
"SELAMAT MORNING SEMUA!!" Teriak Dylan menuju meja makan. Mereka semua akan sarapan bersama pagi ini.
"Pagi juga,"
"Bisa gak sih, gak usah teriak?! Gak punya sopan! Lo pikir ini rumah lo?!" Gertak Nia.
"Sellow dong, Cantik. Masih pagi ini, masa udah marah-marah? Cepet tua loh nanti,"
"Lo!!" Ucap Nia menggeram tertahan.
"Mau langsung ke apart Bang?" Tanya Raima melihat putra sulungnya itu membawa koper.
Farel mengangguk. "Pulang sekolah," jawabnya singkat dan duduk di kursi meja makan tempat biasa dia duduk.
Setelahnya mereka lebih memilih untuk sarapan. Hanya keheningan yang ada di antara mereka. Termasuk Dylan dan Yusuf yang biasanya biang RUSUH.
****
"Nanti sering-sering main ke rumah ya, Bang?! Jaga kesehatan! Jangan tawuran terus!" Nasihat Raima pada putra kesayangannya itu yang hanya diangguki oleh sang anak.
"Kalau ada apa-apa hubungi Abah! Jaga kesehatan! Jangan buat Abah sama Umma khawatir! Sekolah yang bener! Makan yang teratur! Kalau butuh uang bilang A--"
"Abah," potong Farel pelan. Abahnya itu lebih cerewet terhadap dirinya dibandingkan sang umma.
Hutama menghela napasnya dan mengangguk. Berat untuknya membiarkan sang putra untuk tinggal sendiri. Tapi mau bagaimana lagi?
"Berasa diusir si Farel," ucap Yusuf yang membuat Farel berdecak. Lain halnya dengan Hutama yang wajahnya semakin tak sedap dipandang.
"Bener?" Tanya Hutama.
"Musyrik sama Yusuf," jawab Farel dan langsung mencium tangan kedua orang tuanya tak mau drama ini semakin panjang.
"Assalamu'alaikum,"
"Wa'alaikumussalam,"
"Ra, aku berangkat dulu," ucap Afnan pada Zira.
"Kok pamit sama Zira? Bukannya nanti kita ketemu lagi di sekolah?" Tanya Zira yang membuat semua tertawa.
Afnan mengangguk membenarkan ucapan gadis yang sudah diclaim-nya saat gadis itu baru lahir, "Pengen aja,"
"Oh, oke oke. Semangat belajarnya!" Ucap Zira yang membuat senyum Afnan tak bisa disembunyikan.
"Khem, telat nih entar," ucap Adam membuyarkan ke-uwu-an dua sejoli itu.
"Ck, ayo!" Ucap Afnan.
"Milea-nya Dylan, Dylan berangkat dulu, ya?! Jangan rindu! Berat. Biar Dylan aja," ucap Dylan dengan gombalan mautnya pada Milea.
"Gak minat buat rindu sama kamu,"
"Loooh awas, loh! Ntar rindu beneran lagih,"
"Buruan!" Ucap Farel geram dengan sahabat-sahabatnya yang kebanyakan bacot itu.
"Lo gak pamit calon lo, Rel?" Tanya Adam.
Farel mengangkat alisnya sebelah seolah bertanya 'siapa calonnya?'
Adam menunjuk Fisha dengan dagunya. "Ituloh,"
Farel berdecak kesal. Tanpa mau banyak kata lagi Farel pun langsung melajukan motornya meninggalkan sahabat-sahabat gilanya itu.
"WOY, FAREL KAMPRET!!" Teriak Dylan.
"Buruan! Bukan malah teriak, Bego!" Umpat Afnan dan ikut menyusul Farel diikuti yang lain.
Raima menggelengkan kepalanya melihat komplotan RANDA yang senang kali membuat kocak itu.
"Bah, Ma, kita berangkat juga," ucap Nia mencium tangan abah dan ummanya diikuti yang lain.
"Iya, belajar yang rajin. Kalau ada apa-apa hubungi Abah atau Umma,"
"Iya, assalamu'alaikum,"
"Wa'alaikumussalam,"
Nia, Zira, Fisha dan Milea pun berangkat dengan diantar oleh supir pribadi mereka.
***
Kelima pria itu memakirkan motornya dengan rapi di parkiran luas milik sekolah. Jeritan siswi banyak terdengar di pendengaran mereka saat gerakan serentak dari mereka kala merapikan rambutnya.
"Tau gue ganteng, tapi gak usah lebay, deh," ucap Dylan saat mereka berjalan menyusuri koridor yang sudah penuh dengan siswa siswi.
"Bacot lo banyak amat. Padahal mah seneng," sewot Yusuf yang membuat Dylan menyengir.
"Tumben lo gak tepe-tepe?" Tanya Adam pada sahabat gesreknya itu.
"Tobat gue. Gue sudah menemukan tambatan hati," jawab Dylan yang membuat mereka mendelik jyjyk.
__ADS_1
"Siapa? Milea?"
Dylan mengangguk mantap. "Yoi, siapa lagi?! Wajahnya teduh. Adem banget gue liatnya,"
"Dosa! Zina!" Ucap Farel memperingatkan agar sahabatnya itu tidak berangan-angan pada orang yang bukan mahram.
Rasulullah bersabda, "Sesungguhnya Allah menulis bagian dari perzinaan kepada anak Adam. Dia pasti mendapatkan bagian itu. Zina mata adalah melihat, zina lisan adalah mengatakannya. Sedangkan jiwa berangan-angan dan menginginkannya. Dan ******** membenarkan itu semua atau mendustakannya (membuktikannya)." HR. Bukhari dan Muslim.
"Iya iya, gue gak angan-angan. Cuma kesemsem,"
"Iyi iyi gii gi ingin-ingin. Cimi kisimsim," balas Yusuf menye-menye.
"Kurang ajar, lo! Jomblo mah diem aja!"
"Halah bacot! Paling besok udah balek lagi ke sipat setannya,"
"Lo tuh, setannya,"
"Yang penting ganteng,"
"Mana ada setan ganteng,"
"Berisik mulu!! Gak bosen apa?!" Geram Adam.
"Enggak," jawab mereka bebarengan yang langsung mendapatkan jitakan dari Afnan.
"Bolos kuy!" Ajak Adam.
"Astaghfirullah banget kamu, Nak! Ngalah-ngalahin hasutan setan!" Ucap Dylan mendramatis.
"Bacot lo! Udah kuy, bolos! Pelajarannya BuTut, males gue,"
"Buk Tuti, bukan BuTut," ucap Yusuf lalu terkekeh.
"Gue gak hari ini," ucap Afnan.
"Hem yadeh, yang disemangatin sama pujaan hati. Sialan emang. Lo lo pada udah ada gebetan," ucap Adam yang mulutnya langsung mendapatkan sentilan kuat dari Farel.
"Mulut lo!"
Adam menyengir, "Maap khilap,"
Farel mendengus dan beranjak dari duduknya.
"Ke mana?" Tanya Afnan.
"Bolos," jawab Farel dan melenggang pergi.
"Bolos," jawab Farel dengan santainya dan langsung mendapatkan jeweran di telinganya.
Farel meringis pelan, "Kok Farel dijewer sih, Buk? Dia salah apa? Kan dia udah jawab jujur, kalo dia mau bolos," ucap Dylan.
"KALIAN INI, YA?! KELAKUANNYA SAMA SAJA! LARI DI LAPANGAN DUA PULUH KALI!"
"Kalian siapa nih, Buk?"
Buk Tuti menggeram dengan tingkah muridnya yang kelewat kurang ajar ini, "FAREL! AFNAN! ADAM! YUSUF! DYLAN! KELUAR KALIAN LARI LAPANGAN DUA PULUH KALI!!"
"Buk, hati-hati loh! Jangan teriak mulu! Tetangga Dylan ada yang suka teriak langsung mati,"
Buk Tuti mengepalkan tangannya. Mungkin kalau di film kartun BuTut sudah mengeluarkan tanduk dan asap dari telinga serta hidungnya.
"Gak usah banyak omong kamu! Cepat kalian lari!!"
"Buk, Afnan gak mau bolos ngapain ikutan dihukum?!" Protes Afnan.
"Gak boleh gitu dong, Afnan. Satu susah semua susah. Satu seneng semua seneng," jawab Yusuf dan langsung menarik Afnan keluar kelas.
"Keparat emang kalian!" Geram Afnan yang tak dihiraukan oleh mereka.
Dan beginilah mereka sekarang. Berlari keliling lapangan sebanyak dua puluh kali. Mereka baru menyelesaikan lima putaran. Keringat sudah membasahi tubuh mereka. Bahkan kancing baju mereka sudah dilepas sehingga menampakkan kaos hitam maupun kaos putih yang mereka pakai.
"Buset dah kaki gue gimana jadinya ntar, nih?! Gue belum kawin oy,, belum punya bini buat suruh pijitin," gerutu Dylan.
"Nikah goblok! Bukan kawin. Emang lo mau jebolin anak gadis orang dulu baru lo nikahin?!" Sarkas Yusuf.
"Buset dah, amit-amit. Nikah dulu lah. Karna sesungguhnya nikah dulu baru kawin itu lebih indah," jawab Dylan mendramatis.
"Dosa apa gue punya sahabat otaknya ngeres semua?!" Ucap Adam.
"Dosa lo banyak,"
"Banyak cocot, kau! Macam ssedikit aja dosa kau!"
Farel menggelengkan kepalanya heran dengan tingkah sahabat-sahabatnya ini. Salah apa dia sampai harus punya sahabat sebobrok mereka?
Netra tajam nan menawan milik Farel melihat sesuatu yang menarik perhatiannya. Seorang gadis berhijab sedang celingukan di lantai tiga. Tepatnya koridor kelas XI.
Farel menajamkan indra penglihatannya. Dan benar saja. Gadis yang sedang celingukan itu adalah gadis yang membuat dirinya tak menentu beberapa hari ini, Fisha. Ya, Fisha memporak-porandakan hati Farel.
Tanpa pamit dan tanpa kata Farel langsung menghampiri gadis itu walau jaraknya cukup jauh.
__ADS_1
"WOY! MAU KEMANA LO, BOS?" Tanya Yusuf berteriak.
"Bentar!" Jawab Farel pelan namun masih terdengar jelas.
"Waah, gercep juga tuh cowok kulkas," ucap Adam saat melihat Farel menghampiri Fisha.
"Ckck,, Boss gue, tuh! Lebih gercep dari gue ternyata,"
"Bacot lo pada!"
"Sirik aja lo, Nan. Seharusnya lo bersyukur Farel dah punya tambatan hati. Gak perlu nunggu kan, lo sama Zira,"
"Ck, sibuk amat sama urusan gue," sinis Afnan.
***
"Kenapa?" Tanya Farel saat dirinya sudah berdiri di hadapan Fisha yang terlihat kebingungan.
Fisha menundukkan kepalanya. "Cari toilet gak ketemu,"
"Sendiri?"
"Iya,"
Farel berdecak dan mengadahkan tangannya. "Hp lo?"
"Ketinggalan di tas," jawab Fisha yang lagi-lagi membuat Farel berdecak.
Farel meninggalkan Fisha. Dengan kasar Farel membuka salah satu pintu kelas membuat penghuninya terlonjak kaget.
"Alfarel!! Ngapain kamu?! Kenapa ada di sini? Kamu gak belajar?" Marah sang guru yang menghajar.
Farel menggeleng. "Dihukum," jawabnya santai dan menuju salah satu kursi seorang gadis. Semua gadis memekik tertahan melihat bad boy kesayangan SMA Khatulistiwa.
"Ikut gue!" Ucap Farel pada gadis itu.
"A-aku? K-ke ma-mana?" Tanya gadis itu gugup.
"Buruan!" Ucap Farel lagi tanpa mau menjawab dan langsung keluar kelas.
"Mau kamu bawa ke mana Siska, Farel?!" Tanya sang guru.
"Toilet," jawab Farel tanpa berpikir panjang membuat semua yang di dalam kelas serentak melongo.
Sang guru dan semua murid serentak keluar kelas memastikan ucapan Farel. Ternyata Farel membawa gadis bernama Siska itu ke hadapan Fisha.
"Antar!" Ucap Farel pada Siska.
"A-antar ke mana?"
"Toilet,"
"Eh, gak usah! Nanti ngerepotin. Kasih tunjuk aja di mana toiletnya," jawab Fisha cepat.
"Ck, cepet!" Titah Farel tak terbantahkan. Siska pun langsung menarik tangan Fisha menuju toilet.
"Maaf ya, aku ngerepotin kamu," ucap Fisha tak enak pada Siska. Saat ini mereka berada di toilet berdua.
Siska tersenyum tulus. "Gak papa, kok. Oh ya, nama gue Siska. Nama lo?"
"Nafisha. Panggil Fisha aja. Aku santriwati pertukaran pelajar dari ponpes Al-Istiqomah,"
"Oh, pantes. Lo doang yang pake hijab di sekolah ini selain Nia, Zira dan guru-guru,"
Fisha tersenyum. "Ada Milea juga. Dia sama kayak aku,"
"Eh, woy! Kalian ditungguin tuh kayaknya sama Kak Farel," ucap dua gadis yang baru masuk pada Fisha dan Siska.
"Hah?! Oh, iya. Makasih ya," jawab Fisha dan langsung menarik Siska untuk menemui Farel.
"Gus ngapain di depan toilet cewek?" Tanya Fisha memberanikan diri.
"Farel not Gus!" Koreksi Farel.
"I-iya kan emang G-"
"Nomor lo," potong Farel menyerahkan hp-nya. Fisha tanpa mau banyak bicara pun memilih mengambil hp Farel dan mengetikkan nomornya.
Farel mengotak-atik ponselnya dan mengirim sesuatu pada Fisha, "Gue kirim denah sekolah. Jangan sok kalau gak tau!" Ucap Farel begitu menyayat di akhir kalimatnya dan langsung melenggang pergi.
"KYAA!! ITU BENERAN KAK FAREL?! YA AMPUN GANTENG BANGET!! MANA SWEET LAGI!!" Teriak Siska histeris.
"Sweet apanya? Sarkas gitu," gumam Fisha.
"Lo gak tau aja, Sha! Kak Farel itu dingin banget sampe gak tersentuh. Seharusnya lo bersyukur diperhatiin sama dia,"
Fisha hanya mengangguk, malas berdebat. Mereka berdua pun memilih untuk kembali ke kelasnya masing-masing.
"Fisha kenapa Ya Allah? Jantung Fisha kok detaknya cepet banget?"
Tbc...
__ADS_1
^^^#as.zey^^^