
..."Kamu dan Farel seperti pembawa kebahagiaan untukku dan keluargaku, terlebih untuk Umiku,"...
...Hutama...
Setelah menempuh perjalanan hampir dua puluh menit, akhirnya mobil Hutama mulai memasuki jalan setapak. Banyak orang yang berlalu lintas, namun yang dilihat Raima, orang itu rata-rata adalah remaja. Perempuan dengan pakaian syar'i dan laki-laki dengan sarung, baju koko lengkap dengan kopiah.
Raima sedari tadi tidak berhenti mengedarkan pandangannya. Orang-orang yang berlalu lalang itu cukup untuk menarik perhatiannya.
"Mereka santri pesantren saya. Mungkin sedang izin ke depan membeli keperluan," seolah mengerti ketertarikan Raima, Hutama pun menjelaskannya.
"Dari sini ke market depan bukannya jauh, Pak?" Raima memberanikan diri untuk bertanya.
"Ada jalan tikus,"
"Ikus?" Suara Farel kecil menyela, terdengar begitu lucu. Terlebih mata bulat dan bibir mungil yang mengerucut itu. Matanya menatap Hutama dengan tatapan terkejut.
Hutama terkekeh kecil dan mengusap rambut Farel, "Iya, tikus. Farel takut tikus?"
Farel kecil menggeleng lucu, "Umma akut," jari mungilnya menunjuk sang umma, menjelaskan perkataannya bahwa sang umma lah yang takut tikus.
Hutama lagi-lagi terkekeh, "Umma yang takut sama tikus?"
"Ho'oh," balas Farel dan tertawa lucu, entah apa yang bocah itu tertawakan, namun tawanya menular pada Hutama.
"Gak boleh gitu, Sayang. Masa Umma diketawain," Raima berusaha menutupi rasa malunya.
Seolah mengerti, Farel berhenti tertawa dan menatap umma-nya itu sambil menyengir polos.
Tak berselang lama, Raima bisa melihat sebuah bangunan super besar nan megah di depan matanya. Sebuah tulisan besar bertuliskan 'PESANTREN AL-ISTIQOMAH" menyambut kedatangan mereka.
Raima pun kembali melihat banyaknya para santri yang berkeliaran sambil membawa buku dan kitab-kitab.
Kaca mobil yang sengaja Hutama buka, membuat ia menjadi pusat perhatian. Banyak pula para santri yang menyapa sambil menundukkan kepalanya sopan. Hutama pun mau tidak mau membalasnya dengan suara klakson mobil.
Setelah lumayan jauh masuk ke dalam lingkungan pesantren, mobil Hutama berhenti di sebuah rumah yang lumayan mencolok dari bangunan lainnya. Raima menduga bahwa itu adalah rumah Hutama.
"Ma, imana?" Farel bertanya dengan pandangan tak lepas dari lingkungan barunya.
"Di rumah saya. Orang biasa menyebutnya ndalem. Nanti Farel sama Umma tinggal di sini. Mau?"
"AU!!" Lagi, seolah mengerti, anak kecil itu menjawab dengan girang sambil bertepuk tangan senang.
"Ayo turun!" Ajak Hutama melepaskan seat belt-nya, namun Raima hanya diam membisu tak menuruti perkataan Hutama.
"Kenapa?"
"Takut," cicit Raima yang justru tak ditanggapi Hutama.
Hutama hanya diam dan langsung keluar dari mobil. Raima mengikuti pergerakan pria itu yang ternyata memutari mobil dan membukakan pintu untuknya. Padahal Raima pikir boss barunya itu sedang marah.
"Tidak ada yang perlu kamu takutkan. Abi dan Umi saya bukan kanibal," barulah Hutama bersuara dan mengambil alih Farel kemudian mengambil tas Raima di jok belakang.
Kegiatan Hutama tak lepas dari tatapan para santri. Terlebih saat melihat Farel di gendongannya dan Raima di mobil gus mereka.
"Ayo!" Ajak Hutama lagi dan akhirnya Raima menurut meski rasa takut dan malu menguasai dirinya.
"Au ana?" Tanya Farel penasaran saat ia berada di tempat yang asing baginya. Wajah polosnya yang menatap Hutama membuat senyum tipis hadir di bibir Hutama.
"Ketemu Kakek sama Nenek. Mau?"
__ADS_1
"Kek? Nek?"
"Iya, mau?"
"AU!!"
Mereka berdiri di depan pintu sebuah rumah yang Raima yakini adalah rumah orang tua Hutama. Rumah itu tampak sepi bagi Raima.
"Assalamu'alaikum," ucap Hutama masih belum melangkah masuk ke dalam rumahnya. Ia tahu, saat ini ia sedang membawa seorang wanita dan seorang anak, jadi ia tak berani langsung masuk.
"Wa'alaikumussalam," suara seorang wanita menyahut dan menghampiri pintu.
"Astaghfirullah. Masih ingat pulang kamu, Tama? Ke mana aja, hah?! Udah merasa mandiri kamu?!" Suara nyaring itu langsung menyambar pendengaran Hutama, sebuah jeweran pun juga Hutama dapatkan dari wanita yang berstatus uminya, Jamilah.
"Duhh!! Ampun, Mi! Sakit! Tama kemarin di apartemen, gak sempet pulang," Hutama menjelaskan dengan ringisan akibat rasa perih di telinganya.
"Alesan aja kamu!" Sinis Jamilah lalu melepaskan jewerannya, tak tega pula melihat wajah kesakitan putranya.
Jamilah mengerutkan keningnya melihat Farel yang anteng di gendongan anaknya. Reaksinya lebih heboh lagi saat melihat Raima. Pikiran buruk mulai mengusai otaknya.
Lagi-lagi tangan Jamilah terangkat untuk menjewer telinga Hutama, "ASTAGHFIRULLAH HUTAMA PRAMAYUDHA! SIAPA YANG KAMU BAWA, HAH?! JANGAN BILANG KAMU UDAH NIKAH TANPA RESTU DARI ABI DAN UMI?!" Pekik Jamilah amat melengking.
"Aaakhh!! Lepas, Mi! Tama jelasin tapi lepasin du--"
"Kenapa, Dek? Teriak gitu buat orang kaget," seorang pria datang menghampiri dengan wajah penuh wibawanya. Dia adalah abi Hutama, Abdullah.
Jamilah melepaskan jewerannya dan menoleh pada sang suami sambil berkacak pinggang, "Liat, Mas! Tama pulang bawa perempuan sama anak kecil,"
"Umi salah paham, Bi! Tama je--"
Ucapan Hutama kembali tersela saat Farel tiba-tiba menangis. Mungkin anak itu kaget dengan suara melengking Jamilah tadi, terlebih melihat kekerasan yang Jamilah lakukan terhadap Hutama barusan.
"Kamu kaget, ya? Duhh, maafin, ya, anak ganteng," ujar Jamilah merasa bersalah dan mengusap rambut Farel. Netra mereka dapat melihat jelas keengganan Farel saat Jamilah menyentuhnya.
"Masa takut sama Ila?!" Jamilah berujar sewot pada suaminya. Ia tak pernah mendapat penolakan seperti ini sebelumnya dari anak kecil.
"Umi, sih, teriak-teriak. Suara Umi tuh cempreng, bisa ngerusak telinga," sambar Hutama dengan wajah julid, membuat sang umi siap saja memberi bogeman padanya.
Perlu diketahui, Jamilah adalah sosok ibu yang agak bar-bar, suka teriak dan juga kesal, membuat Hutama senang sekali mencari masalah pada uminya itu.
"Bilang sekali lagi?!" Amuk Jamilah yang disambut wajah songong dari Hutama dan itu merupakan pemandangan baru bagi Raima, padahal sedari tadi pria itu hanya berwajah dan bertingkah kalem.
"Sudah, jangan ribut! Malu diliatin orang. Dibawa masuk dulu, Tam!" Abdullah menyela dan menuju ruang keluarga.
"Anak gak ada akhlak!" Jamilah mengepalkan tangannya geram pada Hutama lalu lekas menyusul sang suami.
Hutama menggeleng heran melihat tingkah sang umi, "Umi saya memang agak bar-bar. Ayo masuk!" Ungkap Hutama lantas masuk ke rumah terlebih dulu, membiarkan Raima mengikuti.
"Bisa jelaskan Hutama?" Pertanyaan itu langsung Abdullah lontarkan saat mereka sudah duduk saling berhadapan.
"Dia sekretaris baru Tama, Raima. Ini anaknya, Alfarel," Hutama terlebih dahulu memperkenalkan mereka.
"Jadi? Sekretaris kamu adalah perempuan yang diam-diam kamu nikahi?" Cerca Jamilah tak sabaran.
"Bukan Umi! Seuzon terus sama Tama,"
"Makanya buruan jelasin!"
"Farel butuh suasana tenang untuk psikisnya. Tadi Tama udah konsultasi sama Syam, terus Syam saranin bawa Farel ke sini untuk pengalihan suasana hatinya," Hutama menjeda kalimatnya, siapa tahu uminya ingin menyela lagi, tapi ternyata tidak.
__ADS_1
"Jadi Tama minta izin sama Abi dan Umi untuk mengizinkan Raima, juga Farel tinggal di sini. Setidaknya sampai psikis Farel ada perkembangan yang positif,"
"Farel kenapa?" Jamilah menatap sendu ke arah Farel yang sampai saat ini masih menyembunyikan wajahnya di dada Hutama.
"Kepo itu ga--"
"Mendapat kekerasan dari mantan suami saya," sela Raima dengan kepala tertunduk. Sengaja ia menyela dan berkata jujur, dirinya tak mau orang tua Hutama semakin berpikiran buruk tentang putranya.
"Inalillahi," kaget Jamilah dengan wajah kagetnya.
Jamilah langsung berpindah duduk di samping Hutama. Tangannya mengusap rambut Farel meski anak itu masih enggan. Mata umi dari Hutama itu pun sudah memerah dengan genangan air mata.
"Tega sekali dia yang menyakiti anak seganteng ini," lirih Jamilah.
"Manusia berbeda-beda, Mi. Begitu pula hatinya. Kita tidak tahu apa yang membuat dia bisa berlaku seperti itu," ujar Hutama mengusap air mata uminya.
"Mas, biarin Raima sama Farel tinggal sama kita, ya?" Sekarang gantian Jamilah yang menatap penuh harap suaminya.
"Boleh, tapi nanti Tama tidak boleh sering di rumah. Bukan mahram dengan Raima,"
Hutama mengangguk yakin, "Nanti malam Abi i'itikaf di masjid sama santri, kan? Tama ikut aja,"
"Iya, untuk malam ini begitu saja. Untuk besok-besok kita pikirkan lagi,"
"Yes! Alhamdulillah," Jamilah berujar senang. Tak ada lagi wajah sendunya.
"Umi labil," hina Hutama membuat Jamilah mendelik kesal.
"Farel sini, yuk! Digendong sama Nenek,"
"Nek?" Farel tiba-tiba menoleh pada Jamilah dengan wajah sumringah. Entah ke mana perginya wajah takut tadi.
"Iya, Nenek. Mau Nenek gendong?" Jamilah mengulurkan tangannya yang ternyata disambut antusias oleh Farel. Jamilah pun senangnya bukan kepayang.
"MasyaAllah, ganteng banget, sih?! Tama aja kalah gantengnya," girang Jamilah menciumi wajah Farel, membuat tawa nyaring terdengar dari bibir Farel.
Raima menatap haru putranya yang tertawa lepas itu. Jarang sekali dia bisa melihat senyuman itu. Rasa syukur yang sangat saat ini memenuhi hati dan pikirannya. Biarlah untuk sekarang ia fokus pada hari ini, merekam dengan baik tawa putranya itu.
"Terima kasih, Pak, Ibu. Maaf, saya dan Farel merepotkan," ungkap Raima tak enak hati.
"Tidak apa, tidak merepotkan juga. Umi Tama juga terlihat antusias sama Farel," Abdullah berujar dengan tulus.
"Emang siapa yang gak seneng sama Farel? Anak baik plus ganteng gini. Omong-omong, panggil umi aja. Nama Umi, Jamilah. Kalau ini panggil Abi Abdullah," Jamilah menambahi sambil masih asik menimang-nimang mainan barunya, Farel.
"Beuh!! Anteng banget, gak kayak kamu, Tam!" Sindir Jamilah pada Hutama.
"Bukan anteng. Farel-nya tertekan sama Umi, jadi gak berani gerak," balas Hutama tak mau kalah.
"Apa kamu bilang?!" Geram Jamilah dan langsung saja Hutama lekas pergi sebelum wanita itu semakin mengamuk.
"Ma, kamu sama Umi saya dulu. Bi, Tama pergi dulu, awasin Umi kalau mau buat Farel tertekan," Hutama berujar keras dari depan pintu.
"HUTAMA PRAMAYUDHA!! SINI KAMU!!"
"HUWAAA!!"
Tbc...
^^^#as.zey^^^
__ADS_1