Mysterious Gus

Mysterious Gus
#36. Paris


__ADS_3

..."Aku merindukanmu. Tapi, apakah aku punya hak untuk merindukanmu?"...


...Farel....


Setelah hampir empat belas jam penerbangan, akhirnya Farel, Ae Ri dan Baek Hyeon sampai di negara Perancis, tepatnya Paris.


Seluruh penumpang bergiliran turun dari pesawat. Hyeon menghampiri Farel dan Ae Ri yang masih duduk manis di bangkunya. Terlihat Ae Ri yang memejamkan matanya, tampaknya gadis itu tidur.


"Apa dia baik-baik saja?" Tanya Hyeon dalam bahasa korea.


"Ya, dia baik-baik saja. Hanya tertidur. Kau turunlah duluan," balas Farel.


"Baik, aku akan menunggu kalian di luar," Hyeon pun tanpa banyak bicara lagi langsung keluar dari pesawat.


Farel berdiri dan membuka blazer long coat yang dikenakannya untuk menutupi tubuh Ae Ri. Setelah memastikan tubuh gadis itu aman, Farel langsung menggendongnya ala bridal dan lekas turun dari pesawat.


"Kenapa kau tidak membangunkannya saja?" Tanya Hyeon saat Farel berdiri di hadapannya.


"Dia kelelahan dan tadi malam tidak tidur karena terlalu antusias bisa pergi bersamamu," jelas Farel membuat Hyeon tertawa kecil.


"Mobil kita sudah sampai, kau tunggulah di mobil, aku dan supir akan membawa barang-barang kita," suruh Hyeon yang hanya ditanggapi anggukan oleh Farel.


***


Mobil yang mereka tumpangi sudah sampai di daerah perumahan. Farel tebak, mereka akan tinggal di daerah itu, bukan di apartement.


"Kita akan tinggal bersama, perumahan di sini hanya tersisa satu. Apa kau keberatan? Jika kau keberatan, aku akan mencari apartement saja," ujar Hyeon.


"Aku tidak, asalkan kau tidak macam-macam pada Ae Ri,"


Hyeon terkekeh mendengar ucapan Farel yang terang-terangan, "Hukum Indonesiamu sangat melekat. Tenang saja, aku tidak akan melewati batas. Sekarang, kalian adalah keluargaku. Aku harap kalian juga menganggapku sebagai keluarga kalian,"


"Tentu saja," jawab Farel singkat. Sebenarnya Farel masih bertanya-tanya, kemarin Ae Ri bilang bahwa idolanya ini adalah sosok yang pendiam, tapi Farel tak menemukan sikap itu pada Hyeon, justru sebaliknya.


Mobil mereka berhenti di salah satu rumah yang letaknya paling di ujung jalan. Rumah sederhana bercat hijau muda, tampak sedap dipandang mata.


"Dia benar-benar tertidur pulas. Aku akan membuka pintu rumah dan bawalah dia masuk," Hyeon langsung keluar dari mobil dan membuka pintu rumah, Farel pun menyusul Hyeon dengan Ae Ri di gendongannya.


"Pilihlah kamar kalian, seluruh rumah sudah dibersihkan, termasuk kamar," ujar Hyeon lagi yang hanya ditanggapi anggukan pula oleh Farel.


Hyeon pun kembali ke mobil untuk mengambil bawaan mereka, begitu pula Farel yang menyusul setelah membaringkan Ae Ri di kamar barunya.


"Apa kau bisa memasak?" Tanya Hyeon di sela-sela kegiatannya.


"Kenapa? Kau tidak bisa memasak?" Tebak Farel yang membuat Hyeon cengengesan.


"Tampaknya aku yang bertugas memasak nanti," keluh Farel bercanda, Hyeon pun tertawa mendengarnya.


"Kau yang paling tidak ada kerja, tentu saja kau yang akan mengurus kami,"


"Entah bagaimana jika aku tidak ikut dengan kalian," keluh Farel.

__ADS_1


"Tampaknya sangat merepotkan untukmu, Hyung,"


"Hyung?" Beo Farel.


"Kenapa? Apa kau keberatan aku panggil begitu? Aku rasa akan canggung jika kita tidak berbaur," oceh Hyeon, untung saja Farel termasuk kategori sabar mendengar ocehan orang lain, tiba-tiba saja Farel teringat oleh Dylan, sahabatnya yang biasanya sangat cerewet dan super aktif itu.


"Aku tidak keberatan. Panggillah aku sesukamu," Farel tersenyum tipis dan membawa koper miliknya ke dalam kamar.


Hyeon tersenyum tipis, "Kurasa tidak buruk tinggal bersama dengan mereka. Farel Hyung pun tampaknya tak sedingin yang terlihat," gumam Hyeon dan masuk ke kamarnya.


***


Farel menatap sekeliling kamarnya yang juga bercat hijau muda, sepertinya rumah baru mereka memang serba hijau muda.


Terdapat satu kasur yang tidak terlalu besar atau pun kecil, ada satu nakas di sisi kanan ranjang. Di sudut ruangan terdapat lemari pakaian dan meja belajar. Di sudut satunya pun terdapat kamar mandi. Memang tidak luas, namun Farel merasa cukup dan nyaman.


"Entah bagaimana lagi nanti ke depannya. Semoga semua berjalan dengan baik dan Umma baik-baik saja," gumam Farel kemudian mulai menata barang-barangnya. Tidak banyak, hanya beberapa pakaian, laptop, notebook dan tiga buah bingkai foto.


Farel menatap nanar pada tiga foto itu. Di foto pertama, ada foto keluarga. Senyum manis dan bahagia terpancar di foto itu. Hatinya menghangat melihat sang abah yang merangkul mesra pinggang ummanya. Sedangkan dirinya duduk di sofa dengan kedua adik perempuan yang memeluk manja dirinya.


Di foto ke dua ada fotonya yang bersama dengan Xander, Ae Ri, Tiam dan Ley. Posisinya dengan ia dan Xander di belakang, Tiam, Ae Ri dan Ley duduk di sofa. Farel terkekeh melihat foto itu. Di foto itu mereka semua tak menunjukkan ekspresi apa pun, hanya Ae Ri yang tersenyum manis.


Sedangkan di foto ke tiga ada foto dirinya bersama RANDA, sahabat-sahabatnya. Meski terkadang Farel acuh, tapi Farel benar-benar peduli pada keempat sahabatnya itu. Hubungan yang terjalin sejak mereka duduk di bangku SD itu membuat mereka sudah seperti saudara, bukan sekedar sahabat.


Ketukan pintu membuat Farel tersadar dari lamunannya. Dengan cepat Farel menyimpan ketiga foto itu di lemari dan membuka pintu. Hyeon dan Ae Ri adalah pelaku yang mengetuk pintu.


"Kenapa?" Tanya Farel.


"Beresin barang,"


"Aku lapar," adu Ae Ri.


"Aku juga," imbuh Hyeon.


Farel menghela napasnya. Tampaknya mulai sekarang ia akan menjadi pengasuh untuk dua bayi besar ini.


"Bahan makanannya ada?"


"Ada,"


"Barang kalian udah diberesin?"


"Belum,"


"Beresin! Oppa akan masak selagi kalian membereskan barang,"


"Baik, Oppa,"


"Siap, Hyung,"


Doakanlah semoga Farel mampu bertahan di posisinya yang sekarang. Baru hari pertama saja Farel rasanya sudah sangat kesal. Dia tidak mampu membayangkan bagaimana hari-hari selanjutnya. Semoga tugasnya hanya memasak dan kedua manusia lainnya itu membantu membereskan rumah.

__ADS_1


"Masih lama, Hyung?" Pertanyaan kurang ajar itu menyapa indra pendengaran Farel saat dirinya sedang menumis bumbu.


Farel berbalik dan sudah mendapati Hyeon duduk di kursi meja makan bersama Ae Ri. Cengiran pun terpatri manis di wajah Hyeon.


"Mau membantu agar lebih cepat?" Sinis Farel yang membuat Hyeon menggeleng.


"Aku tunggu saja,"


Ting


"Oppa, hp Oppa bunyi," ujar Ae Ri menunjuk ponsel Farel yang terletak di  meja.


"Siapa?" Tanya Farel masih tetap asyik dengan kegiatan masaknya.


Ae Ri meraih ponsel sang Oppa dan membuka pesan tersebut.


"Dari Tuan Jong. Dia mengirim foto,"


"Foto?" Beo Farel segera mencuci tangan.


"Oppa, dia siapa?" Tanya Ae Ri gagu, Farel pun turut mematung melihat layar ponselnya yang ditunjukkan oleh Ae Ri. Farel segera mengambil alih ponselnya.


...Jong...


Tuan, Tuan Tiam mengirimkan sebuah foto



Your Girl


Farel menatap lamat gadis di foto itu. Mungkin Farel harus jujur, jujur bahwa ia merindukan sosok gadis tersebut, yaitu Fisha.


"Oppa, dia siapa?" Tanya Ae Ri lagi.


"Kau akan tau nanti saat bertemu dengannya,"


"Kurasa dia kekasih Hyung," celetus Hyeon.


"Benarkah? Bukannya agama Oppa melarang hal itu?"


"Kalian masih kecil, belum saatnya tau,"


"Hei! Aku lebih tua darimu!" Marah Hyeon.


"Oh, ya? Lalu kenapa kau memanggilku dengan sebutan 'Hyung'?"


"Karna kau terlihat tua,"


"Sia*an!"


Tbc...

__ADS_1


^^^#as.zey^^^


__ADS_2