Mysterious Gus

Mysterious Gus
#18. Operasi


__ADS_3

..."Aku memang bukan siapa-siapa dalam hidupmu. Tapi entah mengapa, aku merasakan sakit yang teramat sakit saat melihatmu menutup mata menahan segala kepedihan." ...


...Fisha...


Farel terjatuh tak sadarkan diri membuat semuanya panik. Hutama dengan sigap membopong anak kesayangannya itu dibantu Afnan dan membawanya ke RS segera.


Hutama membawa mobil bak orang kesetanan. Umapatan-umpatan pengendara lain tentu saja dia hiraukan. Yang dipikirkannya sekarang hanyalah keselamatan putranya.


Beberapa mobil menyusul di belakang, termasuk Xander dan Tiam.


Tiga mobil mewah dan satu motor mewah itu terparkir sembarangan di depan pintu masuk RS Jaya Bandung, RS besar yang tentu saja memiliki fasilitas terjamin.


"SUSTER! SUSTER!!" Teriak Hutama kesetanan.


Tiga suster segera menghampiri mereka dengan membawa brankar dan memindahkan Farel.


"Farel! Bangun, Nak! Jangan buat Abah khawatir!" Panik Hutama menepuk pelan pipi sang putra sambil mendorong brankar menuju ICU, namun Farel tak memberikan reaksi sedikit pun.


"Mohon Bapak tunggu di luar!" Peringat sang suster melarang Hutama masuk ICU, Hutama pun mau tidak mau harus patuh agar proses penanganan Farel berjalan lancar.


"Mas?! Gimana sama Farel? Farel baik-baik aja, kan?" Tanya Raima menghampiri suaminya itu.


Hutama membawa Raima dalam pelukannya guna memberikan ketenangan. Jujur, dia tidak tahu bagaimana kondisi Farel. Tapi itu membuatnya sangat khawatir. Putranya itu belum pernah sakit separah ini.


"Farel pasti baik-baik aja! Anak kita kuat. Kamu jangan panik! Kasihan anak kita nanti ikutan panik," balas Hutama akhirnya membuka suara.


Hampir setengah jam Farel diperiksa hingga akhirnya dokter yang menangani keluar, "Keluarga pasien?" Tanya sang dokter yang langsung dihampiri Hutama.


"Saya Abah-nya. Bagaimana kondisi anak saya, Dok?"


"Luka di punggung dan mulutnya sudah dibersihkan. Juga baik-baik saja,"


"Tapi kenapa pingsan?" Tanya Xander tidak sabaran.


"Apa pasien ada terbentur?"


"Ti---"


"Ada, Dok, ada!" Potong Tiam pada kalimat Hutama.


"Apa maksudmu?" Murka Xander.


"Tadi sebelum kembali ke ponpes, Tuan hampir tertabrak truk dan banting stir hingga membentur trotoar. Saya sudah berniat membawa Tuan ke RS, tapi beliau menolak karena keberadaannya sedang dicari," jelas Tiam.


"Kenapa dengan kepalanya?" Tanya Xander tenang.


"Terdapat pembekuan darah pada lapisan pembungkus otak pasien,"


Penjelasan dokter yang bernama Ben itu membuat semua shock dan panik bersamaan. Terlebih Hutama dan Raima sebagai orang tua.

__ADS_1


"Bagaimana penanganannya?"


"Kami akan melakukan operasi. Tapi kami perlu persetujuan dari pihak keluarga,"


"Tingkat kesembuhannya?"


"Tinggi tingkat kesembuhannya. Tapi tentu saja ada beberapa resiko. Seperti lambatnya kerja otak. Namun itu tidak terjadi pada semua pasien yang menjalani operasi ini,"


"Lakukan yang terbaik untuk putra saya, Dok!"


"Kami pasti akan lakukan yang terbaik. Pihak keluarga bisa tanda tangani persetujuan dan membayar administrasi terlebih dahulu. Operasi akan dilakukan satu jam lagi,"


Hutama mengangguk dan segera menuju bagian administrasi. Rasanya Hutama tidak kuat. Ayah mana yang tega melihat putra kesayangannya terbaring lemah? Bahkan harus melakukan operasi? Terlebih lagi harus kepala yang dioperasi?


Sedangkan Raima kini sudah terduduk lemas menatap kosong dinding putih di hadapannya. Sebagai seorang ibu tentu saja Raima merasa gagal menjaga putranya.


"Ya Allah, kenapa harus putra Raima? Raima sakit melihat Farel, putra Raima terluka, Ya Allah," batin Raima masih dengan setia air mata membasahi pipi mulusnya.


"Apa kami tidak boleh menemui pasien, Sus?" Tanya Tiam saat seorang suster hendak masuk.


"Maaf, Pak, pasien sedang diobservasi untuk operasi nanti. Juga masih butuh beberapa penanganan,"


"Baik, terima kasih, Sus," balas Tiam menghela napas pasrah.


"Tiam, ikut aku!" Perintah Xander dan berlalu begitu saja menghiraukan tatapan heran dari keluarga Farel tentang siapa dirinya.


"Maaf, Tuan, saya tidak menjaga Tuan Asz dengan baik," sesal Tiam saat Xander membawanya ke taman RS.


"Bagaimana supir yang hampir menyerempet Asz?"


"Dia baik-baik saja, Tuan. Dia tadi juga sudah menawari untuk ke RS, tapi Tuan Asz menolak keras,"


"Di mana anak ingusan yang melukai cucuku tadi?"


"Dia tidak ikut, Tuan. Orang saya tadi sempat melihatnya masuk ke salah satu bar di Bandung,"


"Apa aku harus memberinya pelajaran? Atau langsung mengantarnya ke neraka?"


"Saya tidak tau, Tuan. Saya tidak yakin dengan keduanya. Sebab, tadi siang Tuan Asz meminta saya mencari identitasnya dan ternyata---"


"Ternyata apa?" Tanya Xander penasaran.


"Zaki, pria itu, adalah sepupu kandung Tuan Asz,"


"****!!" Umpat pria berkepala empat itu menendang kursi taman.


"Kenapa cucuku harus mengalami ini semua, Tiam?! Mengapa Tuhan harus memilihnya? Cucuku tidak sekuat itu! Kapan cucuku akan bahagia, Tiam?" Lirih  Xander terduduk di tanah berumput dengan air mata yang mulai membasahi pipinya.


"Saya yakin Tuan Asz mampu menghadapi ini semua. Tuan Asz adalah sosok terkuat yang pernah saya temui. Tuan harus percaya pada Tuan Asz. Dan yakin bahwa Tuhan sudah menyiapkan hal indah untuk Tuan Asz,"

__ADS_1


"Hidup itu sudah Allah atur sedemikian rupa. Tak perlu kamu khawatir dan merasa susah. Pasti akan ada seribu jalan untuk satu masalah. Tidak ada gunanya kamu meratap seperti ini," ucap seorang wanita berhijab berdiri dihadapan Xander menyodorkan sebuah sapu tangan.


Xander mendongak dengan wajah heran, "Saya tidak mengenalmu," balas Xander dingin.


Wanita itu tersenyum tulus, "aku juga tidak mengenalmu. Tapi aku tidak sengaja mendengar keluhanmu tadi. Ini! Hapus air matamu! Cucumu tidak suka kamu menangis," ucapnya lagi dan Xander memilih menerima sapu tangan itu.


"Allah berfirman dalam surah Al-A'raf ayat 188, "Katakanlah (hai Muhammad), "aku tidak berkuasa menarik kemanfaatan bagi diriku dan tidak (pula) menolak kemudharatan kecuali yang dikehendaki Allah. Dan sekiranya aku mengetahui yang ghaib, tentulah aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa kemudharatan. Aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan, dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman". Jadi, jangan mengeluh seperti itu,"


"Allah juga berfirman, "dan hendaklah takut (kepada Allah) orang-orang yang sekiranya mereka meninggalkan keturunan yang lemah di belakang mereka yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan)nya. Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertakwa kepada Allah, dan hendaklah mereka berbicara dengan tutur kata yang benar". Surah An-Nisa' ayat sembilan,"


"Iya," balas Xander terhadap ocehan wanita dihadapannya ini. Bingung sebenarnya, tapi mau bagaimana lagi? Xander baru pertama kali ditempatkan pada posisi seperti ini.


"Seharusnya kamu juga tahu kalau Allah tidak akan menguji hamba-Nya di luar batas kemampuan seorang hamba,"


"Yes, i know,"


Wanita itu kembali tersenyum sambil mengangguk, "Semoga cucumu lekas sembuh. Assalamu'alaikum,"


"Wa'alaikumussalam,"


"Siapa namamu?" Tanya Xander mencegah wanita itu pergi.


"Namaku Mayang," jawabnya yang hanya diangguki Xander.


Wanita yang bernama Mayang itu pun benar-benar pergi setelah memastikan tak ada lagi pertanyaan dari Xander.


"Tuan?" Panggil Tiam membuyarkan lamunan Xander.


"Ya?"


"Sebentar lagi Tuan Asz akan operasi,"


"Ya," jawab Xander singkat dan berlalu dari taman itu dengan pikiran berkecamuk mengingat ucapan wanita bernama Mayang.


Saat sampai di ruang ICU, bersamaan saat Farel keluar hendak menuju ruang operasi. Mereka semua berkumpul melingkari brankar Farel.


Tangis Raima, Jamilah, kedua adik Farel dan Fisha semakin memenuhi ruangan bernuansa putih itu. Mereka seperti merasakan bagaimana sakitnya Farel sekarang. Bernapas dibantu alat oksigen, diinfus, luka di mana-mana dan wajahnya memucat dengan bibir membiru.


"Tanganmu dingin sekali. Berjanjilah padaku kau akan baik-baik saja, Asz!" Lirih Xander menggenggam telapak tangan Farel sebelum pria yang disapanya itu sebagai cucu, masuk ke dalam ruang operasi.


Para suster mendorong brankar masuk ke dalam ruang operasi melepas paksa genggaman Xander pada Farel.


Pintu ruangan dingin itu tertutup. Lampu pertanda sedang operasi menyala. Semuanya menatap kosong dengan pikiran gundah gulana.


"Operasi akan berjalan kurang lebih enam jam. Kau istirahatlah! Farel tak akan suka melihat Umma-nya menangis," ucap Xander pada Raima.


"Maaf sebelumnya, anda siapa?" Tanya Hutama lugas.


Xander tersenyum tipis, "Kalian tidak perlu tau siapa aku. Cukup lakukan apa yang aku katakan. Bawa istrimu istirahat!" Jawab Xander dan berlalu pergi meninggalkan tempat itu yang diikuti Tiam. Sekarang tujuannya adalah musholla masjid. Selain belum sholat isya, pria itu juga ingin berdoa pada Sang Pencipta untuk keselamatan Farel.

__ADS_1


Tbc...


__ADS_2