
..."Aku selalu membanding-bandingkanmu dengan orang lain. Aku tahu itu salah, tapi aku selalu melakukannya tanpa sadar,"...
...Fisha...
Setelah menyelesaikan acara makan siang secara kilat, Fisha bergegas menuju masjid untuk melaksanakan sholat zuhur yang sudah ia tunda beberapa waktu.
Baru saja hendak masuk ke masjid, langkahnya harus terhalang saat seorang pria yang berlawanan darinya berdiri menjulang di hadapannya, pria itu akan keluar dari masjid.
Fisha menundukkan kepalanya, ia tahu siapa pria itu, Gibran, si Ketua BEM yang digadang-gadang tampan oleh Clara pagi tadi.
Omong-omong tentang Clara, gadis itu menunggunya di kantin karena gadis itu berhalangan katanya.
"Maaf, permisi," ujar Fisha saat Gibran tak juga mangkir dari posisinya, bahkan saat Fisha sudah memberinya jalan untuk keluar.
Gibran tak juga beralih, pria itu bahkan dengan asiknya menatap Fisha yang kepalanya tertunduk.
Fisha berdecak tanpa segan, "Anda menghalangi langkah saya untuk menghadap Tuhan saya!" sarkas Fisha.
Pria bernama Gibran itu tiba-tiba tersadar, Fisha mampu mendengar Gibran beristighfar, "Maaf," ungkap Gibran dan berlalu.
"Gak ada pintu lain apa?!" kesal Fisha berlalu masuk ke dalam masjid, tak peduli jika Gibran mendengar gerutuannya.
"Gadis yang menarik," gumam Gibran menatap Fisha yang sudah menghilang dalam luasnya masjid.
Berbeda dengan Gibran yang terpaku pada kecantikan Fisha, saat ini si korban sedang asyik bercengkrama dengan Tuhannya dalam sholat dan doa yang tak pernah ia lupakan.
"Ya Allah, Fisha mau Gus pulang. Ya Allah, jagakan Gus. Sungguh, Engkau sebaik-baiknya tempat berlindung," selalu kalimat itulah yang Fisha hantarkan pada Allah, ia hanya ingin Gus-nya pulang dan baik-baik saja.
Hampir lima belas menit waktu yang Fisha butuhkan untuk mengadu pada Allah. Ia sudah terlambat hampir setengah jam dari jam istirahat yang telah ditetapkan, dan Fisha tak peduli akan hal itu.
Kening Fisha berkerut saat mendapati sosok Gibran yang duduk di teras masjid dengan posisi membelakanginya. Sebenarnya Fisha tak peduli, namun Ketua BEM itu duduk di dekat sepatunya.
"Permisi, saya mau ambil sepatu," ucap Fisha menyadarkan Gibran dari lamunannya, Fisha pun sudah seberusaha mungkin untuk berujar dengan sopan.
Gibran lekas berdiri dari posisi duduknya, Fisha pun dengan santai langsung memakai sepatunya tanpa peduli keberadaan Gibran yang berdiri menjulang di hadapannya.
"Kamu sudah terlambat hampir setengah jam. Tidak takut dihukum?" tanya Gibran yang bagi Fisha terlalu sok akrab.
"Saya lebih takut Allah menghukum saya karena meninggalkan sholat. Lagi pula, ketua panitianya saja terlambat," jawab Fisha terkesan dingin dan tidak sopan, tapi ia tak peduli dan berlalu.
"Kok nyesek, ya?" gumam Gibran memegangi dadanya, namun tak urung bibirnya membentuk lengkungan manis.
"Dari mana saja kamu?! Kamu sudah terlambat setengah jam?!" suara itu membuat Fisha merotasikan matanya malas. Melati itu rempong dan cerewet menurut Fisha.
"Ngadep Tuhan," jawab Fisha santai dan semakin jengah saat melihat Gibran datang. Entah apa salah Gibran, tapi Fisha tiba-tiba merasa tidak baik pada Gibran.
"Kamu harus dihukum, sepulang OSPEK nanti, kamu bersihkan lapangan ini!" sabda Melati begitu meratunya.
Fisha berdecih sinis, bahkan mata cantiknya berani menatap penuh kesal pada Melati. Hanya itu respon yang Fisha berikan sebelum ia mengambil barisannya di dekat Clara.
__ADS_1
Berbeda dengan Fisha yang tetap santai, Melati justru seperti kebakaran jenggot. Harga dirinya seperti dijatuhkan oleh Fisha yang berstatus MABA.
"Sabar, Ti," ujar Gibran terkekeh.
"Berani banget sih, lo, Sha! Kalo ntar tu orang nyusahin lo gimana?!" tanya Clara heboh.
"Bodo amat, kesel!" tampaknya Fisha mulai terbuka pada Clara, mungkin karena Clara memiliki karakter yang asik.
***
Semua peserta OSPEK mulai berhamburan meninggalkan lapangan setelah ashar, bersiap untuk kembali ke rumah dan mungkin saja langsung bersua dengan ranjangnya. Tapi tidak dengan Fisha. Di tangannya saat ini terdapat sebuah sapu, siap membersihkan lapangan yang besarnya bukan main, sendirian. Bertambah kesallah seorang Fisha.
"Ya Allah, kesel banget hari ini!" adu Fisha dengan gerakan menyapu.
"Kenapa kesal?" pertanyaan itu membuat Fisha menoleh dan mendapati sosok Gibran.
Untuk kesekian kalinya hari ini, mata Fisha kembali merotasi jengah, "Bukan urusan anda!" sarkas Fisha.
"Maaf, saya belum bisa menjadi contoh untuk kamu. Mari saya bantu, saya juga terlambat tadi,"
Fisha terkekeh sinis, "Saya gak perlu mencontoh kamu!" hardik Fisha meski dalam hatinya terus beristighfar.
Gibran terkekeh, "Kamu kenapa? Sepertinya tidak suka pada saya? Saya punya salah?"
"Anda membuat saya ri—"
Fisha yang tadinya berwajah kesal berubah menjadi sumringah saat melihat RANDA, para sahabatnya, Nika, Nia dan Zira menghampirinya. Bahkan ada Tiam juga bersama seorang gadis yang Fisha tidak ketahui identitasnya.
"Kakak!! Kangen!!" Zira dengan manja dan tak tahu malunya memeluk Fisha.
"Kakak juga kangen!!"
"Ngapain sih, Sha, lama banget?! Kita jamuran nungguin lo!" seru Nia kesal.
"Dihukum, telat tadi," jawab Fisha santai sambil mengambil sapu yang tadi sempat ia jatuhkan.
"Lama dong berarti? Kita kan mau jalan," rajuk Zira.
"Aku suruh orang saja," Tiam membuka suara dan tanpa persetujuan Fisha, Tiam langsung menghubungi suruhannya.
Fisha tak marah, ia justru tersenyum sumringah dan mencampakkan sapunya, "Tiam emang paling pengertian," girang Fisha, tak peduli jika ia dicap tak bertanggung jawab.
"Saya sudah suruh orang, kamu juga bisa meninggalkan lapangan," ujar Tiam pada Gibran, ia tahu Fisha merasa tak nyaman di dekat Gibran.
"Barang lo di mana, Sha?" tanya Afnan.
"Tuh, di pinggir lapangan," Fisha menunjuk tasnya yang berisi lumayan banyak barang.
Afnan dengan pekanya bergerak untuk mengambil tas Fisha dan membawanya.
__ADS_1
"Ayo!" ajak Afnan disambut senyum bahagia oleh mereka, kecuali Tiam yang amat kalem.
Sedangkan Gibran hanya diam berdiri mematung menatap kepergian segerombolan geng itu dengan heran. Gibran tak bohong pada hatinya, Fisha menarik perhatiannya dalam sekejap.
"Mari, para cewek-cewek cantik, kita naik mobil dengan Bapak Tiam sebagai supir kita!" Nika dengan santainya langsung naik ke atas mobil yang atapnya terbuka.
Tiam hanya bisa pasrah, memang sudah begitu ketentuannya, ia akan menyupir sore ini untuk para gadis.
"OKEY, LET'S GO!!!" para gadis dengan semangatnya berteriak dan berdiri menikmati angin sore Bandung.
"Nambah satu member nih," singgung Fisha menatap seorang gadis yang duduk sok manis di samping Tiam.
Tiam terkekeh pelan, "Ermira, yang waktu itu nelpon saya,"
"Yang waktu kamu kunjungan sama Ley? Yang ngira kamu lagi selingkuh?" canda Fisha sambil menyindir, membuat Ermira malu sendiri, sedangkan yang lain tertawa.
"Iya,"
"Aku Fisha, selingkuhannya Tiam," ungkap Fisha terkekeh.
"Ermira, masa depannya Altiam," balas Ermira tak mau kalah, membuat seisi mobil tertawa, minus Tiam yang hanya terkekeh sambil menatap jalanan.
"Iya deh, yang cuma selingkuhannya bisa apa?!" goda Fisha.
"Anak orang tuh, Sha yang lo rusuhin," ucap Nika turut menggoda.
"Oh, iya, Ley mana? Kok gak ikut? Kamu juga kok bisa nyasar di sini?" Fisha mengalihkan pembicaraan.
"Ley berangkat ke Kalimantan tadi. Ada masalah di perusahaan Ayah yang di sana. Gak sempat pamit, jadi titip salam. Aku juga mau pamit, besok aku bakal ke Korea, lumayan lama. Terus Mira mau ikut dan akhirnya diajak RANDA buat jalan sama kamu dan yang lain," jelas Tiam panjang lebar.
"Kamu gak bilang aku mau ke Korea?" sinis Ermira.
"Maaf, niatnya mau bilang besok," balas Tiam memilih mengalah.
"Ngapain ke Korea?" tanya Fisha tak mau urusannya semakin panjang.
"Perusahaan Ayah gak cuma satu," jawab Tiam yang agak terdengar sombong bagi Fisha.
"Cih, sombong!" sinis Ermira yang amat teramat mewakili Fisha.
Tiam terkekeh, "Jadi, kita mau ke mana? RANDA udah ngikutin dari tadi,"
"Panti Asuhan Rindu,"
"Panti asuhan?!"
Tbc...
^^^as.zey^^^
__ADS_1