Mysterious Gus

Mysterious Gus
#40. Kumpul GREXDA


__ADS_3

..."Lega rasanya melihat mereka tetap bersama meski tanpa keberadaanmu. Tapi, aku yakin mereka sangat membutuhkan kehadiranmu,"...


...Fisha...


Sesuai janjinya, Fisha akan ke Jakarta untuk menemui anak-anak GREXDA pada hari Minggu. Pagi ini, Fisha sudah siap dengan fashion sederhana namun berkesan khas dirinya. Gadis itu tersenyum puas melihat pantulan dirinya di cermin full body.


Fisha meraih tasnya dan keluar dari kamar menuju ndalem, tentu ia harus ijin terlebih dahulu sebelum meninggalkan pesantren untuk seharian penuh.


"Assalamu'alaikum Kak Fisha," sapa adik kelas Fisha saat ia mulai berjalan di halaman yang banyak santriwati sedang bergotong royong.


"Wa'alaikumussalam. Semangat nyapunya!"


"Pasti, dong! Kakak mau ke mana pagi-pagi gini?"


"Mau keluar sebentar. Kalau gitu, saya permisi dulu, assalamu'alaikum," Fisha langsung berlalu setelah mendapat balasan. Di sepanjang perjalanan pun banyak yang menyapa dan menatapnya heran, namun Fisha tak peduli. Yang dipikirannya saat ini segera sampai ke Jakarta.


"KAK FISHA!!" Seruan itu menyambut Fisha yang hampir sampai di ndalem.


Fisha dapat melihat Zira yang berlari ke arahnya dan tanpa aba-aba gadis manis nan polos itu memeluknya begitu erat. Fisha tersenyum tipis dan membalas pelukan itu. Fisha memejamkan matanya, mencoba untuk menyelami perasaan Zira yang pasti sangat merindukan sosok abangnya, Farel.


"Apa kabar, Ra? Kamu sehat, kan?" Tanya Fisha saat pelukan mereka terlepas.


"Zira baik, Kak, alhamdulillah. Kalau Kakak pasti sehat, kalau gak sehat kita gak bakal bisa ketemu sekarang," oceh Zira membuat Fisha terkekeh.


"Iya, alhamdulillah. Kamu udah dari tadi?" Fisha bertanya sambil membawa Zira menghampiri Afnan yang sedari tadi memperhatikan interaksi mereka.


"Belum, Zira baru turun dari mobil terus liat Kakak,"


"Assalamu'alaikum Kak Afnan," sapa Fisha menundukkan kepalanya.


"Wa'alaikumussalam. Ayo kita masuk, langsung pamitan aja biar gak kesiangan," Afnan langsung masuk ke ndalem dan kedua gadis itu mengikutinya.


"Assalamu'alaikum. Kakek! Nenek!" Zira langsung memeluk kakek dan neneknya itu dengan rasa bahagia.


"Wa'alaikumussalam. Sudah sampai ternyata. Apa kabar cucu Kakek yang manis ini, hm?"


"Zira sehat kok,"


"Kek, Nek, kita langsung pamit aja," ujar Afnan menyela.


"Loh? Kok cepet banget? Zira juga belum ada semenit di sini," protes sang kakek.


"Takut kesiangan, Kek. Kegiatan kita sama Fisha bakal padat hari ini. Zira kalau mau tinggal juga gak papa,"


"Enggak, Zira mau ikut Kak Fisha. Nanti Zira ke sini lagi. Gak papa kan, Kek, Nek?" Gagu Zira merasa tak enak.


"Ya udah, gak papa. Fisha udah sarapan?"


"Sudah, Buya,"

__ADS_1


"Ya udah, kalian hati-hati! Pelan-pelan saja bawa mobilnya Afnan!"


"Iya, Kek. Assalamu'alaikum,"


"Wa'alaikumussalam,"


Ketiga manusia itu pun keluar dari ndalem dan menuju mobil. Zira memilih duduk di bangku belakang bersama Fisha. Gadis itu benar-benar menempel pada Fisha dan membiarkan Afnan duduk sendiri di depan layaknya supir. Afnan pun tak mempermasalahkannya, ia tahu bahwa gadis yang dicintainya itu butuh sosok Fisha untuk mengobati rindunya.


Tanpa mereka sadari, ada sepasang mata yang menatap kepergian mereka dengan tatapan yang tak terbaca.


Hampir dua jam setengah perjalanan mereka dari Bandung ke Jakarta. Kini mobil mewah Afnan sudah terparkir apik di pekarangan markas GREXDA. Juga banyak terdapat motor-motor yang terparkir milik anak GREXDA. Tampaknya mereka memang menanti dan menyambut kehadiran Fisha.


"Udah lama gak ketemu anak-anak, aku agak gugup. Mereka nerima aku gak, ya?" Gugup Fisha saat mereka baru keluar dari mobil.


"Mereka udah ngumpul dari kemarin malam saking gak sabarnya mau ketemu sama lo. Apa lagi yang perlu lo takutin?" Afnan menjawab dengan pertanyaan di akhir kalimatnya. Pria itu kemudian langsung berjalan duluan.


"Di dalam juga ada Kak Nia sama Kak Nika. Ayo, Kak!" Zira langsung menarik Fisha untuk masuk ke markas yang bangunannya sangat luas.


"Assalamu'alaikum,"


Yang tadinya sangat berisik menjadi sangat sunyi layaknya kuburan saat Fisha mengucapkan salam.


"Wa'alaikumussalam," balas semuanya setelah membisu sekian detik.


"Fisha!" Sama halnya dengan Zira tadi, Nia langsung memeluk Fisha.


"Nia," Fisha tentu saja membalas pelukan itu.


"Kalian semua apa kabar?" Fisha bertanya sambil melambaikan tangan dan tersenyum canggung.


Anak-anak GREXDA kompak berdiri dari duduknya dan mengelilingi Fisha, tentu saja membuat Fisha kaget.


"Queen apa kabar?" Tanya Akhyar dengan begitu semangatnya membuat Fisha terkekeh.


"Alhamdulillah aku baik. Kalian baik juga, kan?"


"BAIK, QUEEN!"


Fisha kembali terkekeh. Jujur, ia sedikit kaget dengan respon manusia perkumpulan GREXDA ini. Menurutnya mereka terlalu berlebihan.


"Aku senang kalian menerima kehadiranku,"


"Tentu kita senang. Hampir setahun kita gak ketemu," seru salah satu dari mereka dan diangguki setuju.


"So, kegiatan hari ini mau kita mulai dari hal apa?"


"Tentu dengan sarapan! Gue, Akhyar, koki terbaik GREXDA udah masak masakkan terbaik dan terenak sedunia. Ke halaman belakang let's go!!" Akhyar berseru dan menuju halaman belakang.


Monika menarik Fisha untuk menuju halaman belakang, begitu pula dengan yang lain. Mereka semua berkumpul sambil berseru senang. Senyum, tawa dan candaan menghiasi mereka, bahkan saat sarapan sudah dimulai.

__ADS_1


Fisha menatap sekelilingnya, senyum cerah hadir di bibirnya. Tak ada yang berubah dari GREXDA. Tanpa Farel, mereka tetap utuh dan masih terus berhubungan layaknya keluarga. Hubungan mereka terjalin semakin baik dan Fisha senang dengan hal itu.


"Gus, Fisha menjalankan amanah, kan? GREXDA baik-baik aja saat Gus tinggal, tapi Fisha yakin, mereka merindukan dan sangat membutuhkan kehadiran Gus. Gus di mana?" Fisha membatin pilu berharap kata hatinya sampai pada sosok sang Gus, Farel.


"Yang terakhir siap makan harus cuci piring!" Seru Akhyar membuat mereka semua berteriak tak terima, sedangkan yang disoraki sudah tertawa puas. Pekerjaannya berkurang, begitu pikir Akhyar.


Fisha tak ikut berseru, ia hanya terkekeh sambil menggelengkan kepalanya heran. Hanya masalah cuci piring dan mereka berteriak heboh tak terima. Fisha bahagia melihatnya hingga gadis itu memakan makanannya dengan lambat, sengaja agar ia menjadi terakhir.


"Gue udah siap!" Kalimat itu terus bersahutan hingga akhirnya hanya tersisa Fisha dan Zira.


"Kayaknya kita yang harus cuci piring, Ra," bisik Fisha sambil terkekeh.


"Lagian ngapain sih makan cepet-cepet?! Mana nikmat makan buru-buru," balas Zira masih asyik menyuap makanan ke mulutnya.


"Fix, Fisha sama Zira yang cuci piring!" Girang Akhyar yang langsung mendapatkan pukulan di kepalanya.


"Lo nyuruh Queen nyuci piring?!"


"Gak papa, lagian cuma nyuci piring. Kasian Akhyar, dia udah masak sebanyak ini," Fisha menengahi dan menenggak minumnya hingga tandas.


"Tuh, Fisha sama Zira aja gak masalah," Akhyar merasa menang.


"Gak ada akhlak," sinis Afnan membuka suara.


"Lo yang lebih gak ada akhlak! Gue beli bahan makanan malah ditinggal,"


"Bodo,"


"Habis ini kita mau ngapain?" Tanya Fisha sambil membereskan piring makanan bersama Zira.


Sekarang Dylan yang menjawab. Namun pria itu hanya menjawab dengan tawa yang amat menyeramkan bagi Fisha.


"Lo bakal tau setelah pring-piring ini bersih dari noda,"


"Sok misterius lo, Bang!" Nia dengan kesal melemparkan kotak tissue pada Dylan.


"Sensian banget lo sama gue, Neng,"


"Ya udah, kita cuci piring dulu," Fisha membawa piring-piring kotor itu untuk dicuci.


"Biar gue sama Nia bantuin, Sha," Monika langsung menarik Nia menyusul Fisha dan Zira.


"KYAA!! KOK BAWA-BAWA GUE, SIH?!" Teriak Nia kesal.


"NIA GAK ADA AKHLAK! PEMALES BANGET LO!" Balas Dylan mengejek.


"DIEM LO, DYLANJI--"


"KAK NIA! MULUTNYA!!" Suara Zira turut menggema dari dapur dan membuat Dylan tertawa puas, sedangkan Nia sudah mengucapkan sumpah-serapahnya di dalam hati untuk sosok Dylan.

__ADS_1


Tbc...


^^^#as.zey^^^


__ADS_2