Mysterious Gus

Mysterious Gus
#61. Histeris


__ADS_3

..."Kukira kau pulang, tapi ternyata kau semakin menjauh dan semua bertambah sulit,"...


...Fisha...


Fisha benar-benar membawa komplotannya ke sebuah panti asuhan yang bernama Rindu.


Sekarang mereka sedang bermain dengan anak-anak yang tinggal di panti asuhan itu. Fisha dan yang lain ikut tersenyum saat melihat wajah gembira para anak-anak yang mendapatkan oleh-oleh. Sebelum datang tadi, Fisha memang mengajak mereka membeli buah tangan terlebih dulu.


"Ya Allah, seneng banget liat senyum mereka," Milea, si gadis lembut hati itu menangis pelan.


"Kalau liat beginian, baru deh, rasanya bersyukur banget sama Allah masih dikasih bonyok yang sehat wal afiat dan sayang sama anak, meskipun cerewetnya bikin depresot," ujar Zulaikha gamblang.


"He'em, padahal masih ada banyak hal yang harus kita syukuri tanpa harus melihat kesulitan orang lain dulu," si Hawa menyetujui dan menambahkan.


"Jadi kangen Abah sama Umma," si manja Zira berujar lirih.


"Untung gue gak ada di posisi kayak mereka," Ermira menghela napasnya.


"Dek, doain yah, semoga jodohnya Mas Haikal itu Kakak," mereka menoleh saat perkataan itu berasal dari Monika. Terlihat jelas keputus asaan dari mata Nika yang biasanya riang.


"Aaamiin, semoga Kakak Haikal klepek-klepek sama Kakak,"


Mereka terkekeh mendengar jawaban anak kecil itu.


"Kenapa, Nik? Kamu ada masalah sama Ustadz Haikal?" Tanya Fisha berpindah ke samping Nika.


Nika tak menjawab, ia hanya menatap Fisha sambil menghela napasnya.


"Ck, si Haikal dijodohin sama nyokapnya. Katanya sih, calonnya Ning," Dylan yang menjawab.


Fisha mengangguk paham dan memeluk Nika, "Jodoh gak akan ke mana, Nika. Kalau Ustadz Haikal jodohnya kamu, dia pasti bakal kembali ke kamu,"


"Gue gak pantes ya, buat Mas Haikal, Sha?"


"Aku, kamu, semua orang, gak bisa menakar itu, Nik. Yang jelas, semua orang berhak dan pantas untuk mencintai serta dicintai. Kamu gak seburuk itu untuk bersama Ustadz Haikal,"


"Gue belum siap patah hati, Sha. Gimana kalo dia emang beneran dijodohin?"


"Lo udah jatuh cinta, artinya lo siap patah hati. Lagian, cinta dan patah hati gak harus nunggu siap. Sama kayak kematian," nasehat Dylan sambil mengusap rambut Nika perhatian. Meski ia sering menjahili Nika, tak bisa dipungkiri bahwa Dylan sangat menyayangi dan menjaga gadis itu.


"Bener kata Kak Dylan. Kalau Ustadz Haikal bukan jodoh kamu, artinya Allah udah siapin yang lebih baik lagi buat kamu,"


"Tapi gue mau egois, gue cuma mau Mas Haikal, Sha!"


"Ya udah, lo hancurin aja perjodohan mereka. Lagian belum nikah, kan?!" Ermira buka suara dengan lantangnya.


Tiam menggelengkan kepalanya, "Bar-bar banget," gumamnya.


"Bener kata Ermira, Nik. Kalo lo mau, kita bakal bantuin," sahut Zulaikha.


"Apa maksud lo dengan kata 'kita'?!" Sewot Yusuf.


"Apa?! Emang lo tega liat Nika gini?!"

__ADS_1


"Ck, ributnya nanti dulu!" Kesal Adam.


"Gue harus gimana, Sha?" Nika menatap Fisha penuh harap.


Fisha tersenyum, memberikan ketenangan, "Kenapa gak coba bicara dulu sama Ustadz Haikal?"


"Emang apa yang bisa gue bilang? Waktu itu gue denger sendiri kalo Kakek Abdullah sama bokap dia lagi nyiapin pertemuan mereka,"


"Ya udah, kalo gitu lo cuma bisa pasrah," sarkas Zulaikha.


Nika menghela napasnya untuk yang kesekian kali, "Kayaknya bener, gue cuma bisa pasrah. Kalo Mas Haikal bukan jodoh gue, gue bisa cari yang lebih cakep lagi!" Nika berujar penuh semangat yang disambut pelukan oleh Fisha dan para gadis.


"Gitu, dong! Monika itu gak bakal nangis kejer cuma karena patah hati," Dylan kembali mengusap rambut Nika.


"KAK IBAAANN!!"


Suara melengking itu membuat mereka menoleh ke sumber suara. Terlihat seorang gadis cilik berlari menghampiri seorang pria yang baru saja datang.


"WHAT?! Itu bukannya yang nyapu sama lo tadi, Sha?!" Kaget Zulaikha.


"Iya, Kak Gibran, Ketua BEM," balas Fisha acuh. Wajahnya yang sumringah berubah menjadi keruh, terlebih saat melihat sosok Gibran berjalan mendekat ke arah mereka.


"Assalamu'alaikum," sapa Gibran.


"Wa'alaikumussalam,"


"Kita bertemu lagi,"


"Lo ngikutin kita?" Tuding Nika.


"Oh. Ya udah, sa--"


"GUS FAREL!!" Pekikan Fisha membuat mereka terkejut.


"Kenapa, Sha?" Panik mereka.


"Tiam, itu Gus Farel!" Fisha menunjuk ke suatu arah dan berlari ke arah itu.


"Fisha!" Tiam dengan sigap mengejar dan mencekal pergelangan Fisha. Untungnya langkahnya lebih lebar dibanding Fisha.


"Lepas Tiam! Itu Gus Farel! Nanti Gus pergi makin jauh!" Berontak Fisha.


"Tidak, Fisha! Itu bukan Asz!"


"Enggak! Aku beneran liat kalau itu Gus!" Fisha menatap Tiam dengan air matanya yang sudah mengalir deras.


"Tidak, Fisha. Kamu salah lihat,"


"TERUS TADI SIAPA?! KAMU PIKIR AKU GAK BISA NGENALIN GUS?!" Fisha mulai histeris, membuat mereka panik.


Tiam menggeleng tegas, tangannya mencengkram bahu Fisha, "Asz pasti akan langsung menghampirimu jika ia pulang,"


Fisha menggeleng, "KAMU BOHONG! AKU BISA LIAT GUS DENGAN JELAS! KAMU TAU GUS ADA DI MANA, ALTIAM!!"

__ADS_1


"Fisha, percaya sama aku! Asz bukan orang yang senang menguntit. Dia tidak akan sanggup melihatmu dari jauh. Jika itu benar dia, saat kamu memanggilnya tadi, dia tidak akan berlari, tapi menghampirimu. Atau bahkan langsung memelukmu," ujar Tiam panjang lebar dan tampaknya berhasil menenangkan Fisha. Gadis itu terduduk di rerumputan dengan deraian air mata.


"Kamu bisa percaya sama aku, Fisha. Itu bukan Asz!" Ujar Tiam lagi.


"Terus Gus ada di mana?! Kamu tau Gus ada di mana, Tiam!"


Tiam menggeleng, "Aku tidak tahu. Yang aku tahu pasti, itu bukan Asz. Tapi mata-mata,"


"Maksud lo?" Dylan buka suara.


"Asz tidak pernah minta orang untuk menguntit. Ia hanya akan memintaku atau Ley, kemudian barulah kami yang menyuruh orang. Jelas, orang tadi berniat jahat,"


"Tapi, kenapa mereka punya niat jahat ke kita?" Heran Milea yang tak mendapat jawaban dari Tiam.


"Gus dalam bahaya!" Fisha kembali histeris.


"Asz akan baik-baik saja, Fisha! Dia bukan orang lemah. Pentingkan dulu keselamatanmu dan keselamatan kita!" Tiam berucap lantang.


"Suruh Gus pulang, Tiam," lirih Fisha terdengar semakin menyakitkan.


"Aku bahkan tidak tahu keberadaannya," Tiam membawa Fisha pundaknya, membiarkan Fisha menyembunyikan wajah rapuhnya di pundaknya.


"Aku mau Gus pulang!" Fisha mencengkram kuat lengan Tiam.


"Dia pasti pulang. Biarkan dulu pecundang itu kabur! Setelah aku menemukannya, akan aku seret ke hadapanmu," ujar Tiam berkilah seolah-olah ia tak tahu keberadaan Farel.


"Kakak jangan sedih, Zira ikut sedih," Zira memeluk Fisha.


Fisha membalas pelukan itu dan tersenyum, seolah-olah semuanya baik-baik saja.


"Kakak gak papa,"


"Sekarang kita pulang, biar Fisha langsung istirahat," Tiam membantu Fisha berdiri, sedangkan Zira dibantu Afnan.


"Kalian duluan, biar gue yang pamit sama ibu pantinya," tanpa persetujuan, Dylan berlalu menemui pemilik panti untuk berpamitan, sedangkan yang lain langsung menuju kendaraan mereka.


Gibran menatap kepergian segerombolan itu dengan heran, terlebih melihat Fisha yang sempat histeris.


"Ada apa dengan Fisha? Siapa Gus Farel dan Asz? Fisha sudah memiliki kekasih?"


"Gue harap lo bisa jaga mulut sama apa yang udah lo liat tadi! Kalo perlu bakal gue bungkam mulut lo pake uang," Dylan berujar kasar dan membuyarkan lamunan Gibran.


Gibran tak marah dan tersenyum manis, "Uang saya masih cukup,"


Dylan tersenyum sinis, "Bagus kalo gitu. Saran gue, menjauh dari Fisha sebelum gue yang jauhin. Satu lagi, gak usah senyum! Senyum lo menjijikkan!" Sarkastik Dylan dan berlalu.


"Dan caramu terlalu rendahan," ungkap Gibran disambut kekehan menyeramkan dari Dylan, pria itu membalikkan tubuhnya kembali menghadap Gibran.


"Dan akhirnya kedok lo terbongkar!" Sinis Dylan lantas bergegas pergi. Bisa-bisa ia akan menghajar Gibran habis-habisan.


"Ada banyak tembok di antara kita,"


Tbc...

__ADS_1


^^^#as.zey^^^


__ADS_2