
..."Meski aktifitas ini sedikit asing, aku tetap menyukainya karena kamu yang menjadi alasan aktifitas baruku,"...
...Fisha...
...***...
Setelah cuti tiga hari lamanya, akhirnya Fisha kembali disibukkan dengan koasnya. Tentu juga dengan kesibukan barunya sebagai istri dari seorang Farel.
Di hari pertamanya menjalani koas dengan status sebagai istri tidak terlalu buruk. Semua masih berjalan dengan baik, terbukti dengan sekarang ia yang sibuk mengurus pasien.
"Fisha, periksa pasien di bangsal 89, ya! Berikan rekam medisnya pada saya," Fisha mengangguk dan segera melaksanakan perintah dari dokter seniornya.
Meski sekarang ia masih berstatus dokter koas, orang-orang rumah sakit begitu menghormati dan menerimanya dengan baik. Ia tidak merasa adanya senior dan junior karena mendapatkan perlakuan yang adil.
"Nenek bagaimana sekarang keadaannya? Ada yang dikeluhkan?" Fisha bertanya pada pasien wanita paruh baya.
Sang nenek membalas senyuman Fisha, "Lebih baik, Dokter. Pusingnya juga tidak separah saat setelah selesai operasi,"
Fisha ikut tersenyum senang dan mengusap bahu nenek itu, "Alhamdulillah kalau begitu. Nenek harus banyak makan dan rutin minum obat biar cepet sembuh,"
"Iya. Omong-omong, Dokter Fisha ke mana tiga hari ini? Dokter gak pernah ngunjungin saya,"
Fisha yang sedang mengecek selang infus langsung menunduk menatap sang nenek, senyumnya kian merekah, "Saya menikah tiga hari yang lalu, Nek,"
"Dokter Fisha menikah? Sama siapa?" Seorang remaja laki-laki masuk dengan tergesa-gesa. Ia adalah cucu sang nenek. Terlihat pria itu masih SMA karena seragamnya.
"Sama laki-laki, dong!" Kekeh Fisha.
"Iya, aku tau. Tapi siapa? Seganteng apa dia sampai-sampai Dokter mau sama dia? Dia lebih ganteng dari aku?"
Fisha terkekeh sambil menggeleng heran dengan remaja SMA yang menyukainya secara terang-terangan itu.
Aldi, si cucu dari nenek tersebut memang sempat mengajukan diri untuk menjadi berondongnya Fisha.
"Aldi, gak boleh gitu," tegur sang nenek yang tak ditanggapi oleh cucunya.
"Dia lebih ganteng dari kamu. Dan juga, dia lebih dewasa dari kamu," jelas Fisha.
"Kenalin aku sama dia!" Aldi tampak menuntut.
"Kok maksa?" Ejek Fisha kemudian kembali mengecek keadaan nenek.
Fisha memang tidak pernah serius menanggapi Aldi. Baginya, Aldi adalah seorang remaja yang hatinya masih gampang mleyot melihat gadis cantik sepertinya.
"Aku serius, Dok!" Aldi berujar kesal.
"Kalau ada waktu saya kenalin. Saya tinggal dulu, ya. Nanti obat siangnya diantar,"
"Terima kasih, Dokter,"
"Sama-sama Nenek. Aldi, jagain nenek kamu!"
"Hm,"
Fisha masih menggeleng heran, tak mau ambil pusing. Biarkan saja berondongnya itu merajuk.
Setelah memberikan laporan medis pada dokter seniornya, Fisha memilih ke kamar koas. Ia ingin memanjakan tubuhnya sebentar.
"Fisha!! Ya ampun!! Sorry gue gak bisa dateng di nikahan lo, Mama gue ngerusuh minta gue balik ke Surabaya," pelukan dan suara nyaring dari Clara langsung menyambut Fisha saat ia masuk ke kamar.
"Gak papa, Ra. Kamu udah minta maaf sejak kemarin di chat. Aku maklum, kok,"
"Gimana Sha rasanya?" Tanya Clara antusias sambil mendaratkan tubuhnya di sisi ranjang yang Fisha tiduri.
Wajah Fisha berkerut heran, "Rasa apa?"
__ADS_1
"Itu-- malam pertama,"
Fisha hampir saja tersedak air liurnya sendiri. Sahabatnya ini memang suka ngomong tanpa difilter.
"Kepo banget kamu!" Elak Fisha langsung membelakangi Clara.
"Iihh!! Cerita dong, Sha! Gue penasaran, biar aku juga belajar,"
Posisi Fisha langsung berubah menjadi duduk dan menatap sinis Clara, "Diihh, kayak gak ada kegiatan lain aja kamu,"
Clara tertawa nyaring, "Biar gue besok gak malu-maluin kalo malam pertama,"
Fisha mendelik, "Punya sahabat pikirannya gak bener," keluh Fisha kemudian mengambil ponselnya yang berbunyi tanda ada notifikasi.
Senyum lebar menghiasi wajah Fisha, membuat Clara heran dan mengintip layar ponsel Fisha.
Gus Husbandđź’–
"Woaw!! Bucin banget ya lo, Sha! Liat tuh, senyumnya jengkelin banget," ledek Clara.
"Iri aja kamu!" Tanpa mau membalas ledekan Clara lagi, Fisha beranjak dari posisi pewenya.
"Mau ke mana lo?" Clara segera menyusul Fisha yang keluar dari kamar.
Langkah Fisha semakin cepat menuju lobi rumah sakit. Ia mendapati pesan dari Farel, kalau suaminya itu sedang di lobi bersama Karaya dan Tiam.
"EONNI!!" Suara teriakan Karaya menyapa Fisha saat langkahnya semakin dekat.
"Ae Ri!" Usapan singkat Fisha berikan pada rambut adik iparnya.
Fisha beralih pada Farel. Ia berjongkok untuk menatap wajah sang suami yang kini duduk anteng di kursi rodanya.
"Mau ngapain ke sini?" Fisha bertanya karena memang belum tahu.
"Kamu ngapain ngikutin?"
"Diih, biasanya juga gitu. Lo sama si-- OMEGAT CAKHEP BENER!!"
Fisha langsung menutup telinganya yang terasa berdengung karena pekikan Clara saat melihat suaminya dan Tiam.
"Siapa lo, Sha? Gue kok gak pernah tau lo punya kenalan cogan?"
Fisha menatap jengah pada sahabat bar-barnya itu, "Ini suami aku, Farel. Itu adiknya, Tiam sama Karaya. Mas, Tiam, Ae Ri, kenalin dia Clara, my crazy bestie,"
"Suami? Suami lo bukannya Aiden, Sha?! Lo jangan ngadi-ngadi, deh!"
"Panjang ceritanya, Ra. Nanti aku jelasin,"
"Okey, lagian cowok yang ini lebih cakep dibanding Aiden wkwkwk,"
"Gak usah malu-maluin deh, Ra," Fisha kesal sendiri jadinya.
Tak mau semakin kesal dengan tingkah memalukan Clara, Fisha kembali menghadap Farel, meminta penjelasan kenapa suaminya itu ada di rumah sakit.
"Terapi dua hari sekali," hanya itu penjelasan yang Farel beri dan untung saja Fisha mengerti.
Dokter yang akan membimbing terapi Farel memang Tiam ambil dari rumah sakit Bandung tempat Fisha koas. Selain tidak ribet, Farel juga lebih bisa menemui istrinya.
"Ya udah, ayo! Fisha ikut juga," Fisha bersiap untuk mendorong kursi roda Farel.
"Udah makan?" Pertanyaan Farel menghentikan pergerakan Fisha.
"Belum, nanti aja. Tapi Fisha udah sholat, kok,"
"Makan, terapi saya masih setengah jam lagi,"
__ADS_1
"Okey, di kantin rumah sakit?"
"Em,"
"Kamu ikut gak, Ra?" Tawar Fisha pada Clara.
"Tanpa lo tanya dan tanpa lo suruh, gue ngikut!" Dengan sombongnya Clara berjalan duluan menuju kantin.
"Eonni, teman Eonni sungguh aktiv," bisik Karaya membuat Fisha terkekeh.
"Selain aktiv, dia juga berisik. Tapi orangnya asik, pengertian lagi,"
"Mas udah makan? Ae Ri sama Tiam?" Hampir saja lupa memastikan kondisi perut mereka bertiga.
"Kita belum makan. Tapi tadi saat di jalan aku minta dibelikan sesuatu. Kalau gak salah namanya amoy,"
"Amoy? Apaan tuh?"
"Ish, dia bulat-bulat kenyal. Kata Oppa terbuat dari ikan, terus dikasih kuah kacang,"
Fisha tampak berpikir keras, otaknya belum connect dengan maksud Karaya.
"Siomay, Naf. Ae Ri salah bilang,"
Lepaslah tawa Fisha mendengar penjelasan dari Farel. Ternyata gadis Korea itu yang salah menyebutkan nama.
Karaya ikut tertawa dengan wajah memerah malu, "Itu maksudku,"
"Kalau siomay, Eonni tau. Itu jajanan terenak menurut Eonni,"
"Sha, liat tuh, pada ribut!" Clara yang berdiri di depan pintu kantin menunjuk kerumunan.
"Dilerai, Ra!"
"Rame banget, engap,"
"Diihh, bilang aja kamu takut," ejek Fisha membawa mereka menuju meja sudut.
"Di sana ada Tuan Jong!" Seru Karaya menunjuk kerumunan.
"Tuan Jong ikut?"
"Iya, tapi dia disuruh Oppa ke kantin duluan,"
"Ya udah, Eonni liat keadaannya dulu. Sebentar ya, Mas,"
"Hm," Fisha pun langsung menuju kerumunan bersama Clara.
Farel hanya membiarkan, ia tidak suka ikut dalam keributan. Kalau istrinya beda lagi, ia wajib memisahkan karena ia adalah staff rumah sakit.
"Aku akan melihat Jong. Karaya temani Oppa Asz," tanpa menunggu jawaban, Tiam langsung menyusul Fisha.
"Jong, kenapa kau ikut-ikutan?" Setelah berhasil membelah kerumunan dan menghampiri Jong, pertanyaan itulah yang langsung Tiam lontarkan.
"Gadis ini tidak sengaja menabrakku dan seorang keluarga pasien dengan kuah makanannya dan jusnya. Aku tidak masalah, tapi wanita ini menuntut," jelas Jong dan kemudian menunjuk seorang wanita di sebelahnya.
"Tiam?"
Tiam menoleh saat suara yang amat dikenalnya menyapa. Tak hanya itu, suara dan nada panggilan itu amat Tiam rindukan.
"Ermira?"
Tbc...
^^^#as.zey^^^
__ADS_1