Mysterious Gus

Mysterious Gus
#77. Malam Pertama


__ADS_3

..."Biarkan untuk malam ini dan malam seterusnya aku memelukmu. Aku butuh dirimu untuk mengisi kekosongan hidupku ini,"...


...Farel...


...***...


Sebuah kamar besar bernuansa gelap dan modern menyambut kehadiran Farel dan Fisha. Wangi kamar itu dengan sopan terhirup di indra penciuman keduanya.


Setiap sudut rumah yang ada, kamarlah yang paling Farel rindukan. Di kamar itu, tempat ia menangis di tengah gelapnya malam. Kamarnya menjadi saksi betapa dirinya amat rapuh.


"Gus mau langsung istirahat atau ganti baju?" Tanya Fisha membuka percakapan.


"Kamu bisa menggunakan kamar mandi lebih dulu. Di sana," Farel menunjukkan letak kamar mandinya.


"Gus gak papa sendirian?"


Farel menatap Fisha penuh tanya, "Jadi? Saya harus ikut kamu ke kamar mandi?" Pertanyaan frontal itu mampu membuat wajah Fisha memerah malu.


"Bang, ini koper sama obatnya!!" Tiam menggedor pintu kamar dan langsung dibukakan oleh Fisha.


"Makasih, Tiam,"


"Iya. Di situ ada semua obat yang harus Abang minum,"


"Okey,"


Fisha dengan telaten membaca aturan minum obat dan menyiapkannya untuk Farel. Sedangkan Farel sendiri asik melihat-lihat sudut kamarnya.


"Gus, Fisha ambil minum dulu," izin Fisha saat tak mendapati air putih di dalam kamar.


"Saya mau cokelat hangat," minta Farel yang disetujui oleh Fisha.


Sambil menunggu kembalinya Fisha, Farel tak melalukan banyak hal. Ia hanya menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi roda dengan mata terpejam. Pikirannya kembali berkelana mengingat apa saja yang sudah terjadi hari ini.


Senyum tipis hadir di bibir Farel saat mengingat bahwa kini Fisha sudah menjadi miliknya. Ia tak perlu lagi menahan rindu atas kerinduannya, ia tak perlu lagi menahan diri untuk tidak memeluk Fisha. Karena gadis itu sekarang sudah menjadi istrinya dan bisa ia sentuh dengan balasan pahala.


"Gus kenapa senyum-senyum?" Mata Farel kembali terbuka, ternyata Fisha sudah kembali dengan segelas air putih dan cokelat hangat.


Farel menggeleng dan mengambil minumnya. Kebiasaan Farel adalah wajib minum cokelat hangat sebelum dan sesudah tidur.


"Makasih,"


"Sama-sama. Minum obatnya dulu," Fisha menyerahkan obat rutin Farel dan langsung dikonsumsi oleh sang pasien.


Tanpa banyak kata lagi, Fisha langsung mencari baju di koper yang sudah Tiam bawa tadi dan melenggang masuk ke kamar mandi.


Fisha berdiri di balik pintu dengan tangan di dada. Wajahnya memerah dengan tak tahu malu.


"Kenapa rasanya canggung banget satu ruangan sama Gus?" Gumam Fisha berusaha mengontrol detak jantungnya yang tak beraturan.


"Aaaa malu!!" Fisha merengek kecil sambil terduduk di balik pintu. Gadis yang sekarang berstatus istri Farel itu kini sedang senyum-senyum sendiri bak orang gila.


"Kalau Gus minta haknya malam ini gimana?! Aku belum siap, malu!!" Fisha galau sendiri jadinya.


"Tapi kayaknya gak mungkin, deh! Gus Farel pasti juga canggung! Kita perlu pendekatan lagi! Ck, pasti iya!" Sekarang Fisha benar-benar sudah gila, berbicara sendiri di kamar mandi dengan senyum-senyum.


"Nafisha?" Suara panggilan itu membuyarkan lamunan Fisha.


"H-hah?! Sebentar lagi, Gus!!" Saut Fisha gugup dan lekas membersihkan dirinya.


"Are you okay? Kenapa lama?" Pertanyaan itu Fisha dapat saat sudah keluar dari kamar mandi. Terlihat Farel sudah memangku baju gantinya, Fisha sendu menatapnya. Padahal niat hati ingin menyiapkan baju untuk sang suami.


"Gak papa, tadi panggilan alam dulu," kilah Fisha yang untungnya langsung Farel tanggapi dengan anggukan, bukan pertanyaan.


"Kamu istirahatlah duluan,"

__ADS_1


"Gus bisa ke kamar mandi? Atau mau Fisha bantu?"


Farel menggeleng, "Saya bisa," dengan perlahan kaki Farel melangkah memasuki kamar mandi tanpa peduli dengan perasaan sang istri yang tiba-tiba merasa nyeri di ulu hati.


Fisha memilih berbaring di ranjang dengan posisi membelakangi pintu kamar mandi. Ia akan benar-benar tidur duluan dan tetap menggunakan khimarnya.


Fisha memejamkan matanya saat mendengar pintu kamar mandi terbuka. Ia sudah tak ada niatan untuk menawarkan bantuan pada suaminya yang terkesan cuek itu.


Kening Farel berkerut saat melihat posisi tidur sang istri. Farel jelas tahu, bahwa gadisnya itu belum tertidur. Terlihat dari bahunya yang tegang dan posisi yang tak nyaman.


Setelah kembali duduk di kursi roda, Farel membawa dirinya berhadapan pada Fisha.


"Kenapa? Saya ada salah?" Meski cuek, untungnya masih ada kepingan peka pada diri Farel.


Dengan perlahan Fisha membuka matanya dan menatap netra tajam namun teduh milik Farel. Fisha hanya menatap sesaat dan memilih objek lain untuk ia lihat. Mata Farel terlalu kuat menghipnotisnya.


"Enggak," hanya jawaban itu yang Fisha berikan.


Farel tak lagi bertanya. Ia mengambil cokelat hangatnya yang berada di nakas kemudian meminumnya lagi hingga sisa setengah.


"Minumlah!" Farel memberi sisa cokelat hangatnya pada Fisha. Ia hanya ingin meniru beberapa perlakuan Rasulullah terhadap istrinya.


Fisha duduk dan menerimanya. Perlahan tapi pasti, Fisha mulai menengguknya.


"Kenapa tidak meminumnya dari bekas bibir saya?"


"UHUK UHUK!!" Fisha langsung terbatuk saat Farel mempertanyakan hal itu.


Tangan Farel tanpa izin langsung mengusap bibir Fisha, menambah rasa gugup dan malu pada diri Fisha.


"Bukannya Rasul dan Aisyah seperti itu? Rasul selalu memberikan sisa minumnya dan Aisyah selalu meminumnya di bekas bibir Rasul," ujar Farel lagi.


"Iya, maaf." Fisha dengan gemetar kembali meminum cokelat hangat itu dari bekas bibir Farel. Melihat tingkah istrinya yang tampak malu, Farel tersenyum tipis dibuatnya. Kenapa istrinya itu sangat menggemaskan?!


Setelah menyimpan gelas kosong di nakas, Fisha menggeser tubuhnya ke sisi ranjang satu lagi agar Farel bisa menempati sisi ranjang yang tadi ia tempati. Farel yang mengerti pun langsung menempatinya.


Memang, siapa yang tidak canggung saat dipertemukan kembali setelah empat tahun dan tiba-tiba menjadi suami istri?!


Farel menolehkan kepalanya, "Tidak mau buka khimar?" Akhirnya pertanyaan itu berhasil Farel lontarkan.


"Boleh?"


"Kenapa tidak boleh?"


Percakapan mereka justru menjadi saling melempar pertanyaan.


Farel dan Fisha bersamaan merubah posisinya menjadi duduk. Untuk kesekian kalinya, tangan Farel dengan lancang membuka khimar Fisha dan melepas ikatannya.


Fisha menunduk malu. Ini untuk pertama kalinya ada pria yang melihat rambutnya selain sang papa.


"Kamu bebas berpakaian seperti apapun saat sedang bersama saya," ujar Farel ambigu. Otak Fisha jadi berkelana dibuatnya.


"Tidurlah!" Farel kembali berbaring, namun matanya masih terbuka lebar. Fisha pun begitu.


"Sekarang kita cuma berdua," lagi, Farel kembali bersuara.


"Iya,"


"Kenapa kamu tidak memeluk saya lagi seperti tadi siang?" Farel menatap lekat wajah Fisha yang memerah.


"Seharusnya kamu memeluk saya, baik kita hanya berdua ataupun sedang bersama yang lain!" Nada Farel tampak protes.


"Em i-itu, Fisha mau li-lihat luka Gus, b-boleh?" Fisha mengalihkan pembicaraan.


Tak ada jawaban dari Farel, namun pria itu dengan lugas membuka kaosnya, membuat Fisha panik dan segera menutup matanya.

__ADS_1


"Gus ngapain buka baju?!" Pekik Fisha.


"Kamu yang minta,"


"Fisha mau lihat lukanya, bukan minta Gus buka baju," protes Fisha.


"Memang kamu mau gimana lihatnya kalau saya tidak buka baju? Kamu berhak atas tubuh saya, Nafisha. Saya juga berhak atas kamu,"


Tuh kan, Fisha semakin ambigu dibuat suaminya.


Dengan pelan, Farel menarik tangan Fisha yang menutup matanya.


Awalnya satu mata mengintip, namun kedua matanya jadi terbuka lebar saat melihat sesuatu di dada Farel.


"Tatto?" Tanya Fisha memastikan apa yang dilihatnya.


"Em, dada saya pernah terluka. Tatto akan membantunya untuk tidak mudah terluka lagi," jelas Farel.


"Fisha b-boleh p-pegang?"


"Saya adalah milik kamu, Nafisha," Farel membawa tangan Fisha menyentuh dadanya.


Fisha mengusap pelan tatto yang terdapat tepat di bekas luka sang suami. Selain wajahnya memerah, Fisha juga menangis menatap luka yang ditutupi tatto itu.


"Kenapa menangis?" Heran Farel segera mengusap air mata istrinya.


"Ini pasti sakit," isak Fisha yang langsung dibawa Farel dalam pelukannya. Jadilah Fisha berbaring di atas dadanya.


"Tidak apa, nanti akan sembuh,"


Fisha semakin erat memeluk Farel dan menangis hingga air matanya membasahi dada bidang nan tegap itu.


"Tahu kenapa tatto saya phoenix?" Farel mengalihkan topik mereka agar Fisha berhenti menangis.


Dagu Fisha bertumpu pada dada Farel. Mata sembab itu menatap Farel penasaran.


"Phoenix melambangkan kehidupan yang abadi dan hidup yang jatuh bangun. Phoenix adalah lambang Almighty,"


"Almighty?"


"Kita lanjutkan besok. Sekarang peluk saya seperti ini dulu," Farel mengeratkan pelukan mereka.


"Seharusnya Fisha nikah dari dulu biar Gus pulang," lirih Fisha dalam pelukan Farel.


Farel tersenyum dengan mata terpejam, "Kalau itu terjadi beberapa tahun lalu, saya tidak akan bisa datang. Saya tertidur panjang saat itu,"


"Sebelum Gus tertidur panjang,"


Farel mengusap rambut Fisha, "Semua adalah ketetapan dari Allah. Memang, waktu itu kamu mimpi apa tentang saya?"


"Gus kesakitan terus tiba-tiba jadi debu. Sebelum Gus pergi, Gus bilang kalau Gus mencintai Fisha,"


"Saya memang mencintai kamu," meski tidak melihat, Farel yakin kalau wajah istrinya itu sudah memerah.


"Besok saya tidak mau mendengar kamu memanggil saya dengan sebutan 'gus'. Saya suami kamu sekarang,"


Fisha hanya mengangguk, untuk panggilan bisa dipikirkan besok. Sekarang ia hanya ingin menikmati pelukan hangat dari pria yang amat ia rindukan.


"Fisha juga cinta sama Gus Farel," gumam Fisha dan akhirnya alam mimpi menjemputnya.


Farel menunduk dan mencium ubun-ubun Fisha cukup lama, "Saya merindukan kamu," dan akhirnya kedua pengantin baru itu terlelap dengan posisi berpelukan, berharap rasa rindunya akan sedikit meluap.


Tbc...


Aku ngetik ini baper looohhhh😭😭😭

__ADS_1


Plieess, komen sebanyak banyaknya biar aku gak baper sendirian😭😭😢


^^^#as.zey^^^


__ADS_2