
..."Aku khawatir, takut kamu terluka hingga aku melakukan sesuatu yang belum pernah aku lakukan,"...
...Fisha...
Acara party GREXDA berakhir tepat pukul dua belas malam, pergantian hari. Acara meriah itu harus berakhir karena Farel membawa gadis yang tidak seharusnya berlama-lama keluar malam meskipun dengan mahram, apalagi hanya pergi untuk party.
Jalanan malam tak terlalu ramai, tentu saja karena hampir semua manusia sudah memasuki alam mimpi untuk mengistirahatkan tubuhnya.
Kini jalanan sepi itu hanya dipenuhi rombongan Farel ditemani dengan suara-suara motor mereka.
Hampir semua anggota GREXDA mengikuti Farel. Tepatnya mengikuti Farel untuk mengantarkan Fisha, sang ibu ketua, sebagai bentuk penyambutan. Begitu kata anak GREXDA yang dipimpin oleh Farel. Sedangkan Farel hanya menyetujui sebagai bentuk menghargai, dirinya pun senang karena anggotanya menyambut Fisha dengan antusias hingga rela menggiring mereka pulang. Padahal Farel tidak berharap ada kejadian seperti malam ini.
Perjalanan mereka kali ini dipimpin oleh Dylan dengan Monika yang duduk di belakangnya. Sisi kanan Dylan ada Afnan. Dan di belakang mereka terdapat anggotanya.
Di sisi kanan ada Yusuf dengan anggotanya. Di sisi kiri ada Adam dengan anggotanya. Untuk bagian belakang ada Faras dan Azlan dengan beberapa anggota lainnya.
Sedangkan Farel berpindah posisi menjadi supir untuk keempat gadis yang dibawanya. Mobil hitam mewah itu dikelilingi semua anggota GREXDA. Tujuannya hanya untuk melindungi Fisha, sebab GREXDA sekarang sedang memiliki banyak musuh dan mereka harus melindungi sang ibu ketu.
"Ngalah-ngalahin penjagaan presiden," gumam Fisha yang mampu didengar Farel.
"Pilih jadi presiden apa ibu ketu?"
"Ibu ketu, dong, lebih banyak ajudannya," jawab Fisha bercanda.
Farel tersenyum tipis, "Nanti, kalau gue gak ada buat mereka, gue harap lo bisa bantu gue untuk mimpin mereka," pinta Farel.
Farel berani mengucapkan itu karena kedua adiknya dan Milea tertidur di jok belakang mobil.
"Emang Gus mau ke mana?"
"Gue bakal selalu ada buat kalian. Kan, tadi gue bilangnya 'kalau',"
"Oh, iya, ya,"
"Gue harap lo bisa bantu Afnan untuk mimpin GREXDA kalau gue gak ada,"
"Bakal Fisha usahain, Gus," jawab Fisha dengan senyum manisnya yang menular untuk Farel.
Tiba-tiba anggota yang di depan mereka berhenti berjalan, membuat Farel mengerutkan dahinya heran, begitu pula yang lainnya.
"Ada apa?" Tanya Farel pada Adam.
"Gak tau gue, pada berhenti semua. Gue cek aja?"
"Gak usah, tunggu aja,"
"Kenapa, Bang? Kok, berhenti?" Tanya Nia terbangun dan bertanya dengan suara seraknya.
"Gak tau, tunggu Dylan kasih info,"
Sedangkan di sisi depan, Afnan, Dylan dan Monika dihadang oleh geng BRATA.
Jumlah geng BRATA itu juga tak bisa dibilang sedikit. Mungkin hanya berbeda beberapa anggota dengan GREXDA.
"Mau apa kalian?" Tanya Dylan.
"Tentu saja untuk berperang merebut poisisi kalian," jawab Sam, ketua BRATA.
Afnan dan anak-anak lainnya terkekeh sinis mendengar penuturan Sam.
"Tidur woy, tidur, terus mimpi, deh, bisa rebut posisi kita!" Sorak Monika dengan lantangnya.
"Woaah, sejak kapan GREXDA punya anggota cewek? Jadi penghibur, ya?"
"Muncung lo!" Geram Monika.
"Tenang, Ka, jangan main serang! Farel bakal marah kalau kita gerak tanpa konfirmasi," tahan Dylan saat gadis itu hendak melawan Sam.
"Lebih baik pergi sekarang," suruh Afnan.
"Bukan gue kalau pergi gitu aja,"
"Btw kalian ada apa, nih, rame-rame? Tumben semua pada kumpul? Acara gede, ya? Gue gak diundang gitu?"
"Mimpi aja lo!" Geram Monika.
"Ketua kalian mana, nih? Udah ganti?" Tanya Sam membelah kerumunan GREXDA.
"Jangan mendekat!" Murka Akhyar mendorong Sam agar menjauh dari GREXDA.
"Santai, dong, bro! Gue, kan, cuma mau ketemu sama ketua lo,"
"Nan, kita serang aja! Kalau makin jauh dia jalan, dia bisa nemuin Farel dan Fisha. Posisinya gak aman," usul Dylan.
"Bener kata Bang Dylan," tambah Monika.
"SERAAAANGGGGG!!!!" Sorak Afnan memberi aba-aba dan langsung menyerang Sam.
__ADS_1
Sam yang terkejut sempat terkena pukulan di perutnya, namun kemudian dia berusaha mengimbangi permainan Afnan dan Dylan.
Monika dan Akhyar dengan segera berlari menuju Farel untuk memberi tahu apa yang sedang terjadi.
"Ada apa?" Tanya Farel.
"BRATA nyerang, dia coba buat nerobos kita biar ketemu sama Abang,"
Farel berdecak malas. Namun Farel tetap keluar dari mobil untuk melihat langsung apa yang terjadi.
"Gus mau ke mana?" Tanya Fisha membuat Farel menoleh.
"Jangan ke mana-mana!" Pesan Farel menghiraukan pertanyaan Fisha dan segera berlalu di ikuti Akhyar juga Monika.
Mereka memberi jalan untuk Farel. Farel mengerutkan keningnya heran, katanya ada perlawanan, tapi kenapa semua terlihat diam? Pikir Farel semakin mempercepat langkahnya.
"Lo udah salah cari lawan!" Suara murka itu Farel dengar dari bibir Dylan.
"Kenapa?" Tanya Farel membuat Dylan berbalik dengan wajah terkejut.
Farel mengalihkan pandangannya ke arah pria yang tadi menjadi lawan bicara sahabatnya. Lagi-lagi Farel hanya menghela napas.
Pantas saja sahabatnya bisa semarah itu. Ternyata, selain melawan ketua BRATA, mereka juga menghadapi Zacky, sepupunya.
"Rel, ini gak yang kayak lo kira," ucap Zacky ingin memberi penjelasan.
Farel menaikkan alisnya sebelah, seolah bertanya apa dia membutuhkan penjelasan dari sosok sepupunya itu.
"Gue gak perlu penjelasan apapun. Mau lo ada di sini atau enggak, semuanya gak akan berubah," ucap Farel dingin.
"Ta---"
"Apa yang kalian mau?" Tanya Farel pada Sam.
"Lo tau apa yang kita mau," jawab Sam membuat Farel terkekeh sinis.
"Bermimpilah! Aku tidak ada waktu untuk meladeni kalian. Enyahlah!"
"Tidak sebelum kami membawa kemenangan,"
"Lo nyuruh gue ke sini cuma buat beginian?" Tanya Zacky pada Sam.
"Ini bukan 'cuma', kita harus rebut posisi mereka,"
Zacky terkekeh sinis, "Gue gak sudi!" Ucap Zacky sarkas.
"Dari awal gue gak mau gabung di geng kalian, tapi kalian yang maksa gue, cuma karena kemampuan bela diri gue di atas kalian. Sekarang gue tau, kalian cuma manfaatin gue buat bantuin kalian rebut posisi GREXDA," ucap Zacky dan melangkahkan kakinya mendekati Farel.
"Gue gak ada maksud apapun. Gue harap, lo masih bisa maafin gue dan Om yang statusnya adalah ayah kandung lo,"
Bugh!!
Farel tak mampu lagi menahan amarahnya saat Zacky membisikkan kata 'ayah kandung'. Dirinya benar-benar benci dengan fakta itu.
Zacky terduduk di aspal dengan bibir yang mengeluarkan darah. Tak ada perlawanan darinya. Zacky pasrah jika Farel masih ingin menghajarnya, asal Farel mau memaafkannya. Zacky tampaknya benar-benar menyesal.
"Gue gak peduli apapun alasan lo! Enyahlah dari hadapanku!" Sarkas Farel.
Akhyar dengan sigap menarik Zacky untuk menjauh. Dia tahu, ketuanya itu sedang menahan amarah hingga ke ubun-ubun, kentara sekali dengan wajahnya yang memerah.
"Ck, sia*an!" Umpat Sam.
"Pergi dengan perlawanan atau tidak?" Tanya Farel memberi pilihan.
"Gue bukan pengecut kayak Zacky!" Teriak Sam dan langsung menyerang Farel.
Gerakan Sam diikuti oleh anak buahnya dengan menyerang anggota GREXDA yang lain.
Farel dengan bringas selalu memberi pukulan pada Sam, meskipun dirinya juga terkena pukulan.
"Berhentilah mengacau GREXDA!" Ucap Farel menekan perut Sam yang sudah tersungkur ke aspal.
Sam terkekeh sinis sambil terbatuk-batuk, "Tidak akan," jawabnya tanpa mau menatap Farel balik.
"Gus, AWAS!!"
Suara pekikan itu membuat Farel menoleh. Di belakangnya ada anak buah Sam yang memegang balok. Netranya juga dapat melihat Fisha berlari menuju ke arahnya.
Fisha berdiri di hadapan Farel agar balok itu tak mengenai Farel. Namun Farel tetaplah Farel, pria yang sudah bertekad untuk melindungi Fisha, bukan dilindungi Fisha.
Farel memeluk Fisha dan memutar tubuhnya hingga balok itu mengenai lehernya.
"Shh," ringis Farel sambil masih setia memeluk Fisha.
"Kurang ajar! Kali ini kita gak bakal biarin kalian lolos gitu aja," murka Dylan dan semakin bringas melawan BRATA, begitu pula dengan yang lainnya.
"Gus gak apa-apa?" Tanya Fisha yang wajahnya masih setia di dada Farel.
__ADS_1
"Kenapa ke luar?" Tanya Farel balik sambil melepaskan pelukannya, tak peduli mereka sedang berada di tengah-tengah perkelahian.
"Fisha gak bisa tenang liat beginian, Fisha gak mau Gus kenapa-kenapa lagi. Tadi leher Gus kena balok, kita ke RS aja. Fisha takut Gus sakit lagi, Gus belum lama ini habis operasi,"
Farel berdecak kesal dan membawa Fisha berdiri di belakangnya saat Sam hendak melukai Fisha.
"Bermimpilah untuk menyentuhnya!" Murka Farel kembali menendang Sam.
Sam terkekeh sinis, "Waaahhh, cewek lo, ya? Atau jal--"
BUGH!!
Fisha tanpa aba-aba langsung meninju pria yang di hadapannya itu dengan murka. Meski Fisha perempuan, tinjuannya bukanlah tinjuan biasa. Terbukti dengan Sam yang kembali terduduk dengan mulutnya yang semakin banyak mengeluarkan darah.
"Jaga ucapan kamu!" Marah Fisha yang membuat suasana hening seketika.
"Kalau gak tau apa-apa, diem aja! Kamu pikir saya kayak kamu yang gak ada kerjaan sampai harus ngejal*ang, huh?!" Sambung Fisha menggebu.
"Masuk ke mo--"
"Jangan tahan Fisha, Gus! Fisha gak suka orang kayak dia, seenaknya aja kalau ngomong," potong Fisha lalu menendang kaki Sam hingga yang tadinya Sam hendak berdiri kembali terjembab.
"Kamu dan antek-antek kamu itu gak kurang dari SAMPAH, tapi kalian lebih dari SAMPAH JALANAN! Taunya buat RUSUH! Hebat enggak tapi SOK JAGOAN! Pulang sana! Cuci tangan, cuci kaki, sikat gigi terus tidur! Mimpiin kalau kamu dan kacungmu bisa merebut posisi mereka,"
Sam terkekeh dan sudah berdiri dengan sempurna, "Cewek lo boleh juga, Rel. Buat gue aja gimana?"
"Mimpi boleh, tapi jangan KEBANYAKAN MIMPI, jatuh NANGES!" Balas Fisha menohok yang membuat GREXDA tertawa.
"Sia--"
BUGH!!
BUGH!!
Pukulan telak kembali diterima oleh Sam secara bersamaan dari Farel dan Fisha. Ternyata kedua manusia itu dengan refleks meninju Sam.
"Pulang!" Lagi-lagi kalimat yang diucapkan bersamaan itu menggema di luasnya jalanan.
Anggota BRATA bergidik ngeri saat melihat kekompakkan Farel dan gadis yang bersamanya itu. Aura mereka sangat mendominasi.
"Gue gak akan pernah berhenti sampai gue bisa ambil posisi lo,"
"Duuuh, udah, deh, gak usah banyak omong! Kalau aku, udah kalah pasti malu banget dan langsung pergi. Ooh, atau kamu gak punya malu?" Sindir Fisha membuat Sam mengerang kesal.
"Sial! Kita cabut!" Teriak Sam dan segera pergi diikuti anggotanya.
"Nyebelin!" Sungut Fisah dan berbalik ke arah Farel.
Fisha terpaku dan menundukkan kepalanya saat mendapatkan tatapan tajam dari Farel.
"Kenapa keluar? Aku sudah bilang kan, untuk menunggu di mobil?" Tanya Farel pelan namun mencekam.
"I-iya," keberanian Fisha yang tadi seketika menciut saat di hadapkan oleh Farel.
"Terus kenapa keluar, hm?"
"Y-ya kan, Fisha takut Gus kenapa-kenapa,"
Farel menghela napasnya lelah, "Lihat tangannya!" Minta Farel yang membuat Fisha menunjukkan tangannya.
"Jadi merah, kan?!" Kesal Farel saat melihat tangan gadis itu memerah.
"Fisha gak apa-apa, Gus. Seharusnya Fisha yang nanya, Gus gak apa-apa? Kepalanya lihat!" Ucap Fisha dengan refleks memutar tubuh Farel dan berjinjit melihat kepala belakang serta leher Farel.
"Shh... kegores, ada darahnya," ringis Fisha.
"Gak apa-apa,"
"Gak apa-apa gimana?! Itu ada darahnya!" Sewot Fisha.
"Ck, kalian kalo mau uwu-uwuan jangan di tengah jalan, dong!" Kesal Dylan merusak suasana romantis itu.
"Siapa yang uwu-uwuan? Gak liat itu leher Gus berdarah?!" Sewot Fisha.
"Lo kenapa dah, Sha? Galak banget kayaknya malem ini," kekeh Dylan.
"Ayo, pulang!" Instruksi Farel tak terbantahkan dan melangkahkan kakinya kembali menuju mobil, begitu pula dengan Fisha.
"Bang, Fisha, kalian gak apa-apa kan?" Tanya Nia panik.
"Gak papa, Ya'," jawab Fisha dengan senyum manisnya.
"Bener?"
"Hm, kita pulang," balas Farel dan mulai membawa laju mobilnya, begitu pula dengan anggota GREXDA yang lainnya.
Tbc...
__ADS_1
^^^#as.zey^^^