bersamaan dengan via dan mencium serta memeluk neneknya dan juga mamanya
“Kalian tidak nginap disini” Tanya nessa
“Tidak mam”
“Baik lah nati hati”
Setelah gira dan via mencium nenek dan mamanya kini mereka juga pamit kedua mobil itu pun meninggalkan kediaman rumah nenek…..
🌿🌿🌿
“Gir kamu ingin kemana??” panggil via saat gira sudah keluar dari kamar mandi
“Kak berend ingin bertemu dengan ku” ujar gira yang sudah rapi
“Ah, bisa kita bicara sebentar” Tanya via yang masih betah di kasurnya
“Ada apa, apa ada masalah??” Tanya gira khawatir
“Tidak ada, kemari lah” ucap via lalu menepuk nepuk kasurnya
“Ada apa putri tidur” Tanya gira tersenyum
“Girr maafkan aku” jelas via merasa bersalah
“Kenapa kamu tiba tiba minta maaf” Tanya gira khawatir
“Sepertinya aku tidak bisa ikut dengan mu ke paris” ucap via sedikit lirih
“Kenapa???” Tanya gira sedih mendengar jawaban dari via
“Sepertinya aku tidak bisa ikut gir, karna aku ingin mencari mama ku girr” ujar via lembut memegang tangan gira
“Bagaimana jika aku membantu kamu mencari mama kamu” Tanya gira tersenyum
“Tidak gir aku tidak ingin merepotkan kamu, jika nenek sampai tau nenek pasti akan sangat marah” jelas via yang takut akan kebohongannya
“Tapi vii aku tidak bisa membiarkan kamu pergi sendirian”
“Gir kamu percaya bukan pada ku, jika kita pergi bersama, nenek akan tau” ucap via tersenyum meyakinkan gira
“Vii” panggil gira
“Tenang saja aku akan sering menghubungi kamu” ucap via lagi meyakinkan gira
“Kamu yakin” Tanya gira
“Aku yakin, maafkan aku, aku tidak bisa bersama kamu saat di paris” ujar via merasa bersalah melihat gira sudah memesankan tiket dan juga semua persiapan telah disiapkan untuk dirinya
“Padahal aku ingin kamu ke paris bersama ku” ujar gira sedikit kecewa
“Aku juga ingin, namun aku harus mencari mama gir, kemarin pesan yang ku kirim terbaca, aku yakin mama ku masih hidup” ucap via berbohong
“Benarkah pesan yang Selama ini kamu kirim, di baca oleh mama kamu” Tanya gira bahagia
“Eum lihat lah, meskipun tidak ada balasan, tapi aku senang setidaknya mama aku membaca pesan tersebut” ujar via memperlihatkan pesan tesknya yang sudah di baca oleh mamanya pada gira
“Aku juga ikut senang semoga aja kamu segara bertemu dengan mama kamu vii” ucap gira memeluk via bahagia
“Tolong jangan beritahu siapan pun tentang ini” ucap via sedikit memohon
“Tapi”
“Termasuk kak berend” sambung via lagi
“Eum baik lah, aku kan bilang jika kamu sedang liburan bersama kekasih mu” ucap gira
“Terima kasih girr”
“Eum kamu bahagia” Tanya gira melihat wajah via yang bahagia
“Tentu saja sangat bahagia” balas via tersenyum
“Baik lah aku pergi”
“Hati hati”
“Maafin aku gir, aku terpaksa berbohong pada kamu aku tidak ingin menjadi jahat karna terlalu mengiginkan kak berend, jujur aku sudah bertemu dengan mama ku dan yang mambuat aku terluka jika mama ku adalah alasan yang pertama kamu terluka, karna mama ku adalah alasan kamu harus menderita maafkan aku gir, aku tidak ingin egois, kamu dan tante nessa sudah sangat baik pada ku aku tidak ingin menyusahkan kalian lagi” insak tangis via pecah saat mengingat mamanya adalah asalah gira mendarita
Semuanya begitu pedih saat ini, seolah batu besar menghantam tubuh via saat ini via menagis sejadi jadinya mengigat wajah mamanya yang tidak merasa bersalah sedikit pun atas apa yang sudah di lakukan pada nya dana juga keluarga gira…..
Sakit hati begitu sesak di dadanya, entah apa yang harus via lakukan saat ini, dirinya benar benar merasa bersalah pada gira…
Satu satunya jalan yang via harus lakukan saat ini adalah menjauh dari gira, via takut jika dirinya berada di dekat gira dan berend via khawatir jika dirinya ingin memeliki berend dan merusak bahkan juga menyakiti gira….
Kini via tau mengapa neneknya sangat membenci mamanya, jika via tau dari awal mungkin dirinya juga akan membenci mamanya….
__ADS_1