Mysterious Gus

Mysterious Gus
#53. Hutama Flashback IV


__ADS_3

..."Tak tahu kenapa, aku merasa senang saat kamu memilih setuju dengan ajakanku," ...


...Hutama...


Suasana kontrakan itu seketika hening dengan hawa tegang. Tentu saja suasana itu berasal dari Raima yang menegang. Ia tak akan sanggup lagi menceritakan lukanya.


Mayang mengusap bahu Raima, menguatkan sahabat barunya itu. Berharap usapan yang ia berikan bisa menguatkan Raima.


"Kamu tidak bisa bercerita?" Tanya Syam saat melihat keengganan Raima.


Raima menunduk dalam, tangan lentiknya saling bertaut. Napasnya mulai tak beraturan. Penyiksaan Adji bagaikan kaset rusak sekarang dalam pikirannya.


"Jangan memaksa jika tidak mampu! Kita akan melakukannya secara perlahan," ujar Hutama dan entah kenapa kata 'kita' yang Hutama ucapkan membuat Raima merasa lebih baik.


"Hanya terbebas dari dia, tapi tidak dengan luka yang dia berikan," hanya itu kalimat yang Raima ucapkan, selalu begitu.


Syam mengangguk, entah mengerti atau tidak, tapi dia memilih mengangguk.


"Saya rasa, Farel butuh suasana yang bisa membuat dia nyaman, tenang dan melupakan sakitnya meski hanya bekerja sebentar,"


"Apa di sini bukan lingkungan yang nyaman?" Tanya Mayang.


"Di sini nyaman dan tenang, tapi bukan kenyamanan dan ketenangan seperti ini yang saya maksud. Juga, tempat ini sepertinya masih belum efektif untuk mengalihkan perhatian Farel,"


"Solusinya? Di mana tempat yang sekiranya bisa membantu pengalihan fokus Farel?" Hutama akhirnya membuka suara.


"Bisa mengajak Farel ke lingkungan dengan positif vibes. Lingkungan yang bisa menerima dia dengan baik dan benar,"


Hutama mengerutkan dahinya kesal, sahabatnya itu terlalu bertele-tele, "Gue pastiin lo bakal kehilangan pasien kalau bertele-tele gini!" Ancam Hutama membuat Syam berdecak kesal.


"Gue rekomendasiin ponpes lo. Di sana suasananya tenang, damai dan pasti akan bisa menerima Farel dengan baik, begitu pula Farel yang akan menerima lingkungan pesantren," Syam menjeda kalimatnya untuk melihat reaksi Hutama, namun pria itu diam pertanda meminta ia melanjutkan perkataannya.


"Di sana tenang meski pun ramai. Kalian bisa ajak Farel keliling pesantren melihat kegiatan-kegiatan yang ada. Dengan demikian, suasana hati Farel membaik," lanjut Syam.


"Tingkat keberhasilannya?"


"Gue gak menjamin. Kemungkinan cuma 30%. Tapi seperti yang lo bilang tadi, pelan-pelan kita bakal sembuhin. Pengobatan gak ada yang instan, Tam,"


Hutama mengangguk paham, "Bersiaplah, saya bawa kalian ke pesantren!" Titah Hutama pada Raima.


Raima menggeleng, "Saya tidak mau semakin merepotkan. Lagi pula, saya dan Farel bukan siapa-siapa sampai harus menginjakkan kaki ke pesantren Bapak," tolak Raima yang jujur saja membuat Hutama merasa tak suka.

__ADS_1


"Lalu, kamu dan Farel harus menjadi siapa saya agar kalian menginjakkan kaki di pasantren saya?"


Diam, Raima terdiam. Tampaknya ia sudah salah bicara. Menunduk dalam yang hanya bisa Raima lakukan.


"Kamu mau kondisi Farel membaik tidak? Saya tidak akan menawari untuk kedua kalinya," tambah Hutama dengan kalimat yang terdengar sangat kesal.


"Sabar, Tam! Emosi lo bisa memperburuk psikis Raima. Di sini bukan cuma Farel yang butuh penanganan, tapi Raima juga," Syam berusaha menenangkan amarah Hutama. Syam yakin, jika tidak ada Farel dalam pangkuannya, Hutama akan berbicara dengan suara yang naik beberapa oktaf karena kesal.


Hutama tersadar dengan kesalahannya dan segera mengucapkan istighfar. Helaan napas pun terdengar darinya.


"Maaf," lirih Hutama yang hanya diangguki oleh Raima.


"Saya kasih kamu waktu sepuluh menit untuk memikirkannya. Saya tunggu di luar. Jika setuju, kamu bisa langsung mengemasi barang kalian," setelah berucap demikian, Hutama langsung melangkah keluar, masih dengan Farel di gendongannya. Anak itu sedari tadi sangat anteng memainkan brooch Hutama.


"Saya minta maaf dengan sikap Tama. Jarang sekali dia meluapkan emosinya. Mungkin karena niat baiknya kamu tolak. Saya harap, kamu maklum dengannya," Syam berujar tak enak hati.


"Gak papa,"


"Kalau begitu saya permisi. Kalau ada apa-apa beri tau Tama saja. Dia pasti akan menghubungi saya segera,"


"Terima kasih, maaf sudah merepotkan,"


"Sama-sama, sama sekali bukan masalah. Saya pamit, assalamu'alaikum,"


"Jangan begitu lagi, Tam! Kendaliin emosi lo! Gak biasanya lo hampir kelepasan begini," Syam langsung mencerca Hutama.


"Gue gak tau, Syam. Gue gak suka dia nolak gue,"


Syam terkekeh dan menepuk pundak sang sahabat, "Pahami perasaan lo sendiri! Gitu aja gak tau," ejek Syam.


"Maksud lo, gue suka dia?"


Syam mengangkat bahunya, "Gue balik. Harus buru-buru nih gue, entar malam mau dinner bareng anak istri,"


Hutama berdecih, "Mentang-mentang udah nikah sama punya anak sombong lo,"


Syam terkekeh, "Nikah muda itu indah. Dah lah, assalamu'alaikum,"


"Wa'alaikumussalam. Thank, Syam. Sampein salam gue buat Marisa sama Afnan,"


Syam hanya menjawab dengan acungan jempol. Sahabat Hutama itu memang sudah beristri dan mempunyai anak yang tak lain dan tak bukan adalah Afnan.

__ADS_1


Farel masih setia di gendongan Hutama dengan tangan mungilnya yang terus memainka brooch Hutama. Hutam pun membiarkannya dan terus mengusap kepala atau punggung Farel kecil secara bergantian.


"Pak," panggilan itu membuat Hutama menoleh. Terlihat Raima datang dengan sebuah tas berukuran sedang di tangannya, Mayang pun turut di belakang Raima.


"Sudah memutuskan?"


"Sudah, saya ikut saran Bapak dan Pak Syam. Maaf, saya dan Farel merepotkan,"


Hutama tak lagi menanggapi ucapan Raima. Tangan kekarnya yang satu meraih tas Raima dan menyimpannya di jok belakang mobil. Untuk kesekian kalinya, entah kenapa Hutama merasa senang saat Raima tidak menolaknya.


"Ayo!" Ajak Hutama membukakan pintu.


"May, aku pergi dulu yah. Titip rumah," Raima memeluk Mayang.


"Hati-hati, Ma. Kamu fokus aja untuk kesembuhan Farel. Aku pasti jagain rumah. Kalau aku ada waktu, aku bakal nemuin kamu sama Farel. Boleh, kan, Pak?" Mayang menatap Hutama dan hanya dijawab anggukan oleh pria itu.


"Kamu baik-baik,"


"Iya, kamu sama Farel juga,"


"Assalamu'alaikum,"


"Wa'alaikumussalam,"


Raima tersenyum dan masuk ke dalam mobil yang pintunya sudah dibukakan oleh Hutama. Mayang tersenyum melihat cara Hutama memperlakukan Raima layaknya ratu.


"Farel sama Umma dulu, ya? Saya harus nyetir," Hutama dengan perlahan memberikan Farel untuk Raima pangku. Farel sempat berontak, namun Raima berhasil menenangkannya.


Setelah memastikan ibu dan anak itu nyaman, Hutama menutup pintu mobil dengan pelan namun tetap aman.


"Kami pergi," Hutama berpamitan pada Mayang.


"Hati-hati, Pak! Tolong jaga Raima dan Farel,"


Hutama mengangguk, "Assalamu'alaikum,"


"Wa'alaikumussalam,"


Hutama memutari mobil dan masuk ke bangku kemudi. Menghidupkan mesin dan menurunkan kaca mobil di sisi bagian Raima, membiarkan kedua wanita itu saling melambai. Setelah menghidupkan klakson tiga kali, Hutama langsung menjalankan mobilnya menuju pesantren miliknya, lebih tepatnya milik sang ayah. Tempat di mana ia dibesarkan dan dididik.


"Aku mendoakan semoga kamu dan Farel mendapatkan kebahagian, Ma. Kalian adalah orang yang pantas untuk bahagia. Semoga Pak Hutama adalah orang yang Allah kirim untuk kebahagiaan kalian. Yang akan menyayangi, mencintai dan selalu membahagiakan kalian," ujar Mayang terus menatap kepergian mobil pajero putih itu hingga tak terlihat lagi di netranya.

__ADS_1


Tbc...


^^^#as.zey^^^


__ADS_2