
“Ada apa gir” Tanya henzi masih tidak percaya jika gira saat ini sedang memeluknya dengan erat
Gira tidak menjawab satu pertanyaan pun yang di keluarkan oleh henzi padanya, genggamanan tangan gira di leher henzi sangatlah kuat, gira menenggelamkan wajahnya pada leher henzi, henzi bisa merasakan tarikan dan hembusan nafas gira di lehernya begitupun dengan air yang membasahi leher dan bahu henzi, membuat henzi khawatir di tambah lagi henzi tidak bisa melihat wajah gira
“Gir” panggil henzi lagi sambil melepaskan gengganman yang ada di lehernya, karna henzi ingin melihat wajah gira
Lalu secara perlahan gira melepaskan pelukannya dari leher henzi, melihat wajah gira yang basah oleh air matanya membuat henzi khawatir, di tambah lagi gira benar benar tidak berani menatap wajah henzi
“Ada apa gir, kenapa kamu menangis” Tanya henzi khawatir melihat wajah gira saat ini membuat henzi benar benar sakit
“Gir” panggil henzi lagi saat melihat wajah gira yang masih tertunduk ke bawah
gira benar benar tidak berani menatap wajah pucat milik henzi, rasa takut dan juga rasa bersalah masih saja di takutin oleh gira, bagaimana pun henzi sudah sangat terluka hanya gara gara kesalah pahaman yang terjadi di antara meraka dan gira benar benar tidak berani menatap henzi
“gir” panggil henzi lagi lalu tangan henzi menyentuh dagu gira agar bisa melihat wajahnya gira yang sudah benar benar basah karna air mata, henzi langsung menghapus air mata gira dan menatap wajah gira dengan khawatir
“gir tatap aku” ujar henzi membuat gira perlahan menatap wajah pucat henzi dan juga mata yang penuh ke khawatiran.
Melihat wajah henzi, membuat gira semakin merasa bersalah di tambah melihat keaadaan henzi saat ini membuat gira kembali menangis dan kembali memeluk tubuh henzi, menenggelamkan wajahnya yang basah pada dada henzi
“Maaf” satu kaliamat yang keluar dari mulut gira membuat henzi terheran heran
(Kenapa gira minta maaf, ada apa ini) batin henzi tidak bertanya lebih panjang henzi hanya memeluk gira dan menenangkan gira bagaimana pun pelukan ini sangat di butuhkan oleh henzi saat ini meskipun dirinya tau jika ini bukan waktu yang pas untuk bermesraan dengan wanita yang di rinduinnya
Saat melihat gira sedikit lebih tenang, lalu henzi melepaskan pelukanya dan menyentuh dagu gira untuk melihat wajah yang tertunduk itu
“Ada apa gir” Tanya henzi lagi “ mari masuk dan bicara di dalam” ujar henzi lalu menarik tangan gira untuk masuk ke dalam rumahnya karna sebenarnya tubuh henzi saat ini masih lemas
Henzi membawa gira masuk ke dalam rumahnya dan entah bagaimana saat ini henzi merasa penglihatanya sedikit kabur dan gelap, hingga henzi melepaskan pegangan tanganya dari tangan gira dan langsung tidur di atas sofa tersebut
Henzi memejamkan matanya sambil tanganya di letakan di dahinya
“Aku minta maaf gira tapi bisakah kamu menunggu ku, aku akan tidur sebentar gir, tidak lama hanya lima menit, aku harap kamu bisa menunggu ku” ujar henzi yang masih memejamkan matanya
Melihat henzi yang tertidur gira menghapus air matanya dan langsung mendekat ke arah wajah henzi, gira menyentuh wajah henzi lalu berlahir menyentuh leher henzi, tidak tunggu lama gira langsung bangun dari duduknya dan berjalan ke arah dapur mengambil kain dan juga air ntuk mengompres tubuh henzi yang begitu panas…
Gira kembali ke arah di mana henzi tidur dan memindahkan tangan henzi ke dadanya lalu mengompres dahi henzi, melihat wajah henzi yang pucat gira benar benar khawatir
(Bagaimana bisa doctor sesakit ini tinggal dirumah sendirian, lalu kenapa doctor tidak hubungi siapa pun padahal keadaan doctor saat ini benar benar kacau) batin gira khawatir melihat henzi saat ini
Lalu gira bangun dari duduknya dan kembali ke dapur untuk memesakan bubur untuk henzi
“Untuk saja perlengkapan dapur masih lengkap” oceh gira saat melihat isi di dalam lemari es milik henzi, lalu gira langsung memasakkan bubur
Namun saat gira sedang sibuk dengan masakanya tiba tiba saja via menelponnya, dan gira langsung menekan speaker
*Ada apa vii* Tanya gira sedikit lebih keras
*Kamu dimana girr??* Tanya via
__ADS_1
*Aku di rumah doctor henzi*
*Sedang apa kamu di sana??* Tanya via terkeejut
*Doctor henzi sedang sakit vii*
*Tap—i* ujar via
*Akan ku ceritakan semuanya tapi tolong bantu aku untuk ganti siff, aku tidak bisa meninggalkan doctor henzi saat ini keadaannya benar benar kacau vii* ujar gira melihat henzi yang masih tertidur di sofa
*Baiklah, kamu harus hati hati* ujar via lalu memantikan panggilan tersebut
Kini gira kembali pada aktivitasnya memasakan bubur pada henzi, dan mensajikannya ke dalam Bangkok putih, gira langsung kembali ke sofa untuk melihat keadaan henzi
“Syukurlah demamnya sudah turun” ujar gira lihir saat menyentuh dahi dan juga leher henzi
Saat gira ingin memindahkan tanganya dari leher henzi, justru tangan henzi kembali menari tangan gira untuk menyentuh wajahnya yang masih hangat
“Jika ingin memeriksa, kamu harus memeriksanya dengan teliti doctor gira” ujar henzi yang masih setia memejamkan matanya
“Doctor sudah bangun??” Tanya gira khawatir dan juga bersyukur
Mendengar suara gira yang lebih tenang dari sebelumya membuat mata henzi terbuka dan melihat wajah gira yang sudah lebih baik dari sebelumnya membuat senyum di wajah henzi mengembang, henzi menarik nafasnya sedalam mungkin dan melepaskanya dengan cepat, kini kembali menatap wajah gira sambil tersenyum lebar di wajahnya, dan tangan gira yang masih saja setia menyentuh wajahnya yang dingin membuat wajah henzi sedikit lebih hangat…
“Bagaimana keadaan doctor??” Tanya gira lagi
“Doc” panggil gira membuat henzi tersenyum
“Aku baik baik saja” jawab henzi lalu bangun dari tidurnya dan duduk di samping gira
“Syukurlah, doctor belum makan bukan, gira sudah memasakan bubur ayam buat doctor, tunggu disini gira akan mengambilkannya” ujar gira dan berusaha bangun dari duduk nya namun sayangnya henzi tidak membiarkan tangan gira lepas dari wajahnya sedetikpun
“Doc” panggil gira lagi saat melihat henzi tidak membiarkan tangannya lepas dari wajah hangat milik henzi
“Tunggugir, biarkan seperti ini untuk beberapa menit, tangan mungil ini benar benar membuat wajahku terasa lebih hangat” ujar henzi lembut membuat gira kembali menatap henzi dan kembali duduk di samping henzi
Henzi memindahkan tangannya gira untuk menyentuh wajahnya yang sebalah kanan, benar benar hangat, ini yang di rasakan oleh gira saat tangannya menyentuh wajah henzi yang sebelah kanan, tidak hanya tangan kini kepala henzi juga ikut bersender di bahu gira membuat gira terkejut namun gira juga tidak bisa menolak jika dirinya sadar jika dirinya juga sangat khawatir dengan keadaan henzi saat ini
Setelah beberapa menit mereka terdiam dalam pikirannya masih masih akhirnya gira pun membuka suaranya
“Doc, doctor harus makan” ujar gira namun tetap saja henzi terdiam bahkan henzi tidak menjawab ataupun bergerak sedikit pun, hingga membuat gira membisu
“Gir” panggil henzi lirih lalu menurunkan tangan gira dari wajahnya namun tetap saja henzi masih saja memegang tangan mungil milik wanita yang di rindukannya selama ini
“Ya” jawab gira lembut dan menoleh sedikit ke arah wajah pucat milik henzi
“Kamu tau, semalam aku bermimpi jika kamu ada di sampingku dan juga merawatku, aku juga bermimpi kamu memelukku dengan erat, pelukan itu terasa begitu hangat gir, saat ini aku tidak tau apa ini nyata atau mimpi, tadi saat aku bangun dari tidurku aku melihat wajah kamu yang mengkhawatirkan diriku seolah ini benar benar nyata, kamu ada di samping ku saat ini membuat aku takut sekaligus senang gir, takut jika ini hanya lah mimpi dan aku terbangun dengan keadaan yang kacau. dan aku senang kamu ada di dekat aku saat ini, namun jika ini benar mimpi aku berharap aku bisa tidur lebih panjang gir agar aku bisa bersama kamu lebih lama” ujar henzi lembut membuat hati gira sesak saat mendengar ucap henzi saat ini
Sebegitu rindukah henzi pada wanita mungil ini, bahkan saat gira di sampingnya henzi masih saja berfikir jika itu mimpi, dan yang membuat gira terluka saat henzi tidak ingin bangun dari tidurnya hanya untuk bersama gira, bagaimana gira tidak merasa sesak untuk bernafas
__ADS_1
“Gir jika ini nyata bisakah kamu memaafkan ku dan tetap di sampingku, namun jika ini mimpi bisakah kita selalu bersama, aku rela jika harus tidur selamanya asalkan kamu tetap di samping ku gir” ujar henzi lagi
Hati gira benar benar hancur mendengar ucapan henzi, sakit dan juga sesak di hatinya membuat air mata gira jatuh membasahi pipinya tidak bisa tinggal diam lagi kini gira mengeser posisi duduknya hingga membuat henzi bangun dari bahu gira dan menatap wajah gira
Tidak hanya gira henzi juga ikut menangis matanya yang merah melihat itu membuat gira semakin terluka
“Gira akan membuktikan jika ini nyata atau mimpi” ujar gira lalu kedua tanganyan memeganga ketua sisi wajah henzi dan mendekatkan wajahnya ke wajah henzi
Hingga kedua bibir itu bertemu gira mencium dengan lembut bibir milik henzi membuat henzi terkejut mendapat perlakuan yang mendadak dari gira, tidak ada ******* hanya ada titik dimana bibir gira mencium dengan lembut bibir milik henzi, mendapatkan perlakuan yang begitu manis membuat henzi membuka matanya menatap wajah gira yang sudah sedikit menjauh dari wajah nya, tidak tunggu lama lagi henzi langsung mememuk gira membawakan tubuh mungil milik gira ke dalam dekapannya, memeluknya dengan erat bahkan tidak ada jarak di antaranya, henzi seolah takut dan khawatir jika gira pergi lagi dari hidupnya
Henzi bahkan berkali kali mencium dahi gira, begitupun dengan gira, gira mencium sedalam dalamnya wangi harum milik pria yang sangat di rindukan olehnya
Saat henzi melepaskan pelukannya henzi tersenyum melihat wajah gira begitu dekat dengannya ini benar benar nyata, wanitanya sudah kembali padanya
“Maafin aku girr” ucap henzi lalu kembali memeluk gira saat ini bagi henzi waktu yang di lewati berssam gira sangatlah berharga henzi tidak ingin ke hilangan satu detik pun
🌿🌿🌿
“Kak berend tau gira ada di rumah doctor henzi” Tanya via pada berend
Tidak menjawab berend hanya tersenyum pada via membuat viat menatap berend dengan penuh curiga
“Kak” panggil via lagi membuat berend benar benar tertekan oleh tatapan tajam milik wanitanya itu
“Iya via” jawab berend tersenyum lebar
“Jadi kakak tidak bilang pada via” Tanya via kesal
“Maaf kakak lupa sayang” ujar berend lalu mencium pipi via
“Menjauh via sedang tidak ingin bicara dengan kak berend” ujar via kesal dan duduk sedikit menjauh dari berend
“Sayang maaf, kakak benar benar lupa sayang, dan kakak juga yakin jika gira sudah tau bahwa henzi benar benar mencintainya” ujar berend lalu mendekat kea rah via
“Apa maksud kak berend” Tanya via heran
“Kakak akan menceritakan semuanya namun via harus mencium kakak” ujar berend sambil menunjukan jari telunjuknya pada pipi kiri milik berend
“Tidak” ujar via tidak peduli
“Kamu yakin sayang” Tanya berend lagi sambil memegang tangan via
“Yakin” jawab via tanpa berfikir panjang
“Tidak khawatir pada gira?” Tanya berend
Mendengar nama gira di sebut dengan ke cepatan kilat via langsung mencium pipi berend tanpa berfikir panjang
(Ternyata gira selalu bisa menjadi alasan untuk sebuat ciuman) batin berend tersenyum jail
__ADS_1