Mysterious Gus

Mysterious Gus
#41. Satu Hari Bersama GREXDA


__ADS_3

..."Mereka mengobati rinduku padamu. Apa di sana kau juga merindukanku? Lantas, pantaskah aku merindukanmu?"...


...Fisha...


Setelah semua piring tercuci bersih, sekumpulan manusia itu berkumpul di teras markas, bersiap untuk melaksanakan agenda yang telah dibuat.


Fisha banyak melihat kotak-kotak yang ia yakini isinya adalah makanan. Fisha menebak, mungkin agenda pertama mereka hari ini adalah membagikan makanan.


"Seperti yang udah lo liat, kotak nasi. Yaps, agenda pertama kita bagiin makanan," Dylan membuka suara.


"Kita bakal keliling Jakarta sambil bagiin 500 kotak makan siang. Lo keberatan?" Kali ini Yusuf yang bersuara.


"Gak keberatan,"


"Kalian yang cewek naik mobil, Akhyar yang nyetir,"


Fisha menggeleng dengan penuturan Afnan, "Aku yang nyetir," ujar Fisha.


"Lo bisa nyetir?"


"Bisa. Sebelum kita memulai agenda satu hari penuh ini, mari kita berdoa menurut kepercayaan masing-masing!" Sesuai titah Fisha, mereka semua serentak menundukkan kepalanya untuk berdoa. Ada yang tangannya mengadah dan juga saling menggenggam, GREXDA memang tidak semuanya beragama islam.


"Selesai!" Fisha mengakhiri sesi berdoanya dan menerima kunci yang diserahkan oleh Afnan.


Setiap motor terdapat dua penumpang dan membawa sepuluh kotak nasi. Berbeda dengan yang di mobil, terdapat 40 kotak nasi yang terletak di bagasi. Seluruh kotak nasi itu harus habis, begitu titah Fisha.


"LET'S GO, GREXDA! WE SHOOK THE STREETS THIS MORNING!!" Seru Afnan yang posisinya paling depan, jangan lupa bahwa ia adalah wakil Farel.


"LET'S GO!!"


Suara deruman motor mulai memenuhi jalanan. Suaranya yang lumayan berisik sesuai dengan jumlahnya yang banyak. Banyak pengendara yang menyingkir saat mereka melintas. Terlebih jika itu para pemuda yang melihat bendera lambang GREXDA yang dipegang oleh Akhyar dan lima anggota lainnya.


"Gila! Ini mah namanya kita beneran buat jalan gempar," Nia berujar dengan antusiasnya, ia duduk di samping Fisha yang menyetir, sedangkan Monika dan Zira duduk di belakang.


"Semua pada kasih jalan gak, tuh?!" Kekeh Monika.


"DAEBAK!" Kata yang mampu Zira ucapkan hanya itu.


Fisha tersenyum tipis melihat reaksi mereka terhadap jalanan yang kini hanya dipadati oleh mereka. Netranya juga banyak melihat orang yang merekam mereka.


"Titik berhenti kita buat bagiin ini di mana?" Tanya Fisha.


"Di setiap lampu merah sama pangkalan ojek," jelas Monika.


"Oh, di depan ada lampu merah, Kak," ungkap Zira yang dibalas acungan jempol oleh Fisha.


"Kalau ada penyapu jalan, pemulung, tukang becak, juga harus dikasih," pesan Fisha yang tentunya mereka turuti.


Lima belas menit mereka berjalan, akhirnya mereka terhenti karena lampu merah. Sebagian dari mereka segera turun dari motornya dan membagikan kotak makanan pada pengamen, penjual koran, dan manusia silver atau sejenisnya.


Fisha mengedarkan pandangannya melihat pemandangan itu. Netranya pun tak sengaja melihat seorang pria paruh baya yang duduk lumayan jauh dari mereka.


Tanpa pikir panjang Fisha langsung turun dari mobil dan mengambil dua kotak nasi. Kakinya membawa ia menuju kakek tua yang hanya mampu melihat mereka dari kejauhan.


"Assalamu'alaikum," sapa Fisha dengan senyum manisnya.


"Wa'alaikumussalam," balas kakek itu balas tersenyum pada Fisha.


"Kakek, ini Fisha ada bawain makanan. Semoga bermanfaat," Fisha menyerahkan dua kotak makanan itu, membuat senyum sang kakek semakin cerah.


"Alhamdulillah, terima kasih, Nak,"

__ADS_1


"Sama-sama, Kakek. Kakek jualan tissue, ya?" Fisha bertanya saat melihat kotak yang berisi tissue dan beberapa botol minuman.


"Iya, Nak. Kakek sudah tua, hanya ini pekerjaan yang bisa Kakek lakukan,"


Fisha mengangguk masih dengan senyuman di bibirnya.


"SHA! BELIIN GUE TISSUE!" Suara teriakan Nia membuat Fisha menoleh dan mengacungkan jempolnya.


"Fisha beli semua tissue sama minumannya, Kek,"


"Loh?! Temen kamu cuma minta tissue?" Heran sang kakek.


"Buat temen dan adik Fisha, Kek. Mereka pasti butuh tissue sama minum,"


"Oh, iya, Kakek bungkus dulu,"


"Berapa totalnya, Kek?" Tanya Fisha setelah menerima dua kantong plastik hitam.


"150 ribu, Nak," Fisha mengangguk dan mengambil tiga lembar uang merah dari dompetnya.


"Buat kebutuhan Kakek, semoga bermanfaat,"


"Ini kebanyakan,"


"Gak papa, Kek,"


"KAK, AYO! LAMPUNYA UDAH IJO DARI TADI! JALANAN MACET KARENA KITA,"


Seruan Zira membuat Fisha berdiri, "Fisha pamit, Kek. Assalamu'alaikum," tanpa menunggu jawaban dari kakek tua itu, Fisha langsung berlalu menuju mobilnya. Ia merasa bersalah membuat jalanan macet.


Setelah menangkup tangan dan berujar maaf dengan gerakan mulut, Fisha segera masuk ke mobil dan melanjutkan perjalan mereka mengelilingi kota Jakarta.


"Lo banyak bener beli tissue," komentar Nia.


Kegiatan membagikan makanan mereka berakhir saat hari memasuki waktu sholat zuhur. Kotak nasi pun sudah habis tak tersisa. Sekarang mereka akan melaksanakan sholat zuhur di salah satu masjid yang mereka lewati.


"Kita sholat dulu baru makan siang. Habis makan siang kita ke tempat kerajinan," ujar Afnan saat mereja sudah berdiri rapi di batas suci masjid.


"WOKEH,"


"Ke tempat kerajinan?" Tanya Fisha pada Monika.


"Ho'oh, idenya si Dylan," jelas Monika yang lagi-lagi hanya dibalas anggukan oleh Fisha.


Skip--


Jam delapan malam, tepat setelah sholat isya dan makan malam, anak-anak GREXDA berjejer rapi di depan sebuah tenda pecel lele. Mereka membawa speaker, mic, gitar dan sebuah box. Mereka akan mengadakan konser dadakan setelah meminta izin pada penjual pecel lele.


Kehebohan yang mereka buat tentu mengundang perhatian banyak orang. Kamera pun sudah banyak menyorot mereka.


Fisha duduk di bangku yang sudah dipinjam oleh Dylan pada penjual pecel lele, tangannya menggenggam mic, di samping kanannya ada Afnan yang memegang gitar dan di samping kirinya ada Akhyar yang duduk di box, siap untuk dimainkan.


"Hallo! Selamat malam semua!" Fisha mulai membuka acara konser dadakan mereka.


"MALAM!" Balas para penonton.


"Malam ini kami akan mengadakan konser dadakan. Semoga kalian semua bisa menikmati konser SATU HARI BERSAMA GREXDA!"


Gitar mulai dipetik oleh Afnan, menciptakan nada-nada yang indah. Begitu pula Akhyar yang mulai memukul-mukul pelan box-nya.


Di mana kamu di mana di sini bukan

__ADS_1


Ke mana kamu ke mana ke sini bukan


Katanya pergi sebentar ternyata lama


Tahukah aku sendiri menunggu kamu


Fisha mulai bersuara, menyanyikan lagu yang awalnya saja sudah ditebak bahwa lagu itu sangat sedih. Terlebih saat melihat mimik wajah gadis itu, terlihat sangat menghayati.


Jangan pergi pergi lagi


Aku tak mau sendiri


Temani aku tuk sebentar saja


Agar aku tak kesepian


Para penonton mengikuti Fisha bernyanyi. Terlebih saat melihat mata gadis itu mengeluarkan cairan bening yang pasti adalah air mata.


Katanya pergi sebentar ternyata lama


Tahukah aku sendiri menunggu kamu


Jangan janji-janji terus


Aku tak mau kau bohong


Temani aku tuk sebentar saja


Agar aku tak kesepian


Jangan pergi pergi lagi


Aku tak mau sendiri


Temani aku tuk sebentar saja


Agar aku tak kesepian


Suara tepuk tangan meriah terdengar sebagai hadiah dari suara bagus Fisha. Fisha tersenyum sambil menghapus air matanya dengan tissue yang diberikan oleh Akhyar. Lagu yang dinyanyikannya benar-benar mewakili perasaannya saat ini.


Acara konser dadakan berjalan sampai malam menunjukkan jam sepuluh. Fisha memutuskan untuk mengakhiri kegiatan mereka. Malam ini ia akan menginap di kediaman Pramayudha, sesuai dengan perintah Raima.


"Makasih buat malam ini. Malam ini gak bakal pernah aku lupain. Makasih juga udah nerima aku. Aku harap, kalian juga bahagia hari ini, sama kayak yang aku rasain," ucap Fisha saat mereka berkumpul di dalam tenda pecel lele itu.


"Seharusnya kita yang bilang makasih karena udah luangin waktu buat kita. Kita juga seneng buat hari ini,"


"Aku pulang sekarang, yah? Abah sama Umma pasti udah nungguin. Apa lagi Nia sama Zira,"


"Kok cepet banget?" Protes Akhyar.


"Kita udah habisin waktu seharian, Yar. Fisha dan yang lain butuh istirahat. Masih ada waktu kapan-kapan," Adam berujar dengan bijaknya, membuat Akhyar dan yang lain mengangguk pasrah.


Fisha tersenyum, "Kalian juga istirahat. Selamat malam semua, assalamu'alaikum,"


"Malam juga, Sha. Wa'alaikumussalam,"


"Hati-hati lo, Nan!" Pesan Dylan pada Afnan yang bertugas mengantarkan para gadis untuk pulang.


"Hm," Afnan segera menyusul ke empat gadis itu masuk ke mobil. Zira duduk di sampingnya, Fisha, Nia dan Monika di jok belakang. Setelah mereka duduk nyaman, Afnan langsung melajukan mobil setelah mengklakson tiga kali.


Tbc...

__ADS_1


^^^#as.zey ^^^


__ADS_2