Mysterious Gus

Mysterious Gus
#68. Yang Ditinggalkan


__ADS_3

..."Kau ada di hadapanku, tapi aku tak bisa menggapaimu. Rasanya begitu sesak di dada,"...


...Fisha...


"Umma, sakit Umma! Tolong Farel Umma! Farel sakit," dalam silaunya cahaya putih, Raima dapat melihat sosok putranya yang berjalan menghampirinya dengan tubuh bersimpah darah. Tangan putranya memegangi dadanya yang ternyata tertancap sebuah pisau.


Raima langsung berlari mendekat, namun langkahnya terhenti saat jarak mereka hanya selangkah.


Raima mengangkat tangannya, seolah sedang menangkup wajah Farel.


"Anak Umma kenapa bisa begini? Pulang, Sayang!"


"Sakit Umma, tolong Farel, Umma! Pisaunya gak bisa dicabut, Umma. Dada Farel sakit, Umma,"


Raima semakin berusaha meraih putranya, Farel, yang saat ini berdiri di depan matanya.


"Enggak! Farel mau ke mana, Nak?! Sini sama Umma! Jangan pergi lagi!" Teriak Raima saat Farel tiba-tiba saja menjadi butiran cahaya.


Farel menangis, tangannya terulur berharap sang umma mampu meraihnya.


"Tolong Umma, Farel sakit!"


"FAREL!!"


Raima terbangun dengan napas memburu, keringat dingin membanjiri wajah serta tubuhnya.


Hutama yang merasa terganggu langsung membuka matanya. Kecemasan langsung menghampiri Hutama saat tubuh sang istri yang bergetar dalam dekapannya.


"Kenapa?" Tanya Hutama membawa Raima duduk. Dengan perhatian Hutama memberikan minum pada Raima dan mengusap keringatnya.


"Farel, Mas! Ima mimpi Farel kesakitan," isak tangis mulai terdengar dari Raima, Hutama pun langsung memeluknya, membiarkan sang istri menangis sepuasnya atas kerinduan terhadap putra mereka.


"Farel minta tolong sama Ima, Farel bilang kalau dia kesakitan. Badan Farel penuh darah, Mas. Ada pisau di dadanya," Raima semakin histeris, Hutama bungkam dibuatnya.


"Istighfar, Sayang. Anak kita pasti baik-baik aja, anak kita itu kuat," hanya kalimat itu yang mampu Hutama ucapkan sebelum kembali membiarkan Raima menangis.

__ADS_1


Sebagai seorang ayah, kondisi Hutama takĀ  berbeda jauh dengan Xander. Ia merasa belum bisa menjadi ayah yang baik untuk Farel karena ia tidak bisa mengetahui perasaan Farel yang sesungguhnya.


Namun, tak banyak yang bisa Hutama lakukan. Entah apa yang telah Farel dan Tiam perbuat hingga ia tak bisa menemukan jejak ke mana mereka pergi, bahkan Xander sendiri pun juga tidak bisa.


Selama ini Hutama hanya diam, bertingkah tenang. Tapi hatinya tak berbeda jauh dengan Raima. Ia gusar, mengkhawatirkan dan merindukan sosok putranya.


"Ayo tahajjud dulu, kita berdoa sama Allah, semoga anak kita baik-baik aja," ajak Hutama setelah Raima agak tenang.


"Ya Allah, Engkau tau betapa aku menyayangi Farel, Engkau tau betapa aku memperjuangkannya. Ya Allah, lindungilah anakku di manapun ia berada. Pulangkan lah anakku kepada kami, Ya Rabb. Beri kami petunjuk, di mana ia berada," hanya doa itu yang selalu Hutama hanturkan pada Tuhan bersamaan dengan air matanya yang menandakan bahwa ia amat putus asa dan berharap Tuhan mengabulkannya.


***


"Lo kenapa sih, Sha?! Dari tadi melamun mulu!"


Suara keras itu berhasil menarik Fisha dari lamunannya. Ya, tak bisa dipungkiri, sejak tadi pikirannya memang melayang.


Saat ini Fisha dan Clara sedang berada di kelas. Tadi sih ada dosen yang berceloteh di depan, tapi sekarang sudah tidak ada.


"Dosennya udah keluar? Matkul selesai?" Tanya Fisha bingung.


Fisha menelungkupkan wajahnya di lipatan tangan, "Perasaanku gak nyaman sejak kemarin,"


"Kenapa? Memikirkan seseorang?" Perhatian mode on dari Clara membuat Fisha merasa diperhatikan sebagai seorang teman.


Fisha mengangguk singkat, "Aku gak tau dia di mana sekarang, gimana keadaannya sekarang. Aku frustrasi mikirin dia,"


"Kamu kecapean, Sha. Coba tidur dulu, kalau bangun nanti bakal lebih seger dan tenang. Yakin kalau itu cuma perasaan kamu doang, dia yang kamu maksud pasti baik-baik aja,"


Fisha kembali mengangguk dan mulai memejamkan matanya. Usapan di punggung dari Clara membuatnya merasa nyaman dan lebih rileks. Ia bersiap untuk menjemput alam mimpinya, masa bodo sama mata kuliah selanjutnya.


"Gus?" Mata Fisha mampu melihat sosok Farel yang terduduk di bawah sebuah pohon besar nan rindang. Pria itu tampak pucat dalam pejaman matanya.


Sosok Farel menoleh dan tersenyum manis. Tampak seperti mengabaikan rasa saki di dadanya. Fisha menyadari, banyak darah yang mengalir deras dari sana dan mengotori baju putih yang Farel kenakan.


"Nafisha," tangan Farel terulur, berharap ia bisa meraih wajah Fisha yang jelas-jelas ada di depan matanya.

__ADS_1


Air mata menjadi saksi bisu dari keduanya, tentang bagaimana sakitnya saat tak bisa menggapai orang terkasih yang jelas-jelas ada di depan mata.


"Kenapa Fisha gak bisa sentuh Gus?" Isak Fisha frustrasi.


Farel tersenyum meski air mata membasahi pipinya, "Aku kesakitan, Nafisha. Jaga dirimu dan berbahagialah,"


Fisha menggeleng kuat, "Fisha mau sama Gus! Fisha gak mau Gus kesakitan,"


"GUS!! JANGAN TINGGALIN FISHA!!" Fisha seketika berteriak histeris saat tubuh Farel melebur. Tangannya masih berusaha menggapai tangan Farel.


"Aku mencintaimu, Nafisha,"


"GUS FAREL!!!"


Semua yang ada di kelas menoleh kaget saat Fisha tiba-tiba saja berteriak.


Clara menggaruk rambutnya yang tidak gatal. Ia jadi ikutan malu, "Maaf," ujarnya dan menyerong menghadap Fisha yang napasnya masih memburu.


"Kenapa, Sha? Mimpi buruk?" Clara menyerahkan minum pada Fisha.


Fisha tak menjawab, tiba-tiba saja ia menangis. Clara pun jadi panik seketika.


"Kok nangis? Lo kenapa, Sha? Jangan buat gue panik, deh! Masih ada dosen ini," Fisha tak merespon, ia masih asik dengan tangis lirihnya.


Clara menghela napasnya. Kalau sudah begini, tidak ada lagi yang bisa dia lakukan selain menemani Fisha dan mengusap punggungnya.


"It's okay, tenangin diri lo dulu. Gue sama lo," bisik Clara dan kembali fokus pada mata kuliah yang masih harus berlangsung selama tiga jam ke depan.


"Ya Allah, apa maksud mimpi Fisha? Gus Farel baik-baik aja kan, Ya Allah? Ya Rabb, Fisha mohon, lindungi Gus Farel,"


"Fisha juga mencintai Gus Farel,"


Tbc...


^^^#as.zey^^^

__ADS_1


__ADS_2