
*****
Melodi yang masih sibuk membantu Rosmala menyiapkan meja makan itupun cukup menarik perhatian Reihan. Kemudian Reihan beranjak dari duduknya dan meraih tangan Melodi.
" Udah, kamu duduk aja jangan capek-capek, aku nggak mau kamu sama calon anak kita kenapa-kenapa nanti nya. " Ujar Reihan lalu mengarahkan tubuh Melodi untuk tetap duduk dan tidak melakukan apapun.
" Tapi aku pengen siapin makanannya. " Rengek Melodi sambil memanyunkan bibir nya.
" Udahlah Rei, biarkan Melodi melakukan apa yang ingin dia lakukan, itu mungkin keinginan dari anak kamu juga. " Ujar eyang Sari yang tidak tega melihat raut wajah Melodi yang sudah berubah menjadi murung itu.
" tapi eyang, aku nggak mau Melodi nantinya kecapean. Aku ngelarang dia karena aku perduli yang. "
" Tapi itu nggak bagus, Melodi kan sedang hamil, jadi biarkan ia melakukan apa yang ingin dia lekukan, selama itu membuat suasana hati nya senang, jangan kamu larang, biar Melodi tidak merasa tertekan dan stress nanti nya. " Eyang Sari pun mencoba memberi pengertian kepada Reihan.
" yasudah, kamu boleh bantuin bi Rosmala, tapi jangan sampai kamu capek ya. " Ujar Reihan , kemudian Melodi dengan senyum sumringah pun kembali membantu Rosmala menyiapkan makanan.
Dan setelah mereka makan bersama, Reihan dan Melodi pun mengantarkan mereka ke kamar nya masing-masing. Sedangkan Reivan, ia harus kembali ke kantor nya karena tiba-tiba saja atasannya menelponnya.
Lalu setelah Reihan dan juga Melodi mengantarkan oma, eyang dan juga Ayumi ke kamar nya masing-masing. Merekapun langsung menuju kamar mereka.
Reihan juga langsung menuju kamar mandi, sedangkan Melodi , ia duduk di samping jendela sambil melihat pemandangan luar rumah nya.
Dan saat dia sedang menikmati pemandangan sore di luar rumah nya, tiba-tiba handphone nya kembali berdering. Dan lagi-lagi itu dari Eros. Sebenarnya Melodi tidak ingin mengangkat telfon dari Eros, tapi ia juga tidak ingin mendengar dering handphonenya yang selalu mengganggu nya. Dan akhirnya Melodi pun memutuskan untuk mengangkat telfon dari Eros.
[ *Via telfon ]
" Halo...ada apa ? "
__ADS_1
" Tidak, aku hanya ingin mendengar suara mu, kamu kenapa terdengar tidak senang menjawab telfon dari ku? "
" Aku hanya sedang tidak ingin menerima telfon saja darimu . "
" Apakah perasaan mu terhadapku sudah benar-benar hilang? Apa tidak ada yang tersisa walau hanya sedikit? "
" Entahlah, jangan membuat suasana hati ku yang saat ini sedang baik ini berubah menjadi tidak baik, aku sedang tidak ingin berdebat dengan mu. "
" Aku juga tidak ingin berdebat dengan mu, aku hanya ingin memastikan, apa kamu benar sedang hamil?? "
" Iya, aku hamil, dan ini anak Reihan, jadi aku mohon, mulai sekarang jangan menggangguku lagi dengan alasan-alasan yang tidak masuk akal. Kamu harus bisa melupakan ku, kamu harus mempertanggung jawabkan perkataan mu, kamu sendiri yang bilang, mungkin aku bisa bahagia dengan orang lain bukan dengan mu, apakah kamu masih ingat? Dan saat ini, aku sedang mengikuti perkataan mu itu. "
" Baiklah jika itu yang kamu inginkan, tapi ingat Melodi, perasaanku kepada mu tidak akan pernah berubah, dan jika suatu saat kamu ingin kembali kepada ku, aku akan menerima mu dengan senang hati. "
" terimakasih Eros, tapi itu tidak akan pernah terjadi. Dan apakah kamu memata-matai ku? "
" Untuk apa? Aku tidak akan melakukan hal serendah itu. '
" Yura yang memberitahuku, dan kamu tau, suami yang saat ini sangat kamu cintai itu, diam-diam merawat Yura di rumah sakit, dan apa kamu tau itu? Apa Reihan yang sangat kamu percaya itu memberitahumu*? "
Melodi pun terdiam lalu ia menutup panggilan telfonnya itu. Ia tidak menyangka Reihan yang begitu jujur, dan selalu membicarakan hal apa saja yang ia lakukan kepada Melodi itu tiba-tiba membohonginya, dan menyembunyikan hal sebesar itu dari nya.
Kemudian, saat Reihan keluar dari kamar mandi, ia dengan segera menghampiri Melodi. Dan saat Reihan ingin mencium pipi Melodi, tiba-tiba saja Melodi menghindar dan beranjak dari duduk nya.
" Ada apa? Dan kamu mau kemana? " Tanya Reihan lalu meraih tangan Melodi.
Melodi pun berbalik ke arah Reihan dengan air mata yang sudah menggenang di dalam kedua mata nya.
__ADS_1
" Apa ada yang sedang kamu sembunyikan dari ku? " Tanya Melodi yang kini sudah menatap kedua mata Reihan dengan tajam.
" Apa maksud mu? Aku benar-benar tidak mengerti? Kenapa tiba-tiba sekali kamu bertanya seperti itu kepada ku? " Tanya Reihan yang bingung dan tidak tau harus menjelaskan apa kepada Melodi.
" Aku hanya bertanya, apa ada yang sedang kamu sembunyikan dari ku? Kamu hanya perlu menjawab iya atau tidak. " Melodi kembali menegaskan pertanyaannya itu.
" Aku tidak menyembunyikan apapun dari mu? Ada apa? Jangan buat aku bingung. "
" Benarkah? Bahkan soal Yura? "
Reihan pun terkejut mendengar nama Yura yang keluar dari mulut Melodi. Ia sudah berusaha keras untuk menyembunyikannya, karena ia takut jika Melodi akan salah paham dengan perasaannya terhadap Yura.
" Maaf, aku hanya tidak ingin kamu salah paham, ini adalah sesuatu yang mendesak dan aku dengan terpaksa harus turun tangan Mel, Yura kecelakaan, dan dia tida memiliki siapapun di Jakarta, jadi aku berusaha menolongnya, hanya itu. Saat itu kamu lagi benar-benar sensitif dan aku tidak bisa memberitahu mu Mel. " Reihan pun menjelaskan kepada Melodi tentang maksud dan tujuannya menolong Yura, dan menjelaskan mengapa ia tidak memberitahukan nya kepada Melodi.
" Kapan? Kapan Yura kecelakaan? "
" Kemarin saat kamu dan Reivan mencari ku ke hotel. "
Lalu Melodi pun mulai menangis, ia sudah tidak kuasa menahan air mata nya lagi. Ia kecewa dengan Reihan, ia sudah mencoba memberi Reihan kepercayaan tapi Reihan tega membohonginya.
"kenapa kamu tega membohongi aku di saat keadaanku sedang seperti itu, kamu tau Rei, jika saat itu kamu memberitahuku, aku tidak akan menangis histeris mencari mu,saat itu perasaanku tidak karuan, dan anak kita, dia seperti tau jika kamu sedang membohongiku, dan saat kamu pergi meninggalkanku, perasaanku benar-benar menjadi sangat tidak karuan Rei. " Tangis melodi pun pecah.
Reihan pun mencoba untuk memeluk tubuh Melodi, Melodi sedikit memberontak namun akhirnya luluh juga. Reihan benar-benar menyesal dan merasa bersalah.
" Aku tidak akan mengulangi nya lagi, kamu jangan seperti ini...hati ku hancur melihatmu menangis seperti ini Mel, aku benar-benar hanya memikirkan mu saat itu. Dan aku benar-benar tidak ingin membuatmu salah paham. " Reihan masih terus mencoba meyakinkan Melodi tentang kejadian di hari itu.
Melodi masih menangis tersedu-sedu di pelukan Reihan. Karena ia sedang mengandung, perasaannya pun menjadi semakin sensitif.Lalu ia melepaskan pelukannya dari Reihan dan berkata...
__ADS_1
" Jika saat ini aku tidak mengandung anak mu, mungkin aku tidak akan memiliki perasaan seperti ini terhadap mu Rei, jika aku tidak sedang mengandung, mungkin aku tidak keberatan dengan keberadaan Yura. " Ujar Melodi dengan tiba-tiba.
Dan saat mendengar perkataan Melodi, entah kenapa hatinya begitu sakit. Bukan seperti itu yang Reihan inginkan. Namun Reihan mencoba mengalah, ia tidak ingin membuat Melodi menjadi terbebani, mengingat kondisi Melodi yang saat ini sedang stabil, dan tidak menunjukkan tentang efek samping dari gejala PTSD nya itu.