My Marriage Destiny

My Marriage Destiny
Bab 87 Ada Rasa


__ADS_3

*****


Setelah itu Melodi pun segera kembali ke butik nya. Tidak lupa juga Melodi memberi kabar kepada Reihan. Agar Reihan tidak mengkhawatirkannya lagi.


Melodi masuk ke dalam butik nya dan melihat Arini yang sudah memegangi perut nya.


" Ada apa Ar? " Tanya Melodi kemudian ia segera menghampiri Arini.


" Aku habis makan siang tiba-tiba perut aku nggak enak banget. " Jawab Arini yang masih memegangi perut nya.


" Tunggu di sini sebentar ya, biar Erwin antar kamu ke rumah sakit. "


Melodi pun berlari keluar butik dan menghampiri Erwin yang masih berada di dalam mobil nya.


" Erwin, kamu bisa tolong antar Arini ke rumah sakit? "


" Maaf bu, tapi saya di pesan bapak untuk tidak meninggalkan ibu Melodi sendirian. "


Erwin pun menolak permintaan Melodi, karena ia takut jika nanti Reihan marah kepada nya. Dan menyalahkannya apabila terjadi suatu hal yang tidak di inginkan kepada Melodi.


" Tapi Erwin...ini urgent...kasihan Arini. " Melodi masih mencoba untuk membujuk Erwin.


" Sekali lagi saya minta maaf bu. " Erwin pun kembali menolak permintaan Melodi.


Dan akhirnya tiba-tiba saja Melodi terpikirkan untuk meminta bantuan dari Eros.


[ Via telfon ]


" Halo Eros? "


" Iya Mel? Ada apa? "


" Kamu udah balik ke kantor belum? "


" Belum, aku masih di resto deket butik kamu tadi. Kenapa Mel? Kok suara kamu kayak panik gitu.? "


" Arini perut nya mendadak sakit, dan aku nggak tau harus minta bantuan sama siapa, kamu tau aku nggak bisa ke rumah sakit. Jadi aku minta tolong sama kamu, tolong antar Arini. "


" Baiklah, tunggu aku, aku segera ke butik. "


" Iya. "


Melodi pun sedikit lega karena Eros bersedia untuk mengantarkan Arini ke rumah sakit. Dan tidak butuh waktu yang lama untuk menunggu Eros, Eros pun sudah datang dan dengan segera membawa Arini ke rumah sakit.

__ADS_1


" Nanti kasih kabar ya Ros. " Ujar Melodi kemudian menutup pintu mobil Eros.


Dan Melodi kembali masuk ke dalam butik, sebelum masuk ke dalam butik nya, ia sempat melirik Erwin dan memberikan tatapan kesal nya.


Hari sudah semakin sore, dan Melodi masih belum juga mendapatkan kabar dari Eros dan juga Arini. Kemudian Melodi pun berinisiatif untuk menghubungi Eros.


[ Via telfon ]


" Halo Eros...gimana Arini?? "


" Arini lagi pemeriksaan, dan ada beberapa prosedur untuk operasinya nanti malam. "


" Operasi? Operasi apa? "


" Usus buntu. "


" Ya tuhan...kasian Arini, yaudah kamu tolong jaga Arini ya, orang tuanya ada di Medan semua. "


" Iya Mel, kamu tenang aja ya...nanti aku kabarin lagi. "


" Iya, makasih ya Ros. "


Melodi menjadi tidak fokus bekerja, dan ia pun memutuskan untuk pulang cepat. Dan setelah sampai di rumah Melodi masih terus menunggu kabar dari Eros.


" Aku lagi nunggu kabar dari Eros. "


" Ha? Eros? Aku kira kamu lagi nungguin telfon dari Reihan. " Reivan tersentak mendengar nama Eros. Dan ia menatap Melodi dengan bingung.


" Iya Van, soal nya sekarang Eros lagi nemenin Arini di rumah sakit. "


" Arini sakit? Sakit apa? Kemarin malam Arini ketemu sama aku dan dia masih baik-baik aja Mel. "


" Usus buntu, tadi siang sehabis makan tiba-tiba dia bilang perut nya sakit. Jadi aku minta tolong Eros untuk temenin Arini ke rumah sakit. "


" Yaudah, sehabis mandi aku langsung ke rumah sakit. "


Raut wajah Reivan pun terlihat sangat khawatir dan ia pun langsung bergegas. Tidak memerlukan waktu lama, setelah usai mandi Reivan langsung mengendarai mobil nya menuju rumah sakit dimana Arini di rawat.


Sesampainya di rumah sakit, Reivan melihat ke sekeliling rumah sakit, namun ia tidak melihat sosok Eros. Kemudian Reivan pun bertanya kepada salah satu perawat yang berjaga di resepsionis. Dan perawat itu memberitahukan ruangan Arini kepada Reivan.


Reivan berlari menuju ruang rawat Arini dan ketika Reivan sudah masuk ke dalam ruang rawat Arini. Betapa terkejutnya Reivan melihat Arini yang terlihat sangat pucat.


__ADS_1


" Ar...gimana? Masih sakit? " Tanya Reivan sambil membelai rambut Arini.


Arini hanya mengangguk lemah, ia tampak tidak punya energi untuk mengeluarkan suara nya. Dan Eros hanya menatap Reivan dan Arini, kemudian ia kembali duduk di tempat duduk yang di sediakan di ruang rawat Arini.


" Makasih ya Ros, kamu udah mau antar dan temani Arini. "


" Iya Van, sama-sama...kalian berdua pacaran? " Tanya Eros tiba-tiba, sontak raut wajah Reivan dan Arini pun berubah.


Arini dengan tenaga nya yang sudah lemas itu hanya menggelengkan kepala nya. Dan Reivan...


" Ah...ya nggak lah Ros, kita sahabat...cuma sebatas sahabat. " Jelas Reivan sambil menyilang kan kedua tangannya.


" Tapi kalian serasi, dan aku pikir kalian ada hubungan, soal nya kamu keliatan khawatir banget Van. "


" Ya jelas aku khawatir Ros, dia kan sahabat ku, dan selama pertemanan kita, aku nggak pernah liat dia selemah ini. "


Mendengar penjelasan Reivan itu, Eros hanya bisa tersenyum sambil menatap Reivan dan Arini secara bergantian. Eros terlihat gemas melihat tingkah dua sejoli itu.


Dan tidak lama kemudian, dokter yang menangani Arini pun masuk dan memberitahukan kepada Arini bahwa operasi akan dilakukan tiga puluh menit lagi.


Arini dengan segera di bawa ke ruang operasi untuk menyiapkan segala sesuatu nya sebelum di lakukan operasi.


Eros dan Reivan pun menunggu Arini di ruang tunggu. Butuh waktu satu jam untuk melakukan operasi usus buntu. Dan selama itu juga Eros dan juga Reivan setia menunggu Arini.


Reivan terlihat sangat gugup, hingga ia terus menggoyang-goyangkan sebelah kaki nya. Eros yang melihat Reivan yang sedang gugup itu pun mendekati Reivan. Kemudian Eros menepuk perlahan bahu Reivan.


" Berdoa aja yang terbaik untuk Arini, dan aku yakin operasi nya akan berhasil. " Ujar Eros yang mencoba menenangkan Reivan.


Reivan hanya mengangguk, namun lagi-lagi ekspresi wajah nya terlihat dengan jelas jika Reivan terlihat sangat mengkhawatirkan Arini.


" Van.." Eros kembali menyentuh bahu Reivan sehingga Reivan menoleh ke arah nya.


" Jangan sembunyikan perasaan mu terlalu lama, sebelum Arini di ambil orang. Selesai operasi nanti, akan aku beri waktu untuk kalian bisa saling mengungkapkan perasaan. " Ujar Eros sambil tersenyum ke arah Reivan.


" Ah? Perasaan apa? "


" Kamu suka kan sama Arini? Itu terlihat jelas, sangat jelas. "


Kemudian Reivan terdiam dan ia berpikir sejenak, selama ini Reivan tidak pernah menyadari perasaannya kepada Arini, dan kali ini ia merenungkan perkataan Eros. Dan ia juga tidak bisa menyangkal nya lagi.


" Apa sangat jelas? " Tanya Reivan memastikan apakah perasaannya kepada Arini terlihat sangat jelas.


Eros hanya mengangguk kemudian kembali melemparkan senyuman kepada Reivan.

__ADS_1


__ADS_2