Mysterious Gus

Mysterious Gus
#62. Konsultasi


__ADS_3

..."Semenyakitkan itu memang dengan kepergianmu,"...


...Fisha...


Masa OSPEK berlalu begitu saja selama tiga hari. Dalam tiga hari pun, banyak yang terjadi pada Fisha. Mulai dari Gibran yang sepertinya semakin sering menemuinya, Clara yang amat berisik dan tugas-tugas makalah yang mulai menumpuk.


Siang setelah zuhur, Fisha yang seharusnya sudah rebahan di ranjangnya harus terdampar di kantin karena ajakan Clara. Mereka berdua benar-benar dekat sekarang. Meski berisik, Fisha senang berteman dengan Clara.


"Gila, tugas banyak banget! Kepala gue pengen meledak rasanya!" Gerutu Clara entah yang sudah keberapa kalinya.


"Kamu dari tadi itu terus yang diomongin. Percuma ngeluh, tugasnya tetep gak bakal selesai," Fisha mulai jengah.


"Ck, manusia itu pasti punya beban, Sha. Meskipun ngeluh gak selesaiin masalah, seenggaknya dengan ngeluh, kita bisa jujur sama diri sendiri, kalau kita capek," Fisha hanya diam dengan perkataan Clara, karena setelah dipikir-pikir ada benarnya juga perkataan teman berisiknya itu.


"Widih, siapa tuh? Gans banget," ujar Clara menatap dua pria yang baru memasuki kantin. Dua pria itu menjadi pusat perhatian karena begitu tampan.


Fisha menoleh dan langsung berdiri saat melihat sosok Tiam dan Ley yang datang.


"Tiam? Ley? Udah pulang?" Heran Fisha, padahal dua pria itu katanya akan dinas jauh dan lumayan lama.


"Em, seharusnya belum. Tapi kamu lebih penting," balas Ley mengabaikan Clara yang menatapnya mendamba.


"Memang aku kenapa? Aku baik-baik aja tuh,"


"Ayo kita bicara!" Ajak Tiam yang langsung diangguki Fisha.


"Ra, aku pulang duluan, ya?! Kamu gak papa, kan sendiri?" Tanya Fisha membuyarkan tatapan kagum Clara.


"Oh, oke, gak papa. Lo hati-hati, kalau udah sampe rumah, langsung kabarin gue, jadi gue gak khawatir,"


Fisha tersenyum dan mengangguk, "Kamu juga pulang dan istirahat. Assalamu'alaikum,"


"Wa'alaikumussalam,"


Ley mengambil alih tas Fisha dan berjalan lebih dulu meninggalkan kantin. Aura pria humble itu tak seperti biasanya. Meski ia tetap memperlakukan Fisha layaknya ratu, tetap saja Fisha merasa asing dengan sikap Ley.


"Ley kenapa?" Tanya Fisha saat mengikuti langkah Ley bersama Tiam.


"Dia begitu khawatir denganmu,"


"Memangnya aku kenapa?"


"Ayo ke psikolog!" Ley berujar tegas saat mereka sudah sampai di parkiran.


Kening Fisha berkerut, "Ngapain?"


"Jangan ditutupi lagi, Fisha! Tante Layla nelpon kita kalau belakangan kamu sering melamun dan berhalusinasi. Terlebih saat Tiam cerita kejadian kamu tempo hari yang melihat Asz!" Ungkap Ley.


"Aku baik-baik aja, gak perlu ke psikolog! Aku gak gila!" Marah Fisha.


Ley mencengkram pundak Fisha, "Ke psikolog bukan berarti gila, Fisha! Kamu lagi gak baik-baik aja! Mau sampai kapan kamu mau nutupin ini dari kita?!" Ley hampir saja lepas kendali jika Tiam tidak menahannya.


"Benar kata Ley, Sha. Kita cari solusi di psikolog. Kita mohon, Sha, jangan buat kita khawatir. Mau sampai kapan kamu pura-pura kuat?"

__ADS_1


Fisha menghela napasnya pelan, "Oke, fine, kita ke psikolog!" Putus Fisha langsung masuk ke mobil.


***


"Percaya, Sha, ini buat kebaikan kamu. Kita semua gak mau kamu kenapa-kenapa," ucap Ley saat mereka akan menemui dokter psikiatri.


"Iya, aku bakal baik-baik aja,"


"Mau kita temenin atau sendirian?"


"Kalian ikut aja, biar langsung tau," mereka bertiga pun langsung memasuki ruang psikiatri.


Seorang wanita menyambut kehadiran mereka dengan senyuman. Sudah pasti, wanita itu adalah dokter yang akan menangani Fisha.


"Hallo, perkenalkan, saya Suci," sapa dokter itu ramah.


"Hallo, Dok, saya Fisha,"


Dokter yang bernama Suci itu mengangguk kemudian membaca masalah Fisha yang sempat dicatat saat mendaftar tadi.


"Jadi? Mau mulai cerita?" Tanya dokter Suci bangkit dari duduknya.


"Ayo duduk di sini agar lebih nyaman!" Dokter Suci meminta Fisha untuk berbaring di bed sofa, Fisha pun langsung menurut.


"Santai aja, sekarang saya adalah sahabat yang siap mendengar kamu," ucap dokter Suci.


Fisha memejamkan matanya, merilekskan tubuh sambil menghirup aroma terapi yang menenangkan dari ruangan itu.


"Saya gak tau mau cerita apa dan dari mana. Yang saya tau, sekarang rasanya saya sedih, jengkel, kesal, marah. Saya benci dengan keadaan saya sekarang," ungkap Fisha tanpa mau menatap dokter Suci.


"Rasa rindu ini benar-benar menyebalkan dan menyiksa saya. Saya hanya bisa membayangkannya ada di dekat saya dan menghajarnya habis-habisan!"


"Saya gak bisa tidur, makan saya tidak jelas, rasanya malas untuk bertemu siapa pun karena di otak saya hanya ingin bertemu dengannya,"


Dokter Suci tersenyum mendengar keluh kesah Fisha. Entah apa yang ada di dalam pikiran dokter psikiatri itu.


"Saya capek, saya lelah, dia mungkin memang tidak meminta saya untuk menunggunya, tapi perkataan terakhirnya seolah-olah ingin saya menunggunya! Saya lelah, saya ingin berhenti menunggu, tapi bodohnya saya tidak mampu! Saya tidak tahu harus melakukan apa,"


"It's okay, Fisha, lelah itu sudah biasa, kita hanya harus bisa menangani lelah itu agar tidak menjadi menyerah," dokter Suci akhirnya buka suara.


"Kamu harus bisa melawan rasa malas itu. Kamu harus tau, ada banyak teman yang ingin bertemu kamu, ada banyak hal yang menunggu kamu,"


"Lakukanlah hal yang menyenangkan, bertemu dan menghabiskan waktu bersama teman contohnya. Dengan begitu, kamu bisa menikmati waktu menunggumu,"


"Yang terakhir, beberapa hari ini, saya sering berhalusinasi,"


"Tidak apa, saya akan memberikan obat,"


Fisha membuka matanya dan mengangguk. Bebannya terasa berkurang sekarang meskipun ceritanya tak banyak.


"Jaga diri baik-baik, Fisha. Cintai dirimu sendiri, menunggu itu memang menyebalkan, tapi lebih menyebalkan lagi kalau kamu sampai menyerah," dokter Suci berujar sambil berjalan kembali ke kursi kebesarannya dan menulis sesuatu.


"Lelah itu wajar, malas itu wajar, kesal itu wajar, yang tidak wajar adalah berpura-pura kalau kamu dalam keadaan baik. Jujurlah dengan perasaanmu sendiri, itu point pentingnya," lanjut dokter Suci kemudian memberikan sebuah kertas.

__ADS_1


"Resep obatnya bisa ditebus. Semoga saat menemui saya lagi, keadaan kamu akan lebih baik. Semangat Fisha!"


Fisha tersenyum, "Terima kasih,"


"Sudah tugas saya sebagai sahabat kamu," dokter Suci mengedipkan sebelah matanya, menghadirkan kekehan dari Fisha.


"Kami pamit, Dok. Semoga hari Dokter menyenangkan," Fisha memberikan setangkai permen pada dokter Suci.


"Sure, permen adalah mood booster yang baik. Hari indah menanti kita,"


Fisha kembali tersenyum sebagai tanggapan, "Assalamu'alaikum,"


"Wa'alaikumussalam,"


Fisha, Tiam dan Ley pun meninggalkan ruangan psikiatri dengan perasaan lebih lega.


"Aku kan udah bilang, aku baik-baik aja," sewot Fisha saat mereka akan menebus obat.


"Baik-baik aja dari mana?! Masih mau pura-pura?!" Kesal Ley dan berjalan lebih cepat, tak mau bertengkar dengan Fisha.


"Jangan sakit hati, dia sangat khawatir denganmu," nasehat Tiam.


"Iya, aku ngerti. Aku susul Ley dulu," Fisha segera mengejar Ley yang semakin jauh.


Tiam menghela napasnya dan mengeluarkan ponselnya. Saar Fisha konsultasi tadi, Tiam diam-diam merekamnya dan sudah terkirim pada sosok Farel.


"Fisha harus ke psikiatri karena Abang," pesan suara itu langsung Tiam kirim tanpa pikir panjang.


"Makanya, kalau ada apa-apa itu cerita, gak usah sok kuat!" Suara itu menyapa Tiam saat menyusul Fisha dan Ley.


"Iya, maaf,"


"Jangan cu--"


"Sudah, Ley! Ini rumah sakit," tegur Tiam membuat Ley mendengus.


"Aku belum siap menceramahimu, gadis sok kuat!" Kesal Ley menunjuk wajah Fisha yang tertunduk.


"Galak banget," gerutu Fisha sambil menerima panggilan yang tiba-tiba saja masuk.


"Nika yang nelpon," info Fisha dan langsung menjawab panggilan yang ternyata dari Nika.


"***--"


"Gue gak mau tau, pokoknya lo harus bantuin dan nemenin gue!" Serobot Nika.


"Bantuin apa?"


"Setelah gue pikir-pikir, gue gak ikhlas Mas Haikal sama cewek lain!"


Fisha terkekeh, "Jadi, kamu mau gimana?"


Tbc...

__ADS_1


^^^#as.zey^^^


__ADS_2