Mysterious Gus

Mysterious Gus
#15. In Bandung


__ADS_3

Farel beserta RANDA dan keluarganya sudah bersiap untuk menuju Bandung, padahal hari masih pukul tujuh. Agar cepat sampai kalau kata Hutama dan mereka hanya menurut kata kepala keluarga.


"Udah semua?" Tanya Hutama.


"Zira mau panggilan alam dulu, Abah," jawab Zira dan bergegas masuk menuju toilet.


"Woy! RANDA, kuy foto!" Ajak Dylan menarik keempat temannya.


"Gak ada yang potoin, nih?" Tanya Dylan bingung sendiri.


"Bego!" Sarkas Afnan mengeluarkan ponselnya.


"Lo dari kemarin sinis mulu, ya, bawaannya sama gue?! Dendam apa lo?"


"Banyak,"


"Cih,"


"Buruan!"


Mereka berlima berjongkok menatap kamera dengan gayanya masing-masing.


Farel dan Afnan yang setengah jongkok tanpa gaya apapun. Di samping Farel ada Adam lau Yusuf dan Dylan dengan gaya senyum tipis.


Diantara mereka, Farel yang paling mencolok dengan rambut abu-abunya. Pria satu itu memang senang mewarnai rambut. Hutama dan Raima pun tidak melarangnya. Karena pewarna rambut yang Farel pakai bisa luntur.


"Gue ganteng banget ternyata," puji Dylan pada dirinya sendiri.


"Sok ganteng lo! Narsis amat padahal muka pas-pasan," sinis Adam.


"Kalian, tuh, kenapa yak?! Sama gue bawaannya sensi mulu. Gue tau, gue ganteng, jadi lo semua gak usah iri!" Sombong Dylan yang langsung mendapat empat jitakan dikeningnya.


"Kurang ajar kalian semua!" Kesal Dylan.


"Lo emang patut dinistakan,"


"Sabar gue, sabar," Dyaln mendramatis sambil mengusap dadanya.


"Udah jangan ribut mulu! Ayo berangkat!" Lerai Hutama.


"Abah, Umma, Nia, Zira, Fisha, Milea, Azlan dan Farras pakai mobil hitam. RANDA pisah, kalian pakai mobil putih dan harus disupirin. Kalian kurang tidur semalam," sambung Hutama.


"Iya, Bah," jawab RANDA bersamaan.


Mereka semua pun masuk ke dalam mobil jenis toyota alphard itu.


Setelah membaca doa, mobil pun mulai melaju melewati jalanan mulus ibu kota yang belum terlalu ramai karena masih pagi dan hari libur.


"Gue ngantuk," ucap Yusuf sambil menguap.


"Ya, tidurlah! Gitu aja ngomong," balas Dylan mulai ajak ribut.


"Kayak ada yang ngomong tapi kok gak ada orangnya?"


"Sialan!" Umpat Dylan.


"Masih pagi tapi udah berapa banyak  umpatan yang gue denger dari mulut lo?" Sinis Adam.


"Khilap," balas Dylan sambil mengemil jajanan yang memang sudah dipersiapkan.


"Khilaf kok keterusan?!"


"Ck, kalo kalian gak nistain gue, gue gak bakal ngumpat kalik,"


"Bodo ah, gue mau sleep," Yusuf mulai mencari posisi nyaman pada mobil mewah itu dan perlahan memasuki alam mimpinya.


Hening


Mereka asik dengan kegiatannya masing-masing. Farel yang menatap jalanan, Afnan yang bermain ponsel sambil mengemil, Adam dan Yusuf sudah tidur, dan Dylan masih asik dengan cemilan beserta musiknya.


"Kenapa?" Tanya Afnan saat mendengar Farel menghela napasnya.


"Apa?" Farel tanya balik.


"Lo. Kenapa lo hela napas?"


Farel menggeleng seraya mengeluarkan ponselnya, "perasaan gue gak enak," ucap Farel setelahnya.


"Gak enak kenapa?"


"Entah," balas Farel acuh dan mulai asik dengan ponsel.


Altiam


You sent a picture


Tiam, cari data diri pria itu!


Baik, Tuan.


Sudah ada denganku sebelum siang hari!


Akan saya pastikan dalam waktu 30 menit data dirinya sudah berada di tangan anda, Tuan.


Farel hanya membaca pesan terakhir dari orang kepercayaannya itu. Farel sedang mencari tau siapa Zaki sebenarnya. Rasa penasaran dalam diri Farel semakin membuncah saat melihat Zaki datang ke acara sekolah dengan sosok yang amat dia benci.

__ADS_1


"Kalau ada apa-apa, jangan lo pendem sendiri! Lo punya RANDA yang selalu bisa lo andelin," ucap Afnan.


"Bener kata Afnan, Rel. Muka lo kusut banget. Keliatan banget lo lagi ada masalah," celetuk Dylan tanpa menoleh.


"Gak papa. Cuma perasaan gue aja,"


"Lo beneran naksir Lea, Lan?" Tanya Afnan mengganti topik pembicaraan.


Pertanyaan Afnan berhasil menarik atensi Dylan yang tadi menatap jalanan.


"Gak tau gue. Tapi gue suka deket sama dia. Adem dan gue nyaman,"


"Jangan macem-macem lo, Lan! Lo itu playboy cap sedap. Hobinya nge-ghosting. Tobat lo!" Nasehat Afnan.


"Gue gak playboy, ye?! Gue tuh cuma ramah tamah sebagai sesama. Cewek-cewek aja yang kesemsem sama ketampanan gue,"


"Dih, begitu terus kalo dibilangin. Kasian gue sama Milea kalo jodohnya elo,"


"Emang gue kenapa? Gue ganteng, soleh, banyak duit lagi,"


"Iya, tapi lo playboy. Kaga setia, pacar di mana-mana,"


"Gue gak pacaran kalo lo lupa. Gue cuma deket. Iya, sih, cuma lo yang setia. Setia sama Zira,"


"Ribut mulu, ck! Berisik tau gak?! Gue mau mimpi juga?!" Kesal Adam terbangun.


"Iya, sorry,"


Keadaan kembali hening dan mereka berlima memilih tidur. Perjalanan memang tidak lama. Tapi tidak ada salahnya tidur. Toh, mereka hanya tidur satu jam semalam.


**


Kedua mobil mewah itu memasuki pekarangan PONPES AL-ISTIQOMAH dan memarkirkan dengan rapi mobilnya.


"Tuan, sudah sampai," ucap sang supir membangunkan Dylan lebih dulu. Karena posisi pria itu dekat pintu sebelah kiri.


Dylan terusik dan mulai mengembalikan kesadarannya, "Kenapa Pak?"


"Kita sudah sampai, Tuan,"


"Oh, iya, makasih,"


"Sama-sama Tuan," jawabnya dan berjalan ke sisi lain untuk membangunkan Farel. Sedangkan Dylan membangunkan Afnan, Yusuf dan Adam.


"Bangun woy, udah sampai!" Teriak Dylan memukul paha mereka satu-satu dan membuat mereka terusik.


"Berisik lo!"


"Kuburan noh, sepi. Buruan turun! Udah sampe,"


Farel pun ikut terbangun karena teriakan Dylan. Setelah mengumpulkan kesadarannya, mereka pun turun dari mobilnya.


Dapat terlihat bahwa Abdullah dan Jamilah sedang menyambut kedatangan mereka.


"Assalamu'alaikum," sapa mereka.


"Wa'alaikumussalam,"


"Gimana kabar Abi sama Umi? Sehat, kan?" Tanya Hutama pada kedua orang tuanya.


"Alhamdulillah sehat. Kamu sama Ima sehat juga, to?"


"Alhamdulillah Ima sama Mas Tama sehat Umi,"


"Alhamdulillah. Kalau kedua cucu perempuan Nenek ini? Sehat to?"  Tanya Jamilah memeluk Nia dan Zira.


"Alhamdulillah sehat, Nenek. Kangen banget sama Kakek Nenek,"


"Kita juga kangen, loh, sama kalian. Sudah lama gak dolan ke sini,"


"Hehehe kita sekolah Kakek. Sama Abah gak dibolehin main ke mari,"


"Loh?! Kok Abah yang disalahkan?"


"Kan emang Abah yang gak bolehin,"


"Iya deh iya, Abah yang salah,"


"Emang," jawab kedua putrinya yang membuat mereka tertawa.


"Kek, Nek," ucap Farel mencium tangan Abdullah dan Jamilah lalu memeluknya. RANDA yang lain pun juga melakukan hal yang sama.


"Kamu sehat, to, Gus? Kenapa wajahmu kusut begitu?" Tanya Jamilah.


"Sehat Nek. Baru bangun,"


"Ngobrolnya lanjut di dalam saja. Fisha sama yang lain juga ikutan aja!"


"Maaf Buya, Fisha sama Milea ke asrama saja. Kita mau bertemu teman-teman," tolak Fisha sopan.


"Oh, ya sudah,"


"Kita juga ke asrama saja Buya," ucap Azlan yang diangguki Abdullah.


"Assalamu'alaikum,"

__ADS_1


"Wa'alaikumussalam,"


Setelah kelima santri itu pergi, barulah Hutama beserta rombongannya masuk ke rumah.


"Lancar tadi di perjalanan?"


"Lancar Bi,"


"Baguslah. Bagaimana Tama? Kamu sudah memberi tahu anak-anakmu?"


"Belum Bi,"


"Tau apa?"


"Tunggu-tunggu! Bahas yang ini nanti saja! Sekarang bahas Farel dulu," serobot sang Nenek.


"Bahas apa Mi?"


"Rasanya gak mungkin kalau kalian sudah tau Farel khatam 30 juz. Soalnya kamu gak ada syukurannya. Kamu belum beri tau Abah dan Umma, nak?"


"Abang khatam 30 juz? Gimana maksudnya? Khatam kan emang 30 juz, Nek," heran Nia.


"Abangmu ini, Nia, Zira, dia ini sudah hafizh,"


"APA?!" Kaget mereka semua.


"Bener, to, urung nggenah," kekeh Abdullah dengan logat jawanya.


"Bener yang dibilang Kakek Nenek, Farel?" Tanya Hutama.


"Iya,"


"Kenapa tidak bilang Abah sama Umma?"


"Gak tau," jawab Farel gak jelas.


"Benar kamu sudah hafizh, Farel?" Tanya Raima dengan air mata yang entah sejak kapan sudah membasahi pipinya. Sosok ibu itu masih belum percaya dengan kenyataan yang diterimanya. Ia sangat bangga dan bahagia dengan putranya itu.


Farel berlutut di hadapan sang umma dan menggenggam tangan wanita yang amat dicintainya itu.


"Farel sayang Umma. Sayang Abah juga. Umma yang mati-matian besarin Farel. Abah yang hidupin Farel suka rela. Farel ingin, kelak Farel memberikan mahkota sama Abah dan Umma. Farel ingin membawa orang tua Farel ke surga," jelas Farel.


Hutama dan Raima langsung memeluk putranya itu dengan deraian air mata bahagia.


"Membesarkan kamu adalah kewajiban Umma, sayang. Kamu adalah kebahagiaan Umma. Kamu adalah kekuatan Umma. Kamu dan adik-adikmu adalah alasan Umma untuk bertahan sampai sekarang. Kamu bisa hidup tenang saja Umma sudah bahagia," balas Raima mengungkapkan isi hatinya.


Otaknya kembali berputar pada kejadian belasan tahun yang lalu. Saat dia berada di titik-titik paling terendah. Dijodohkan dengan pria asing yang kasar. Lalu Farel hadir dan tumbuh di rahimnya. Bukan, Farel bukan beban bagi Raima. Justru sebaliknya, Farel adalah kekuatan bagi Raima. Ujian untuk Raima tak hanya sampai di situ. Dirinya yang lemah dan tak bisa melawan saat mantan suaminya menyiksanya dulu. Bahkan juga menyiksa putranya sendiri.


Raima benar-benar merasakan sakit yang teramat saat itu. Hingga akhirnya bercerai dan melewati masa sulit lainnya hingga akhirnya Hutama hadir dalam kehidupannya dan Farel kecil.


Bahkan sampai saat ini, kedua adik Farel dan RANDA tidak tahu, bahwa Farel adalah anak tiri dari Hutama.


"Abah tidak suka kamu berbicara begitu, Farel. Kamu adalah anak Abah dan tentu saja Abah yang menghidupi kamu," sungut Hutama kesal.


"Terima kasih Abah, Umma, karena Abah dan Umma sudah menyayangi Farel juga adik-adik,"


"Kembali kasih,"


"HUAAA ABANG!!!" Heboh Nia dan Zira memeluk Farel.


"Abang hiks kok manis banget hiks ngomongnya?! Nia, kan jadi terharu,"


Farel tersenyum tipis dan mengusap kepala kedua adiknya itu.


"Abah ingin dengar hafalanmu nanti, Rel. Setelah zuhur,"


"Iya,"


"Gak nyangka gue. Lo diem-diem hapal qur'an, ya, Rel?!" Ucap Dylan setengah kesal karena sahabatnya itu menghapal diam-diam.


"Cocot lo, tu, gedein! Mau jadi hafizh juga? Playboy, tuh, hilangin dulu!" Sinis Yusuf.


"Bodo ah,"


"Apa yang kita gak tau tentang Abah dan Umma?" Tanya Farel mengganti topik.


"Kalian akan punya adik lagi," jawab Hutama lugas yang membuat Farel bersaudara diam membisu. Hutama terlihat santai. Berbanding terbalik dengan Raima yang gugup. Takut anak-anaknya tidak mau punya adik.


"Umma hamil?" Tanya ketiganya yang diangguki Hutama.


"WHAT?!" Kaget Nia dan Zira lagi.


"Kenapa hari ini banyak banget kejutannya?!" Ucap Nia tersenyum senang dan memeluk Raima. Begitu pula Zira.


"Kalian gak keberatan punya adik lagi, kan?"


"No! Justru kita seneng. Meski beda jauh, tapi kita tetep seneng.


"Abang?" Tanya Raima hati-hati.


Farel hanya mengangguk dengan senyum tipisnya. Pria muda itu tidak tau harus bereaksi seperti apa. Dulu, saat ia tau Raima mengandung Nia dan Zira, dia juga bereaksi seperti itu.


Farel sebenarnya tidak keberatan. Justru dia senang. Tapi di sisi lain dia juga gelisah. Jujur, Farel takut adik-adiknya akan tau siapa dia sebenarnya. Dia takut adik-adiknya kecewa saat tau mereka bukanlah lahir dari sosok ayah yang sama. Dia takut dengan kenyataan yang ia miliki. Andai Farel bisa memilih ayah kandungnya, maka Farel tidak ingin terlahir menjadi anak dari ADJI BARRA, ayah kandungnya, dan memilih menjadi anak HUTAMA PRAMAYUDHA, sosok yang menerima ia dan ummanya dengan rasa bahagia.


Tbc...

__ADS_1


^^^#as.zey^^^


__ADS_2