
*****
" Aku mengalami kecelakaan minggu lalu. " Ujar Eros tiba-tiba.
" Apa ?? Kecelakaan?? Kenapa kamu tidak memberitahuku? " Tanya Yura yang berpura-pura memasang wajahnya agar terlihat terkejut dan mengkhawatirkan Eros.
" Kamu biasanya yang menghubungi ku duluan, tapi selama seminggu kemarin, tepat setelah aku kecelakaan kamu tidak menghubungi ku sama sekali. " Ujar Eros yang sedikit curiga terhadap Yura.
" Kan tadi aku sudah bilang, aku sibuk akhir-akhir ini, dan aku tidak sempat menghubungi mu. " Yura pun kembali beralasan, dan dengan mudah nya Eros langsung percaya begitu saja dengan perkataan Yura.
" Baiklah kalau memang itu yang sebenarnya terjadi, tapi ada yang sedikit mengganjal di pikiranku, aku sebenarnya sempat melihat wajah orang yang menabrak ku saat itu, tapi aku hanya bisa mengingatnya dengan samar. " Ujar Eros yang membuat Yura sedikit tegang karena takut jika Eros mengenali wajah nya dengan jelas maka sudah pasti ia akan menyalahkan Yura.
Yura pun tidak berkata-kata dan hanya mengamati mimik wajah Eros, Yura hanya memastikan jika Eros tidak akan mencurigainya.
" Jadi kamu tertabrak mobil? Kenapa kamu sampai bisa tertabrak mobil? " Tanya Yura yang terlihat seperti wanita yang sangat polos dan tidak tau apa-apa tentang kecelakaan yang menimpa Eros, padahal, dialah yang menyebabkan kecelakaan itu.
" Aku sedang bertemu dengan Melodi saat itu, aku juga sedang mabuk berat dan melontarkan begitu banyak kalimat, sehingga mungkin saja Melodi merasa muak dengan ku. Tapi saat Melodi ingin pergi meninggalkan ku, tiba-tiba saja aku melihat ada sebuah mobil yang sedang berjalan ke arahnya, dan mobil itu melaju dengan semakin cepat, jadi aku menarik Melodi dan mendorongnya, sehingga aku yang tertabrak, namun, karena aku mendorong Melodi dengan sagat keras, Melodi jadi mengalami keguguran dan kehilangan anak yang sedang ia kandung saat itu. " Eros pun menceritakan dengan detail saat terjadinya kecelakaan pada hari itu.
" *Oh..jadi seperti itu kronologi bagaimana Melodi bisa keguguran. Hah...aku benar-benar puas, tidak sia-sia aku melakukan hal itu. Ya, walaupun Eros menjadi korban, tapi tidak apa-apa karena anak sia*lan itu akhirnya bisa aku singkirkan ." Batin yura*.
__ADS_1
" Tuhan memang berpihak kepada kita Eros, walaupun kamu harus mengalami kecelakaan, tapi ada hikmah di balik itu semua, kita berhasil melenyapkan anak itu. " Ujar Yura dengan senyuman yang sudah sangat mengembang di wajah nya.
Yura tanpa sadar memberikan ekspresi wajah yang berlebihan di hadapan Eros, Eros yang melihatnya pun sampai heran dan ia berfikir bahwa Yura sudah tidak memiliki belas kasihan sama sekali.
" Kenapa kamu begitu bahagia? Apakah kamu tidak perduli dengan nyawa ku dan Melodi? Saat itu aku dan Melodi hampir saja kehilangan nyawa. " Tegur Eros yang merasa tidak senang melihat ekspresi wajah Yura yang sudah diluar batas wajar itu.
" Maaf...maaf, bukan begitu Ros, kamu salah paham, aku tertawa karena aku bisa menyingkirkan anak itu tanpa harus turun tangan hanya itu saja. Dan kalau soal kamu dan Melodi, aku juga mengkhawatirkan kalian. " Ujar Yura yang beralasan lagi.
Eros pun yang merasa sedikit risih dengan tingkah Yura itu, akhirnya memutuskan untuk kembali ke kantor nya. Masih banyak pekerjaan yang jauh lebih penting saat ini, dibandingkan jika ia harus terus bersama dengan Yura, Eros juga harus mengelola perusahaan yang di tinggalkan Arman dan juga Dewi sekaligus, karena Melodi tidak mau mengelola perusahaan Arman.
" Baiklah, kalau sudah tidak ada lagi yang perlu kita bahas, aku akan kembali bekerja, masih banyak yang harus aku selesaikan. " Pamit Eros yang langsung beranjak dari tempanya duduk.
*****
Reihan masih berada di dalam ruangan Melodi, ia terus memperhatikan Melodi, sehingga Melodi merasa tidak nyaman dengan kehadiran Reihan yang tiba-tiba itu.
" Apakah kamu tidak ada pekerjaan lain saat ini? Aku sedang sangat sibuk, dan kehadiran mu cukup mengganggu konsentrasi ku. " Ujar Melodi yang kini merasa sudah sangat terganggu dengan kehadiran Reihan.
Reihan tidak menghiraukan kata-kata Melodi, dan ia tetap fokus memandangi wajah Melodi. Reihan memang sengaja ingin mengganggu Melodi, agar Melodi mau meninggalkan pekerjaannya sejenak, dan bisa membicarakan soal honeymoon yang mereka bicarakan semalam.
__ADS_1
Melodi yang sudah tidak tahan lagi itu pun akhirnya beranjak dari tempat duduk nya dan berjalan ke arah Reihan, Melodi duduk di samping Reihan, kemudian ia menghela nafas panjang, untuk mengontrol emosi yang sudah sangat memuncak saat ini di benaknya.
" Rei...apa mau mu sebenarnya? Kenapa kamu mengabaikan pertanyaan ku dan hanya duduk diam sambil memandangi ku? Apa yang ingin kamu katakan kepadaku, cepatlah katakan, dan kemudian pergilah dari butik ku. "
" Aku ingin pergi honeymoon, kamu ingin pergi kemana? " Tanya Reihan di irigi senyum kecil yang cukup manis memberikan warna di wajah nya.
Melodi memejamkan mata nya sejenak lalu mendengus kesal, ia benar-benar di uji kesabarannya oleh Reihan.
" Kamu hanya ingin mengatakan itu? Tidak ada hal lain yang lebih penting? Kenapa kamu begitu membuang-buang waktu ku? "Ujar Melodi yang terus menahan emosi nya yang seakan-akan bisa meledak kapan saja.
" Bagi ku itu sangat penting, dan aku sangat menantikannya. "
" Kita kan bisa membicarakan hal ini di rumah, tanpa harus mengganggu waktu bekerjaku Rei. "
" Tapi aku tidak bisa fokus bekerja, aku terus ingin mendengar jawaban dari mu Melodi. Ayolah jangan terlalu membuat ku menunggu... aku tidak suka hal-hal seperti itu. "
" Baiklah, terserah kamu saja, aku ikut kemanapun kamu pergi, sudah? Sekarang kembalilah bekerja, atau jika kamu tidak ada kerjaan, kamu bisa pulang dan beristirahat. " Ujar Melodi dan kemudian ia beranjak dari duduk nya. namun Reihan menahannya sehingga Melodi kembali duduk di samping Reihan.
Reihan menatap Melodi dengan tajam, ia tidak begitu puas dengan jawaban Melodi. Reihan amat sangat kesal saat ini setelah mendengar jawaban dari Melodi yang seperti tidak terlalu memperdulikan perasaannya itu.
__ADS_1
" Apa kamu akan terus bersikap seperti ini kepada ku? Apa kamu tidak bisa sedikit saja menghargai perasaan ku? Aku sudah meminta maaf kepada mu soal kejadian itu, dan aku juga sudah tidak membahasnya, tapi sikap mu? Kenapa sikap mu selalu saja seperti ini kepada ku? Apa hanya kamu saja yang merasa hancur setelah kehilangan anak kita? Apa kamu tidak perduli dengan perasaan ku? Terlebih lagi, kamu menemui Eros tanpa seizin ku saat kejadian itu. Kamu seharunya bisa memahami perasaanku, seperti aku yang terus berusaha untuk memahami perasaan mu. " Ujar Reihan yang mulai meluapkan semua kekecewaan yang ia rasakan kepada Melodi.
Melodi hanya terdiam dan tertunduk, ia juga tidak bisa menyalahkan Reihan sepenuhnya, karena Reihan tidak bisa ada di sampingnya saat itu. Namun Melodi juga tidak bisa mengendalikan perasaannya yang sudah terlanjur sakit hati karena Reihan.