Mysterious Gus

Mysterious Gus
#75. Ooohhh


__ADS_3

..."Mana mungkin aku akan melepasmu begitu saja dengan pria lain. Bahkan aku selalu meyakinkan diri, bahwa hanya aku yang terbaik untukmu, tidak ada yang lain,"...


...Farel...


...***...


Farel beserta keluarganya dan keluarga Fisha baru saja sampai di kediaman Pramayudha setelah isya. Farel dan Tiam tidak main-main dengan perkataannya.


Pandangan Farel mengedar ke segala penjuru. Istana itu adalah istana yang ia rindukan, tempat pulang yang selalu ia impikan, tempat masa kecilnya yang dibesarkan oleh Raima dan Hutama, istana itu adalah istana yang selalu Farel jadikan tempat untuk pulang.


"Tidak pernah berubah," Farel tersenyum tipis kala tempat pulangnya itu tidak pernah berubah di setiap sudutnya. Bahkan foto-fotonya masih lengkap.


"Tempat ini tentu tidak boleh dirubah," ujar Hutama.


"Bik Imar di mana?" Satu orang lagi yang selalu Farel ingat saat berada di rumah, Bik Imar, sosok yang pernah merawatnya juga.


"Bik Imar sering sakit sekarang. Mungkin udah istirahat,"


Farel mengangguk mengerti dan membawa arah kursi rodanya menuju area belakang di mana Bik Imar biasanya istirahat. Farel tidak pernah lupa dengan denah rumahnya sendiri.


Dari balik pintu, Farel mampu mendengar suara Bik Imar yang terbatuk-batuk, Farel iba mendengarnya.


Tanpa pikir panjang dan mengetuk pintu, Farel langsung masuk ke kamar Bik Imar. Terlihat wanita tua itu tengah berbaring di ranjangnya.


Bik Imar menoleh dengan wajah terkejutnya, "Den F-farel?" Gagu Bik Imar berusaha bangkit.


Farel mendekat, menahan Bik Imar agar tetap berbaring. Ditatapnya lekat netra yang sudah merabun itu penuh kerinduan, diusapnya tangan keriput yang pernah merawatnya.


"Farel pulang, Bik," Farel mencium tangan Bik Imar hingga wanita itu menangis haru.


Bik Imar mengusap kepala Farel dengan isak tangisnya, "Ke mana saja kamu, Den? Kamu buat semuanya khawatir mikirin kamu,"


"Maafin Farel, Bik,"


"Kenapa kamu ada di kursi roda? Apa yang terjadi sama kamu, Den?"


"Gak papa, Bik. Farel cuma lumpuh sementara. Sebentar lagi bisa jalan," bukannya merasa tenang, tangis Bik Imar justru semakin kencang, Farel bingung sendiri jadinya.


"Gak papa, Bik. Bibi istirahat, Farel temankan. Besok kita bicara lagi," Farel membenahi selimut Bik Imar dan menemaninya hingga tertidur.


"Gimana Bik Imar?" Tanya Raima saat Farel menghampiri mereka di ruang keluarga.


"Udah tidur,"


"Sekarang jelaskan!" Paksa Xander.


"Tidak besok saja? Aku lelah sekali," keluh Tiam mendapat tatapan murka dari Xander.


"Kau ingin aku hukum ya, Altiam?!"


Tiam terkekeh, "Tentu saja ti--"


"Ck! Oppa Ley! Jangan menarik rambutku!" Suara kesal Karaya menarik perhatian mereka.


Gantian Xander yang berdecak kesal melihat tingkah Ley yang senang sekali menjahili Karaya.


"Jangan ganggu adikmu, Brexley!" Tegur Xander.


Ley terkekeh girang sambil memeluk Karaya, "Aku sangat merindukan adik perempuanku,"


Karaya mendengus kesal, namun tak urung membalas pelukan Ley. Ia tak bisa membohongi dirnya, kalau dia juga sangat merindukan Ley.


"Aku akan mulai bercerita, jangan ada yang menyela!" Mereka kembali pada pembicaraan awal.


FLASHBACK ON


Setelah pulang dari makam, Tiam tak membawa laju mobil mereka ke apartement, melainkan ke bandara. Karaya dan Hyeon bertanya-tanya dibuatnya.


"Katanya mau pulang, kenapa ke bandara?" Tanya Karaya.


"Pulang ke Indonesia. Kamu keberatan?"


Senyum bahagia langsung terlihat dari Karaya. Gadis itu menggeleng kuat, "Sama sekali tidak! Aku sangat ingin ke Indonesia bertemu Papa!"


"Bagus kalau begitu. Kau, Hyeon? Ikut atau tinggal?"


"Tentu aku ikut,"


"Pilihan yang tepat. Kita harus membatalkan acara pernikahan itu!"


"Pernikahan siapa?" Heran Karaya.


"Eonni-mu,"


"Eonni Fisha?! Jinjja?!"


Farel mengangguk, "Kamu tentu tidak ingin dia menikah dengan orang lain, bukan?"


"Tentu saja aku tidak mau! Ayo kita berangkat sekarang! Aku tidak mau kita terlambat!" Karaya dengan semangat keluar dari mobil.


"Hidupku memang benar-benar sudah di udara," keluh Tiam saat jet pribadi mereka sudah menembus awan-awan.


***


Mereka tiba di Indonesia tepat waktu, satu jam sebelum acara akad nikah berlangsung. Bahkan sekarang mereka sudah di dekat rumah Fisha.

__ADS_1


"Itu Aiden, pria yang ingin menikah dengan Fisha," tunjuk Tiam saat rombongan Aiden keluar dari mobilnya.


Karaya berdecih, "Tidak setampan dan sekaya Oppa-ku,"


"Turunlah Tiam! Jangan buat Ayah curiga," titah Farel yang Tiam turuti.


Tiam berhadapan langsung dengan Aiden saat mereka hendak masuk ke rumah Fisha, tempat akad nikah akan berlangsung.


Aiden melayangkan tatapan meremehkannya. Tiam pun membalas dengan tak kalah sengitnya.


"Dasar tidak tahu diri! Aku ini sedang mengalah untuk menang asal kau tahu!!" Gerutu Tiam mengambil duduk di samping Xander yang sudah tiba sejak tadi.


"Kau ini kenapa? Datang-datang menggerutu?! Ke mana saja dirimu, baru terlihat hari ini?! Aku terlalu melepasmu ya, Tiam?!" Cerca Xander.


Tiam menatap malas ayahnya yang ceriwis itu, "Aku tidak suka pria itu! Seolah-olah dia sudah hebat bisa menikahi Fisha. Aku tentu berkelana ke seluruh dunia mencari Asz,"


Xander berdecih, "Kau tidak berkelana mencari Asz, tapi menemani Asz,"


"Ayah sok tau!"


"Aku memang tau! Lihat saja nanti, Asz pasti akan datang! Asz mungkin memang akan melepas Fisha jika pria itu lebih baik darinya. Tapi ini? Masih di bawah Asz. Tampan? Jelas Asz lebih tampan. Kaya? Asz lebih kaya. Kejam? Asz lebih kejam dibanding psikopat ingusan itu!" Telinga Tiam panas sendiri mendengar ocehan ayahnya.


"Jangan terlalu berharap, Ayah!" Tiam benar-benar mematahkan harapan Xander.


"Saudara Aiden, apa anda sudah siap?" Tanya penguhulu membuat semua fokus.


"Siap!"


"Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau Aiden Aslen bin Aslen dengan putri kandung saya yang bernama Nafisha Almair Zalsa dengan maskawinnya berupa uang 1 M dan sebuah mobil, dibayar TUNAI!"


"Saya terima nikah dan kawinnya Nafisha Almair Zalsa binti Muhammad Amar dengan mas kawin tersebut dibayar TUNAI!"


"Bagaimana saksi?"


"SAH!!"


"Tampaknya tidak sesuai dengan harapan Ayah," bisik Tiam mengejek, menambah kekesalan di hati Xander.


"Amar! Mas Tama! Fisha pingsan!" Seru Raima dari atas tangga.


"Astaghfirullah," Amar bangkit dari duduknya hendak menuju kamar sang putri.


"Umma!" Suara seruan itu membuat suasana tiba-tiba hening. Tidak hanya Raima yang membeku, tapi semua pihak yang mengenal suara itu, suara Farel.


Raima kembali memutar tubuhnya, memastikan indra pendengarannya tidak salah.


"F-farel?" Gagu Raima menuruni tangga dengan gemetar. Ia menatap tak percaya pada putranya yang kini ada di hadapannya.


Farel tersenyum tipis dan meraih tangan sang umma untuk diciumnya. Perbuatan Farel berhasil membuat Raima menangis deras.


"Maafin Farel buat Umma nangis," bisik Farel.


"Kamu ke mana aja, anak Umma? Umma khawatir sama kamu. Kamu kenapa duduk di kursi roda begini?" Raima menangkup wajah Farel dan menatapnya penuh kerinduan.


"Farel baik-baik aja. Sebentar lagi sembuh,"


Farel menoleh pada Hutama, menatap abahnya berkaca-kaca. Farel amat merindukan sosok malaikat pelindungnya itu.


"Abah," panggil Farel lirih pada Hutama yang masih membeku di tempat.


"Tega kamu sama Abah, Nak!!" Tuding Hutama ikut memeluk putranya dengan air mata.


"Kamu ingkar sama Abah! Katanya gak akan tinggalin Abah!"


"Maaf,"


"Jangan ingkar lagi sama Abah dan Umma!" Hutama menatap Farel penuh harap.


"Tidak akan! Di mana Nia dan Zira? Juga adik Farel yang paling kecil?" Farel mengedarkan pandangannya dan mendapati ketiga adiknya yang menangis berpelukan.


Farel tersenyum tipis dan menghampiri mereka, "Adik-adik Abang sudah besar," ujar Farel dan langsung mendapat pelukan dari Nia juga Zira. Kedua gadis itu menangis amat kencang.


"Jangan nangis lagi! Abang sedih liatnya," ujar Farel mengusap kepala kedua gadis itu.


"Abang Falel?" Farel menoleh pada bocah laki-laki yang memanggilnya dengan cadel.


Farel mengusap rambutnya penuh sayang, "Abilash sudah besar," puji Farel membuat anak berusia empat tahun itu bertepuk tangan senang dan memeluk kaki Farel.


"Ayah tidak menyam--"


"Ke mana saja kau, hah?! Kau anggap apa aku ini?! Tidak seharusnya aku mengajarkanmu ilmu licik!!" Cerca Xander yang hanya ditanggapi kekehan oleh Farel.


"Kau memang salah, Ayah!" Ujar Farel saat Xander memeluknya.


"Dasar anak tidak tahu diuntung!" Suara itu berasal dari Ley, ia turut dalam pelukan itu.


"Kan sudah ada kau yang menjadi anak penurut," balas Tiam dengan santainya.


"Tentu! Kalau bukan aku, siapa lagi?! Kalian anak kurang dihajar!" Sinis Ley.


"Apa RANDA masih ada?" Farel menoleh pada RANDA yang terdiam membisu di pojokan.


"Ba*ot lo! Sia*an! Ngapain lo balik, hah?!" Marah Dylan menghampiri Farel dan memeluknya begitu erat, RANDA yang lain pun juga ikut berpelukan.


"Gak ngo*ak lo, pergi bertahun-tahun gak ada kabar! Otak pinter tapi gak guna!" Dylan masih setia dengan cercaan, sedangkan Farel hanya menanggapi dengan kekehan.

__ADS_1


"Maaf,"


"Percuma lo minta maaf kalau lo bakal pergi lagi!"


"Gak akan!"


"Gue pegang janji lo!" Farel hanya mengangguk, tak mau meyakinkan.


"Aku punya kejutan untuk Ayah,"


Xander menyipitkan matanya, menatap putranya itu penuh curiga, "Jangan macam-macam!"


"Ae Ri!" Panggil Farel ke arah pintu, membuat semua ikut menoleh.


Karaya berdiri di depan pintu dengan anggun dan senyum manisnya. Di samping gadis itu ada Hyeon yang menemani.


"AYAH!!" Girang Karaya berlari memeluk Xander.


"Putriku," dengan penuh kerinduan, Xander menciumi rambut Karaya.


"Dibawa ke mana saja kamu dengan oppa-oppamu?! Kenapa kamu juga begitu tega pada Ayah?!"


"Tidak ke mana-mana. Aku hanya dibawa ke Paris dan New York. Aku sangat merindukan Ayah," Karaya kembali memeluk Xander.


"Ayah juga. Senang akhirnya kamu bisa di Indonesia,"


Karaya mengangguk senang, "Tentu! Aku tidak akan membiarkan Eonni menikah dengan pria lain, selain Oppa Asz!" Karaya menoleh sengit pada Aiden yang sejak tadi hanya diam tidak mengerti apa-apa.


"Apa maksud anda?" Tanya Aiden tak kalah sengit.


"Pernikahan ini tidak sah!" Tegas Karaya menghadirkan kekehan sinis dari Aiden.


"Anda pasti tidak mendengar kata 'sah' tadi,"


"Aku mendengarnya dengan sangat baik! Tapi aku lebih percaya perkataan Oppa-ku dibanding perkataan kalian!"


"Perhatikan cara bicaramu, Karaya. Biarkan Oppa-mu yang berbicara," Xander membawa Karaya dalam pelukannya agar emosi gadis itu tidak meledak di waktu yang tidak tepat.


Tiam melemparkan sebuah berkas berisi data diri pada Aiden.


"Agamamu bukan islam. Nafisha menikahimu karena ancamanmu dan kau menikahi Nafisha karena takut rahasiamu terbongkar," tatapan Farel menantang.


"Kau menyembunyikan semua dengan baik, tapi bukan hal yang sulit untuk kudapatkan. Terutama wanita yang kau perkosa dan sekarang sudah kau nikahi karena dia hamil anakmu," Aiden tak lagi bisa berkata-kata, karena ucapan Farel benar adanya.


"Kamu terlalu jahat untuk dikatakan manusia, Aiden! Kamu itu iblis!" Nampak seorang wanita hamil masuk dan mencerca Aiden.


"Yona?!" Kaget Aiden.


Perempuan hamil bernama Yona itu terkekeh sinis, "Kenapa? Terkejut? Aku pikir kamu beneran berubah, tapi kamu tetap sama seperti dulu, bahkan kamu lebih buruk dari masa lalu!"


"Aku mau kita cerai!" Setelah berujar demikian, Yona berlari keluar sambil memegangi perut besarnya.


"YONA! TUNGGU!" Tanpa pamit, Aiden langsung pergi menyusul Yona.


"Bah, lamar Nafisha untuk Farel," pinta Farel membuat senyum Hutama hadir.


"Sure. Amar, nikahkan anakmu dengan anakku!" Hutama tidak seperti melamar, tapi memaksa.


"Tentu!" Amar pun tanpa penolakan menyetujuinya.


"Sebelum itu, saya mau bicara berdua. Setelah pembicaraan kita, Tuan Amar bisa menolak atau tetap menerima lamaran saya,"


"Tentu, ayo kita bicara di belakang rumah," Farel pun hanya mengangguk dan membawa kursi rodanya mengikuti Amar.


NOTE:


Dalam islam, pernikahan itu haram atau tidak sah kalau mempelai itu terpaksa ataupun dipaksa. Juga, Aiden itu bukan beragama islam.


Udah jelas Allah bilang, dalam surah AN-NUR ayat 26;


"Perempuan-perempuan yang keji untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji untuk perempuan-perempuan yang keji (pula), sedangkan perempuan-perempuan yang baik untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik untuk perempuan-perempuan yang baik (pula). Mereka itu bersih dari apa yang dituduhkan orang."


DAN


"Janganlah kalian menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mukmin) sebelum mereka beriman. Sungguh budak yang mukmin lebih baik dari orang musyrik, walaupun dia menarik hatimu." (QS Al Baqarah ayat 221).


Kalau dipaksa menikah karena dijodohkan atau karena alasan tertentu, tapi kalau si mempelai berusaha rela dan menerima, baru pernikahan bisa dikatakan sah. Sedangkan di sini, Fisha sama sekali gak rela.


Ilmuku gak terlalu banyak tentang beginian, baru aku riset beberapa hari dan hal ini yang aku dapat. Kalau ada yang salah; mohon diperiksa dan dibenarkan dengan cara yang benar pula, alias dengan tidak menggunakan bahasa yang kasar.


Tbc...


Btw, ini foto kursi roda sama tongkat Farel



Kursi roda elektrik, makanya Farel gak perlu buang-buang tenaga mutar kursinya kalau gak ada yang dorongin.



Tongkat Farel


Sumber: PINTEREST


^^^#as.zey^^^

__ADS_1


__ADS_2