
..."Lukisan itu Asz yang meminta agar Karaya melukisnya. Jadi, lukisan itu seharusnya berharga untukmu,"...
...Altiam...
Mobil Tiam yang dikendarai oleh Ley memasuki wilayah pesantren tempat di mana seorang Nafisha menimba ilmu dunia dan akhirat.
Sesudah mengunjungi Hutama tadi, Altiam langsung tancap gas untuk menemui Fisha bersama Ley.
Kedatangan mereka tentu saja menjadi pusat perhatian. Mobil yang mewah, wajah tampan dan tak pernah terlihat di wilayah penjara suci itu.
Kedua pria berbeda usia itu keluar dari mobil dan menuju ke bagasi. Tiba-tiba saja kedua tangan mereka penuh dengan barang bawaan.
"Ke rumah Kakek Nenek dulu, kan?" Tanya Ley yang hanya diangguki Tiam dan mereka pun menuju ndalem.
"Assalamu'alaikum," ucap keduanya berdiri di depan pintu yang selalu terbuka itu.
"Wa'alaikumussalam," seorang gadis muncul dari dalam dengan kepala tertunduk.
"Mencari siapa? Buya?" Tanya gadis itu.
"Iya, beliau ada?"
"Ada. Saya panggilkan dulu. Silakan masuk," keduanya pun masuk ke ndalem dengan gadis itu yang mengarahkan mereka.
"Loh? Kalian?" Abdullah datang dengan wajah bingung. Wajah Tiam dan Ley tampak tidak asing bagi Abdullah. Tapi tetap saja ia susah mengingat karena kedua pria itu jarang menampakkan diri.
"Tiam dan Ley, Kek," jelas Tiam mencium tangan Abdullah yang diikuti oleh Ley.
"Ohhh, iya. Maaf, Kakek lupa,"
"Tidak masalah, Kek. Wajar saja Kakek lupa, kami memang jarang menemui Kakek," balas Ley ramah.
"Tiam dari mana saja? Semalam Xander mencari kamu ke mari,"
"Saya ke Korea, Kek. Memang tidak izin pada Ayah,"
Abdullah mengangguk, "Lain kali izin, Tiam. Kasian Xander, kemarin dia seperti orang gila mencari kamu,"
"Iya, maaf merepotkan Kakek,"
"Tidak merepotkan, santai saja,"
"Silakan dinikmati," gadis yang menyambut kehadiran Tiam dan Ley tadi menghidangkan jamuan dengan anggun juga sopan.
"Terima kasih," Ley tak pernah lepas menatap gadis cantik nan anggun itu.
"Sama-sama," balasnya yang terlihat sedang tersenyum meski kepalanya menunduk.
"Kau baru sekali bertemu dengannya. Ada apa dengan tatapanmu itu?" Tanya Tiam.
Abdullah terkekeh, "Remaja jatuh cinta pandangan pertama, hm?"
Ley tersenyum malu, "Dia sopan dan anggun. Aku senang saja melihatnya,"
"Namanya Dewi, santriwati baru," Jamilah datang sambil berujar demikian. Dia memang mendengar percakapan mereka dari kamar. Sudah pasti mereka berbincang dengan volume yang lumayan keras.
"Tiam, Ley, lama tidak berjumpa," berbeda dengan Abdullah, Jamilah justru sangat mengingat wajah mereka. Bahkan wanita paruh baya itu merangkul keduanya, hal sama yang selalu Jamilah lakukan pada RANDA.
"Nenek apa kabar?"
"Baik, alhamdulillah. Kalian sudah makan?"
"Sudah, tadi sebelum berangkat,"
"Saya bawa oleh-oleh untuk Kakek dan Nenek. Semoga senang," Tiam menyerahkan tiga paper bag.
"Tentu senang. Terima kasih sudah ingat Kakek Nenek,"
"Sama-sama. Tentu saya selalu ingat Kakek Nenek,"
"Omong-omong, kita datang mau ke--"
"Jenguk Fisha, kan?" Sela Jamilah yang diangguki Tiam.
"Mungkin sekarang dia sedang di kamar. Nenek minta panggilkan sama Dewi,"
__ADS_1
"Kita tunggu di saung dekat danau ya, Nek,"
"Iya. Nanti Nenek antar cemilan juga,"
"Gak perlu, Nek. Kita udah bawa cemilan buat makan bareng,"
"Ohh, ya sudah kalau gitu," Jamilah mengangguk dan meminta Dewi memanggil Fisha. Sedangkan Tiam dan Ley menuju saung.
"Nama kamu Dewi?" Ley bertanya saat mereka keluar dari ndalem.
"Iya,"
"Aku Ley. Tepatnya Brexley. Senang bertemu denganmu," ujar Ley membuat Dewi tersipu malu.
"Ck, jatuh cinta memang tidak tahu waktu dan tempat," gumam Tiam menggerutu.
"Apa kita masih bisa bertemu?" Tanya Ley gamblang, namun gadis itu hanya diam.
"Sudahlah, Ley! Kau membuat dia bingung. Dia masih harus belajar untuk masa depannya," Tiam tampak mengerti kebingungan gadis itu.
"Maaf. Kalau begitu tolong panggilkan Fisha saja," Dewi pun segara pergi.
"Bersabarlah!" Tiam menepuk bahu saudaranya itu dan membawanya menuju saung dekat danau buatan pesantren.
"Assalamu'alaikum. Tiam, Ley," sapa Fisha bergabung dengan dua pria yang sedang menatap kesibukan para santri.
"Wa'alaikumussalam,"
"Bagaimana kabarmu, Sha?" Tanya Ley tersenyum cerah. Hubungan keduanya sekarang memang sangat dekat.
"Aku baik, Ley,"
"Apa badan kurusmu yang sekarang bisa dibilang baik?" Tiam tampaknya akan memulai acara ceramah untuk Fisha.
"Wajar saja, sekarang aku di akhir semester. Sangat menguras tenaga dan pikiran,"
"Tapi tidak dengan mengorbankan fisikmu, Fisha. Apa kata dunia sahabat seorang Brexley kurus kerempeng begini?! Jangan membuat namaku tercemar karena tidak memperhatikan kesehatanmu," celoteh Ley membuat Fisha terkekeh.
"Aku dan Ley membawakanmu cokelat dan cemilan," Tiam meletakkan satu dus cokelat dan dua kantong plastik berisi cemilan juga buah.
Fisha melebarkan matanya, "Sebanyak ini? Gigiku bisa habis kalau begini,"
"Astaghfirullah, bukan ini maksudku. Kalian berlebihan,"
"Tidak berlebihan sama sekali. Nanti minta orang membantumu membawanya ke kamar,"
"Iya, makasih,"
"Kau bisa menghubungiku atau Ley jika kebutuhanmu habis. Aku juga membawa oleh-oleh untukmu,"
"Apa? Makanan?"
"Apa semua gadis berpikir oleh-oleh selalu makanan?" Tanya balik Tiam.
"Semua gadis? Siapa saja gadis yang dekat denganmu selain Fisha, Eil dan adik Asz? Kurasa gadis yang kita kenal tidak terlalu menuntut makanan meski mulut mereka tak bisa berhenti mengunyah," Cerca Ley.
"Kamu punya pacar, ya?" Gantian Fisha yang memojokkan Tiam.
"Jangan pedulikan aku! Buka saja oleh-olehmu dan lihat apa kau senang," Tiam mengalihkan pembicaraan yang membuat Fisha langsung membuka bingkisan berukuran sedang dari Tiam.
"Lukisan?" Fisha menatap pemberian Tiam dengan wajah kagum.
"Hm, pelukis yang sangat hebat bukan?"
"Bagus banget,"
"Ada tulisan di belakangnya," tunjuk Ley membuat Fisha membalikkan lukisannya.
"From Ae Ri to Noona Nafisha," gumam Fisha membacakan tulisan itu.
"Ae Ri siapa?"
"Pelukisnya. Kau tidak perlu tau, nikmati saja lukisan itu,"
Fisha tersenyum dan mengangguk, "Terima kasih,"
__ADS_1
"Iya,"
"Bagaima--" ucapan Ley harus terpotong saat terdengar suara panggilan dari ponsel Tiam. Suara itu benar-benar menganggu pendengaran mereka.
"Dari di jalan tadi ponselmu terus berbunyi, tapi kau tidak mengangkatnya dan itu sangat mengganggu. Angkat saja!" Omel Ley yang membuat Tiam menghela napasnya dan menerima panggilan yang sudah ia yakini dari Ermira.
"Assa--"
"Katanya udah pulang, kenapa belum nemuin aku?" Cerca Ermira di seberang sana.
"Saya masih ada urusan. Lusa saya akan menemui kamu," balas Tiam sabar dan lembut, membuat Ley juga Fisha kaget mendengarnya. Baru kali ini rasanya Tiam berkata lembut dan penuh perhatian.
Ley menatap Tiam dengan tatapan menggoda, "Ternyata dia yang membuatmu berkata 'semua gadis', ya?" Goda Ley yang dihadiahi tatapan kesal oleh Tiam.
"Hari ini! Temuin aku dulu baru urusan yang lain! Selalu aja, urusan yang terus kamu pentingin. Aku gak per--"
"Besok pulang sekolah saya jemput," sela Tiam sebelum gadis itu melantur. Jelas sekali Ermira salah, selama ini Tiam selalu mendahulukan gadis itu dibanding urusannya yang lain. Ermira terkadang memang mengada-ngada.
"Okey. Katanya kamu pergi keluar kota. Ke mana? Kamu ga--"
"Tiam, makasih oleh-oleh sama cokelatnya. Aku suka banget!" Fisha tiba-tiba bersuara dengan keras, berniat menggarai Tiam karena ia memang mendengar percakapan pasangan itu meski samar-samar.
Ley menahan tawanya melihat wajah kaget bercampur kesal Tiam. Fisha pun juga sama. Puas sekali melihat wajah panik Tiam.
"Kamu di mana? Sama siapa? Itu suara siapa? Kamu kasih dia oleh-oleh sama cokelat?! Kamu selingkuh?!" Amuk Ermira membuat Tiam semakin panik.
"Aku di Bandung bersama saudaraku, Ley. Jangan berpikir macam-macam! Kedua manusia di hadapanku sedikit gila,"
"Kamu tega bilang aku gila, Tiam?" Fisha semakin memperkeruh keadaan.
"Altiam! Lo bener-bener, ya?!"
Tawa Ley dan Fisha akhirnya terdengar juga. Mereka tak tahan untuk tidak tertawa melihat ekspresi Tiam. Benar-benar lucu dan halal untuk ditertawakan.
"Sialan!" Gumam Tiam memukul pelan kepala Ley.
"Aku Fisha. Sekarang Tiam mengunjungiku bersama Ley. Maaf, aku membuatmu jadi nomor dua oleh Tiam," Fisha merebut ponsel Tiam dan mengaktifkan loud speaker.
"Sha," tegur Tiam tak lagi bisa berkata-kata. Kedua manusia di hadapnnya ini terkadang memang menyebalkan.
"Lo siapanya cowok gue?! Gak usah cari ribut sama gue!" Tuding Ermira.
Ley tertawa kuat, "Aku tidak habis pikir, Tiam yang tenang pasangannya sangat bar-bar," ujar Ley di sela tawanya.
"Kalau aku bilang teman, pasti tidak percaya. Kalau aku bilang pacarnya aja gimana?" Fisha masih belum mau mengakhiri keusilannya.
"Belagu banget lo jadi cewek! Sok keren lo!"
Fisha terkekeh dan mengembalikan ponsel pada pemiliknya, sudah kasihan melihat wajah tertekan Tiam.
"Kendalikan emosimu, Ermira. Kau harus menghormatinya. Kau akan malu nanti kalau sudah tau dia siapa," ungkap Tiam.
"Dia siapa?"
"Aku akan menjemputmu besok. Istirahatlah dengan baik. Assalamu'alaikum," Tiam langsung memutuskan panggilan dan melempar kasar ponselnya pada Ley yang masih tertawa ngakak.
"Tiam ternyata udah punya pawang," ledek Ley.
"Aku kaget tadi melihat nama kontaknya. Tiam bulol," ledek Fisha ikutan.
"Berhentilah meledekku! Dia hanya seorang gadis yang dekat denganku. Agamaku melarang pacaran,"
"Benar kah? Kau terganggu dengannya?"
"Menurutmu? Tingkah bar-bar dan kelabilannya menguji kesabaranku,"
"Kalau gitu, blok aja nomornya. Kamu mau aku yang blok?" Goda Fisha membuat Tiam menatapnya sinis.
"Gimana sih kamu, Sha?! Tiam itu meski keganggu, tapi dia cinta klepek-klepek,"
"Sia*an!"
Hari itu pun dilanjutkan dengan perbincangan mereka. Berbagi kisah yang dilalui dan tertawa meledek Tiam.
Tbc...
__ADS_1
Hari ini cuma sanggup revisi satu bab🥲
^^^#as.zey^^^