Mysterious Gus

Mysterious Gus
#81. Monika


__ADS_3

..."Tuhan, aku ingin bahagia, meskipun itu hanya akan terjadi di akhir hidupku,"...


...Monika...


...***...


Saat ini Dylan dan Milea sedang menunggu Nika yang sedang berganti baju. Tak ada pembicaraan di antara keduanya. Dylan yang fokus pada ponsel dan Milea yang sibuk dengan lamunannya. Entah apa yang terjadi, Dylan tampak lebih diam. Mungkin sedang banyak pikiran pikir Milea.


Dylan dan Milea sontak menoleh saat mendengar suara decakan. Terlihat Nika yang menghampiri mereka dengan gaun putih selutut. Nika yang tomboy nampak anggun dan feminim menggunakan gaun itu.


"Ck, ini bukan gue banget!" Gerutu Nika kesal dengan gaun pilihan sang mama.


Dylan menatap penampilan Nika dari atas hingga bawah. Rambut tergerai, gaun putih selutut dengan renda dan heels putih. Cantik, tapi Dylan tak suka Nika berpenampilan demikian.


"Nyokap lo kehabisan duit," sinis Dylan kesal sendiri.


"Jangan ngomong sembarangan!" Tegur Milea bangkit dari posisi duduknya.


"Udah, kan? Yuk, berangkat!" Ajak Milea hingga akhirnya mereka pun menuju restoran tempat Nika akan makan siang bersama keluarganya.


Monika POV


Setelah sampai di restoran yang Mama pilihin, gue beserta sepasang manusia ini langsung diajak menuju sudut kiri restoran.


Dari jarak yang hanya tersisa beberapa langkah lagi, gue bisa melihat kebahagiaan Papa Mama gue beserta keluarga barunya. Gue boleh iri gak sih liat saudara tiri gue yang lebih disayang sama bonyok? Sedangkan gue ditelantarin, dibiarin luntang-lantung dengan uang bulanan yang mereka kirim.


"Gila, sih! Bonyok lo gak berduit. Mau makan keluarga kok gak pesen VIP. Lagian yah, kalau makan keluarga itu seharusnya malem, bukan siang bolong begini!" Suara Bang Dylan menarik sorot mata sendu gue dan menatapnya kesal.


"Komentar aja lo, Bang! Jelas gue kagak tau apa-apa," kesal gue. Gue tahu, ocehan dia bermaksud menghibur perasaan sedih gue yang berusaha gue tutupi.


"Kamu sudah datang, Nik?!" Mama tersenyum dan lekas memeluk gue, gue pun membalasnya meski sedikit enggan.


"Kalo belum dateng, dia gak bakal ada di sini," gumaman kesal nan sinis itu mampu gue denger dari Bang Dylan.


"Gak boleh gitu, Kak!" Tegur Milea membuat Bang Dylan kicep. Cowok banyak bacot itu memang bucin banget ke Milea.


"Kamu sama siapa, Nik?" Papa melirik Bang Dylan dan Milea yang baru saja diambilkan tempat duduk oleh pelayan.


"Bang Dylan sama Milea," jelas gue membuat sepasang manusia tersebut mengangguk dengan senyum tipis, meski gue tahu kalau senyum Bang Dylan itu tersirat kejengahan.


Biar gue jelasin, meja di restoran ini tuh memanjang, gue duduk di paling depan. Sisi kanan gue ada Papa beserta istrinya yang lagi hamidun juga putranya yang seinget gue seumuran sama gue. Di sisi kiri gue ada Bang Dylan, Milea, Mama beserta suami barunya yang lagi memangku cewek berusia tiga tahun, gak lupa di sampingnya lagi ada anak tiri Mama gue, dia cewek satu tahun di bawah gue.


"Ya udah, kita langsung pesen makan aja," yang bersabda adalah Papa tiri gue. Dia langsung memanggil pelayan untuk mencatat pesanan kami.


"Gimana sama sekolah kamu, Nika?" Tanya Papa tiri gue. Beliau memang orang yang baik dan lumayan bertanggung jawab atas keperluan gue, tapi tetep aja gue gak suka. Karena dia, gue jadi anak broken home sejak SMP.


Yahh, Papa sama Mama gue pisah karena ada orang ketiga juga keempat. Papa gue selingkuh dan Mama gue dengan lugasnya membalas perselingkuhan suaminya. Semiris itu memang nasib gue.


Untuk merespon jawaban Papa tiri, gue mengangguk, "Lumayan," jawab gue singkat yang membuat senyum tipis hadir di bibirnya.


"Bibi bilang, kamu jarang di rumah. Bahkan kamu baru pulang cuma waktu ganti baju," ungkap Papa kandung gue..


Ohh, c'mon!! Kedua pria yang menyandang Papa gue ini menyebalkan dan terkesan sok perhatian ke gue.


"Kamu harus sering di rumah, Nika. Jadi nanti kalau kami mau berkunjung, kamu ada di rumah," itu suara Mama tiri gue.


Demi apapun, sekarang gue lagi nahan diri banget buat gak memutar mata jengah.


Berkunjung katanya? Lewat depan rumah aja kagak pernah, gimana mau berkunjung?! Teleportasi gitu?!


Dari pada merusak suasana, gue lebih memilih diam sambil meremat tangan Milea di paha gue. Gue benci situasi ini. Di saat gue melihat bonyok kandung gue lebih perhatian ke anak tirinya dibanding gue yang berstatus anak kandungnya.


"Kalau lo udah jengah, mending kita pulang! Belum makan aja udah kenyang duluan gue liatnya," ajak Bang Dylan.


Gue menggeleng dan tersenyum untuk meyakinkan, "Gak papa, gue udah biasa,"

__ADS_1


Bang Dylan berdecak kecil, "Sok kuat!" Cibirnya yang tak gue tanggapi. Kalau dilanjut, bisa rame restoran ini nanti karena perdebatan gue sama Bang Dylan.


Setelah keheningan dengan melihat kedekatan keluarga baru Papa Mama yang tampak bahagia, akhirnya pesanan kami datang dan disusun rapi di atas meja.


Lagi, gue gak bisa menahan senyum getir saat melihat Mama gue mengambilkan makan untuk suami barunya dan anak tirinya. Gue gak pernah dapat perlakuan seperti itu sebagai anak kandung.


Gue menoleh ke sisi keluarga baru Papa. Semakin sesak rasanya saat melihat Papa mengusap perut besar istrinya sambil berebutan mengusap dengan sang putra tiri.


Sungguh miris nasib gue.


"Nih, Dek, gue kasih udang kesukaan gue! Paling gede tuh," gue melihat piring gue yang terdapat udang pemberian Bang Dylan.


Gue terkekeh melihatnya, namun tak urung, suara kekehan gue terdengar bergetar dan mata gue berkaca-kaca.


"Gak papa, Nika. Aku sama Kak Dylan bakal nemenin kamu," gue bisa rasain usapan Milea di pundak gue.


"Gak usah nangis! Lo jelek kalo nangis," Bang Dylan langsung mengusap air mata gue yang hampir aja jatuh dan bisa aja merusak acara.


"Ngeselin banget sih lo, Bang!" Kesal gue berhenti menangis.


"Nika, Dylan, Milea, ayo makan!" Seru Mama gue.


"Aku mau ke toilet dulu," aku segera bangkit dan menuju toilet, sempat menahan Milea yang mau ikut.


Gue merasa kasihan sama diri gue sendiri. Miris banget nasib gue.


Setelah puas menangis, gue langsung basuh muka dan benerin riasan gue.


Menarik napas dan menghembuskannya perlahan, kaki gue mulai melangkah untuk kembali menemui keluarga baru yang tampak bahagia tadi.


"Mas Haikal?!" Gue terkejut saat mendapati sosok Mas Haikal yang berdiri bersandar di dinding dekat toilet cewek.


Mau apa cowok itu di sini? Bukannya tadi ada di mansion Pramayudha?


"Kamu baik-baik aja?" Tanya Mas Haikal mendekat.


"Mas Haikal ngapain di sini? Bukannya tadi di mansion Pramayudha?" Tanya gue tanpa mau menjawab pertanyaannya.


"Saya minta alamat tujuan kamu sama Umma Raima. Kata beliau, kamu mau kumpul keluarga. Jadi sekalian saja saya ingin menyampaikan niat baik saya untuk melamar kamu,"


Hah?! Melamar?! Ini gue harus seneng atau susah? Gue memang masih mencintai Mas Haikal, tapi gue sadar diri kalau gue gak pantes buat Mas Haikal.


"Diih, Mas Haikal ngawur! Ayo, kita pulang aja!"


Dengan lancang gue menarik lengan Mas Haikal untuk menemui keluarga gue.


"Ngapain lo di sini?" Bang Dylan menatap Mas Haikal tampak tak suka. Udah biasa sih gue sejak kejadian hamil pura-pura beberapa tahun silam. Secara kan, dia yang jadi saksi sampe gue pingsan dan dilarikan ke rumah sakit.


"Saya mau melam--"


"Semuanya, aku pamit pulang dulu. Makannya kita lanjutin lain waktu," aku lekas menyeret Mas Haikal untuk hengkang, Bang Dylan dan Milea pun mengikuti dari belakang.


Kita menuju istana Pramayudha dengan mobil berbeda, gue bareng Mas Haikal dan Bang Dylan bareng Milea tentunya.


Gue dan Mas Haikal hanya diam membisu. Gue gak tahu harus berbuat apa dan merespon apa. Semua terjadi begitu saja.


Kenapa Mas Haikal mau melamar gue?


Monika POV END


Dylan, Milea, Monika dan Haikal langsung menuju taman belakang saat mengetahui semuanya sedang berkumpul di sana.


"Loh?! Kok udah pulang? Cepet banget?" Tanya Raima.


"Mas Haikal nyusulin kita ke sana dan bilang mau lamar Nika. Ya langsung Nika seret pulang lah! Bisa ribet urusannya nanti," kesal Nika sambil mengambil posisi duduk bersila di tengah-tengah.

__ADS_1


Sebuah selimut kecil langsung menutupi paha Monika mengingat gadis itu hanya memakai gaun selutut.


"Gak sopan!" Sinis Farel si pelaku yang memberikan selimut.


Nika tersenyum bodoh, "Kebiasaan pengennya duduk di tengah,"


"Bagus dong kalau Haikal mau lamar Nika. Bukannya itu yang Nika mau?" Tanya Abdullah.


Nika menggeleng, "Nika udah gak mau, Kek. Mencintai kan gak harus memiliki," jawab Nika dengan wajah polos yang jarang terlihat.


Nika memang menyembunyikan rasa sakitnya dengan keadaan keluarganya. Tapi Nika selalu berterus terang akan perasaannya terhadap Haikal.


Farel menatap Haikal, mengode pria itu untuk mengikutinya. Farel ingin berbicara empat mata dengan Haikal dan untung saja Haikal mengerti dengan kodean Farel.


Farel membawa keduanya ke taman samping mansion dan mempersilakan Haikal untuk duduk di bangku taman. Sedangkan ia sendiri masih anteng di kursi rodanya menatap hamparan bunga.


"Setelah hampir lima tahun, kenapa baru sekarang memiliki niatan untuk melamar Monika?" Farel berujar pelan namun penuh ketegasan.


"Saya memang terlalu bodoh untuk menyadari kalau saya telah jatuh pada pesona Monika. Melihatnya bersama keluarganya tadi, tanpa diminta saya juga merasakan sakitnya. Akhirnya saya menyadari, bahwa ternyata saya telah lama mencintai Monika,"


Farel tersenyum sinis, "Lalu saat orang tuamu menjodohkanmu? Sudah seperti itu pun tidak ada kesadaranmu di dalamnya?"


Haikal menghela napas, "Bukan berarti saya benar-benar menerima perjodohan itu,"


Farel mengangguk, "Begitu pula yang akan terjadi kalau kamu bersama Monika. Orang tuamu tidak akan mengizinkan dengan keadaan adik saya yang sekarang,"


"Mak--"


Farel menoleh dan menggeleng saat mengerti tatapan Haikal, "Saya tidak menjatuhkan adik saya. Kita sama-sama tahu, terlebih kamu yang hari ini sudah melihat langsung kehancuran dia. Dengan dia bersamamu, itu hanya akan menambah luka dan beban untuknya. Keluargamu tidak akan bisa menerima adik saya yang penuh luka,"


Haikal terdiam. Ia menyadari dua hal, pertama Farel benar dan ia menyadari bahwa Farel adalah sosok pria yang berpandangan luas, memiliki kasih sayang meskipun dingin dan cuek. Pantas sosok Fisha yang dicintai sahabatnya itu jatuh hati pada Farel.


"Sebenarnya, bukan dia yang tidak pantas untuk kamu. Tapi kamu yang tidak pantas untuknya. Adik saya sudah hidup dalam kekerasan dan kepahitan. Kamu hanya akan ikut terluka dan lukamu akan membuatnya semakin terluka,"


Haikal hanya diam, ia menyimak dengan serius.


"Kamu hanya ikut merasakan sedikit sakitnya, belum sepenuhnya. Dirimu yang selama ini hanya hidup dalam lingkup yang sama, masih belum cukup untuk menyembuhkan luka adik saya,"


Farel kembali menatap bunga-bunga. Pikirannya kembali menerawang saat ia pertama kali melihat sosok Monika yang pernah bergelut dengan lima pria dan gadis itu sebagai pemenangnya. Sejak itulah Farel mencari tahu sosok Monika dan membuat Monika harus menemani Fisha hingga akhirnya gadis itu tak lagi sendirian.


"Apa kamu pernah seperti adik saya? Kehilangan kasih sayang orang tua sejak SMP, saat-saat paling ingin dimengerti tapi ia justru dipaksa dewasa oleh keadaan. Tinggal sendirian di rumah megah tanpa ada kehangatan di dalamnya. Hidup liar di jalanan, tawuran, balapan, dibully. Apa kamu pernah merasakannya?" Farel menoleh melihat reaksi Haikal.


Pria itu masih sama, hanya diam dengan rasa sesak di dada yang semakin menjadi-jadi.


"Keadaan membuat Monika harus dewasa, menyembunyikan lukanya. Apa kamu bisa mengerti dengan keadaannya? Apa kamu bisa mengerti keadaannya hanya dari melihat mata polos penuh sirat luka itu?"


"Tidak, kamu belum bisa. Kamu hanya baru melihat keadaan sekitarnya, belum melihat matanya yang penuh penderitaan,"


Farel menghela napasnya, capek juga berbicara panjang lebar. Sebenarnya, Farel tak suka berbicara sejauh ini, namun ini menyangkut Monika, gadis yang sudah ia sayangi seperti adiknya.


"Kamu harus tahu, adik saya begitu mencintai kamu. Bahkan rela mempermalukan dirinya dengan pura-pura hamil di depan orang banyak,"


Haikal tampak terkejut, "Kamu--?"


Farel tersenyum sombong, "Saya tidak seperti kamu, dekat tapi tidak mengerti. Meski saat itu saya jauh dan koma, sata tetap tahu keadaannya. Bahkan saat itu ia harus dibawa ke rumah sakit,"


"Maaf,"


"Kamu tidak bersalah. Monika juga tidak bisa menahan cintanya yang tak berdosa. Pikirkan kembali dengan benar, pikirkan lagi dengan matang, apa kamu siap bersama adik saya? Apa adik saya akan bahagia di tengah-tengah keluargamu yang otoriter?"


"Untuk membuat adik saya bahagia, tidak perlu untuk bersamanya. Cukup jangan menambah lukanya saja, itu sudah bagus,"


Tepukan di bahu Farel berikan untuk Haikal sebelum ia pergi meninggalkan pria itu yang sekarang tampak berpikir keras.


Tbc...

__ADS_1


^^^#as.zey^^^


__ADS_2