
..."Untuk kali ini, aku ingin egois! Aku hanya ingin kau menjadi milikku, bukan orang lain,"...
...Monika...
Setelah mendapat panggilan dari Nika dan menebus obat, di sini lah sekarang Fisha dan kedua sayapnya berada, gang pesantren calonnya si Mas Haikal.
Saat mereka sampai, sudah ada Nika dan komplotan yang lainnya. Tampaknya mereka benar-benar niat untuk menghancurkan acara itu.
"Dari mana sih, lama bener?!" Kesal Nika.
"Temu psikiatri," bukan Fisha, tapi Ley yang menjawab.
"Psikiatri?! Lo kenapa, Sha?"
Fisha berdecak santai, "It's okay, cukup kalian temenin, aku bakal oke,"
"Bener?"
"Iya. Sekarang kita fokus buat onar," ujar Fisha penuh semangat.
"Okay, tanpa banyak bacot, gaja kita rebut kembali Mas Haikal gue!" Nika lah yang paling semangat, karena dia lah tokoh utamanya.
Mereka masuk ke mobilnya dan menuju rumah calon Haikal. Untuk mengetahui alamat gadis itu bukanlah sulit. Ada para RANDA dan juga Kakek Abdullah yang ternyata membantu dengan senang hati.
"Pesantren Fajar," Fisha membaca nama pesantren tersebut sambil mengangguk.
"Emang pesantren bagus sih," komentar Fisha saat mereka sudah turun dari mobil dan menjadi pusat perhatian.
"Nyali gue menciut tiba-tiba," ungkap Nika lemas melihat sebuah rumah yang terlihat ramai.
"Sans Nik, kita juga rame, jadi bisa keroyokan. Let's go!!" Zulaikha dengan semangat berjalan di depan menuju rumah yang paling mencolok dan diyakini tempat terjadinya pertemuan Haikal dengan calonnya.
"Assalamu'alaikum!!" Zulaikha berujar dengan suara lantang, tidak ada sopan dan anggun-anggunnya.
Semua yang berada dalam rumah itu menoleh, "Wa'alaikumussalam,"
"Maaf, ada perlu apa, ya?" Seorang wanita menghampiri.
"Gak disuruh masuk dulu, nih?" Kali ini Hawa yang bersuara.
"Hah?! Oh, silakan!" Tanpa banyak basa-basi, mereka langsung masuk secara bergerombol.
"Jinjja, baru kali ini aku lakuin hal gila kayak gini," gumam Ley.
"Sama mereka, aku lepas kendali," tambah Tiam.
"Nika?!" Haikal bangkit dari duduknya dengan wajah terkejut.
"Fisha?!" Sekarang gantian Azam yang terkejut, namun Fisha hanya mengangguk sebagai respon.
"Ada perlu apa, ya?" Seorang pria bertanya, pria itu mereka yakini sebagai ayahnya calon Haikal.
Tubuh Nika tiba-tiba bergetar, membuat mereka panik, minus para komplotan yang wajahnya pura-pura sendu.
"Kamu tega sama aku, Mas Haikal?" Nika memulai dramanya.
__ADS_1
Semua orang menjadi panik dan heran secara bersamaan. Terlebih lagi Haikal. Pria itu langsung menghampiri Nika.
"Kamu kenapa, Nika?" Khawatir Haikal.
"Kamu beneran mau nikahin perempuan lain?! Kamu ngebiarin aku besarin anak kita sendirian?!"
"HAH?!"
"APA?!"
Nika tersenyum smirk, "Jangan pura-pura bodoh kamu, Mas! Aku hamil anak kamu!"
"Maksud kamu apa, Nika? Saya tidak paham," Haikal masih berusaha tenang.
Nika dengan lancang meraih tangan Haikal dan membawanya menyentuh perut datarnya, "Di sini. Di sini ada calon anak kita!" Lirih Nika dengan air mata buaya betinanya.
"Kam--"
Bugh!!
Satu tinjuan tiba-tiba mendarat di wajah mulus Haikal. Tinjuan itu berasal dari ayah si calon Haikal.
"KURANG AJAR KAMU! SUDAH MENGHAMILI ANAK ORANG, TAPI TIDAK MAU BERTANGGUNG JAWAB!" Murka si ayah hendak kembali menghajar Haikal, namun Nika lebih dulu menghempaskan tangan pria itu.
"Anda tidak berhak atas ayah dari anak saya!" Murka Nika.
Si ayah gadis menggeram kesal, "Dasar gadis mur*han!" Hinanya membuat Dylan langsung naik pitam.
"Jaga omongan anda!" Amuk Dylan hendak menghajar pria itu kalau saja Adam tidak mencegahnya.
"Sia*an! Belum tau aja lo sekarang lagi berhadapan sama siapa! Liat aja, kehancuran siap menghampiri lo!" Ujar Dylan tanpa rasa hormat, namun tak diindahkan oleh pria itu.
"Saya tidak bisa melanjutkan perjodohan ini. Saya tidak mau putri saya dinikahi oleh pria tidak bermoral seperti anak anda!" Ayah si gadis berujar pada keluarga Haikal yang sejak tadi hanya diam.
"Jaga bicara anda, Tuan! Anda mungkin memang bergelar ulama, tapi kelakuan anda sama seperti orang tidak berpegang teguh pada agama!" Tiam akhirnya membuka suara. Ia berujar penuh dengan ketenangan.
"Pergi kalian!"
"Tanpa anda suruh, kami pun akan pergi! Tunggu saja kehancuran kalian!" Ancam Tiam tak main-main.
"Haikal, ayo pulang! Kita bicarakan di rumah!" Ayah Haikal akhirnya buka suara dan mereka memutuskan hengkang dari pesantren Fajar.
"Sebentar Abi, Umi! Haikal mau bicara sama Nika dulu," ucap Haikal saat mereka di parkiran dan mengode Nika untuk mengikutinya.
"Sebenarnya, kalian siapa?" Ibu Haikal buka suara.
"Kita teman seperjuangan Nika. Panggil aja kita KOMPLOTAN," Fisha mengenalkan diri dengan santai.
***
Di sisi lain, Haikal membawa Nika ke dekat taman pesantren.
Sekarang posisinya Nika duduk dan Haikal berdiri di hadapannya.
"Maksud kamu hamil anak saya apa, Monika?! Menyentuh kamu saja saya tidak pernah,"
__ADS_1
Nika tersenyum tanpa dosa, "Nika memang gak hamil. Nika lakuin semuanya biar Mas Haikal gak jadi dijodohin sama cewek itu. Nika gak rela kalau Mas Haikal sama perempuan lain!"
"Tapi cara kamu keterlaluan, Monika! Lagi pula, kamu tidak berhak atas saya,"
Nika terkekeh sinis dan berdiri. Kali ini ia menangis sungguhan.
"IYA, CARA GUE EMANG KETERLALUAN! IYA, GUE EMANG GAK BERHAK ATAS LO, DAN GAK PERNAH BERHAK ATAS LO! GUE SADAR DIRI KALO GUE EMANG GAK PERNAH PANTES SAMA LO!" Teriak Nika membuat Haikal terkejut. Mereka pun semakin jadi pusat perhatian.
"SEHARUSNYA DARI AWAL LO TEGAS SAMA GUE, BILANG KALO LO GAK SUKA SAMA GUE! BENCI SAMA GUE! RISIH SAMA GUE! JADINYA GUE GAK BAKAL SENEKAT INI!" Lanjut Nika.
Nika menghapus air matanya dan tersenyum, "Gue cukup sadar diri kalo gue emang seburuk itu buat bersanding sama lo! Tapi gue terlalu bodoh untuk menyadari itu sampai akhirnya gue mengklaim lo sebagai milik gue!"
"Nik--"
Nika menarik napasnya dalam, "Gue emang bukan cewek idaman lo yang pastinya sholeha. Gue cuma cewek broken home dan hidupnya begajulan, gue sangat sangat sadar dengan hal itu. Tapi gue tetep bakal lakuin apa pun, buat jauhin lo dari perempuan manapun!"
"Nika, ayo pulang! Percuma lo ngoceh, Dek," Dylan yang sedari tadi menguping akhirnya memilih menghampiri.
Nika menoleh kemudian mengangguk.
"Kalau gue gak bisa milikin lo, orang lain juga gak bakal bisa milikin lo!" Kalimat itu adalah kalimat terakhir yang Nika ucapkan sebelum berlalu dari hadapan Haikal dengan sempoyongan.
Haikal hanya diam membisu, mencerna semua perkataan Nika hingga akhirnya semua buyar saat Dylan berteriak.
"Nik! Nika! Monika! Bangun! Heh! Dek!" Suara Dylan terdengar panik saat Nika tiba-tiba saja pingsan.
"Nika kenapa?" Tanya Haikal.
"Buta lo? Udah jelas adek gue pingsan!" Sarkas Dylan.
"****! Buat gue panik aja lo, Nik!" Gumam Dylan menggendong Nika.
"Nika kenapa?!" Semua panik saat melihat Nika tak sadarkan diri dalam gendongan Dylan.
"Pingsan. Kayaknya kecapean dan stress. Dari pagi gak mau makan," jelas Dylan membawa Nika ke mobil, disusul yang lainnya.
"Kamu apa kan dia, Kal?" Tuding Azam pada Haikal.
"Tidak saya apa-apa kan. Tiba-tiba pingsan,"
"Ck, Monika tidak hamil. Dia hanya tidak ingin Haikal dimiliki orang lain," ucap Tiam.
"Maksud kamu?" Tanya ayah Haikal.
"Karena anak anda, Monika jadi nekat melakukan hal gila. Hal ini mungkin akan terus terjadi jika kalian masih nekat menjodohkan Haikal. Atau Haikal mencintai perempuan lain," kali ini Ley yang bersuara.
"Apa kalian tega terus melakukan hal itu?!"
Tiam tersenyum tenang, "Keluarga Atmaja amat senang melakukannya," ungkap Tiam dan masuk ke dalam mobilnya, diikuti oleh Ley juga Fisha, meninggalkan keterdiaman keluarga Haikal.
"Mereka keluarga Atmaja?"
Tbc...
tandai typoš«”
__ADS_1
^^^#as.zey^^^