
“Lepasin gira doc” teriak gira saat henzi menarik tangan gira dan membawa gira ke dalam lift
“Doc lepasin gira” teriak gira lagi saat tanga henzi masih saja menraik tangga gira
“Mari kita bicara girr” ujar henzi namun tetap saja henzi tidak melepaskan tanganya gira
“Gira tidak ingin bicara dengan doctor” ucap gira tegas “Doc sakit” sambung gira lagi saat tanganya sudah mulai terasa sakit karna genggaman henzi yang terlalu keras membuat gira meringgis ke sakitan
“Maaf” titah henzi melepaskan pegangannya dan merasa bersalah terhadap gira, gira langsung mengelus elas tangan kananya yang di tarik paksa oleh henzi
Seketika keduanya terdiam di dalam lift tersebut….
“Apa ini doctor henzi defran” Tanya gira sinis dan kesal pada henzi
“Aku hanya ingin bicara dengan kamu” jelas henzi saat melihat gira menatap dirinya tajam
“Tidak ada yang perlu di bicarakan doc, lagi pula ini bukan rumah sakit” ucap gira lirih dan jujur saja gira tidak ingin berdebat lagi
“Aku tau, namun aku mohon tolong beri aku waktu” ucap henzi memohon pada gira
“Aku tidak bisa doc” ucap gira lalu menekan tombol berhenti
“Mari kita bicara” ucap henzi menarik tangan gira, namun kali ini sangat lembut
“Apa yang ingin doctor bicarakan” Tanya gira mulai kembali kesal pada henzi bagaiaman bisa henzi saat ini sedang bermain dengan pikiranya dan juga hatinya
“Tentang kita” ucap henzi tegas membuat gira terkejut
“Kita??” ucap gira mengulang ucapan henzi yang tidak percaya dengan apa yang keluar dari mulut henzi
“Eum tentang kita” jawab henzi tegas dan singkat
“Doc kata kita itu sudah tidak pantas doctor keluarkan lagi, saat ini gira dan doctor bukanlah kita lagi, gira adalah gira dan doctor henzi adalah doctor henzi, saat ini posisi gira bisa di bilang sebagai partner jika kita di rumah sakit dan diluar dari itu doctor hanya seseorang yang harus gira hormati karna perbedaan umur di antara kita” ujar gira tegas
“Gira” panggil henzi menatap mata gira, mendengar namanya di panggil gira hanya terdiam
“Beri aku satu kesempatan lagi, aku janji akan memperbaiki semuanya, aku minta maaf” ucap henzi lirih dengan nada yang memohon membuat gira terdiam
“Doctor tidak buat salah kenapa doctor harus minta maaf” ucap gira tersenyum “Dan semua itu bukan kesalah” sambung gira lagi mengingat kembali satik yang masih berbekas di hatinya
“Gira a..ku..” ucapan henzi terhentikan karna bunyi ponsel gira
__ADS_1
Hingga tiba tiba ponsel gira berbunyi….
“Hallo gir kamu ada dimana” Tanya via khawatir saat mendapati gira tidak ada di belakangnya
“Aku sedang ke toilet vii” ucap gira berbohong lalu keluar dari lift tersebut namun henzi dengan cepat menarik tangan gira membuat gira herus menghentikan langkahnya
Melihat tanganya yang di pegang gira hanya terdiam menatap tangan henzi lalu beralih ke wajah henzi…
“Aku akan segera ke tempat kamu, tunggu aku di sana” ucap gira mematikan ponselnya dan melepaskan tangan henzi dari gengamannya…
Namun sayangnya henzi tidak berhenti di situ, saat tangan itu sduah sempurna lepas kini henzi kembali menarik tangan gira membuat gira kembali masuk ke dalam lift tersebut bersama henzi dan pintu lift pun tertutup
Kesal itu lah yang di rasakan oleh gira saat henzi menariknya kembali ke dalam lift
“Doc apa yang doctor la..ku..” ucap gira sedikit berteriak hingga sesuatu menyentuh bibir gira membuat gira terdiam
Henzi menarik gira hingga gira jatuh ke dalam pelukanya dan dengan cepat henzi mencium bibir tipis milik gira..
“Mmmmh…” mata gira membulat saat tiba tiba benda kenyal itu menyentuh bibirnya, memaksakan masuk kedalam bahkan lebih dalam membuat gira memberontak, namun tidak dengan henzi tangan kokoh henzi tidak bisa diam saja kini tangan kokoh itu menekan lebih keras kedua tangan gira ke dinding lift tersebut
Gira tetap saja memberontak namun henzi tidak tinggal diam, hingga semua tenaga gira habis kini gira hanya bisa menikmati setiap ******* yang di berikan oleh henzi padanya, melihat gira sudah berhenti kini henzi ******* habis bibir gira membuat gira mendehasah tak karuann..
“Mmmh..” terdengar lenguhan kecil dari mulut gira, membuat henzi semakin bergairah
Tatapan gira ke arah henzi membuat henzi merasa bersalah, mata gira di penuhi rasa benci terhadap henzi. Gira keluar dari lift tersebut meninggalkan henzi dengan penuh rasa bersalah terhadap dirinya bagaimana tidak wajah gira benar benar mengekresikan rasa kecewa terhadap henzi….
🌿🌿🌿
Via berjalan sambil melihat lihat beberapa pakaian musim panas yang ada di depannya hingga tiba tiba tangan kokoh itu memeluknya dari belakang
“Kak” panggil via terkejut melihat siapa yang ada di belakang sambil memeluknya
“Ini sangat cocok untuk kamu” ucap berend di balik telinga via
“Kak lepasin bagaimana jika orang lain melihat kita” ucap via khawatir dan berusaha melepaskan pelukannya dari tangan berend
“Apa yang kamu khawatirkan??” Tanya berend tidak peduli
“Kak lepasin via” ucap via yang tertekan dan khawatir melihat sekelingnya
“Eum, baik lah aku akan melepaskan kamu tapi kamu harus mencoba pakaian yang aku pilih ini” ucap berend lagi tidak peduli pada ke takutan via
__ADS_1
“Ini terlalu berlebihan kak” ucap via saat dirinya melihat harga dominal gaun tersebut indah dan simpel seperti harganya
“Kenapa kamu tidak ingin mencobanya, jika begitu maka aku tidak akan melepaskan kamu” ucap berend menantang via
“Kak” panggil via
“Cobalah aku ingin melihatnya” ucap berend memohon membuat via dengan sangat cepat luluh pada berend
“Baiklah lepaskan via” ucap via lalu dengan tersenyum nakal berend melepaskan kedua tanganya dari pinggang via
Kini berend duduk di sebuah sofa menunggu via yang sedang menggangtikan pakaianya
Saat via keluar dari ruangan tersebut kedua mata berend membulat sempurna saat melihat pakaian selutut yang sudah berada di tubuh via, gaun yang hanya panjang selutut dan lengan yang sesiku simpel dan elegan yang bernuansa biru pudar sangat cocok di pakai oleh via yang memiliki kulit yang putih itu sangat sempurna….
Berend tidak berhenti menatap via membuat via merasa risih dengan tatapan berend..
“Kak” panggil via
“Iyyyaa” jawab berend gugup
“Bagaimana” Tanya via gugup
“Sempurna” jawab berend mengenipkan matanya
“Benarkah” jawab via sedikit tidak percaya
“Tentu, mari kita berkencan” jawab berend lagi, lalu menarik tangan via lembut
“Kak, lalu bagaiman dengan gira” Tanya via khawatir
“Nanti kakak bilang sama gira” ucap berend lalu menggandeng tangan via
🌿🌿🌿
“Gira kamu kenapa” Tanya via yang memerhatikan wajah murung gira saat mereka sudah di dalam pesawat
“Tidak aku baik baik saja” ucap gira tersenyum
“Apa kamu memikirkan sesuatu” Tanya via penasaran melihat gira yang hanya terdiam
“Tidak” jawab gira cepat
__ADS_1
“Kamu pasti sedih meninggalkan paris” ucap via menatap gira lekat
“Tidak juga, karna kamu bersamaku aku tidak perlu khawatir, lagi pula jika aku rindu paris aku bisa pergi bersama mu” ucap gira tersenyum dan memeluk tangan via