
..."Ada banyak cara yang kami lakukan untuk mengobati rindu ini, Rel. Termasuk menemui gadis yang saat ini perasaannya kau gantung. Tapi kenapa rasa rindu ini tak terobati? Justru semakin menggebu,"...
...RANDA...
RANDA duduk di saung yang letaknya dekat dengan danau. Mereka sedang menunggu Fisha yang saat ini sedang dipanggil oleh salah satu santri wati.
Dylan menatap lurus danau itu, rambutnya diterpa angin, membuat matanya terpejam. Pria itu benar-benar merindukan sosok Farel.
"Mana sih, lama banget?" Gerutu Yusuf.
"Gerutu aja dari tadi. Sabar napa?! Gue aja sabar nungguin Lea, jodoh gue," balas Dylan masih dengan mata terpejam.
"Itu Fisha!" Adam berujar sambil melambaikan tangannya pada Fisha yang berjalan mendekati mereka.
Fisha tersenyum manis dan membalas lambaian Adam. Gadis itu semakin mempercepat langkahnya tanpa peduli dengan sekitarnya hingga ia harus bertabrakan dengan seorang pria yang juga berjalan tanpa memperhatikan sekitar.
"FISHA!" RANDA dengan segera berlari menuju gadis yang terduduk di tanah itu.
Pria yang menabrak Fisha berdiri lebih dulu dan hendak membantu Fisha, tapi tangannya lebih dulu dihempaskan oleh Dylan.
"Don't touch her!" Dylan menatap tajam pria yang kini mengangguk sambil tersenyum ramah. Pria tersebut mengambil bukunya yang jatuh berserakan.
"Maaf Ustadz, saya tidak memperhatikan jalan," Fisha berujar sambil menundukkan kepalanya.
"Tidak apa, salah saya juga. Kamu tidak apa-apa?"
"Tidak apa-apa, Ustadz,"
"Gus Azam!"
"RANDA kampret!"
Panggilan yang terucap bersamaan itu membuat mereka menoleh, ternyata ada Haikal dan Monika.
"Nika?" Beo Fisha tersenyum cerah, Monika yang menyadari keadaan Fisha pun ikut tersenyum girang dan berlari memeluk Fisha.
Kedua gadis itu berputar-putar tanpa tahu malu. Mereka memang sudah sangat akrab sekarang, layaknya saudara.
"Lo apa kabar? Baik, kan lo? Aaaa gue kangen banget," Monika kembali memeluk Fisha.
"Aku baik, kamu juga, kan?"
"Baik dong. Lea mana?"
"NIKA!" Teriakan itu membuat mereka menoleh, ternyata Milea lah pelakunya. Gadis itu datang bersama dua gadis lainnya.
"LEAAA!!" Sekarang bertambah satu gadis yang berpelukan.
Monika melepas pelukannya. Matanya menatap binar dua sahabatnya itu, "Gue kangen banget sama kalian. Gue bosen sendirian cewek sama anak-anak. Mana belakangan sering diajak tawuran. Geng Brata gak ada abis-abisnya," curhat Monika.
"Seharusnya kamu milih gak ikut dong," kekeh Lea.
"Dylan tuh, yang katanya JODOH LO, yang maksa gue. Katanya musuh takut liat gue,"
Dylan terkekeh dan berdiri di hadapan Milea, "Bener yang gue bilang, anak Brata banyak yang takut sama dia," kekeh Dylan membuat Monika merengut.
"Kamu baik?" Dylan bertanya penuh perhatian.
"Jijik gue liatnya. Sok lembut lo," cibir Monika yang dihiraukan oleh Dylan. Sekarang dunia berasa miliknya dan Milea.
"Baik, kamu?"
"Awalnya gak baik, tapi pas ketemu kamu, aku jadi baik,"
"Ngegembel aja lo. Ini siapa?" Monika mengalihkan pertanyaan dan melirik pria yang dipanggil Gus Azam oleh Haikal tadi.
"Gus Azam, sahabat saya yang juga dari Kairo," jelas Haikal yang hanya diangguki acuh oleh Monika. Dia hanya tertarik dengan Haikal.
__ADS_1
"Ngapain ngobrol di sini?! Ayo duduk!" Adam langsung mengajak mereka semua untuk kembali ke saung.
"Saya masih ada kelas, saya permisi, assalamu'alaikum," ujar Gus Azam.
"Saya juga pamit, assalamu'alaikum," ucap Haikal.
"Wa'alaikumussalam,"
"Mas Haikal gak mau gabung juga?" Tawar Monika yang mendapat jitakan pelan dari Afnan.
"Dia punya urusan sendiri, Nik. Nempel mulu," nasihat Afnan yang diangguki Monika.
"Ya udah, bye Mas Jodoh," Afnan menggeleng heran melihat adik asuhnya itu. Dengan segera Afnan mengapit kepala Monika di ketiaknya dan membawa gadis itu pergi sebelum benar-benar menggila. Yang lain pun menyusul.
"Antum kenal mereka, Kal?" Tanya Gus Azam menatap kepergian rombongan RANDA.
"Ana baru kenal tadi saat di ndalem. Katanya, tujuan datang memang mau menemui Fisha. Dan tampaknya mereka sering kemari," jelas Haikal yang hanya diangguki Gus Azam.
"Antum kenapa liat Fisha segitunya?" Tanya Haikal saat melihat sahabatnya itu tak melepaskan pandangannya dari Fisha.
Gus Azam segera mengalihkan pandangannya dan beristighfar. Haikal yang melihatnya hanya terkekeh.
"Antum tertarik dengannya ternyata,"
Gus Azam tersenyum tipis dan berjalan lebih dulu, "Dia adalah gadis sholeha, siapa yang tidak senang melihatnya?" Ujar Gus Azam saat Haikal menyamakan langkahnya.
"Tapi sepertinya dia banyak yang suka,"
"Kalau sama-sama suka pun, kalau tidak berjodoh, tidak bisa apa-apa,"
"Iya, deh. Semoga Allah memberikan yang terbaik untuk antum,"
"Aaamiin,"
***
"Sekolah lo lancar, Sha?" Tanya Afnan.
Bagaimana tidak? RANDA membawa tiga kantong plastik besar yang isinya macam-macam. Satu plastik berisi buah-buahan, satunya berisi cemilan, dan yang terakhir berisi perlengkapan sehari-hari seperti sabun, shampo, pasta gigi, kaus kaki dan lain-lain.
"Gak papa, Sha. Itu semua anak-anak yang siapin. Buat lo, Lea, Ikha sama Awa," ucap Dylan.
"Kita juga?" Beo dua orang gadis bersamaan. Dia adalah Zulaikha dan Hawa. Saat pertama kali mereka bertemu adalah di depan masjid, saat Zaky kepergok menarik Fisha oleh RANDA.
"Iya dong, biar seru. Anak-anak tadi juga titip salam buat lo sama Lea," jelas Monika.
"Wa'alaikumussalam,"
"Anak-anak gimana kabarnya?" Tanya Fisha.
"Mereka baik meski belakangan sering ribut sama geng Brata,"
"Nanti kalau aku bisa keluar, aku ke Jakarta nemuin anak-anak,"
"Gue sih bolehin, yang penting fokus lo gak terbagi," balas Afnan.
Fisha tersenyum dan mengangguk. Ia merasa diberi tanggung jawab oleh Farel saat sebelum pria itu pergi.
"Nanti, kalau gue gak ada buat mereka, gue harap lo bisa bantu gue untuk mimpin mereka,"
"Kamu, ingat pesanku! Bahwa kamu adalah nomor dua setelahku dan kamu berhak atas mereka,"
Kira-kira dua pesan itulah yang selalu Fisha ingat dan Fisha harus melaksanakannya. Fisha merasa dirinya berharga dalam hidup pria dingin dan penuh misteri itu.
"Mana mungkin fokusku terbagi? Jauh sebelum Gus pergi, dia pernah berpesan, bahwa aku harus sedia untuk menggantikannya," Fisha mengatakannya dengan pandangan lurus ke danau. Tatapannya sendu, gadis itu merindukan sosok Farel yang selalu melindunginya.
"Gue yakin, Farel baik-baik aja dan bakal kembali lagi ke kita," ujar Adam menenangkan dan hanya diangguki Fisha.
__ADS_1
"Di danau ada ikannya, Sha?" Tanya Monika penasaran, ia juga ingin mengalihkan pembicaraan.
"Gak ada. Air ini untuk nyuci. Kalau ikan ada di keramba belakang pesantren,"
"Sha, lo kenal sama Mas Haikal?"
"Lo bisa gak manggilnya nama aja? Jijik gue denger lo manggil dia pake embel-embel mas," rutuk Dylan yang tak ditanggapi oleh Monika.
"Kenal, dia baru balik dari Kairo seminggu lalu sama Ustadz Azam. Dia sama Ustadz Azam sering bantuin Kakek di ndalem. Kenapa? Kamu suka?"
Wajah Monika bersemu merah, gadis itu tersenyum malu, "Kayaknya gue jatuh cinta pandangan pertama deh,"
"Sok fall in love lo," ejek Adam.
"Bukan itu yang harus kita permasalahin sekarang. Kalian merasa aneh gak sih sama si Azam itu?" Yusuf mulai mode ghibah.
"He'em, liatin Fisha aneh banget, padahal Fisha mah nunduk terus," Dylan menanggapi.
"Sering sih, Gus Azam kepergok sama aku lirik-lirik Fisha," Milea ikut menanggapi sambil mencari cemilan di buah tangan yang RANDA bawa tadi.
"Dia suka sama lo, Sha?" Afnan bertanya langsung pada intinya.
Fisha mengerutkan keningnya dan mengangkat bahu acuh, "Gak tau. Lagian baru liat seminggu ini,"
"Tapi lo gak suka sama dia kan, Sha?"
Fisha menggeleng cepat, "Mana mungkin?"
"Ya, kan siapa tau?"
"Bahkan aku udah gak tau lagi gimana rasa suka itu," ujar Fisha dengan tatapan kosong.
"Ck, udah deh, mewek terus! Aku gak suka kamu kayak gini ya, Sha! Entar si Gus kalo mau bakal balik terus nikahin kamu," ujar Zulaikha dengan gamblangnya.
"Kamu ngomong apa sih, Kha?"
"Gak usah sok gak tau deh, Sha! Setahun ini kamu emang berubah banget. Liat nih, pipinya udah gak kayak dulu lagi! Kamu terlalu mikirin Gus," kini Hawa yang berbicara sambil menangkup pipi Fisha yang semakin tirus.
"Gue yakin, Farel bakal pulang. Lo harus jaga kesehatan! Farel pasti gak mau liat lo yang modelannya ceking begini," sarkas Afnan.
"Lo kalo ngomong panjangan dikit pasti sarkas banget," kesal Dylan.
Fisha terkekeh, "Iya, nanti aku makan yang banyak. Emm, gimana kalau hari Ahad nanti aku ke Jakarta ketemu anak-anak?" Fisha mengalihkan pembicaraan.
"Boleh, tapi izin Kakek sama Nenek dulu," ujar Afnan bijak.
"Pasti dikasih izin lah," balas Dylan begitu yakin.
"Okey, kalian mau ikut?" Tawa Fisha pada ketiga sahabatnya.
"Kamu lupa kalau kita panitia buat acara hari Senin? Otomatis hari Ahad kita sibuk,"
"Oh, ya udah,"
"Acara apaan hari Senin?"
"Pensi doang,"
"Ouuh, besok kita bakal ngapain aja sama anak-anak?"
"Kalian atur aja. Tapi harus hal yang bermanfaat,"
"Sip, aman itu mah sama gue,"
"Minggu gue jemput sama Zira," ujar Afnan yang disetujui Fisha.
"Gus, mungkin melihat mereka besok akan mengobati luka ini,"
__ADS_1
Tbc...
^^^#as.zey^^^