Mysterious Gus

Mysterious Gus
#85. The Fact


__ADS_3

..."Kisah kita akan kembali dimulai, namun dengan bumbu-bumbu yang lebih pahit dan akan menyakitkan,"...


...Altiam...


...***...


Bersamaan dengan Fisha yang sampai di lobi, beberapa ambulance datang dengan suara nyaringnya.


Orang-orang yang tadi berkerumun lekas memberi jalan untuk ambulance itu lewat dan berhenti di depan pintu. Kejadian itu tentu menjadi pusat perhatian.


Fisha, Clara dan semua pihak medis yang bertugas langsung menghampiri ambulance tanpa diminta. Mereka mulai sibuk dengan kegiatan penyelamatan mereka.


Fisha, Clara dan satu laki-laki mendapati korban seorang wanita yang tampak lemah dan penuh luka. Mereka bergegas membawanya ke ruang UGD.


"Ibu ini jantungnya sangat lemah!" Ujar laki-laki tadi yang membawa ibu itu dari lokasi kecelakaan.


"Buk! Ibu bisa dengar saya?" Fisha tak mendapat respon karena mata wanita itu tertutup dan denyut nadinya menghilang.


"Jantungnya berhenti," ungkap Fisha dan dengan pasti naik ke atas tubuh wanita itu. Dirinya dengan cekatan memompa jantung sang ibu, berharap detakannya kembali.


Di saat Fisha berusaha untuk memompa jantung korban, Clara dan laki-laki petugas itu semakin cepat mendorong brankar untuk lekas mendapat pertolongan lebih lanjut, tak peduli bertambah berat karena ada Fisha di atas tubuh wanita itu.


"Eonni sangat hebat," Karaya yang tak jauh dari lokasi Fisha menggumam takjub melihat aksi sang kakak ipar.


"Memang sudah seperti itu tugasnya," Farel menyahut dengan perasaan bangganya pada sang istri yang begitu pemberani.


"Kak Clara juga gak kalah hebat. Iya kan, Tuan Jong?" Karaya menyenggol pelan Jong yang berada di sampingnya.


"Hum? Iya," Jong hanya mampu menjawab dengan gagu.


"Kau tertarik padanya?" Farel bertanya sambil membawa kursi rodanya menuju ruang terapi.


Jong mengambil alih di belakang Farel untuk mendorong kursi roda tuannya itu, "Dia masih terlalu muda dan kekanakan,"


"Usia tidak menjadi panutan untuk menjalani sebuah hubungan,"


"Benar kata Oppa. Kak Clara juga seperti orang yang apa adanya dan jujur,"


***

__ADS_1


Beralih pada pasangan yang sudah hampir empat tahun tak bersua, Tiam dan Ermira.


Keduanya hanya terdiam di bangku taman rumah sakit. Belum ada yang mau membuka percakapan, sama-sama menikmati rindu yang perlahan menyeruak.


"Bagaimana keadaan kamu selama empat tahun ini?" Tiam buka suara setelah beberapa waktu.


"Seperti yang kamu lihat, aku baik,"


Tiam mengangguk, "Maaf untuk semua yang terjadi di empat tahun lalu. Meninggalkan kamu bukan keinginan aku, Ra,"


"Kamu gak perlu minta maaf, kamu gak salah. Saat itu memang aku yang terlalu kekanakan mengklaim kamu sebagai milik aku. Aku yang salah karena masuk ke kehidupan kamu,"


Tiam menggeleng tegas, semakin lekat menatap mata indah gadis yang ia cintai, "Kamu tidak kekanakan, selamanya aku milik kamu, Ra. Ada kamu dalam ceritaku, juga bukanlah sebuah kesalahan,"


"Dulu, sekarang hingga masa yang akan datang, cuma kamu satu-satunya gadis yang aku cinta. Salahku yang tidak mengutarakannya dari awal,"


Ermira tersenyum, namun senyum itu tampak aneh bagi Tiam, "Sebenarnya, tanpa kamu ucapkan, aku tahu kamu mencintai aku, Tiam. Tapi entah mengapa, mengingat kejadian kamu pergi begitu saja, membuat pemikiranku berubah,"


"Kejadian itu bukan nyata keinginanku, Ra! Saat itu hati dan pikiranku tak lurus. Di satu sisi kamu butuh aku, tapi di sisi lain ada Abang dan Karaya yang situasinya tidak memungkinkan untuk aku abaikan,"


"Iya, aku tau. Karena itu, kita memang tidak seharusnya bersama, Tiam! Karena dunia kita memang berbeda. Dalam kehidupan kamu, hanya ada mereka yang kamu unggulkan. Sedangkan aku? Aku adalah kepentingan kamu yang kesekian kalinya!" Tampak wajah Ermira memerah dan matanya berkaca. Gadis itu sudah berdiri menghadap Tiam yang masih berusaha tenang.


"Kamu tidak mengerti, Ra. Kamu dan mereka sekarang sama pentingnya untuk aku,"


"Menikah?"


"Hm, aku akan menikah seminggu lagi. Lepasin aku, Tiam! Tidak ada masa depan untuk kita! Dunia kita berbeda!"


Tiam berdiri, menghadap Ermira dengan tatapan nyalangnya yang selama ini tak pernah gadis itu lihat.


"Kamu adalah milikku, Ermira! Selamanya! Tidak ada masa depan? Maka akan aku buat masa depan itu! Dunia kita berbeda? Akan aku buat dunia kita yang sama! Aku tidak akan melepaskanmu dengan mudah, Ermira!"


"Cukup Tiam! Jangan ganggu aku lagi! Aku gak mau lihat kamu lagi!" Ermira bersuara tinggi dan berlalu.


"Aku akan tunjukkan padamu, Ermira! Siapa aku sebenarnya! Aku akan membawamu, meski dengan keegoisanku!"


"Kamu gila, Tiam!"


Tiam tersenyum sinis, "Bukankah aku memang sudah gila sejak awal?!" Ujar Tiam sarkas dan berlalu begitu saja tanpa peduli dengan Ermira yang berdiri kaku.

__ADS_1


Tak banyak yang bisa Tiam lakukan dengan fakta yang baru saja ia dapat dari gadis pujaannya. Ermira akan menikah? Secepat itukah Ermira melupakannya? Rasanya, ia sedikit tidak percaya dan juga tidak terima. Harga dirinya terasa agak jatuh karena dilupakan begitu saja. Padahal setiap orang yang mengenalnya, tak ada yang bisa melupakannya.


"Kenapa?"


Suara itu menarik Tiam dari pikirannya yang begitu ramai. Ia menoleh dan mendapati Farel bersama Ae Ri dan Jong. Pasti terapi Farel sudah selesai.


Tiam bangkit dari kursi tunggu dan menghadap Farel, "Bukan apa-apa. Udah siap, kan? Mau pulang?"


"Eonni Ermira mana?"


Ternyata gadis Korea itu tidak akan membiarkan Tiam lepas dari bayang-bayang Ermira. Bolehkah Tiam menyeret adiknya itu pulang?!


"Sudah kembali ke ruang ayahnya," jawab Tiam asal, jelas ia tak tahu di mana keberadaan Ermira setelah ia pergi begitu saja dari taman tadi.


"Kami pulang, kamu tunggu Nafisha," titah Farel.


"Tapi in--"


"Selesaikan masalahmu dengan Ermira. Jika ingin, ambil dia meski dengan cara yang melukainya," nasehat sesat itu dengan lancar Farel berikan pada Tiam.


Dan Tiam? Tentu saja ia menurut. Lagipula sebenarnya, tanpa Farel suruh, ia akan melakukan segala hal untuk merebut Ermira kembali. Bagi Tiam, hanya ia yang berhak untuk Ermira. Hanya dia!


"Oppa! Tidak baik seperti itu! Eonni bisa semakin jauh," tampaknya, hanya Ae Ri yang waras dan berhati malaikat di antara tiga iblis itu.


"Mana mungkin? Ia tak akan punya tempat untuk berlari jauh,"


Tampak Ae Ri menggelengkan kepalanya, frustasi dengan tingkah dua oppa-nya yang layaknya orang gila karena kehilangan pujaan hati.


"Apa Tuan Jong juga akan seperti kedua Oppaku ini ketika Eonni Clara menolak?"


Kening Jong berkerut heran. Kenapa ia dibawa-bawa dalam percakapan antar saudara itu?


"Kenapa saya?"


Ae Ri tersenyum usil, "Sepertinya Tuan Jong juga jelmaan iblis seperti kedua Oppaku. Aku tidak sabar melihat Tuan Jong menggila karena Eonni Clara,"


"Kenapa saya harus gila karena Clara?" Jong tampak tidak terima jika ia harus gila karena gadis gila seperti Clara.


Tiam terkekeh dan menepuk singkat pundak Jong, "Kau akan tau rasanya, Tuan Jong," ejek Tiam dan angkat kaki dari hadapan ketiga manusia itu. Ia bersiap mencari tempat pewe sambil menunggu Fisha pulang.

__ADS_1


Tbc...


^^^#as.zey^^^


__ADS_2