
*****
Reihan berjalan menuju kamar nya, ia membuka pintu kamar nya dan melihat Melodi yang masih terbaring tak berdaya di atas tempat tidur nya. Reihan sebenarnya merasa iba dan tidak tega melihat keadaan Melodi, namun saat ini perasaannya masih sangat kacau. Rasa kecewa nya lebih besar di bandingkan rasa iba nya.
Reihan masuk ke dalam kamar nya lalu ia membaringkan tubuh nya yang cukup lelah itu di atas sofa panjang yang ada di dalam kamar nya. Reihan berusaha untuk memejamkan mata nya dan memulihkan tenaga nya kembali.
Pukul 03.30, Melodi terbangun, ia melihat sekelilingnya dan mendapati Reihan yang sudah tertidur di atas sofa. Dengan sangat berhati-hati sambil menahan rasa sakit di perut nya, Melodi berjalan perlahan menghampiri Reihan, langkah nya terasa sangat berat, namun ia tetap memaksakan diri nya untuk mendekati Reihan.
Melodi menyentuh rambut Reihan dan seketika itu juga Reihan membuka mata nya dan melihat ke arah Melodi. Reihan terlihat terkejut, mata nya masih merah karena rasa kantuk masih ia rasakan.
" Sedang apa kamu? " Tanya Reihan sambil meraih pergelangan tangan Melodi yang tadi nya menyentuh rambut Reihan.
" Aku..." Melodi tak kuasa melanjutkan kalimat yang akan ia katakan, kemudian ia kembali meneteskan air mata nya.
Reihan hanya memandangi Melodi tanpa menyentuh ataupun menghibur Melodi. Reihan sendiri tidak mengerti dengan dirinya sendiri. Ia sangat membenci perasaannya saat ini. Kemudian Reihan memalingkan wajah nya dan beranjak dari duduk nya.
" Sebaiknya kamu istirahat, pulihkan tubuh mu, cepatlah sehat dan tebus kesalahan mu. " Ujar Reihan yang terdengar begitu dingin di depan Melodi.
" Aku menyadari apa kesalahan ku, dan aku tau, jika saat ini aku meminta maaf kepada mu, itu juga tidak akan bisa mengembalikan anak kita. Tapi aku mohon, tetaplah di sisiku. " Ujar Melodi kemudian meraih tangan Reihan.
Reihan menatap Melodi, kemudian ia menuntun Melodi dengan perlahan untuk kembali ke tempat tidur nya.
" kamu harus banyak istirahat, aku sedang tidak ingin membahas apapun dengan mu, pulihkan dulu kondisi mu, setelah itu baru kita bahas lagi. " Ujar Rehan kemudian berlalu pergi meninggalkan Melodi dan keluar dari dalam kamar nya.
Melodi hanya bisa menangisi sikap Reihan yang kini begitu dingin kepada nya. Kemudian tiba-tiba saja ia teringat Eros yang juga saat ini sedang berada di rumah sakit. Dengan perasaan yang sudah bercampur aduk Melodi mencoba untuk menghubungi Erwin.
__ADS_1
Melodi menanyakan keadaan Eros kepada Erwin, dan untung nya luka yang di alami Eros tidak terlalu parah. Mengingat Eros yang saat ini sebatang kara dan tidak memiliki siapa pun itu, Melodi pun berpesan kepada Erwin agar Erwin menemani Eros sampai Eros pulih.
Dan saat melodi sedang berbicara dengan Erwin, tiba-tiba saja Eros yang sudah dalam kondisi yang lumayan membaik itu, meminta Erwin untuk mengizinkannya berbicara dengan Melodi. Lalu Erwin memberikan ponsel nya kepada Eros.
[ Via telfon ]
" Halo Mel....gimana kondisi kamu? Kamu baik-baik aja kan? Kamu nggak luka sama sekali kan? "
" Aku tidak baik-baik saja, saat ini aku terluka di mana-mana. "
" Apa maksud mu? "
" Aku tidak tau harus berterimakasih atau marah kepada mu Eros, Kamu memang menyelamatkan ku, tapi kamu membuat ku kehilangan anak ku. "
" Apa maksud mu? Aku tidak mengerti. "
" Melodi, aku benar-benar tidak mengerti apa yang kamu bicarakan. "
" Saat kamu menarik dan mendorong ku untuk menyelamatkanku, di saat itu lah benturan pada janin ku terjadi, dan aku harus kehilangan anakku. "
" Melodi, tapi aku benar-benar tidak bermaksud untuk itu, aku benar-benar ingin menyelamatkanmu "
" Aku tau, tapi entah mengapa, menemui mu saat itu adalah sebuah penyesalan bagi ku. "
Kemudian Melodi menutup panggilan telfonnya itu, ia kembali termenung sambil meratapi nasib nya yang selalu tidak beruntung itu.
__ADS_1
" Aku lelah, aku benar-benar lelah, bolehkah aku berhenti sampai di sini? Aku sudah tidak punya tujuan lagi. Semua kebahagiaanku telah engkau renggut dari ku. Penderitaan apa lagi yang akan engkau berikan kepada ku.? Haruskah aku akhiri semua ini? Aku benar-benar lelah. " Batin Melodi.
Melodi dengan sangat putus asa itu pun beranjak dari tempat tidur nya, ia mencabut saluran infus yang ada di tangannya, kemudian Melodi berjalan keluar dari kamar nya. Pikirannya benar-benar buntu.
Semua hal terasa menyakitkan bagi Melodi, ia sampai tidak bisa mengingat lagi perasaan bahagia itu seperti apa. Ia berjalan menuruni anak tangga. Dan saat Melodi ingin membuka pintu rumah nya, tiba-tiba saja Reivan yang baru saja selesai dengan pekerjaannya itu melihat Melodi dan langsung menghampiri Melodi.
" Melodi?? Apa yang sedang kamu lakukan di jam segini? Kenapa kamu tidak istirahat? Dan di mana Reihan? " Tanya Reivan yang heran melihat Melodi di jam tiga dini hari.
Melodi tidak menjawab pertanyaan Reivan, tatapan mata nya semakin kosong, kemudian ia membuka pintu rumahnya, namun Reivan dengan segera menahan tubuh Melodi. Dan saat Melodi menyadari tubuh nya yang tiba-tiba di tahan oleh Reivan itu pun langsung memberontak dan mendorong tubuh Reivan.
Melodi sudah terlihat begitu pucat, ia kembali melangkahkan kaki nya keluar dari rumah nya, dan Reivan masih mencoba untuk mencegah Melodi. Reivan pun menggenggam pergelangan tangan Melodi, dan dengan tubuh lemah nya itu, Melodi kembali memberontak hingga darah kembali menetes dari **** * nya.
" Melodi, hentikan...!! Kamu mau kemana?? " Pekik Reivan yang sudah panik ketika melihat darah yang sudah mengalir pada betis Melodi.
" Suter...!!! Reihan....!!! Rei...!!Suster...!! " Panggil Reivan yang meneriaki Reihan dan perawat yang merawat Melodi.
Melodi masih memberontak dengan tenaga yang semakin melemah, wajah Melodi pun semakin memucat, air mata nya pun sudah berhenti mengalir dan seketika itu juga Melodi tidak sadarkan diri, Reivan dengan segera membawa Melodi ke kamar nya.
Dan setelah membaringkan tubuh Melodi di atas tempat tidur nya, Reivan langsung bergegas ke kamar perawat tersebut dan mengetuk-ngetuk pintu kamar perawat tersebut sampai perawat itu membukakan pintu nya dan dengan segera menuju kamar Melodi.
Perawat itu pun dengan sigap langsung memberikan penanganan kepada Melodi. Reivan yang menunggu di luar kamar Melodi itu pun menjadi sangat khawatir, kemudian ia berusaha untuk mencari Reihan, dan Reivan pun menemukan Reihan yang saat itu sedang duduk di sebuah bangku di halaman belakang rumah Reihan.
" Apa yang kamu lakukan Rei ? " Tanya Reivan yang begitu merasa kesal saat melihat Reihan yang sedang duduk termenung di halaman belakang rumahnya.
" Aku hanya ingin menjernihkan pikiran ku, kamu belum tidur di jam segini? "
__ADS_1
Reivan sangat kesal melihat Reihan yang sama sekali tidak memperdulikan keadaan Melodi. Lalu dengan tiba-tiba, Reivan pun melampiaskan kekesalannya itu, dan mendaratkan tinjunya tepat di wajah Reihan.