Mysterious Gus

Mysterious Gus
#86. Broke


__ADS_3

..."Cepat atau lambat, benar atau salah, aku akan kembali membawa kamu di sisiku,"...


...Altiam...


Hari sudah menggelap meski tempat yang Tiam singgahi begitu terang karena pencahayaan lampu. Sudah hampir setengah harian ia di tempatnya tanpa beranjak sekalipun. Meski tampan, wajahnya tampak kusut dan sepet untuk dipandang mata.


Begitu asik dengan dunianya selama hampir setengah hari, bahkan ia tak peduli dengan orang-orang yang keluar masuk ke kamar istirahat para staff rumah sakit. Yah, tempat bernaung Tiam saat ini adalah ruang istirahat staff rumah sakit. Ia pikir, diam menunggu di sana lebih baik agar tidak kesusahan mencari Fisha nanti, karena gadis itu sendiri yang akan menemuinya.


"Coy, lo ngapain di sini? Persis kayak gembel,"


Tiam mendongak saat perkataan penuh hinaan itu dilontarkan untuknya yang jelas-jelas tampan meski layaknya gembel.


"Fisha mana?" Tiam celingukan mencari sosok Fisha. Pikirnya, Fisha juga bersama Clara si gadis yang berani mengolok-oloknya.


"Lah, mana gue tau. Kita udah misah dari siang tadi. Masih ada pasien kalik,"


"Kamu? Pengangguran?"


Clara mendelik kesal, kentara sekali merasa kesal dengan pertanyaan sarkas dari Tiam. Jelas sekali kalau Tiam itu pendendam.


"Kalau gue pengangguran, baju gue gak bakal lusuh gini! Gue lusuh itu kerja, gak kayak lo! Lusuh karena jadi gembel,"


Sepertinya, Tiam dan Clara akan terus menjadi musuh di masa depan. Entah mengapa mereka bisa saling bermusuhan, yang pasti para penikmat sangat menikmatinya.


"Udah, sana lo! Gak malu lo diliatin staff lainnya?! Kalo gue, pasti malu, sih," Clara menatap Tiam julid, yang sungguh amat-amat menyebalkan bagi Tiam.


"Aku nunggu Fi--"


"TIAM!"


"Santai kalik, Sha. Nih human kagak bakal ke mana-mana meski udah gue usir," Clara menyahut kesal pada sahabatnya yang baru tiba bersama wajah yang tak kalah lusuhnya dengan wajah Tiam.


"Kenapa? Butuh sesuatu?" Tiam menengahi dengan tenang meski perasaannya mulai tak enak. Ia yakin, pasti terjadi sesuatu. Kentara sekali dari wajah Fisha yang seperti frustasi.


"Ermira!"


"Ermira kenapa?"


"Kelamaan kalo dijelasin. Ikut aku!" Tanpa banyak bicara lagi, Fisha langsung menarik Tiam. Sedangkan Tiam hanya mengikuti meski langkahnya harus terseok-seok. Istri dari abangnya itu memang memiliki tenaga yang amat besar.


"Kenapa sih, Sha?! Lo buat gue panik!" Ternyata Clara ikutan kepo dan menyusul.


Fisha menghentikan langkahnya di depan sebuah kamar VVIP. Napasnya terdengar memburu karena berlari dan menarik Tiam yang tentunya berat.

__ADS_1


"Bokap Ermira bakal operasi besok. Malam ini dia mau dinikahin sama pilihan bokapnya,"


"WHAT?!" Berbeda dengan respon Clara yang heboh, Tiam justru tampak termangu, pikirannya blank seketika.


"Kamu harus hentiin, Tiam! Ermira masih cinta sama kamu, dan kamu juga cinta sama dia!"


Tiam tersenyum tipis, namun mengerikan bagi Clara, "Kenapa harus dihentikan? Bahkan ini baru saja dimulai," Tiam bergumam dan dengan lugas masuk ke kamar itu tanpa ada kegugupan ataupun rasa ketidak relaan.


Fisha dan Clara turut masuk bersama Tiam. Meski ruangan itu lumayan ramai, masuknya mereka tetap disadari dan menjadi daya tarik untuk penghuninya.


"Maaf, aku terlambat untuk menyaksikan pernikahan kamu. Belum dimulai, kan?" Tiam tak peduli dengan tatapan orang lain, ia hanya peduli pada Ermira yang kini di sebelahnya ada pria dan sayangnya pria itu bukan dirinya.


Ermira tak kalah putus asanya dengan Tiam. Wajah ayunya yang dipoles tipis, tak bisa menutupi betapa ia sedang bersedih dan hilang harapan.


"Baru saja akan dimulai. Kalian temannya Mira, kan? Ayo sini, kalian bisa jadi saksi!"


Tanpa menolak, Tiam langsung mendekat, bahkan langkah kakinya tetap tegas tanpa ragu. Titik fokusnya hanya ada Ermira saat ini. Ia ingin sekali menarik gadis itu, membawanya pergi dan memeluknya sepanjang waktu.


"Langsung saja kita mulai! Kedua mempelai sudah siap, kan?"


Kenapa rasanya Tiam sangat ingin membunuh penghulu itu?! Pertanyaan penghulu itu akan menjadi awal kehancurannya.


"Irfan Singgih bin Ahmad Singgih, saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan anak saya yang bernama Ermira Ulani dengan maskawinnya berupa seperangkat alat sholat dan uang senilai 50 juta rupiah, Tunai!"


"Saya terima nikahnya dan kawinnya Ermira Ulani binti Abdillah dengan maskawinnya yang tersebut, tunai!"


"Bagaimana saksi? Sah?"


"SAH!!"


"Alhamdulillah!"


Bolehkah Tiam sangat membenci satu kata yang maknanya itu bisa menyatukan? Semua terasa seperti mimpi baginya. Ia tahu, ia pasti akan merebut miliknya kembali, namun tetap saja, rasanya tetap hancur dan tak terima.


Air mata tak bisa lagi Tiam bendung saat melihat kening gadisnya dicium oleh pria lain. Rasa amarah, kecewa, sedih dan kehilangan semakin menguasai hati dan pikiran Tiam. Kini di otaknya hanya ada, bagaimana ia akan merebut Ermira kembali?


"Selamat untuk Ermira dan Irfan. Hari sudah malam, kami pulang dulu. Insyaallah besok kami akan berkunjung lagi untuk memberi hadiah," Fisha bersuara dan memeluk Ermira, menyalurkan kekuatan untuk sahabatnya yang kini masa depannya sangat dipertaruhkan.


"Meski ini hari pertama gue kenal sama lo, gue tau banget, kalo lo sama si Gembel itu saling mencintai. Juga, meskipun gue baru beberapa menit liat muka suami lo, gue udah tau kalo dia eneg-in orangnya. Doa gue, semoga pernikahan lo cepet usai dan lo barengan lagi sama si Gembel,"


"Bahasa kamu bisa yang bagus gak sih, Ra?!" Fisha yang ikut berpelukan dan mendengar perkataan Clara menjadi semakin tidak habis pikir dengan jalan pikir otak sahabatnya.


"Gak bisa, Sha. Gue murka liat ketidak kelarasan," sahut Clara santai.

__ADS_1


"Makasih buat kalian berdua," Ermira menengahi, tak mau semakin stress melihat perdebatan dua dokter koas itu.


"Tiam!" Tubuh Ermira membeku saat Tiam dengan begitu tiba-tiba dan lancang memeluknya.


"Sebentar, Ra!" Tiam enggan melepas pelukannya, meskipun Ermira sudah mendorongnya.


"Kamu harus ingat baik-baik perkataan aku siang tadi, Ra! Aku gak bakal biarin kamu bahagia selain sama aku! Aku akan jemput kamu, cepat atau lambat, benar atau salah. Kamu milikku, Ermira!"


"Jangan nekat, Tiam! Jangan lakukan hal yang membahayakan dan menyakiti diri kamu sendiri,"


"Aku sudah melalui banyak hal yang lebih membahayakan dibanding yang akan aku lakukan nanti, Ra. Gak ada yang lebih menyakitkan dibanding kejadian malam ini, Ra. Kamu harus tunggu aku! Apapun yang terjadi,"


Tiam melepas pelukannya, memberikan senyuman terbaiknya pada Ermira, "Jangan menangis terlalu lama!" Bahkan tanpa segan Tiam mengusap air mata Ermira, yang sudah jelas bukan mahromnya dan gadis sudah bersuami.


"Aku mencintai kamu, Ra. Seumur hidup kamu, cuma aku yang boleh dapetin kamu,"


Selesai dengan kalimatnya, Tiam berlalu tanpa ada kalimat perpisahan. Kakinya hanya bergegas menuju pintu keluar. Jika ia tak bergegas, bisa saja ia lepas kendali dan menikam semua orang yang terlibat dalam pernikahan gadisnya.


"Kami permisi dulu, assalamu'alaikum," Fisha berpamitan dan langsung menarik Clara untuk menyusul Tiam.


"Kamu sama laki-laki itu deket banget, Mir. Hubungan kalian kayaknya baik banget Mama liat," perkataan itu adalah perkataan terakhir yang mampu Fisha dan Clara dengar sebelum menutup pintu.


"Diiih! Bukan cuma hubungan baik banget! Mereka itu saling mencintai! Lo aja tuh, sama antek-antek lo yang gak punya mata buat liat cinta mereka!" Gerutu Clara.


Tiam yang patah hati, Clara yang uring-uringan.


"Tenang, Mbel! Lo gak bakal kalah sama si cowok itu. Gue dukung lo kalo lo mau jadi pebinor," Clara menepuk pundak Tiam yang bersandar pada tembok.


"Kalian berdua sesat banget," sungguh malang Fisha harus bersama dua orang dengan akal gila itu.


"Tiam, ayo pulang! Kita bahas lagi di rumah,"


"Ihh! Gue ikut, dong! Mau ketemu jodoh,"


"Aku pikir-pikir dulu kamu boleh ikut atau enggak, soalnya kamu berisik,"


"Diih, gak ada akhlak lo! Seharusnya lo bantuin bestay lo yang baru aja nemu jodohnya!"


"O aza!"


"Sy*lan emang!"


Tbc...

__ADS_1


^^^#as.zey^^^


__ADS_2