
*****
Eros menatap Reivan dengan tatapan tidak biasa, rasa cemburu mulai menggerogoti nya. Arini yang melihat kecemburuan di mata Eros itupun tersenyum menyeringai. Arini sangat puas melihat Eros yang sedang terbakar api cemburu.
" Van, gimana? Kok pertanyaan aku nggak di jawab? Kalo kamu diem berarti bener kan, kamu masih suka ya sama Melodi? "
Arini kembali membuat Eros lebih cemburu dari sebelum nya.
" Rasain kamu Ros, siapa suruh kamu membuat Melodi terluka, sekarang silahkan kamu menikmati perasaan cemburu yang sangat luar biasa itu. Aku tidak akan biarkan Melodi sakit sendirian. " Batin Arini.
Melodi hanya melirik Arini dengan tatapan kesal nya. Melodi sama sekali tidak ada tenaga untuk menghentikan Arini. Tubuh nya terasa semakin lemas, kini kepala nya pun kembali merasakan pusing yang teramat menyiksa nya.
" Van, aku mau ketemu tamu yang lain dulu, aku tinggal ya? " Eros yang tidak mau semakin merasa cemburu itu pun akhirnya meninggalkan Melodi, Arini dan Reivan.
Arini masih menatap Eros dengan penuh kebencian, dan tatapan Arini itu tertangkap oleh Reivan yang tidak sengaja memperhatikan Arini.
" Kamu ada apa sama Eros Ar? "
" Hah? Maksud kamu? " Arini begitu terkejut mendengar pertanyaan Reivan.
" Dari tatapan mata kamu, kayak nya kamu nggak suka gitu deh sama Eros, "
" Masa sih? Enggak ah, mungkin itu cuma perasaan kamu aja Van, " Arini mengelak, karena ia tidak ingin Melodi menyadari bahwa dari tadi ia sengaja membuat Eros cemburu.
" Ya, mungkin cuma perasaan aku aja kali ya, "
Lalu kemudian Nina terlihat sedang berjalan ke arah Melodi. Saat Nina sampai di hadapan Melodi, Reivan yang dari sedari tadi memperhatikan Melodi itu pun terkejut dengan kehadiran Nina.
" Oma Nina? "
Ya...lagi-lagi, Reivan ternyata mengenali Nina, dan begitu pula dengan Nina.
" Reivan..? "
" Iya oma, wahh, dunia memang sempit ya oma, apa Melodi cucu oma? "
__ADS_1
" Iya, Melodi cucu oma, kalian saling kenal? "
" Iya oma, kebetulan Melodi dulu satu sekolah dengan ku waktu SMA, dia adik kelas yang manis oma, "
Melodi dan Arini hanya menyaksikan obrolan antara Reivan dan Nina. Mereka juga tidak menyangka kalau Reivan begitu akrab dengan Nina.
" Oma? Oma kenal Reivan dimana? " Dengan nada suara yang sudah terdengar tidak bertenaga itu pun akhirnya Melodi membuka suara nya. Ia begitu penasaran, mengapa oma nya bisa begitu akrab dengan Reivan.
" Kamu ingat eyang Sari? "
" Iya oma, apa hubungannya dengan eyang Sari? "
" Reivan ini cucu nya eyang Sari, nah kebetulan karena oma lagi bahas eyang Sari. Sebenernya oma datang kesini juga mau bilang sama kamu Melodi. Kalau oma berencana mau menjodohkan kamu dengan cucu pertama nya eyang Sari, Reihan Arsatya...kakak dari Reivan, dan papa kamu juga sudah setuju, papa kamu juga cerita ke oma kalau selama ini belum ada laki-laki yang kamu kenalkan kepada papa kamu. "
Melodi hanya tersenyum getir kepada Nina, entah ia harus bahagia atau sedih mendengar kabar perjodohan tersebut. Kenapa waktu nya begitu pas, pas dengan ada nya luka di hati Melodi.
Bahkan Arini dan Reivan pun sampai tercengang mendengar perkataan Nina barusan.
" Oma? Apa oma serius? Apa Reihan setuju? " Reivan begitu terkejut sehingga ia harus memastikan kembali perkataan Nina.
" Kenapa Reihan oma? Kenapa bukan aku? "
" Kamu belum matang Reivan, lagian oma juga nggak akan setuju kalau Melodi menikah sama kamu Reivan. Kamu saja belum lama ini baru lulus kuliah, sedangkan Reihan, dia sudah berhasil mendirikan hotel di medan. "
" Iya, benar juga sih oma, " Reivan terlihat setuju dengan apa yang di katakan oleh Nina.
" Jadi gimana Melodi? Apa kamu setuju? Oma tidak akan memaksa kamu, semua keputusan ada di tangan kamu Melodi. Tapi alangkah baik nya kamu bisa menuruti keinginan oma. "
Melodi terlihat berfikir sejenak, namun saat ini ia benar-benar tidak bisa berfikir dengan jernih. Batin dan tubuh nya sedang tidak sehat.
" Biar Melodi pikirin dulu ya oma, Melodi minta sedikit waktu oma. "
Nina pun mengangguk mengiyakan permintaan Melodi, lalu kemudian ia berlalu meninggalkan Melodi dan kembali menghampiri Arman dan juga Dewi.
Arini menatap Melodi, ia masih sangat mengkhawatirkan keadaan Melodi. Melodi terlihat sedang memegangi kepala nya. Ia kini merasakan sakit kepala yang begitu hebat. Bahkan pandangan matanya sedikit demi sedikit memudar.
__ADS_1
" Mel, are you okay? " Arini memegangi tubuh Melodi dan ia merasakan panas di tubuh Melodi.
Reivan yang berada di samping Arini pun sampai ikut memeriksa kening Melodi. Keringat dingin juga sudah membasahi tubuh Melodi.
" Melodi demam Ar, " ujar Reivan yang kini terlihat panik.
" Aku nggak apa-apa, tolong kalian jangan panik, aku nggak mau papa tau dan jadi merusak pesta pernikahan nya papa. "
" Tapi kamu demam Mel, kita ke rumah sakit ya Mel. " Arini berusaha membujuk Melodi agar Melodi mau segera di bawa ke rumah sakit.
" Ar, kamu tolong di sini ya, biar aku minta tolong sama Reivan aja buat anter aku ke rumah sakit. Aku takut mama nya Eros nyari kamu, dan kamu coba buat terus di samping Eros sampai acara pernikahan ini selesai, aku nggak mau papa atau pun mama nya Eros curiga. Dan, kalau bisa aku nggak mau masuk ke dalam rumah sakit ya Van, minta tolong suster atau dokternya aja untuk memeriksa ku di luar rumah sakit."
Dengan suara yang sudah tidak bertenaga, Melodi meminta Arini untuk tetap berada di sisi Eros. Arini yang tidak tega melihat kondisi Melodi itu akhirnya setuju dengan permintaan Melodi. Asalkan Melodi mau untuk segera di bawa ke rumah sakit.
" Yaudah, sana Ar kamu samperin Eros, abis aku liat kamu di samping Eros, aku langsung pergi ke rumah sakit sama Reivan. "
Arini dengan berat hati berjalan menghampiri Eros. Raut wajah Arini pun terlihat masih sangat cemas mengingat kondisi Melodi saat ini.
Kemudian Reivan dengan perlahan memegangi bahu Melodi. Tapi Melodi tetap memaksakan diri nya untuk berjalan sendiri. Melodi tidak ingin orang-orang di sekitarnya menyadari kondisi tubuh nya yang sedang tidak sehat itu.
" Aku bisa jalan sendiri Van, " Melodi melepaskan tangan Reivan dari bahu nya.
Dan saat sedang berusaha untuk bangun dari duduknya, hampir saja Melodi terjatuh. Dan untung nya dengan sigap Reivan langsung menopang tubuh Melodi. Sehingga Melodi bisa berdiri dengan tegak kembali.
" Yaudah, aku gandeng ya Mel, kalo nggak kamu pegang aja lengan aku. "
Akhirnya Melodi mau menggandeng tangan Reivan, dan mereka berhasil berjalan keluar dari gedung tersebut. Saat sudah sampai di mobil Reivan, terlihat wajah Melodi yang sudah semakin pucat.
Reivan segera membukakan pintu mobil nya, dan saat Reivan sudah membukakan pintu mobil nya, tiba-tiba saja Melodi sudah kehilangan keseimbangan dan menjatuhkan tubuh nya ke arah Reivan.
Dengan segera Reivan membawa Melodi masuk ke dalam mobil nya, dan mengenakan sabuk pengaman untuk Melodi. Lalu ia dengan cepat mengendarai mobil nya sampai ke rumah sakit yang ia tuju.
__ADS_1
Reihan Arsatya, pengusaha muda, 28 tahun ,baik, tegas, dan hal yang paling ia benci adalah kebohongan.