Mysterious Gus

Mysterious Gus
#46. Gratter


__ADS_3

..."Meski hanya goresan setengah jadi, aku tau itu dirimu. Karena kamu, terlukis jelas di hati dan pikiranku,"...


...Alfarel...


Tiam menghampiri Farel yang masih asik berperang di dapur. Tiam terlihat lebih segar dengan rambut basah dan pakaian santainya, pria itu hanya mengenakan celana panjang training dan kaos oblong putih, tetap terlihat tampan.


Tiam mendudukkan pantatnya di pantry, memperhatikan Farel yang sangat fokus dengan masakannya. Tiam yakin Farel sedang membuat sushi. Farel memang menggerutu dan menatap sinis, tapi ia tetap memasakkan apa yang ingin Hyeon mau. Bolehkan Tiam merasa kesal dan cemburu?


"Perlu aku bantu?" Meski sedikit kesal, Tiam tetap menawari bantuan.


"Tidak perlu. Kau ingin makan apa? Akan aku masakkan,"


Tiam menggeleng, "Aku makan yang Abang masak saja," jawab Tiam dengan bahasa non formalnya.


Farel tersenyum tipis, sudah lama Tiam tidak memanggilnya dengan sebutan 'abang', Farel senang dengan hal itu. Tiam sangat susah memanggilnya dengan sebutan itu.


"Aku hanya akan menyediakan hot pot dan sushi ini. Kau yakin tidak ingin sesuatu?" Tanya Farel lagi.


"Tidak, itu sudah cukup,"


"Hyung, masih lama? Aku sudah sangat lapar," Hyeon datang sambil mengusap perutnya yang sudah berbunyi kelaparan sedari tadi.


"Sebentar lagi, siapkan peralatan untuk hot pot-nya!"


"Kita makan hot pot?" Tanya Hyeon sambil menyiapkan alat makan.


"Hm," balas Farel meletakkan sushi-nya yang sudah jadi di meja makan.


"Sushi-ku terlihat lezat," Hyeon menatap binar pada sushi.


"Kita akan makan hot pot, mana cocok dengan sushi," celetukan itu datang dari Ha-Jin. Gadis itu sudah memakai pakaian santai yang ia pinjam dari Ae Ri.


"Biarkan saja! Yang penting aku makan sushi," sewot Hyeon.


Farel menghela napasnya berusaha sabar dan melanjutkan pekerjaan yang tak diselesaikan oleh Hyeon.


"Mereka sangat rusuh," kesal Tiam membantu Farel.


"Kau yang baru sehari saja sudah kesal. Bagaimana denganku yang hampir setahun?" Kekehan pelan Farel berikan.


"Kenapa tidak tinggal terpisah saja?"


"Awalnya setelah setahun aku pindah, tapi melihat Ae Ri yang senang dengan Hyeon, aku tidak mau memisahkan dia dari Hyeon. Hyeon juga menyayangi Ae Ri," jelas Farel yang tak ditanggapi lagi oleh Tiam.


Sekarang mereka berlima sudah duduk manis melingkari meja makan. Asap kuah hot pot tampak menggoda di indra penciuman, membuat perut semakin lapar. Setelah berdoa menurut kepercayaan mereka masing-masing, hot pot itu pun mulai disantap.


"Makan yang banyak! Aku tidak mau kau kurus lagi," Farel meletakkan sepotong daging di mangkok makan Tiam. Farel memang orang Indonesia dan sekarang tinggal di Paris, tapi jiwa Korea lebih melekat padanya. Terbukti dari makanan, cara makan dan style-nya.


"Iya, Oppa terlihat lebih kurus sekarang. Apa Oppa tidak memperhatikan kesehatan?" Tanya Ae Ri.


"Tidak, Karaya. Hanya terkadang aku lupa makan karena kerjaan yang menumpuk," bohong Tiam, padahal dia kurus begitu karena tidak nafsu makan memikirkan keadaan Farel.


"Kau kerja apa?" Hyeon bertanya dengan bahasa Indonesia yang terdengar kaku. Tinggal bersama Farel dan Ae Ri membuat pria itu bisa sedikit bahasa Indonesia meski belepotan.


"Yang pasti uangku lebih banyak dibanding milikmu," Tiam menjawab dengan bahasa Korea, ia yakin pria itu susah mengerti nanti jika dijawab dengan bahasa Indonesia pula.


"Sangat sombong," kesal Hyeon yang Tiam acuhkan.


"Masakan Oppa Al memang selalu enak," Ha-Jin berbicara dengan mulut penuh, matanya menatap bahagia makanan yang tersaji.

__ADS_1


"Dia sering makan di sini?" Tanya Tiam.


"Selalu," Hyeon yang menjawab sambil melirik Ha-Jin kesal, sedangkan yang disindir tidak tahu apa-apa.


"Kau sudah sholat zuhur?" Tanya Farel.


"Sudah selesai mandi tadi. Kupikir Abang sudah sholat sebelum kita bertemu tadi," balas Tiam mendongak menatap Farel yang sudah bangkit dari posisi duduknya.


"Lanjutlah makan, aku sudah selesai," ujar Farel dan bergegas masuk ke kamarnya untuk sholat zuhur.


"Hyung terlihat sangat menyayangimu, sedari tadi dia tidak berhenti menatapmu, meski dia sedang memasukkan makanan ke mulutnya," Hyeon mengatakan perasaannya.


Tiam hanya tersenyum tipis dan meletakkan sumpitnya sebagai tanda ia sudah selesai makan. Tanpa banyak bicara, pria itu meninggalkan meja makan dan berpindah ke ruang depan untuk bersantai. Ia terlalu malas untuk membereskan peralatan selesai makan, mereka terlalu berisik untuk Tiam yang menyukai kesepian.


Bermain ponsel adalah hal yang Tiam lakukan hingga akhirnya ia merasakan pergerakan di sampingnya, yang ternyata adalah Ae Ri dengan peralatan melukisnya. Di depannya ada Hyeon dan Ha-Jin yang juga dengan peralatan melukisnya.


"Kau mau melukis? Tidak lelah?" Tanya Tiam saat Ae Ri bersandar di bahunya dengan wajah yang tampak berpikir, gadis itu mengetuk-ngetukkan kuasnya pelan di dagu.


"Iya, untuk tugas sekolah. Aku tidak lelah, melukis adalah hal yang mudah untuk aku lakukan,"


"Lalu ada apa dengan wajahmu? Kau tampak berpikir keras," tanya Farel datang dan duduk di sebelah Ae Ri, jadilah gadis itu duduk di tengah.


"Guruku bilang, setiap pelukis memiliki ingatan yang kuat dan dalam ingatan itu pasti ada seseorang yang mengesankan. Aku diberi tugas untuk melukis seseorang yang mengesankan itu,"


"Bukan kah kamu banyak mengenal orang mengesankan? Bertemu denganku contohnya," ujar Hyeon dengan percaya dirinya, sedangkan Ae Ri sebagai gadis baik hati hanya terkekeh kecil.


"Ehhmmm,," gumam Ae Ri masih asik bersandar di bahu Tiam dengan pikiran berkelana untuk memikirkan hal apa yang berkesan baginya.


"Jangan terlalu memaksakan diri. Kau baru pulang sekolah, kasian otakmu harus berpikir terus," nasehat Tiam.


"Aku tau harus melukis apa!" Girang Ae Ri kemudian mulai membuat sesuatu di kanvasnya.


"Kau melukis siapa?" Tanya Ha-Jin.


"Siapa?"


"Aku juga tidak tau. Tapi dia sangat mengesankan. Kau melukis siapa, Ha-Jin?" Ae Ri balik bertanya.


"Tentu saja Oppa Al," jawab Ha-Jin tersenyum menggoda ke arah Farel, sedangkan Farel hanya bisa bersabar.


Ae Ri terkekeh, "Kau sangat terobsesi pada Oppa-ku,"


"Oppa-mu sangat tampan, aku menyukainya," cengir Ha-Jin membuat Farel kesal, begitu pula Tiam, berbeda dengan Ae Ri dan Hyeon yang tertawa.


Hampir lima belas menitan mereka membisu. Ae Ri pun masih sibuk dengan karya lukisnya. Sesekali keningnya berkerut untuk mengingat sosok itu.


"Aish, aku lupa tasnya berwarna apa," gerutuan Ae Ri memenuhi ruang depan.


"Kau melu--" Farel mengalihkan pandangannya dari ponsel untuk melihat lukisan Ae Ri, namun kalimatnya terhenti saat melihat lukisan Ae Ri yang sudah setengah jadi.


"Kau?" Farel menatap Ae Ri dan lukisan itu secara bergantian. Meski masih setengah jadi, Farel tau siapa sosok itu. Ia adalah orang lain yang selalu memenuhi hati dan pikirannya, Fisha.


Ae Ri tersenyum manis sambil mengangguk, "Foto yang pernah Tuan Jong kirim waktu itu. Yang katanya dari Oppa Tiam. Oppa mengenalnya ternyata, padahal masih setengah jadi,"


"Siapa? Memang foto siapa yang aku kirim? Aku terlalu banyak mengirim foto dan ti---" kalimat Tiam pun ikut menggantung saat ia menoleh pada lukisan.


"Kau tau dia?" Tanya Tiam.


"Tidak, Oppa langsung menarik ponselnya saat itu, jadi aku tidak melihat jelas dan lupa-lupa ingat. Saat aku tanya siapa gadis itu, Oppa tidak menjawab,"

__ADS_1


Tiam mengangguk dan menggeser-geser layar ponselnya, kemudian Tiam menunjukkan sebuah foto yang Ae Ri maksud.



"Ini?" Tiam memastikan dan membuat senyum Ae Ri mengembang manis. Tangannya merampas ponsel Tiam dan kembali melanjutkan lukisannya.


Farel menatap sendu lukisan setengah jadi milik Ae Ri-nya. Ia merindukan gadis itu, tapi tidak bisa berbuat apa-apa. Ia ingin bertemu, memeluknya juga kalau perlu, tapi lagi-lagi ia tak bisa berbuat apa-apa. Saat ini, tubuhnya bagaikan dirantai.


"Kau tidak mengenalnya, tapi kau menyukainya?" Tanya Tiam saat melihat senyum Ae Ri tak pernah luntur.


"Aku tidak mengenalnya, tapi aku menyukainya. Dia terlihat sangat cantik meski aku belum melihat wajahnya,"


"Kau menggambar siapa? Kau bahagia sekali," Ha-Jin penasaran karena senyum girang Ae Ri, ia pun melihat lukisan sahabatnya itu.


"Dia siapa? Aku tidak pernah melihatnya," heran Ha-Jin.


"Aku juga tidak mengenalnya. Tapi sepertinya Oppa-ku sangat menyukainya," Ae Ri melirik jahil pada Farel.


Farel tersenyum tipis dan mengusap kepala Ae Ri, "Oppa menyayanginya, sama seperti Oppa menyayangimu. Apa kau keberatan?"


"Tidak, karena aku yakin, dia juga akan menyayangiku seperti dia menyayangi Oppa,"


"Lalu, aku bagaimana? Tidak dianggap?" Celetuk Hyeon dengan wajah kesal.


"Aku melarangnya untuk menyayangimu!"


"Memang dia siapa?"


"Gadisnya," jawab Tiam dalam bahasa Korea, sengaja agar gadis bernama Ha-Jin itu penasaran.


"Gadisnya? Siapa gadis? Gadisnya siapa?" Benar saja, Ha-Jin dengan kepo bertanya.


"Yang aku lukis ternyata gadis Oppa-ku," jawab Ae Ri membuat Ha-Jin terdiam sekian detik lalu mengangguk dan kembali melukis.


Tiam tersenyum tipis, dia senang gadis itu tidak mendekati Farel lebih jauh lagi. Tiam lakukan untuk kebaikan gadis itu, sebelum ia jatuh terlalu dalam.


Farel tersenyum meski sangat tipis, mengabaikan pertikaian itu, "Keberatan kah kamu Oppa Tiam membawanya pulang dan memberikan lukisan itu padanya?"


"Tentu saja aku tidak keberatan!"


"Jangan lupa kalau itu tugas sekolah, Karaya," peringat Tiam yang mengundang helaan napas Farel. Dia lupa kalau itu tugas Ae Ri.


"Tidak masalah, ini untuk tugas dan aku akan melukis yang lebih bagus,"


"Kau akan kelelahan. Tidak usah kalau begitu," putus Farel.


"Tidak! Aku mau! Melukis bukan hal yang sulit untukku!" Keras kepala Ae Ri sama seperti keras kepala Farel, akhirnya Farel pun hanya bisa menyetujuinya.


"Aku ingin bicara denganmu," Farel bangkit dari duduknya dan berjalan keluar rumah, Tiam pun tanpa banyak bicara langsung mengikuti.


"Mereka mau bicara apa?" Kepo Hyeon.


"Tidak tau,"


"Kau patah hati, Ha-Jin?" Hyeon bertanya pada Ha-Jin yang wajahnya sekarang berubah menjadi kusut.


"Tidak,"


"Okey,"

__ADS_1


Tbc...


^^^#as.zey^^^


__ADS_2