
*****
Setelah Reihan dan Melodi sampai di kediaman Arman. Melodi yang sudah sangat tidak sabar melihat Arman dan juga Dewi itu pun, langsung membuka pintu mobil Reihan. Melodi berlari kemudian ia terjatuh dan bangkit lagi.
Reihan mencoba untuk mengejar Melodi dan menenangkan Melodi. Reihan meraih tangan Melodi hingga Melodi berbalik dan mendarat di pelukan Reihan.
" Tenang Mel...jangan kayak gini...kamu juga harus perhatiin kondisi kamu sekarang..." Reihan mencoba untuk menenangkan Melodi, namun Melodi malah mendorong tubuh Reihan, dan ia kembali berlari dan masuk ke dalam rumah Arman.
Saat Melodi masuk ke dalam rumah nya, ia sangat terpukul melihat dua peti mati yang sudah berada di hadapannya. Tangis Melodi semakin pecah, sekujur tubuhnya terasa kaku. Ia dengan perlahan berjalan ke arah peti tersebut, dan saat ia melihat wajah Arman dan juga Dewi yang sudah sangat pucat. Kaki Melodi pun terasa lemas, dan Melodi akhirnya jatuh terduduk.
Eros dengan sigap menangkap tubuh Melodi, ia memeluk Melodi dengan erat. Rasa sakit yang teramat dalam di rasakan oleh Melodi dan juga Eros. Mereka hanya bisa menangis tanpa henti, Melodi memukuli dada nya yang terasa sangat sesak. Semua terasa seperti badai besar yang datang di kehidupannya.
" PAPA.. !!!MAMA..!! " Jeritan Melodi begitu histeris, sehingga seisi rumah yang mendengar nya pun ikut merasakan kesedihan yang di alami Melodi.
" Pa..." Melodi mencoba merangkak dan meraih peti Arman.
" Papa...kenapa papa tinggalin Melodi? Dan mama...kenapa...kenapa hanya sebentar kasih sayang yang aku dapatkan dari mama...ini nggak adil..!! " Melodi berbicara sambil menangis terisak.
" Kenapa?? Kenapa...ini semua harus terjadi?? " Melodi kembali menjatuhkan dirinya.
Kemudian Nina menghampiri Melodi dan mencoba untuk menenangkan Melodi.
" Sayang...kamu ikhlasin ya...biarkan papa dan mama kamu tenang di sana..." Nina pun mencoba membujuk Melodi untuk mengikhlaskan kepergian Arman dan juga Dewi.
Melodi semakin menangis terisak sambil memeluk Nina. Semua terasa berat baginya, ia bahkan tidak pernah membayangkan sebelumnya jika Arman harus pergi dari hidupnya. Dan Melodi juga belum lama merasakan kehangatan dan kasih sayang dari seorang ibu. Namun yang maha kuasa harus merenggut segalanya dari Melodi.
" Tuhan, mengapa harus mereka yang engkau ambil?? Aku hanya merasakan segelintir kebahagian dari mereka orang-orang yang aku sayangi, tapi...kenapa engkau begitu tega merenggutnya dari ku. Apa aku benar-benar tidak berhak untuk menerima kebahagian? Apa aku tidak pantas bahagia? Mengapa ini semua terasa sangat menyakitkan dan sangat tidak adil bagiku. " Batin Melodi.
__ADS_1
" Mel...udah ya...kamu ikhlasin..." Kemudian Nina membantu Melodi untuk berdiri.
Melodi pun mulai berdiri perlahan dan masih di pelukan Nina. Rasa sakit yang teramat dalam masih menyelimutinya, bagaimana tidak? Ia harus kehilangan dua orang yang paling berarti di dalam hidupnya sekaligus.
" Reihan, tolong kamu bawa Melodi ke kamarnya. " Nina pun meminta Reihan untuk membawa Melodi ke kamarnya.
" Baik oma..."
Saat Reihan ingin menuntun Melodi, tiba-tiba saja pandangan Melodi menjadi kabur. Melodi pun terjatuh dan hilang kesadarannya. Reihan dengan sigap menangkap tubuh Melodi dan kemudian menggendong Melodi sampai ke kamar nya.
Eros yang mengkhawatirkan kondisi Melodi itu pun menyusul Reihan dan ikut masuk ke dalam kamar Melodi. Setelah Reihan membaringkan Melodi di atas tempat tidurnya, awalnya Reihan ingin membiarkan Melodi istirahat sendirian di kamar nya. Namun ia mengurungkan niat nya setelah melihat Eros masuk ke dalam kamar Melodi.
" Biarkan Melodi istirahat, kamu tidak perlu mengkhawatirkan Melodi, ada aku...suami nya yang menjaga Melodi. " Tatapan mata Reihan tampak tajam dan sangat serius dengan perkataannya.
" Tidak mungkin kamu menyukai Melodi kan Reihan? " Eros pun mempertanyakan perasaan Reihan terhadap Melodi. Karena Eros melihat keseriusan di mata Reihan.
" Tidak masalah, toh...perasaan Melodi pasti belum berubah..." Eros tersenyum menyeringai kepada Reihan.
" Bisa-bisa nya kamu tersenyum dalam kondisi seperti ini Eros? Apa saat ini perasaan yang kamu miliki itu lebih penting dibandingkan dengan kepergian orang tua kalian?? Saat ini yang terpenting bagi Melodi hanyalah, mengikhlaskan kepergian orang tuanya. Ia bahkan tidak akan sempat memikirkan perasaan nya untuk orang lain. " Ucapan Reihan pun berhasil membuat Eros kehabisan kata-kata, kemudian Eros pun pergi meninggalkan kamar Melodi.
Eros merasa sangat kesal mendengar ucapan Reihan, ia bahkan tidak rela jika harus membiarkan Reihan berdua saja di kamar dengan Melodi. Eros sudah benar-benar dibutakan oleh cintanya terhadap Melodi. Bahkan di saat ia berduka dengan kepergian Dewi dan juga Arman. Eros masih memikirkan perasaannya kepada Melodi.
*****
Keesokan harinya....
__ADS_1
Hari ini adalah hari pemakaman Arman dan juga Dewi. Melodi terlihat sangat lemah dan tidak bertenaga, tatapan matanya pun terlihat begitu kosong. Melodi seperti sudah tidak punya semangat untuk hidup. Kali ini hidup nya benar-benar terasa hancur dan seperti sudah tidak bisa diperbaiki lagi.
Reihan yang baru saja selesai mengurus segala hal yang di perlukan untuk pemakaman Arman dan Dewi pun masuk ke dalam kamar Melodi dan mendapati Melodi yang sudah duduk termenung dengan tatapan kosongnya.
Reihan sangat prihatin melihat kondisi Melodi, selama ini Reihan belum pernah melihat Melodi terpuruk seperti ini. Ini adalah pertama kalinya bagi Reihan melihat istrinya begitu hancur.
Kemudian saat Reihan ingin menghampiri Melodi, tiba-tiba saja ada yang mengetuk pintu kamar Melodi. Reihan pun membukakan pintu kamar Melodi, dan ternyata Arini sudah datang dan berniat untuk menghibur Melodi.
" Dimana Melodi? " Arini bertanya kepada Reihan, kemudian Reihan pun mempersilahkan Arini untuk masuk.
Saat Arini masuk ke dalam kamar Melodi, Arini dengan perlahan memeluk tubuh Melodi, namun Melodi tidak merespons sama sekali. Tatapannya masih kosong, Arini pun mengarahkan tubuh Melodi ke arah nya dan ia mencoba berbicara dengan Melodi.
" Mel...kamu nggak sendiri...masih ada aku, oma Nina dan juga Reihan suami kamu. " Arini membelai lembut pipi Melodi.
Kemudian Melodi mulai menatap mata Arini, dan saat itu juga air mata yang di tahan Melodi itu pun pecah. Melodi kembali menangis terisak, Arini pun memeluk tubuh Melodi dengan erat sambil menepuk-nepuk lembut punggung Melodi.
" Ikhlasin ya Mel...kamu boleh nangis, tapi kamu juga harus bangkit. Biarkan mereka tenang, jangan buat mereka sedih dengan keterpurukan mu Mel, mereka di sana pasti juga berharap agar kamu bisa bahagia walau tanpa mereka. "
" Apa aku masih berhak untuk bahagia Ar? "
" Jangan bicara sembarangan...semua orang berhak bahagia...coba sekarang kamu lihat siapa orang yang ada di sisi kamu saat ini? Kamu lihat dia...coba lihat dia Mel. " Arini pun meminta Melodi untuk melihat ke arah Reihan yang saat ini sedang berdiri di sampingnya.
Kemudian Melodi menatap Reihan yang sedang berdiri di sampingnya sambil memandang Melodi dengan penuh rasa iba.
" Kamu lihat kan? Dia sekarang yang akan menuntun kebahagiaan kamu Mel...Reihan...suami kamu...orang yang paling dekat dengan kamu saat ini. Jadi please, jangan terlalu larut dalam kesedihan. Oke Mel...you can do it.."
Melodi pun mencoba untuk tegar, walau ia pun tahu betul. Kebahagiaan nya hanya lah sebuah mimpi. Dan Reihan, Melodi tidak bisa berharap lebih dengan Reihan. Melodi tahu kalau Reihan tidak pernah mencintainya, dan Melodi juga tahu Reihan hanya mencintai kekasih masa lalu nya itu.
__ADS_1