
Pagi ini, Farel, sahabat-sahabatnya dan santri yang mengikuti pertukaran pelajaran sudah bersiap untuk ke Jakarta.
"Gus, baik-baik, ya?! Jaga kesehatan! Sering-sering kemari," pesan Jamilah pada cucu kesayangannya.
"Iya, Kakek Nenek juga,"
"Iya, ya udah gih, sana!"
"Hm, assalamu'alaikum,"
"Wa'alaikumussalam,"
"Kita juga pamit ya Kek, Nek. Jangan kangen loh soalnya kita ngangenin," pamit Dylan mewakilkan yang lain.
Abdullah dan Jamilah terkekeh sambil mengangguk. "Iya. Kalian belajar yang bener! Kalau Farel nakal, bilangin ke kita!"
"Siap 45!! Assalamu'alaikum,"
"Wa'alaikumussalam,"
"Buya, Umi, kita pamit, ya?!" Ucap Fisha dan yang lain.
"Iya. Kalian belajar yang bener! Kalau ada apa-apa kabarin kita!"
"Iya, assalamu'alaikum,"
"Wa'alaikumussalam,"
Para santri masuk ke mobil. Sedangkan Farel dan para sahabatnya menaiki motor masing-masing.
Deruman motor terdengar mengusik pendengaran mereka. Namun mereka tak peduli.
Dengan memimpin, Farel langsung membawa laju motornya diikuti oleh para sahabat dan mobil pesantren yang membawa para santri pertukaran pelajar di SMA Khatulistiwa.
"Kita mau ke sekolah atau gimana?" Tanya Yusuf setengah berteriak saat mereka memasuki wilayah Jakarta.
"Base camp!" Jawab Farel membelokkan motornya menuju base camp GREXDA tanpa peduli dengan Luqman yang menyetir mobil di belakang mereka sedang kebingungan.
"Mereka ke mana? Kok beda jalan?" Tanya Milea.
"Saya gak tau. Mungkin mereka ada urusan," jawab Luqman positif thinking.
___***___
Farel dan para sahabatnya sudah sampai di base camp yang ternyata juga banyak anggota geng mereka sedang bolos.
"Assalamu'alaikum. Hallo epribadeh!! Dylan tampvan kambek!!" Teriak Dylan dan dengan santai mencomot gorengan dagangan Mang Ule, penjaga warung yang menjadi tempat nongkrong mereka.
"Wa'alaikumussalam. Ngapain lo balik?! Padahal hidup gue udah tenang gak ada lo," jawab salah satu dari mereka yang membuat yang lainnya terkekeh.
"Sialan!" Maki Dylan melempar cabe yang di tangannya.
"Boss, anak SMA Bangsa ajak ketemuan," ucap David, salah satu orang kepercayaan Farel saat dirinya tidak ada.
"Ngapain?"
"Mereka minta pertolongan kita. Geng Brata gangguin mereka," jawab David lagi. Geng Brata adalah geng rusuh yang selalu mencari masalah di mana-mana.
"Sekarang aja!" Perintah Farel dan bangkit dari duduknya. Anggota Farel pun tanpa banyak membantah, langsung saja mengikuti ketuanya itu.
Puluhan motor itu memenuhi jalan raya menuju SMA Bangsa.
"Kalian dari SMA Khatulistiwa, kan? Kenapa kemari? Ini masih jam sekolah," ucap penjaga gerbang SMA Bangsa saat melihat mereka.
"Kita mau ketemu Baron," jawab Yusuf mewakili.
"Ini masih jam pelajaran. Lebih baik kalian kem---"
__ADS_1
"Eh GREXDA?! Cari siapa?" Tanya seorang pria memotong ucapan sang penjaga gerbang. Pria itu adalah Baron Paramuadji. Orang yang mereka cari.
"Cari elo, lah!" Jawab Dylan ngegas.
"Gue? Ngapain?"
"Gimana, sih?! Katanya mau minta tolong," jawab Yusuf gregetan.
"Oh iya, bener. Gue kirain kalian bisanya besok. Ya udah, mau ngobrol di mana?"
"Di kantin sekolah lo aja. Sekalian makan," jawab Adam sepihak yang hanya diangguki.
"Pak, bukain gerbangnya! Saya ada perlu sama mereka,"
"Ini masih jam pe--"
Kriiiing.... Kriing....
"Tuh, belnya udah bunyi. Jam istirahat ini,"
Penjaga gerbang itu menghela napasnya dan membukakan gerbang mengizinkan GREXDA masuk.
Mereka semua langsung menuju kantin meninggalkan banyak decakan kagum dari para siswa/i yang berhamburan menuju kantin.
"Ehh,, itu geng GREXDA yang dari SMA Khatulistiwa, kan? Kok mereka di sini? Ya ampun, itu ketua geng nya ganteng banget!"
"Ya ampun Farel!! Jiwa kepemimpinannya keliatan banget!!"
"Calon imam gue ya ampun!!"
"Buset dah lebay amat!" Gerutu Baron.
"Maklumlah ya. Kita ini cogan," jawab Dylan dengan pedenya.
"Bodo amat,"
"Kalian ayem-ayem aja. Kalo ada apa-apa bisa kabarin kita!" Ucap Adam.
"Iya. Thanks, sorry juga udah ngerepotin,"
"Sans aja mah sama kita,"
"Balik!" Titah Farel bangkit dari duduknya.
"Balik ke mana? Markas, rumah atau apa nih?"
"Sekolah," jawab Farel bertos ria dengan Baron dan langsung pergi meninggalkan sekolah itu di ikuti yang lain.
___**___
"Dari mana saja kalian?! Ini hanya tinggal dua jam sebelum pulang sekolah!!" Marah Pak Ijol sang penjaga gerbang SMA Khatulistiwa.
"Ih, Bapak kok kepo sih sama kita? Atau Bapak kangen ya sama kita?" Tanya Dylan yang semakin membuat Pak Ijol naik pangkat, eh naik darah maksudnya.
"Seharusnya Bapak itu bersyukur. Karena kita membuat keberadaan Bapak lebih bermanfaat, gak cuma duduk, buka tutup gerbang doang," tambah Adam dengan kurang ajarnya.
Pak Ijol menggeleng dan menghela napasnya. Tak mau lebih berdebat lagi, Pak Ijol pun memilih membukakan gerbang.
"Gitu kek dari tadi, Pak. Kan kita gak perlu berantem," ucap Dylan.
"Cepet masuk sebelum kalian saya tendang!" Ucap Pak Ijol galak.
"Sans dong, Pak. Ya udah kita masuk. Makasih Pak Ijol. Assalamu'alaikum,"
"Wa'alaikumussalam," jawab Pak Ijol menggelengkan kepalanya.
"Bandel tapi suka kasih salam," gumam Pak Ijol kembali ke pos satpam.
__ADS_1
Brruuk...
Seorang gadis berhijab tidak sengaja menabrak Farel yang berjalan paling depan.
"Ma-maaf. Saya tadi gak lihat," ucap gadis itu tetap menunduk.
"Fisha? Lo Fisha bukan?" Tanya Dylan yang membuat gadis itu mendongak lalu menunduk lagi.
"Iya. Maaf, Fisha gak sengaja,"
"Lo ngapain sendirian? Udah mulai sekolah?" Tanya Afnan dengan nada datarnya.
"Iya, langsung mulai sekolah. Baru sejam sih di sekolah ini. Tadi aku pisah sama Milea. Soalnya tadi aku ke koperasi dulu ambil baju,"
"Lo udah tau kelas lo?" Tanya Adam.
Fisha menggeleng. "Kelas XI IPA 1. Tapi aku gak tau kelasnya di mana,"
"Sekelas sama Nia dong,"
"Nia?"
"He'em. A--"
"Gue antar," potong Farel dan berjalan lebih dulu.
"Lo ikut aja sama Farel. Kita jamin aman kok," ucap Adam yang hanya diangguki Fisha.
"Ya udah aku duluan. Makasih. Assalamu'alaikum,"
"Wa'alaikumussalam,"
Farel berhenti di depan kelas XI IPA 1. Kelas Nia, adiknya yang suka judes dan galak.
Dengan tidak sopannya Farel langsung membuka pintu dengan kasar membuat guru dan murid yang di dalam terkejut.
"Gus jangan gitu! Gak sopan. Mereka jadi terkejut," ucap Fisha dengan lembut berusaha memberanikan diri.
"Farel!! Kamu ini bikin Ibu kaget," geram sang guru yang statusnya menjadi wali kelasnya.
"Murid baru," ucap Farel acuh.
"Murid baru? Siapa? Gak ada tuh murid baru,"
Farel memberikan ruang untuk Fisha masuk.
"Assalamu'alaikum. Maaf Buk mengganggu. Saya Fisha. Santriwati yang mengikuti pertukaran pelajar dari pesantren Al-istiqomah," ucap Fisha sopan.
"Wa'alaikumussalam. Oh, kamu toh! Ibu kira gak jadi masuk hari ini,"
"Nama Ibu, Sasi. Guru kimia kelas XI dan XII. Panggil Ibu saja, ya?!"
"Iya, Buk,"
"Ya udah, kamu langsung duduk saja. Perkenalannya nanti saja,"
"Baik, Buk,"
"Kamu duduk sama Nia, ya!"
"Iya, Buk," jawab Fisha menuju kursi kosong di samping gadis yang juga memakai hijab dan mengangkat tangannya.
"Farel, kamu ke--" ucapan Buk Sasi menggantung di tenggorokannya saat menoleh ke arah pintu dan tak menemukan murid nakal yang sayangnya juga menjadi murid kesayangannya. Itu pasti. Karena Farel sangat bisa Ibu Sasi andalkan dan Farel itu gudangnya ilmu kimia bagi Ibu Sasi.
"Ish!! Anak itu kebiasaan sekali! Datang tak diundang pergi pun tak bilang," gerutu Ibu Sasi dan memilih kembali melanjutkan pelajaran.
Tbc...
__ADS_1
^^^#as.zey^^^