
*****
" Apa yang kalian lakukan? " Teriakan Melodi yang terkejut itu tidak di hiraukan oleh kedua laki-laki yang saat ini sedang melakukan baku hantam tersebut.
" Reihan...!! Eros...!! Hentikan...!! " Melodi kembali berteriak sambil memejamkan kedua matanya.
Kemudian Reihan dan Eros akhirnya menghentikan aksi baku hantam yang sedang mereka lakukan itu. Reihan berdiri sambil merapihkan baju nya, sedangkan Eros masih terduduk dengan memegangi wajah nya yang sudah babak belur karena pukulan hebat dari Reihan.
" Apa yang sedang kalian lakukan? " Melodi bertanya kepada kedua laki-laki itu dengan ekspresi wajah yang sudah sangat marah.
" Dia mau berbuat kurang ajar sama kamu Melodi. " Jawab Reihan sambil mengarahkan jari telunjuknya ke arah Eros.
" Berbuat kurang ajar? Maksud kamu apa? " Melodi masih tidak mengerti dengan perkataan Reihan.
Kemudian Reihan melihat ke arah Eros, dan saat itu Reihan melihat Eros yang terlihat sedikit tersenyum menyeringai ke arah nya. Lalu Reihan pun dengan segera meminta Melodi untuk cepat pulang bersama dengannya.
" Aku tunggu di mobil, cepat keluar dari sini dan ayo kita pulang. " Pinta Reihan kepada Melodi dengan raut wajah yang sudah kesal.
Melodi masih bingung dengan sikap Reihan yang tidak jelas itu. Kemudian Melodi membantu Eros untuk berdiri dan bertanya kepada Eros apa yang sebenarnya terjadi diantara Eros dan juga Reihan, sehingga mereka harus berkelahi seperti itu.
" Apa yang sebenarnya terjadi Ros? Kenapa kalian sampai berkelahi? "
" Bukan apa-apa Mel...ini urusanku dengan Reihan, tidak ada hubungannya denganmu...kamu nggak usah khawatir ya..." Eros pun menutup-nutupi apa yang sebenarnya sedang terjadi.
" Tapi Reihan tadi sempat bilang, kamu mau berbuat kurang ajar, maksud nya apa itu? "
" Bukan apa-apa Melodi..."
__ADS_1
Melodi tampak percaya dengan perkataan Eros, dan Melodi meminta Eros agar segera pulang dan mengobati luka-luka yang ada di wajah nya saat ini.
" Yaudah, kamu pulang ya...terus obati lukamu, aku juga mau pulang dan istirahat. Reihan sudah menungguku di luar. "
" Apa kamu tidak bisa tetap bersamaku di sini dan mengobati luka-luka di wajah ku? Apa kamu tidak mengkhawatirkan ku Mel? " Eros meraih tangan Melodi yang baru akan berdiri dari duduk nya.
" Maaf Eros...bukannya aku tidak khawatir...hanya saja..." Melodi tidak melanjutkan kalimatnya, ia langsung melepaskan tangannya dari genggaman Eros.
Kemudian Melodi masuk ke dalam ruang kerjanya, ia membereskan ruangannya dan mengambil tas milik nya. Lalu ia berjalan keluar dari ruangan kerjanya tersebut.
Eros masih duduk di sofa, ia masih menunggu Melodi. Saat Melodi sudah berada di hadapannya, tiba-tiba saja Eros memeluk Melodi dan menangis di pelukan Melodi.
" Ada apa? Kenapa kamu seperti ini Eros? " Melodi menjadi sangat bingung dengan situasi yang sedang terjadi saat ini.
" Apa perasaanmu sudah berubah Mel? Kamu adalah wanita yang hangat, tapi kenapa sekarang kamu berubah menjadi wanita yang dingin Mel. "
" Apa perasaan itu sudah benar-benar hilang? Apa hanya aku yang masih mencintaimu Melodi? " Eros menatap Melodi begitu tajam.
Melodi membalas tatapan Eros, ia masih sangat mencintai laki-laki di hadapannya itu. Namun semua telah berakhir, dan sudah terlambat untuk mengungkapkan perasaannya itu. Dengan sangat berat hati, Melodi harus membohongi Eros dan juga perasaannya sendiri.
" Maaf Eros...perasaanku sudah tidak sama lagi, kamu harus merelakannya...ini demi orang tua kita kan? Demi mama kamu...kamu sendiri yang bilang kepadaku, kamu tidak ingin menghancurkan kebahagiaan nya mama. Dan sekarang disaat semua sudah terwujud, apa kamu juga yang akan menghancurkan kebahagiannya Ros? "
Kalimat Melodi benar-benar menusuk jantung Eros. Ia kemudian teringat dengan perkataannya dahulu. Ya...lagi-lagi ia sadar bahwa dirinya lah yang membuat perubahan pada diri Melodi.
" Yaudah, aku mau kunci pintu butik, kamu pulang ya...dan obati luka mu. "
Eros hanya mengangguk dan keluar dari butik tanpa sepatah katapun. Eros sangat-sangat menyesal telah melukai Melodi dan membuat Melodi berubah menjadi seperti itu kepadanya. Andai waktu terulang pun, Eros berfikir pasti ia akan melakukan hal yang sama kepada Melodi, ia pasti akan melakukan apapun demi Dewi, walau harus mengorbankan cinta dan perasaannya kepada Melodi.
__ADS_1
Setelah menutup butiknya dan mengunci pintunya. Melodi segera berjalan menghampiri Reihan yang sudah menunggunya di dalam mobil. Raut wajah Reihan terlihat sangat dingin dan juga menyeramkan. Melodi juga sampai bingung harus berkata apa.
Selama perjalanan pulang, Melodi dan Reihan tidak berbicara sepatah kata pun. Melodi hanya memegangi ulu hati nya. Ia merasakan sakit yang menusuk-nusuk, ia teringat bahwa seharian ini ia belum memakan apapun.
Melodi tidak berani memberitahukan nya kepada Reihan. Apalagi saat ini suasana hati Reihan terlihat sedang sangat tidak baik. Melodi hanya menahannya saja, keringat dingin di tubuh Melodi sudah mulai bercucuran.
Sesampainya di apartemen, Reihan langsung keluar dari mobil nya, ia berjalan begitu cepat mendahului Melodi. Melodi hanya bisa menatap punggung Reihan yang semakin lama semakin menjauh, Melodi berjalan perlahan, sambil memegangi ulu hatinya.
" Ada apa dengan Reihan? Kenapa ia terlihat begitu kesal? Apa aku berbuat salah kepadanya? Entahlah...kenapa ulu hatiku sakit sekali? Apa asam lambungku naik? " Batin Melodi.
Reihan yang sudah berjalan terlalu jauh dari Melodi itu pun menyadari bahwa Melodi tidak ada di belakangnya. Saat ia ingin menaiki lift, Reihan menghentikan langkahnya dan berbalik, ia kemudian berjalan menghampiri Melodi.
Saat Reihan ingin melampiaskan kekesalannya kepada Melodi. Tiba-tiba saja Reihan yang melihat wajah pucat Melodi itu pun langsung mengurungkan niat nya. Kini raut wajah Reihan berubah menjadi khawatir dengan keadaan Melodi.
" Kenapa wajahmu sangat pucat Mel? " Reihan mulai panik dan ia mencoba memegang tangan Melodi.
" Astaga...Mel...tangan kamu dingin banget..."
Melodi sudah tidak ada tenaga untuk membalas perkataan Reihan. Ia hanya bisa mencengkram baju Reihan dan tiba-tiba saja Melodi menjatuhkan tubuhnya yang sudah tidak bertenaga itu di pelukan Reihan.
Reihan dengan segera menggendong Melodi, dan membawanya kembali masuk ke dalam mobil nya. Melodi tidak pingsan, ia hanya lemas dan tidak bertenaga.
Melodi mencoba berbicara kepada Reihan, namun sekujur bibirnya terasa kaku. Ia hanya mengerjap- ngerjapkan kedua mata nya. Melodi takut jika Reihan akan membawanya ke rumah sakit.
" Tunggu Mel...kamu kenapa jadi begini sih Mel? " Reihan masih dengan kepanikannya, kemudian ia pun sampai di tempat tujuannya.
Ya...benar saja...Reihan membawa Melodi ke rumah sakit. Sesampainya di rumah sakit, tubuh Melodi menjadi semakin dingin dan juga tegang, bayang-bayang tentang kematian ibu nya pun mulai menghantuinya.
__ADS_1
Kecelakaan maut yang menimpa ibu nya dan juga dirinya pun seperti terulang kembali. Kini dada Melodi terasa semakin sesak. Ia sulit untuk bernafas, Reihan pun semakin panik. Dan Reihan yang mengkhawatirkan Melodi itu pun langsung menggendong Melodi masuk ke dalam rumah sakit tersebut.