
"Jadi Bang Farel bukan abang kandung kita?" Tanya Nia membuat suasana semakin mencekam.
Seperkian detik, akhirnya Hutama menghela napasnya sebelum menjawab, "Udah malam, besok kalian harus sekolah, tidurlah!" Ucap Hutama mengelak dari pertanyaan itu dan segera pergi sambil menggenggam tangan Raima.
***
Dinginnya udara malam dari balkon menjadi teman untuk Farel sekarang. Di telinganya pun ada sebuah ponsel yang sedang menghubungkannya dan Karaya.
"OPPAA?! OPPA KE MANA SAJA?!" Suara yang terkesan panik itu menyapa pendengaran tajam milik Farel. Farel tak marah, namun suara itu semakin menambah rasa sesak di dadanya.
"Maaf, Ae Ri, sudah membuatmu khawatir. Oppa tidak membawa ponsel tadi,"
"Really? Oppa baik-baik saja? Kenapa suaranya berdengung? Oppa sakit?"
"Baik, Ae Ri. Ada apa mencari?"
"Oppa tau?! Lukisanku akan dibuatkan pameran! Pameran besar-besaran!!" Seru Karaya dengan girangnya.
Farel tersenyum tipis, "Kamu sudah melakukan yang terbaik, kamu pantas mendapatkannya. Selamat, Ae Ri!"
"Gomawo Oppa. Tapi......,"
"Hm? Kenapa?"
"Aku ingin Oppa menemaniku jika Oppa ada waktu. Tapi aku tidak memaksa kalau Oppa tidak bisa,"
Farel terdiam sejenak untuk bergulat dengan hati dan pikirannya, hingga bibirnya dengan mulus bertanya, "Acaranya kapan?"
"Emm,, tiga hari lagi,"
"Oppa akan menemanimu,"
"Sungguh?!"
"Sungguh. Kamu sudah melakukan hal yang hebat, kamu pantas menerimanya,"
"Aku akan melakukan hal hebat semampuku, agar Oppa segera membawaku bertemu Papa,"
"Baiklah, Oppa harus istirahat. Bersabarlah Ae Ri,"
"Pasti Oppa. Tapi sekarang untukku, kehadiran Oppa adalah yang paling dibutuhkan,"
"I always be with you,"
"I'm bilive you. Night Oppa,"
"Em," balas Farel dan memutuskan panggilannya.
Pertahanan Farel kembali runtuh, tubuh tegap gagah itu luruh ke lantai bersama isak tangisnya.
Memeluk dirinya sendiri dan menyembunyikan wajah rapuhnya. Dirinya sudah tidak tahu harus apa sekarang. Dirinya terlalu lemah untuk menghadapi masa kelamnya yang tak sudah-sudah.
"ARRGHHH!!" Teriak Farel menjambak rambutnya sendiri, kursi yang tersedia di balkon pun sudah tak lagi di tempatnya.
"Kenapa harus aku?! Kenapa?!" Lirih Farel.
Tok Tok Tok
Suara ketukan pintu itu harus menarik Farel dari kerapuhannya. Menghapus air matanya segera dan membuka pintu.
"Abang," panggil Zira begitu lirih saat melihat keadaan Farel yang kentara sekali sedang tidak baik-baik saja.
"Kenapa?"
"Em, Zira mau tidur sama Abang bo--"
"Sini!" Ajak Farel dan membawa adik bungsunya itu untuk tidur bersama.
"Abang, Nia juga mau tidur sama Abang!" Seru Nia datang sebelum pintu kamar Farel tertutup sempurna.
Farel tersenyum tipis dan mengangguk, meski mereka bukan terlahir dari ayah yang sama, Farel sangat menyayangi kedua gadis itu.
__ADS_1
Ketiga remaja berbeda generasi itu berbaring di ranjang Farel yang besar, dengan sang pemilik ranjang di posisi tengah sambil menjadikan lengannya sebagai bantal untuk kedua adiknya.
"Nia sayang sama Abang," lirih Nia mengeratkan pelukannya.
"Zira juga sayang Abang. Lebih sayangan Zira dibanding Kak Nia,"
"Kak Nia lebih sayang Abang,"
"No, Zira yang paling sayang Abang!"
"Bohong!"
"Enggak!"
"Bakso atau mie ayam?"
"Mie ayam!"
"Susu atau teh?"
"Susu!"
"Es krim atau permen?"
"Es krim!"
"Abang atau TXT?"
"TXT!!"
"Naahh,, bener, kan, kamu lebih pilih TXT, tuh!"
"IHH!! KAK NIA NYESELIN!!" Teriak Zira kesal karena dikerjain oleh kakaknya sendiri.
Keributan kedua gadis itu berhasil membuat Farel terkekeh pelan.
"Ternyata kamu lebih pilih TXT daripada Abang, ya, Dek?"
"Fakta atau enggak, Nia sama Zira akan selalu sayang sama Abang meskipun kita beda ayah. Buat kita, Abang adalah yang terbaik," ucap Nia menegakkan kepalanya menatap wajah sang abang yang amat dibanggakannya.
"Zira sayang Abang! Gak boleh ada yang ambil Abang dari Zira! Abang punya Zira pokoknya!" Tambah Zira tegas namun terkesan lucu untuk Farel.
Farel menatap mata indah nan bening kedua adiknya, terlihat matanya sudah banyak menangis.
"Besok bolos ke timezone mau?" Tawar Farel mengalihkan pembicaraan.
"MAU!!" Seru keduanya dengan semangat.
"Kalau gitu, tidur sekarang! Besok kita jogging juga,"
"Selamat malam, Abang!!"
"Malam. Jangan lupa baca doa!"
"Iya," lagi-lagi keduanya menjawab bersamaan dan segera membaca doa lalu menjemput alam mimpinya.
"Abang lebih sayang kalian," lirih Farel dan juga ikut memasuki alam mimpinya.
***
Raima memasuki kamar Farel, sebab azan subuh sudah berkumandang sejak 15 menit lalu, namun dirinya tak juga melihat batang hidung ketiga anaknya. Fisha bilang, kedua anak gadisnya sedang tidur bersama di kamar sang bujang.
Raima tersenyum hangat saat melihat pemandangan yang menyejukkan hatinya. Terlihat jelas ketiga anaknya itu tidur dengan damai sambil berpelukan.
"Abang, Kakak, Adek, bangun! Udah subuh," ucap Raima menepuk pelan lengan ketiganya.
Raima terus membangunkan hingga akhirnya mereka menggeliat merasa terganggu.
"Lima menit lagi Umma," pinta ketiganya bersamaan dan kembali mencari posisi nyaman, Raima terkekeh mendengarnya. Semua anaknya emang cosplay kebo.
"Gak ada lima menit-lima menit! Ayo, bangun sholat subuh atau Umma siram?!" Gertak Raima yang tak dihiraukan ketiga anaknya.
__ADS_1
"Beneran gak mau bangun, ya, hm?" Gumam Raima dan mengambil segayung air.
"KYAA!!!! BOCOR!! ABAH, RUMAH KITA BOCOR!!!" Teriak Nia saat diguyur air oleh sang umma.
"WEYYY!! ZIRA BELUM MAU MANDI HUAAA!!" Teriak si bungsu, Zira, dengan wajah kesalnya yang lucu.
"Astaghfirullah," lirih Farel mendapat siraman yang paling akhir dan disambut oleh teriakan kedua adiknya.
Raima tertawa puas melihat anak-anaknya yang sudah bangun meskipun dalam keadaan basah kuyup.
"Biar seger," kekeh Raima.
"Ummaa,," rengek Nia dan Zira kesal.
"Udah, sana mandi, terus sholat subuh!"
"Iya," balas kedua gadis itu dan segera membersihkan diri.
"Tidurnya nyenyak?" Tanya Raima mengusap rambut Farel yang basah karena ulahnya.
"Iya,"
"Alhamdulillah. Kamu gak usah sekolah dulu, ya? Umma masih khawatir,"
"Iya, dua hari ini Farel mau bolos. Nanti Farel mau ajak adek-adek jalan. Boleh Umma?"
"Iya, boleh, tapi hati-hati! Kalau ada apa-apa hubungi Abah atau Umma,"
"Iya,"
"Ya udah, gih, mandi terus sholat!" Farel hanya mengangguk dan berjalan dengan sempoyongan menuju kamar mandi.
***
Jarum jam sudah menunjukkan pukul 06.10 pagi. Di hari yang masih terlalu dini ini, Farel dan kedua adiknya sudah siap dengan pakaian olahraga. Mereka benar-benar akan lari pagi.
Kaki jenjang Farel menuju ruang makan, semua sudah bersiap dan duduk manis di kursinya masing-masing.
"Lo bener mau bolos?" Tanya Dylan tanpa basa-basi.
"Hm,"
"Gue juga mau bolos!" Seru Yusuf.
"Gak! Siapin acara malam buat anak-anak,"
"SERIUS LO?! PARTY, NIH, KITA?"
"Hm,"
"Mau di mana, nih, acaranya?"
"Arena balapan,"
"Ck, siplah!"
"Dek, ayo!" Ajak Farel pada kedua adiknya setelah meneguk habis segelas susu cokelatnya.
"Mau lari pagi sekarang?"
"Iya, assalamu'alaikum,"
"Wa'alaikumussalam, hati-hati,"
"Hm,"
Mereka bertigapun mulai melangkah meninggalkan istananya. Tak sabar ingin menghirup udara segar di pagi hari.
Tbc......
^^^#as.zey^^^
__ADS_1