Mysterious Gus

Mysterious Gus
#78. Cerita


__ADS_3

..."Aku sangat merindukan suasana seperti ini,"...


...Farel...


...***...


Tidur Fisha merasa terganggu saat pelukannya terasa gelisah dan tangan yang menggenggam tangannya terasa dingin.


Mata Fisha terbuka perlahan dengan nyawa yang setengahnya masih berada di alam mimpi.


"Gak! Jangan sakiti Umma!"


Rintihan yang berasal dari Farel langsung membuat Fisha sadar sepenuhnya. Fisha dengan cepat menghidupkan lampu kamar agar bisa melihat Farel dengan jelas.


"Umma! Umma! Papa jangan pukul Umma!"


Khawatir adalah hal yang langsung Fisha rasakan saat melihat Farel mengigau.


Fisha menepuk pelan pipi Farel, "Gus! Bangun Gus!"


Mata Farel langsung terbuka lebar. Pria itu kembali dari alam mimpinya dengan napas memburu dan keringat dingin.


"Gus ke--" kalimat Fisha harus terhenti saat Farel tiba-tiba memeluknya dan menyembunyikan wajahnya di leher jenjangnya.


Yang tadinya panik, berubah menjadi gugup, terlebih lagi saat sang suami menghembuskan napasnya. Lehernya akan terasa geli dan tubuhnya seperti tersengat.


"Mimpi buruk?" Tanya Fisha berusaha membuang rasa gugupnya.


"Ingatan masa lalu," jawab Farel tak jelas karena teredam di leher Fisha, namun untungnya Fisha masih mampu mengerti.


"Fisha ambilin min--"


"Peluk saya!" Sela Farel semakin mengeratkan pelukannya dan membenamkan wajahnya di leher sang istri.


"Maaf, untuk malam seterusnya mungkin tidur kamu akan terganggu," lirih Farel, dirinya mulai berkecil hati. Pikirannya mulai negatif bahwa ia hanya merepotkan Fisha.


Tangan Fisha mengusap rambut lebat Farel meskipun agak ragu. Fisha pun dengan telaten mengusap keringat Farel. Sepertinya ia mulai terbiasa dengan pelukan sang suami dan napas yang berhembus hangat di lehernya.


"Gak papa, Fisha bakal temenin Gus,"


Napas Fisha tiba-tiba saja tercekat saat tangan Farel dengan lancang masuk ke dalam piyamanya dan meng*sap abstrak di sana.


"G-gus, tangannya!" Tegur Fisha gagu.


"Kenapa saya masih mendengar panggilan itu?" Tangan Farel tak mau berhenti meng*sap abstrak tubuh Fisha.


"Y-ya, jadi m-mau Fisha p-panggil ap-pa?" Bata Fisha sambil berusaha melepas pelukan mereka, namun bukannya terlepas, pelukan itu semakin mengerat dan tangan Farel meli*r.


"Yeobo?" Saran Farel.


"Tangannya awasin dulu!" Fisha ingin menangis dibuat Farel.


"Kamu hangat,"


"Fisha ge-geli!!"


"Nanti tidak,"


Farel merubah posisi mereka, sekarang ia di atas dan Fisha di bawah. Tenang, kakinya tidak bergerak dari tempat, hanya tubunya saja.


Napas Fisha tercekat di tenggorokan saat wajah Farel tepat di depan wajahnya. Beberapa senti lagi, sudah dijamin hidung mereka akan bersentuhan.


"Jadi apa?" Tanya Farel menuntut.


"A-ap-apanya?!" Fisha merutuki cara bicaranya yang kentara sekali kalau dia gugup.


"Panggilanmu untuk saya,"


"K-kalau mas aj-ja gim-mana?"


Farel tampak berpikir kemudian mengangguk, "Tidak buruk," putusnya dan kembali membenamkan wajah di leher Fisha.


"Jangan di leher Fisha! Tangannya juga keluarin!" Rengek Fisha.


"Kenapa? Tidak mau saya peluk? Tidak mau saya se*tuh?"


"Fisha gugup!!" Jujur Fisha membuat Farel terkekeh kecil.


Fisha terpaku melihat senyuman dan mendengar suara kekehan itu. Ia merindukan senyuman itu hingga matanya berkaca-kaca.


"Kenapa menangis lagi?" Heran Farel mengusap pipi sang istri.

__ADS_1


Fisha tak menjawab dan menangis semakin kencang. Tanpa pikir panjang ia memeluk Farel. Jadi sekarang gantian, bukan Farel yang memeluk, tapi Fisha yang memeluk.


Farel tidak lagi bertanya. Ia hanga mengusap rambut sang istri untuk menenangkannya.


"Jangan pergi lagi!" Isak Fisha teredam di dada Farel.


Sekarang Farel mengerti alasan istrinya menangis, ternyata dialah penyebabnya.


"Saya tidak akan pergi kalau bukan kamu yang pergi atau meminta saya pergi," Farel mencium singkat ubun-ubun Fisha.


"Maaf membuat kamu turut merasakan sakit. Karena saya, kamu harus menemui psikiatri,"


Fisha mendongak, "Tau dari mana?"


"Semua yang terjadi dengan kamu, saya tau," balas Farel sambil menyibak selimutnya.


Farel menggerakkan kakinya dengan pelan dan meringis kecil. Kakinya itu akan terasa nyeri saat digerakkan paksa setelah bangun tidur.


"Mas mau ke mana?" Fisha turun dari ranjang dan membantu Farel berdiri.


"Ayo tahajjud!" Farel melangkah pelan menuju kamar mandi dengan Fisha sebagai pegangannya.


"Kakinya gak papa?"


"Em, setiap bangun tidur akan seperti ini,"


"Omong-omong, saya suka panggilan kamu. Tapi kamu perlu beberapa kali memanggil saya dengan sebutan 'yeobo',"


"Dasar suami banyak mau!!! Untung cinta!!"


***


Sekarang keluarga besar yang bisa dihitung satu RT itu sudah berkumpul di ruang makan, mereka siap untuk sarapan bersama dengan suasana hangat yang telah lama hilang.


Untung saja meja makan kediaman Pramayudha itu besar dan mampu menampung mereka.


Menu sarapan mereka pun lumayan banyak untuk pagi ini. Atau mungkin menu pagi ini tidak bisa disebut sarapan karena menunya seperti ayam goreng, sambal balado, sop ayam, sambal, dan lainnya. Menunya lebih lengkap dibanding menu rumah makan.


"Gimana tidurnya tadi malam? Nyenyak?" Tanya Raima sambil menyiapkan kopi untuk suaminya.


"Nyenyak," jelas kalau Farel berbohong dan kebohongan itu hanya Fisha yang tahu.


"Tentu nyenyak, sudah ada istri yang dipeluk," ejek Tiam.


Tiam menggeleng, "Belum cukup umur,"


Ley berdecih mendengar penuturan Tiam, "Kau sudah 23 tahun sekarang!" Sinis Ley.


"Benarkah? Kurasa usiaku habis di udara," acuh Tiam.


"Di mana Ae Ri?" Tanya Farel saat menyadari adiknya itu tidak terlihat.


"Tadi masih tidur. Biarkan sa--"


"Ini Karaya menelpon, berarti dia sudah bangun," sela Tiam saat mendapat telpon dari Karaya.


"Ada apa? Kamu sudah bangun dan mandi?" Tanya Tiam dengan mulut mengunyah jeruk.


"Aku sudah cantik dan sekarang aku tersesat!" Suara Karaya terdengar kesal.


Tiam terkekeh mendengar kalimat kekesalan dari Karaya, "Kamu di mana sekarang? Jelaskan apa yang kamu lihat di sana!"


"Sepertinya aku di ujung lorong. Ada pintu bertuliskan 'RUANG MUSIK RANDA',"


"Oppa akan menjemputmu. Tenanglah di sana," Tiam langsung memutuskan panggilannya setelah mendapat balasan dari Karaya.


"Aku menjem--"


"Biar Nia aja. Di ruang musik kan?" Nia bangkit dari duduknya dan berlalu.


"Zira ikut!!" Si bungsu Zira pun berlari menyusul sang kakak.


"Mungkin Nia mau meminta maaf, biarkan saja mereka," ujar Xander.


"Pengantin baru romantis banget sih," goda Ley saat melihat Fisha meminum cokelat hangat yang sudah sempat Farel minum.


Fisha berusaha acuh meski wajahnya sudah semerah tomat.


"Kenapa? Kau mau minum bekasku juga?" Sarkas Farel disambut kekehan oleh yang lain.


"Sebenarnya bukan aku yang iri, tapi kau kan, Ley?" Ejek Tiam.

__ADS_1


Ley menggeleng cepat, "Tidak! Untuk apa aku iri?! Sebagai saudara yang baik, tentu aku turut bahagia melihat Asz bahagia,"


"Sopanlah Ley, sudah berulang kali aku mengingatkan agar tidak memanggil Asz dengan namanya," tegur Xander.


Mata Ley berotasi tanda jengah, "Aku tidak terlalu kecil untuk memanggil namanya,"


"Aku saja memanggilnya dengan sebutan 'abang' meski hanya dibawah satu tahun. Kau itu dibawahnya dua tahun, jadi sopan sedikit!" Tiam memprovokasi.


"Asz saja ti--"


"Bahasamu, Brexley!"


Tiam tertawa puas saat Farel menegur tegas seorang Ley. Sedangkan Ley sudah menggerutu kesal.


"Lihat, mereka datang dengan wajah malu-malunya!" Hutama menunjuk Karaya, Nia dan Zira yang berjalan beriringan dan saling diam.


"Selamat pagi!" Sapa Karaya sedikit membungkukkan badannya.


"Pagi!"


"Selamat pagi Oppa, Ayah, Oppa Tiam dan Oppa Ley," Karaya mencium pipi mereka satu per satu.


"Pagi juga,"


"Tidurmu nyenyak?" Tanya Farel meminta Karaya duduk di sampingnya, jadilah sekarang Farel duduk di antara Fisha dan Karaya.


Karaya mengangguk senang, "Ada Ayah dan Ibu Mayang yang menemani saat aku terbangun tengah malam,"


Farel mengangguk, perasaannya lega saat tahu istirahat sang adik amat nyaman.


"Di mana Kim? Sudah menyiapkan nok cha Ae Ri?" Tanya Farel menanyakan keberadaan pengasuh khusus Karaya.


Nok cha sendiri adalah minuman teh hijau khas korea yang selalu Karaya minum setiap pagi. Jadi, nok cha adalah menu wajib bagi seorang Karaya. Farel lah yang telah menetapkannya.


"Sudah, Tuan. Ini saya bawakan," Kim datang dan meletakkan nok cha milik Karaya juga Hyeon yang baru saja tiba.


"Terima kasih Nyonya Kim," Karaya tersenyum manis.


"Sama-sama. Selamat menikmati sarapanmu, Nona,"


"Tentu, sudah lama aku tidak sarapan bersama Ayah dan oppa-oppaku,"


Farel mengusap rambut Karaya pertanda ia turut senang dengan kebahagiaan Karaya. Namun hatinya juga merasa sakit, ternyata selama ini Karaya-nya merasa kesepian.


"Karaya bisa selalu bersama Ayah dan Oppa kalau Karaya menetap di Indo," ujar Xander.


Karaya menggeleng, "Aku juga tidak masalah kalau tidak bisa selalu makan bersama dengan Ayah," balasnya lugas namun nyelekit untuk Xander.


"Jangan bahas ini lagi!" Lerai Farel jengah. Karaya termasuk gadis yang selalu berpendirian teguh terhadap pilihannya.


"Hari ini kita bakal ngapain?" Afnan buka suara. RANDA memang juga menginap semalam dan jangan lupakan para komplotan Fisha.


"Aku sudah mencari dokter baru untuk Abang. Setelah sarapan nanti ia akan datang," jawab Ley.


"Em, untuk hari ini kita akan menghabiskan waktu di rumah. Kakek dan Nenek juga bakal datang nanti melihat Farel," tambah Hutama.


"Nika kayaknya gak bisa join,"


"Kenapa? Mau ke mana lo?" Tanya Dylan.


"Ketemu keluarga baru Papa sama Mama," Nika menjelaskan begitu gamblang meski perasaannya hancur.


"Gue temenin,"


Nika menggeleng sambil menelan makanannya, "Gak usah, ribet ntar. Biasanya gue juga sendiri,"


Di tengah-tengah percakapan mereka, ada Farel dan Fisha yang sibuk dengan kegiatannya.


Farel berusaha menggenggam tangan Fisha, namun istrinya itu terus menghindar dengan wajah memerah malu.


"Jangan! Malu kalau diliatin," gumam Fisha.


"Kenapa malu? Saya kan suami kamu,"


"Bener, Sha, gak perlu malu! Gus Farel kan suami lo" Ujar Zulaikha lantang dan membuat mereka jadi pusat perhatian.


"Cieee pengantin baru!!"


"DASAR SUAMI GAK TAU TEMPAT!!!"


Tbc...

__ADS_1


^^^#as.zey^^^


__ADS_2