
*****
" Kenapa kamu sangat tidak berperasaan Eros??, tega-teganya kamu berbicara seperti itu tentang kepergian papa dan mama Dewi? " Tangis Melodi pun semakin pecah, hingga Reihan yang mendengarnya pun langsung menghampiri Melodi.
" Lebih baik kamu pergi dari sini Eros, jika kamu hanya ingin membuat Melodi menangis...lebih baik kamu jangan pernah menemuinya. " Ujar Reihan sambil menarik tangan Melodi hingga Melodi berdiri di sampingnya.
" Kamu jangan coba-coba ikut campur Reihan, ini adalah masalah ku dan juga Melodi. Kamu tidak berhak melarang ku untuk menemui Melodi. " Bentak Eros yang kini beranjak dari duduk nya.
" Cukup Eros...!!! Hentikan...!!! Aku ingin kamu pergi dari sini, aku tidak ingin melihatmu..!! " Bentak Melodi sambil mengacungkan jari telunjuk nya ke arah pintu apartemennya.
" Melodi...kenapa kamu jadi seperti ini kepadaku?? Apa salahku? Aku hanya mengatakan yang sebenarnya, dan jika mama dan papa masih hidup, jika mereka mengetahuinya, aku yakin mereka juga pasti akan menyetujui hubungan kita. Hanya saja dulu aku tidak bisa menyakiti perasaan mama, tapi sekarang?? Sekarang tidak ada lagi yang harus tersakiti. " Ujar Eros lalu ia mencoba mendekati Melodi, namun Reihan dengan cepat menghadangnya.
" Kamu memang benar Eros, tapi semua sudah terlambat. Aku sudah tidak bisa menerimamu seperti dulu lagi. Dan, saat ini akulah yang tersakiti jika kamu terus memaksa ku untuk terus bersama dengan mu, aku mohon dengan sangat, pergilah. Dan jangan temui aku untuk saat ini. " Ujar Melodi lirih sambil memegangi lengan tangan Reihan dengan sangat erat.
" Kamu dengar ? Jadi silahkan keluar dari apartemen ini. " Ucap Reihan sambil melihat ke arah pintu apartemennya.
Eros pun dengan berat hati akhirnya keluar dari apartemen Reihan. Kemudian Melodi yang masih di belakang punggung Reihan itupun menangis dengan sejadi-jadi nya.
Hati nya benar-benar sakit, ia benar-benar sudah tidak bisa memahami Eros. Setiap kalimat yang keluar dari mulut Eros terasa menyakitkan bagi Melodi.
Melodi benar-benar tidak habis pikir, orang yang sangat di cintai nya itu bisa berubah secepat itu, bahkan kini Melodi sudah tidak bisa mengenali Eros lagi.
" Mel...udah ya...jangan kamu pikirkan apa yang di katakan Eros barusan, anggap saja kamu tidak pernah mendengar nya. " Ujar Reihan mencoba untuk menenangkan Melodi.
Melodi hanya mengangguk pelan, namun tetap saja sulit untuk Melodi melupakan perkataan Eros barusan. Kemudian Reihan memeluk tubuh Melodi dan membelai lembut rambut panjangnya sambil menepuk-nepuk pelan punggung Melodi.
" Udah, jangan nangis lagi...aku antar ke kamar ya? Kamu harus banyak istirahat supaya bisa cepat pulih Mel. "
Kemudian Reihan pun mengantarkan Melodi kembali ke kamarnya. Ia menemani Melodi hingga Melodi tertidur pulas di sampingnya.
*****
Di tempat lain,
__ADS_1
Eros yang sedang sangat kalut itu pun akhirnya pergi ke bar, ia melampiaskan semua emosi nya dengan meminum minuman keras. Eros sangat marah dengan diri nya dan juga dengan Melodi, saat ini Eros tidak bisa berpikir dengan jernih, sehingga ia selalu meneguk minumannya tanpa henti.
Malam semakin larut, Eros pun sudah dalam pengaruh minuman keras. Bar yang ia datangi pun sudah akan tutup, namun salah satu pelayan bar itu tidak bisa menyadarkan Eros yang kini sudah sangat mabuk.
Dan akhirnya pelayan tersebut menggeledah Eros dan mencari handphone Eros, lalu pegawai itu menghubungi nomor kontak terakhir Eros.
*****
Melodi sedang tertidur pulas dengan Reihan, tiba-tiba saja handphone nya berdering, kemudian Reihan yang mendengarnya pun langsung meraih handphone Melodi dan melihat layar handphone Melodi.
" Eros? Benar-benar sudah gila dia, ini sudah tengah malam, untuk apa dia menelfon Melodi di jam segini? Jam 2 malam? Benar-benar gila dia. " Gumam Reihan perlahan, lalu ia menonaktifkan handphone Melodi dan meletakkannya lagi di meja samping Melodi.
Reihan pun kembali tidur di samping Melodi.
*****
Kemudian pelayan itu pun mencari nomor lain dan menemukan nomor Arini di kontak paling atas.
" *Halo..."
" Iya halo, ada apa Ros? "
"Maaf mbak, apa mbak nya mengenal mas yang punya handphone ini? "
" Oh iya, ini siapa ya? Dan dimana Eros? "
" Saya pelayan di Bar XXXX , ini mas nya sedang mabuk berat, dan bar kami sebentar lagi akan tutup. Apa mbak nya bisa datang ke bar XXXX untuk menjemput mas nya? "
" Oh...iya saya akan kesana...mungkin butuh waktu sekitar 30 menit. Apa tidak masalah? "
" Baik, kami akan menunggu sampai mbak nya tiba*. "
Setelah Arini menutup telfonnya, ia pun langsung bergegas menuju bar tersebut. Sesampainya di bar, Arini yang juga di bantu oleh pelayan bar tersebut pun membawa Eros ke mobil Arini dan menitipkan mobil Eros kepada satpam bar tersebut.
__ADS_1
Di dalam mobil, Arini tampak kesal melihat Eros yang sedang mabuk dan tidak sadarkan diri itu. Arini sangat ingin memukul wajah Eros supaya Eros cepat sadar dari pengaruh minuman keras tersebut. Namun Arini tidak sekejam itu, kemudian Arini yang bingung untuk membawa Eros pergi kemana itu pun akhirnya menelfon Reivan.
Arini menepikan mobilnya, dan ia mengambil handphone yang ada di dalam tas nya, kemudian Arini langsung menghubungi Reivan.
[ *Via telfon ]
" Halo Van...kamu udah tidur? "
" Ya udah lah Ar, ada apa telfon malem-malem, tumben banget. "
" Tolongin aku dong Van, please...aku lagi sama Eros dan dia lagi mabuk berat. "
" Hah?? Kok bisa? "
" Aku juga nggak tau, tadi tiba-tiba aja Eros telfon aku, dan ternyata itu bukan Eros tapi pelayan bar, dia minta aku buat jemput Eros di bar, soal nya bar mereka udah mau tutup. "
" Yaudah kamu bawa kesini aja, aku lagi di hotel Reihan, kamu tau kan tempat nya? "
" Oke, thanks banget ya Van*. "
Arini menutup telfonnya dan langsung membawa Eros ke hotel milik Reihan. Setelah sampai, ternyata Reivan sudah menunggunya di lobi. Arini pun langsung menghentikan mobil nya di depan lobi.
Kemudian Arini dan Reivan dengan bersamaan berusaha memapah tubuh Eros yang berat itu ke kamar Reivan. Setelah sampai kamar Reivan, Reivan dan juga Arini langsung membaringkan Eros di atas tempat tidur Reivan.
" Huh, berat banget nih orang..." Keluh Arini yang merasa kelelahan karena sudah memapah tubuh Eros.
" Yaudah Ar, kamu mau langsung pulang apa gimana? "
" Aku mau ngopi dulu Van biar melek, cafe bawah di hotel ini masih buka kan? Tanya Arini yang merasa sedikit terasa kantuk mulai menyerang kedua mata nya.
" Masih Ar, mau aku temenin? " Reivan pun menawarkan dirinya untuk menemani Arini.
Dan merekapun menikmati secangkir kopi hangat sambil berbincang-bincang santai. Hingga setelahnya Rini pun langsung bergegas untuk pulang.
__ADS_1