
*****
Setelah hampir setengah jam, akhirnya Reivan pun sampai di rumah Reihan. Reivan langsung masuk ke dalam rumah Reihan dan dengan segera menaiki anak tangga dan berjalan menuju kamar Melodi.
" Reihan kemana bi? " Tanya Reivan kepada salah satu pelayan yang saat ini sedang bersama dengan Melodi.
" Saya juga kurang tau tuan, tadi tuan Reihan pergi terburu-buru sekali, dan setelah tuan Reihan pergi, tiba-tiba saja nona Melodi menangis histeris. " Jelas bi Elle, salah satu pelayan yang bekerja di rumah Reihan.
" Coba bibi telfon Reihan lagi. " Pinta Reivan, kemudian pelayan itu pun menghubungi Reihan kembali.
Reivan yang melihat Melodi yang masih menangis tersedu-sedu itupun menghampiri Melodi dan mencoba untuk menenangkan Melodi. Dan Melodi tiba-tiba saja berhenti menangis lalu meminta Reivan untuk segera mengantarkannya ke hotel milik Reihan.
" Van, antar aku ke hotel. " Rengek Melodi sambil menarik lengan Reivan.
" Yasudah, aku tunggu diluar, kamu kenakan pakaian terlebih dahulu. " Ujar Reivan yang melihat Melodi hanya mengenakan sehelai handuk yang menutupi tubuhnya, serta selimut tebal yang ia gunakan untuk menutupi bagian lain dari tubuh nya.
Kemudian Melodi mengangguk, dan Reivan pun segera keluar dari kamar Melodi, dan Reivan menunggu Melodi di ruang tamu. Saat sedang menunggu Melodi, tiba-tiba saja bi Elle menghampiri Reivan dan memberitahu Reivan bahwa Melodi belum sarapan pagi ini.
" Permisi tuan, maaf...saya khawatir dengan nona Melodi, non Melodi pagi ini belum sarapan. Dan kalau bisa nanti tolong tuan ajak nona Melodi untuk makan, saya hanya khawatir saja tuan. "
" Baik bi, terimakasih bi atas perhatiannya. "
" Iya sama-sama tuan, saya hanya teringat putri saya setiap kali saya melihat non Melodi. "
" Iya bi, yasudah silahkan bibi kembali bekerja. "
" Baik tuan, permisi. "
Tidak lama kemudian Melodi pun turun dan dengan segera menghampiri Reivan yang saat ini sudah menunggunya itu.
" Ayo Van, aku udah siap. " Ajak Melodi dan merekapun akhirnya pergi menuju hotel.
Karena lokasi hotel yang cukup dekat dengan rumah Reihan, mereka tidak membutuhkan waktu yang lama, mereka hanya butuh waktu sepuluh menit untuk sampai di hotel milik Reihan tersebut menggunakan mobil.
Setelah sampai, Melodi dan juga Reivan langsung turun dan masuk ke dalam hotel. Reivan pun langsung mengajak Melodi ke ruangan Reihan, dan saat tiba di ruangan Reihan, mereka hanya melihat sekretaris Reihan, dan mereka tidak bertemu dengan Reihan.
" Roni...dimana Reihan? " Tanya Reivan kepada sekretaris Reihan tersebut yang bernama Roni.
"Maaf pak Reivan, hari ini kebetulan pak Reihan tidak datang ke hotel, dan jadwal pak Reihan mengunjungi hotel itu besok. "
__ADS_1
" Oh, yasudah, tapi apa Reihan tidak menghubungimu soal pekerjaan atau apa? "
" Tidak pak. "
" Baiklah. "
Melodi terlihat kecewa mendengar penjelasan dari sekretaris Reihan tersebut. Kemudian mata nya kembali berkaca-kaca, dan Reivan yang melihatnya pun segera membawa Melodi untuk segera keluar dari hotel.
*****
Di tempat lain,
Reihan yang sudah sampai di rumah sakit itupun langsung mengurus administrasi dan segala sesuatunya yang di perlukan. Kemudian ia menunggu Yura di depan ruang operasi, dan setelah empat jam Reihan menunggu, akhirnya dokter yang menangani Yura pun keluar dari ruangan operasi..
" Bagaimana dok keadaan Yura? " Tanya Reihan yang saat ini sangat mengkhawatirkan keadaan Yura.
" Keadaannya masih belum bisa di pastikan, namun yang pasti, mungkin Ibu Yura akan sulit untuk berjalan karena kaki bagian kirinya terjepit bagian dari mobil, sehingga ada saraf yang terjepit.
" Apa itu bisa di sembuhkan dok? "
" Tentu saja bisa, dan sebaiknya ibu Yura harus rajin melaksanakan terapi, agar saraf-saraf nya bisa kembali seperti semula. "
Lalu Yura pun di pindahkan ke ruangan perawatan, karena Yura di Jakarta tinggal sendirian, sedangkan orang tuanya berada di paris, jadi mau tidak mau Reihan lah yang mengurus segala nya.
Kemudian, saat Reihan ingin menghubungi Melodi, Reihan mencari handphone nya dan tidak menemukannya, dan ternyata Reihan lupa menaruh handphonenya yang saat ini berada di dalam mobil nya.
Reihan pun dengan segera mengambil handphone nya yang tertinggal di dalam mobilnya itu. Dan saat Reihan membuka layar Handphonenya, betapa terkejutnya Reihan yang mendapat hampir lima puluh panggilan tidak terjawab dari telfon rumah nya, Dan dengan segera Reihan menghubungi telfon rumahnya.
Ketika Reihan menghubungi telfon rumah nya, kebetulan juga bi Elle lah yang mengangkat telfon, kemudian bi Elle menceritakan segalanya kepada Reihan. Reihan semakin bingung, ia saat ini tidak tau harus bagaimana,kemudian Reihan menghubungi Reivan dan menanyakan keberadaan Reivan saat ini.
[ Via telfon ]
" Halo Van, kamu dimana sekarang? "
" Aku di taman dekat hotel, kamu dimana? Melodi dari tadi nangis aja, dia nggak mau makan dan dari tadi nyari kamu Rei, aku tanya sama mama, kata mama itu wajar, dan kemungkinan Melodi sedang mengalami masa ngidam, dan karena bawaan bayi, jadi dia nggak mau ditinggal-tinggal sama kamu Rei. "
" Yaudah, aku kesana, tapi tolong nanti kamu ke rumah sakit Metro ya, Yura kecelakaan dan dia tidak punya wali, jadi tadi pihak rumah sakit menghubungi ku. "
" Apa? "
__ADS_1
" Kamu jangan menyebut nama Yura di depan Melodi Van, saat ini Melodi sedang sensitif. "
" Hampir saja, yasudah, kamu cepat datang ke taman, aku tunggu. "
Tidak butuh waktu lama dan Reihan pun sampai di taman, kemudian Reivan langsung menuju rumah sakit untuk menemani Yura yang saat ini sedang terbaring lemah di rumah sakit. Reihan langsung duduk di samping Melodi.
Namun ekspresi Melodi benar-benar mengejutkan, tiba-tiba saja ia marah dan memukul-mukul dada bidang Reihan sambil menangis.
" Kamu jahat, kamu kenapa ninggalin aku? Kamu tau nggak, hati aku sakit Rei, "
Kemudian Reihan langsung meraih kedua tangan Melodi dan memeluk tubuh Melodi dengan erat.
" kamu kenapa sih Mel? Apa ini karena kamu hamil? " Tanya Reihan dengan lembut.
Kemudian Melodi pun mengangguk dalam pelukan Reihan.
" Aku nggak bisa kontrol diri aku Rei, saat kamu ninggalin aku, tiba-tiba aja aku mellow, dan sedih. Aku juga nggak tau kenapa. Perasaan ini benar-benar baru dan asing. " Jelas Melodi lalu melepaskan pelukannya.
Lalu Reihan mengusap-usap perut Melodi dan mendekatkan wajahnya ke perut Melodi.
" Sayang...anak papa...jangan buat mama mu menangis ya, kasihan mama mu..." Ujar Reihan lalu mencium perut Melodi.
" Rei..." Panggil Melodi, lalu Reihan mendongakkan kepalanya.
" Apa Mel? " Tanya Reihan masih dengan posisi wajahnya yang masih dekat dengan perut Melodi.
" Aku juga pengen di panggil sayang. "
Reihan pun seketika itu terkejut lalu membenarkan posisi duduknya.
" Benarkah? " Tanya Reihan sambil memegangi kedua bagian pipi Melodi.
Melodi pun mengangguk sambil terlihat malu-malu, itu sangat menggemaskan bagi Reihan, dan Reihan pun karena gemas akhirnya ia menciumi pipi Melodi dan mengecup kening Melodi.
" Iya sayang, kamu juga panggi aku sayang ya? "
Melodi hanya mengangguk lalu tersenyum senang. Setelah itu Reihan membawa Melodi ke sebuah restoran, dan Reihan membiarkan Melodi memesan semua makanan yang diinginkannya.
Melodi pun terlihat sangat lahap memakan makanannya, hingga Reihan tidak henti-hentinya tersenyum sambil memandangi Melodi.
__ADS_1