
Sekarang mereka semua sudah berkumpul di rumah bak istana kediaman Pramayudha.
Berbekalkan informasi dari orang kepercayaan Abah Farel, Hutama. Tak mau menunggu lama lagi, mereka pun berpamitan.
"Kalian baik-baik. Abah percayakan sama kalian. Terutama kamu, Bang," pesan Hutama yang hanya diangguki oleh putra satu-satunya itu.
"Hati-hati ya, Bang. Kabarin Umma kalau sudah sampai. Jangan lupa makan dan kewajibanmu,"
"Iya,"
"Sega, titip putra-putraku! Terutama Farel! Aku percayakan ini padamu. Kembalilah dengan membawa hasil!" Ucap Hutama pada Sega, orang kepercayaannya.
Sega menunduk hormat, "Pasti Tuan. Saya akan menjaga Tuan muda dan kami akan kembali dengan membawa hasil yang memuaskan," jawab Sega tegas dan yakin.
"Hm, bergegaslah. Hati-hati!"
"Iya, assalamu'alaikum,"
"Wa'alaikumussalam,"
Farel, Afnan, Denta dan Sega pun segera memasuki mobil lalu bergegas menuju bandara. Penerbangan mereka lima belas menit lagi. Untung jaraknya tidak terlalu jauh. Bila mengemudi dengan kecepatan di atas rata-rata.
"Lo beruntung ya, punya keluarga yang lengkap," ucap Denta. Saat ini mereka masih di jalan.
"Sangat," jawab Farel singkat, padat serta jelas. Tatapannya kosong, memandang arah jalanan.
"Rel?!" Panggil Afnan membuat Farel menoleh dengan alis kanan terangkat.
"Itu! Dia bukannya yang gangguin Fisha itu? Caki? Coki? Zeki? Siapa namanya? Gue lupa," ucap Afnan menunjuk seorang pria yang menaiki motor sport merah tanpa menggunakan helm. Mereka sedang di lampu merah. Jadi Afnan bisa melihatnya dengan langsung.
"Iya, Zaki. Maybe? I don't care," jawab Farel acuh. Dia heran dengan dirinya. Kenapa dia bisa mengingat nama orang itu dengan mudah? Padahal biasanya Farel tak semudah itu mengingat nama orang.
"Mau apa dia? Ngapain dia keluar pesantren?" Tanya Afnan.
"Biarin!"
"Ck, bukannya apa-apa, Rel. Tapi dia itu MERESAHKAN,"
"Hm,"
"Kenapa sama dia, Nan?" Tanya Denta.
"Tu orang pernah ribut sama RANDA,"
"Cari mati," kekeh Denta.
"Selain itu, dia calon saingannya si Farel," tambah Dylan melirik jahil pada Farel yang sudah menatapnya jengah.
"Calon saingan gimana?'
"Calon saingan rebutin ceweklah! Emang apa lagi?!" Yusuf ikut menjahili Farel.
Denta menatap Farel tak percaya dan menahan tawa, "Bener, Rel? Lo lagi suka sama cewek? Siapa?"
__ADS_1
"Eng--"
"Si murid baru yang pertukaran pelajar dari pesantren itu. Fisha namanya. Udah kenal belum, lo?" Sela Adam.
Farel merotasikan matanya jengah, sahabat-sahabatnya itu suka sekali menyebar gosip.
"Ooh, Fisha! Iya, gue tau! Emang cantik banget sih, ceweknya. Gue kenalan sama dia semalem pas di koperasi. Lemah lembut lagi orangnya,"
Farel menatap Denta tak suka. Entahlah, dirinya merasa kesal saat orang lain seperti mendamba sosok Fisha.
"Dih, biasa aja tuh mata! Katanya gak suka, tapi ada cowok lain deketin, udah kayak kesetanan," ejek Afnan sambil memukul kaki Farel.
"Ups! Sorry, Rel. Gue lepas kontrol. Soalnya Fisha itu emang cantik. Gue aja tadi sempet salfok sama dia," Denta semakin membuat panas hati Farel.
Farel mendengus dan menendang kursi Denta yang berada di depannya, "Bacot!" Sarkas Farel membuat RANDA dan Denta puas meledeki Farel.
"Makanya, jangan gengsian. Diembat orang lain baru tau rasa lo," nasehat Dylan yang hanya ditanggapi decakan oleh Farel.
"Sok tau," gumam Farel pelan, suasana hatinya semakin kacau.
"Tuan, kita sudah sampai di bandara," Sega lekas turun dari mobil dan dengan sigap membukakan pintu untuk Farel.
Meski Farel tak meminta, Sega harus tahu apa yang dilakukannya, bahkan meskipun Tuan Mudanya itu bukan tipe boss yang senang menindas.
***
Skip
Sekarang Farel, Afnan dan Denta sedang berada di salah satu restoran ternama di Korea. Menyantap makanannya dengan khidmat saking nikmatnya.
"Gue duluan," ucap Farel bangkit dari duduknya. Padahal pria itu baru makan sedikit meskipun wadahnya sudah kosong.
"Ke mana? Gak bareng?" Tanya Afnan.
"Ada urusan. Nyusul. Assalamu'alaikum," jawab Farel dan langsung pergi tanpa menunggu balasan salam dari mereka.
Afnan dan Denta menatap kepergian Farel dengan bingung hingga tubuh tegap Farel tak lagi terlihat.
Sebuah mobil sport hitam terparkir mulus di hadapan Farel. Sang pengendara keluar dan membungkuk hormat.
"Tuan," ucapnya menyapa Farel.
"Hm. Langsung jalan!" Perintah Farel dan langsung masuk ke mobil begitu pula dengan orang kepercayaan Farel.
Mobil mewah itu memasuki hutan lebat dan berhenti tepat di sebuah villa yang terlihat nyaman.
Meski berada di tengah hutan lebat nan menyeramkan, aura villa itu tak bisa tertahankan. Begitu megah dan mencolok di tengah hutan.
Farel tanpa kata lagi langsung turun dari mobil dan melangkahkan kakinya menuju villa itu.
"Assalamu'alaikum," ucap Farel melihat sosok gadis berambut bergelombang cokelat sedang mondar-mandir di halaman villa.
"Oppa!!!" Girang gadis itu dan langsung berhambur ke pelukan Farel. Farel pun membalas pelukan gadis itu dan mengusap rambut panjang nan indah si gadis.
__ADS_1
"Eotteohge jinae?" Tanya Farel tentang keadaan gadis itu.
"Naneun johda," jawab gadis itu dan menarik Farel untuk masuk ke villa.
"Oppa bagaimana? Baik-baik saja?" Tanya gadis itu dengan berbahasa Indonesia saat mereka sudah duduk di sofa.
"Baik,"
"Oppa ingin menginap? Aku harap iya. Aku sangat merindukan Oppa,"
"Tidak dulu untuk sekarang, Yeodongsaeng,"
"Wae?" Tanya gadis itu sedih.
"Kamu sudah tau alasannya. Bersabarlah, Yeodongsaeng. Jika sudah saatnya, Oppa janji akan membawamu,"
"Joh-eun. Lalu, apa yang akan kita lakukan sekarang? Aku ingin menghabiskan waktu bersama Oppa,"
"Baiklah. Kamu mau apa?"
"Em,, kemarin aku membeli tiket konser Rich Brian. Aku beli dua. Oppa mau menemani menonton?"
"Sure. Bersiaplah!" Jawab Farel yang membuat gadis itu tersenyum senang dan segera mengganti pakaiannya.
***
"Terima kasih untuk malam ini, Oppa. Aku sangat senang," ucap sang gadis saat mereka sudah kembali dari menonton konser.
"Kembali kasih. Oppa juga senang memiliki waktu menemanimu. Di masa depan, Oppa akan lebih sering lagi menemanimu," jawab Farel mengusap rambut panjang gadis itu.
"Aku akan menunggu, Oppa,"
Farel membawa gadis cantik itu menuju kamarnya untuk menemani tidur. Tangan Farel mengusapi rambut lembut nan wangi tersebut penuh sayang.
"Tidurlah lebih awal!" Farel menyematkan satu ciuman singkat di kening.
"Joh-eun. Selamat malam, Oppa,"
"Selamat malam. Jangan mencari Oppa saat kau bangun,"
****
"Lo dari mana? Pergi seharian," tanya Afnan saat Farel hendak masuk ke kamar hotelnya.
"Jalan,"
"Lo bukan orang yang hobi jalan, Rel. Bohong ya, lo?!"
"Gak percaya ya udah," jawab Farel dan langsung masuk ke kamarnya.
Farel tidak sepenuhnya bohong bukan? Dirinya benar-benar pergi jalan bersama sang gadis.
Tbc...
__ADS_1