
..."Setahun lamanya lo pergi. Lo di mana? Gue mau ketemu sama lo lagi, Rel,"...
...Dylan...
Seiringnya waktu, pasti akan ada banyak perubahan yang terjadi, entah pada sikap atau pun kehidupan. Yang pasti, kehidupan akan terus berjalan meninggalkan masa lalu dan memulai kehidupan baru setiap harinya.
Tanpa mereka sadari, sudah setahun lamanya Farel meninggalkan mereka tanpa kepastian ke mana pria itu pergi. Selama setahun pula mereka banyak mengalami perubahan. Yang biasanya sering tertawa, kini berubah menjadi pendiam. Yang pendiam semakin pendiam. Yang kasar semakin kasar. Dan hadirnya orang baru pun tak bisa mereka hindari mau pun mereka tolak.
"Ma! Ma!" Suara imut itu mengalihkan perhatian Raima, umma Farel yang selama ini selalu merindukan sosok putranya.
Raima menoleh pada putra kecilnya yang asyik bermain di atas ranjang. Tangan kecilnya menggenggam sebuah foto yang semakin menyayat hati Raima.
"Kenapa? Adek haus?" Tanya Raima lembut.
Anak laki-laki berusia setahun itu menggeleng dengan lucunya, "No!"
"Jadi? Adek ngantuk?"
"No!"
"Ya udah, main sama Umma aja,"
"No!"
Raima terkekeh mendengar respon anak bungsunya yang selalu menjawab 'no'. Tangannya pun tergerak mengusap rambut lebat cokelat susu sang putra.
"Anak Abah lagi ngapain tuh sama Umma? Kok mukanya jelek?" Hutama masuk ke kamar dengan wajah tenangnya dan ikut bergabung bersama anak istrinya.
"Abil nda eyek!" Bocah itu menatap sang abah dengan kesal karena menyebut dirinya jelek.
Hutama dan Raima terkekeh melihat tingkah anak bungsu mereka. Lahirnya putra mereka seolah menjadi pengobat rasa sedih mereka atas perginya Farel yang tak tahu entah ke mana.
Abilash Shaquille Pramayudha
Itu adalah nama yang Hutama tetapkan untuk putra bungsunya. Abilash adalah nama yang dipilih oleh Farel sebelum dia pergi. Hutama menemukan nama itu di kamar Farel.
Sesuai namanya, Abilash benar-benar menjadi pelengkap di tengah-tengah mereka. Wajah tampan pun sudah terlihat jelas pada Abilash yang akrab dipanggil Abil itu. Wajahnya bisa dibilang mirip dengan Farel dan Raima. Matanya yang tajam dan hidung mancungnga persis seperti Farel. Sedangkan bibir dan warna kulitnya sama seperti Hutama. Untuk rambutnya sama seperti Raima. Benar-benar pelengkap di keluarga Pramayudha.
"Iya deh, Adek ganteng. Kan Abil anak Abah," gemas Hutama membawa Abil ke pangkuannya.
"Adek pegang foto siapa tuh?" Tanya Hutama melirik foto terbalik yang dipegang Abil.
"Ni capa?" Abil bertanya dengan jari telunjuk mungilnya di wajah pria yang di foto.
Hutama dan Raima membeku seketika. Mereka tidak menyangka bahwa putra kecil mereka dengan cepat menyadari ketidak adaan sosok Farel.
"Emang Adek gak tau itu siapa?" Hutama bertanya dengan suara bergetar, dan gelenganlah yang Hutama terima dari Abil.
"Dia Abang Farel, abangnya Abil, Kak Nia sama Kak Zira,"
"Bang Alel?"
"Iya, Abang Farel. Ganteng, kan? Mirip sama Adek,"
"Mana Bang Alel?"
"Bang Farel lagi sekolah. Sekolahnya jauh banget. Nanti kalau udah siap sekolah, Abang Farel pulang," Hutama berceloteh tanpa peduli bahwa Abil akan mengerti atau tidak.
"Skul?"
"Iya,"
"Abah, Umma, ada Bang RANDA di bawah," Nia masuk ke kamar dan berujar demikian.
"Loh? RANDA ke mari?" Heran Hutama dan hanya diangguki Nia.
"Ya udah, ayo turun!" Hutama langsung membawa Abil ke gendongannya.
__ADS_1
"Ima mau ke kamar mandi dulu," tanpa menunggu balasan dari sang suami, Raima langsung masuk ke kamar mandi.
Hutama menatap sendu kamar mandi yang tertutup rapat itu. Dia tahu, istrinya itu pasti sangat merindukan putra pertama mereka. Hutama pun juga merasakan apa yang Raima rasakan. Farel mungkin memang bukan putra kandungnya, tapi Hutama benar-benar menyayangi Farel melebihi dirinya sendiri.
"RANDA gak pada kuliah kok main ke sini?" Pertanyaan itu langsung Hutama lontarkan ketika berhadapan dengan RANDA, para sahabat Farel yang sampai kini masih begitu.
"Enggak, Bah. Jadwal kita semua pada kosong, makanya main ke sini," jelas Adam yang diangguki Hutama.
"Abil ngapain dipangku sama Abah? Gak malu udah besar masih dipangku?" Dylan mulai mengusili Abil. Dylan memang menjadi sosok yang lebih pendiam, namun pria itu menjadi seperti dulu saat sedang bersama Abil.
"Abil kan macih kecil," jawab Abil cuek, rasanya persis seperti Farel yang akan selalu cuek meski diusili.
"Masa sih? Coba sini Abang pangku! Masih ringan atau udah berat?" Dylan langsung mengambil alih Abil meski pun bocah itu sempat memberontak.
"Udah berat gini kok. Tandanya Abil udah gede,"
"Kecil!"
"Besar!"
"Kecil!"
"Besar!"
"Kecil!"
"Kecil!"
"Ecal!"
"Nahh kan! Abil besar," tawa Dylan bahagia karena berhasil mengusili Abil.
"Dyan eyek! Bang Alel anteng, cam Abil," Abil menunjukkan foto Farel yang masih dipegangnya. Tawa Dylan terhenti seketika.
Dylan tersenyum tipis, tangannya tergerak mengusap foto itu, bahkan matanya memerah, siap menangis, bibirnya pun mulai bergetar.
"Lo apa kabar, Rel? Gue kangen sama lo. Apa lo tau, kalau sekarang gue kuliah jurusan bisnis? RANDA yang lain juga kuliah sesuai jurusan yang mereka mau. Emang lo masih ingat jurusan impian kita? Gue yang jurusan bisnis sama Adam. Afnan kedokteran dan Yusuf jurusan Arsitek. Apa lo di sana udah ada di jurusan yang lo mau? Jurusan bisnis? Sama kayak gue dan Adam?" Dylan berujar dalam hati.
"Bang Dyna napa? Kok angis? Bang Dyan engeng, Bah," Abil bersuara yang menyadarkan lamunan Dylan.
Dylan terkekeh sumbang dan segera menghapus air matanya yang entah sejak kapan sudah menerobos pertahanannya agar tidak menangis.
"Abang gak nangis kok, cuma kelilipan," ujar Dylan sambil mengusap kepala Abil.
Abil berdiri dari pangkuan Dylan. Tangan mungilnya menangkup wajah Dylan, menatap mata teduh milik pria itu. Jari jempolnya pun mengusap air mata Dylan.
"Angan angis! Abil ndak cuka Bang Yan angis,"
Dylan tertawa dengan air mata yang kian deras. Dibawanya Abil ke dalam pelukannya dan menangis di pelukan bocah yang masih berusia satu tahun namun cerdas itu.
"Abil sama kayak lo, Rel. Selalu bisa dan selalu ada buat gue," batin Dylan lagi.
"Kalian udah ma-- loh? Dylan kenapa nangis?" Tanya Raima menghampiri mereka yang terdiam sendu.
Dylan segera menghapus air matanya, "Gak papa, Ma. Cuma terharu aja tadi Abil bilang kalau Dylan ganteng," jelas Dylan terkekeh sumbang, Raima pun hanya mengangguk mengiyakan meski dia tahu bukan itu penyebabnya.
"Kalian udah makan? Makan siang bareng di sini aja," tawar Raima.
"Kita ke sini emang mau numpang makan, Ma," kekeh Yusuf membuat Raima tersenyum.
"Ya udah, ayo ke ruang makan!" Raima mengajak mereka sambil menggendong Abil.
"Au cama Bang Yan," Abil memberontak di gendongan sang Umma dan menujulurkan tangannya pada Dylan agar pria itu menggendongnya.
"Gak ah, Abil berat, Abang gak kuat gendongnya," jahil Dylan.
"AAAAAAAA!" Abil berteriak kesal dan membuat Dylan tertawa.
__ADS_1
"Dasar cengeng! Gitu aja nangis," ejek Dylan lalu mengambil alih Abil dari Raima.
"Abil ndak angis. Kata Eil, Abil ndak oleh angis, anti ndak anteng agi,"
"Iya deh, yang bucinnya Eil," kini gantian Zira yang mengejek sang adik.
"Ucin tu apa?"
"Kalau udah besar nanti tau," ujar Nia.
"Abil udah ecal,"
"Masa sih? Coba bilang 'R', bisa gak?" Tantang Adam yang langsung mendapat tatapan jengah dari Abil. Entah dari mana bocah itu belajar tentang respon yang menyebalkan, seperti wajah jengahnya saat ini.
"Assalamu'alaikum," ucapan salam itu membuat mereka menoleh dan mendapati Xander beserta anak istri.
"Wa'alaikumussalam,"
"Pasti mau numpang makan," tebak Hutama.
"Tentu, memang apa lagi?" Xander dengan santainya duduk di salah satu kursi sambil memangku putri kecilnya.
Setahun belakangan ini, hubungan keluarga Xander dan Hutama memang sudah seperti keluarga. Selain karena Raima dan Mayang saling kenal, itu juga karena mereka yang sama-sama kehilangan Farel.
"Seperti kau orang miskin saja numpang makan di sini," sinis Hutama.
"Selagi bisa minta, kenapa harus buat makanan sendiri?" Acuh Xander mulai mengambil makanannya, padahal yang tuan rumah saja belum mengambil makannya.
"Kalau ketemu pasti ribut terus," heran Mayang mengambil alih putrinya agar suaminya itu bisa makan dengan leluasa.
"Bil, Eil kamu tuh," Dylan berbisik pada Abil yang sedari tadi menatap putri Xander dan Mayang.
"Au. Eil antik, ada unga di palanya," Abil menjawab tanpa menoleh dari bocah perempuan yang usinya dua bulan di bawah dirinya.
Nama anak perempuan itu adalah Nashville Xama Atmaja. Balita cantik yang kerap mereka panggil Eil itu saat ini mengenakan gaun berwarna ungu muda dengan bando bunga di kepalanya. Eil saat ini tengah asik dengan mainannya, tidak peduli dengan Abil untuk sementara waktu.
"Masih kecil udah tau aja kamu mana yang cantik," ucap Xander yang ternyata mendengar percakapan Dylan dan Abil.
"Om biyang apa?" Tanya Abil tak mengerti.
"Masih kecil, gak akan paham. Makan yang banyak biar cepet besar," Xander yang memang duduk di samping Dylan, memudahkan pria itu untuk mengusap rambut Abil.
"Bah, nanti kita mau ke pesantren. Mau ikut?" Afnan mengalihkan pembicaraan.
"Ngapain ke sana?" Tanya Zira. Jangan lupa bahwa yang bertanya saat ini adalah yang Afnan cintai dari dia baru lahir ke dunia.
"Jenguk Fisha. Sekalian Dylan ketemu Milea, sama nih Adam sama Yusuf kayaknya mau ketemu sama cewek-ceweknya," jelas Afnan.
"Gue jomlo, mon maap," kesal Adam dan Yusuf bersamaan.
"Gaya lo jomlo-jomlo tapi kalo ketemu intip-intipan. Kayak gue nih, terang-terangan mencintai Milea!" Ejek Dylan.
"Sotak!"
"Sotoy lo, Dylan 1999,"
"Idih,"
"Abah enggak dulu deh. Masih banyak kerjaan. Kalian mau nginep?" Hutama kembali bersuara.
"Enggak, paling tengah malam udah jalan pulang. Lusa kita kuliah soalnya,"
"Ya udah, kalian hati-hati. Titipin salam sama Fisha dan yang lain,"
Fisha dan santri pertukaran pelajaran lainnya memang sudah kembali ke pesantren di Bandung tepat saat kenaikan kelas. Omong-omong tentang keinginan mereka menjenguk Fisha, hal itu sekarang memang rutin mereka lakukan. Tak ada alasan khusus. Hanya merasa mereka perlu melakukan itu.
Beginilah kehidupan mereka setahun terakhir tanpa Farel. Jika ada bahagia, mereka bersyukur meski bayang-bayang kepergian Farel sangat membekas dan menghantui mereka. Namun, sebisa mungkin mereka untuk bangkit dan terus bertahan, karena mereka yakin, Farel ingin mereka baik-baik saja meski tanpa ada dirinya.
__ADS_1
Tbc...
^^^#as.zey^^^