
..."Hidupku memang tidak akan bisa berjalan dengan baik jika aku tidak bisa menerima diriku sendiri dan takdir yang telah Allah tetapkan untukku,"...
...Farel...
Operasi Farel yang dimulai pukul sebelas malam tak kunjung selesai hingga azan subuh berkumandang. Hal itu semakin membuat mereka khawatir.
Kini, di depan ruang operasi itu hanya tersisa Hutama, Xander dan Tiam, sedangkan yang lainnya disuruh Xander pulang, termasuk Raima. Memang awalnya Raima menolak, tapi berhasil dibujuk Hutama dengan mengkhawatirkan kondisi janinnya.
Hutama menatap kosong pintu operasi yang tak kunjung terbuka itu. Sedangkan Xander sibuk dengan ponselnya bersama Tiam yang terlelap di bahunya.
"Tiam?!" Pangil Xander membangunkan Tiam.
Tiam menggeliat pelan dan perlahan kembali ke alam nyata, "Ada apa, Tuan? Sudah selesai operasinya?" Tanya Tiam dengan suara seraknya.
"Belum,"
"Lalu?"
"Wanita kemarin,"
"Siapa? Yang di taman?"
"Iya,"
"Ada apa dengannya, Tuan?"
"Dia tidak bersuami,"
Tiam terkekeh kecil mendengar ucapan Xander, "Tuan tertarik?"
"Dia hampir pernah menjadi korban pelecehan,"
"Tuan asik dengan ponsel mencari data dirinya?"
"Hm,"
"Tuan tertarik?" Pertanyaan Tiam membuat Xander diam membisu. Dirinya pun tidak tahu mengapa dengan suka rela mencari identitas wanita bernama Mayang itu.
Tiam tersenyum tipis, "Saya senang akhirnya Tuan tertarik dengan wanita," ujar Tiam yang langsung mendapatkan pukulan di keningnya.
"Kau pikir aku ini pria tidak normal?!" Sinis Xander membuat Tiam terkekeh.
"Lampunya padam!" Seru Hutama bangkit dengan kasar dari duduknya, begitu pula dengan Xander dan Tiam.
Tak lama setelah lampu padam, Farel dibawa keluar dari ruangan dingin itu. Alat-alat yang menempel pada tubuhnya lebih banyak dari sebelumnya. Mata indah nan tajam itu benar-benar terpejam menyelami alam bawah sadar.
"Farel?!" Panggil mereka meski tahu tak akan ada jawaban saat mengelilingi brankar Farel.
"Bagaimana, Dok?" Tanya Hutama.
"Operasi berjalan lancar. Pasien akan kembali ke ruang ICU untuk observasi lebih lanjut tentang tingkat keberhasilan operasinya," jelas Dokter Ben yang diangguki ketiga pria itu.
"Kapan Farel akan sadar?"
"Jika pasien mampu melewati masa kritisnya, siang hari pasien pasti sadarkan diri dan akan kami pindahkan ke ruang inap. Tapi jika kondisi pasien tidak mengalami kemajuan, maka masih harus diobservasi lebih lanjut,"
"Baiklah," balas Hutama dan Dokter Ben segera meminta para perawat membawa Farel menuju ICU.
"Lebih baik kita sholat subuh dulu," saran Tiam membuyarkan lamunan Hutama dan Xander yang sedang menatap Farel dari dinding kaca.
Hutama dan Xander hanya merespon dengan anggukan dan meninggalkan Tiam, membuat pria muda itu menggerutu sambil menyusul.
***
Satu jam setelah pasca operasi, di ruang ICU Farel kembali diperiksa oleh Dokter Ben.
"Pasien telah melewati masa kritisnya," jelas Dokter Ben membuat mereka mengucap hamdalah bersamaan.
"Pasien akan dipindah ke ruang inap jika telah siuman. Mungkin menjelang siang nanti akan sadar saat efek biusnya hilang," lanjut Dokter Ben membuat mereka semakin lega.
"Saya akan hubungi keluarga saya dulu," ujar Hutama dan segera menghubungi Luqman, adiknya untuk menyampaikan berita baik itu pada semuanya.
***
Ruang besar bernuansa serba putih dan berbau obat-obatan itu dipenuhi keluarga Farel.
Ya, Farel telah siuman sebelum waktu zuhur tadi dan sekarang sudah berada di kamar VVIP yang diminta Hutama.
__ADS_1
Farel menatap kosong langit-langit kamar inapnya, menghiraukan keluarganya, bahkan Raima yang berstatus umma-nya.
"Nak, kenapa diam? Kamu butuh sesuatu?" Tanya Raima, namun putranya itu hanya bungkam dengan tatapan kosong.
"Farel?" Panggil Hutama dan Farel merespon dengan menolehkan kepalanya menatap Hutama.
"Kenapa? Ada yang sakit?"
"Tinggalkan Farel sendiri!" Minta Farel dan kembali menatap langit-langit kamar.
"Kenapa? Ada apa?"
"Keluar!" Usir Farel namun sangat menyayat hati mereka. Untuk pertama kalinya Farel bertingkah seperti itu terhadap mereka.
"Lebih baik kita turuti kemaun Farel. Mungkin Farel ingin istirahat," saran Luqman yang diangguki mereka dan keluar dari ruangan itu.
"Aku bukan anak Hutama. Aku adalah anak pembawa sial. Aku bukan putra Hutama, tapi aku adalah putra Adji Barra, pria baj*ngan yang menyakiti Ummaku," ucap Farel membatin dengan tangan terkepal dan mata memerah menahan tangis.
Farel berusaha merubah posisinya menjadi duduk, menghiraukan rasa sakit yang teramat di kepalanya.
"Aku bukan anak Hutama! Kenapa? Kenapa aku harus menjadi anak dari seorang pria baj*ngan seperti Adji Barra?! Kenapa harus aku, Allah? Kenapa harus aku?!" Gumam Farel dengan air mata yang tak terbendung lagi.
"ARRGGHHH!!!" Teriak Farel frustasi dengan kasar melepas infusnya, punggung tangannya pun mulai dibaluri darah.
"ARRRGHH!!! KENAPA HARUS AKU?!" Teriak Farel turun dari ranjang dan membanting semua yang ada di sekitarnya.
"KENAPA AKU HARUS TAU FAKTA ITU?! KENAPA HARUS AKU YANG MENJADI PUTRA PRIA ITU?! KENAPA AKU?! ARRGHHH!!!" Teriak Farel mulai meny*yat tangannya dengan pisau buah yang ada.
Farel, pria tampan dingin itu memang memiliki self injury. Diam-diam dia sering menyakiti dirinya sendiri. Tentunya Hutama dan Raima tidak tahu.
Darah kembali memenuhi tubuhnya hingga mengenai baju.
Sedangkan di luar kamar inap Farel, mereka semua merasa heran dengan tingkah Farel. Sibuk dengan pikirannya masing-masing hingga Xander dan Tiam menghampri mereka. Kedua pria berbeda usia itu memang sempat pergi setelah beberapa saat Farel siuman.
"Kenapa kalian di luar?" Tanya Xander.
"Farel meminta kami keluar,"
"Farel sendiri di dalam? Kamar ini kedap suara bukan?"
"Dia sendiri dan kamar ini memang kedap suara,"
"Ada apa, Dok?"
"Pasien melakukan self injury. Terpantau dari CCTV. Kami akan membius pa--"
"Tidak perlu! Aku akan menanganinya," potong Xander dan masuk ke dalam kamar inap Farel.
Cucunya itu masih asik melukai dirinya sendiri dengan suara tawa sumbangnya. Xander sakit melihat Farel seperti itu. Padahal self injury Farel sudah lama tidak terlihat dan kini dia harus kembali melihat Farel melukai dirinya.
"Asz?!" Panggil Xander menghampiri Farel dan mencampakkan pisau yang digenggaman Farel.
Farel menatap Xander dengan senyumnya dan tertawa layaknya anak kecil setelah keinginannya terwujud. Namun Xander dapat melihat jelas kepedihan di mata Farel.
Xander berlutut di hadapan Farel dan memeluknya dengan erat. Farel menyembunyikan wajahnya di ceruk leher pria yang disapanya 'kakek' itu.
Farel tertawa, namun air mata yang keluar dari matanya tak bisa bohong bahwa dia tidak baik-baik saja.
"Kenapa harus aku, Yah? Kenapa aku harus menjadi anak dari baj*ngan itu? Kenapa pria breng*ek itu harus menjadi sepupu kandungku? Kenapa aku harus tau fakta ini? Kenapa harus aku yang menerimanya, Yah?! KENAPA HARUS AKU?!" Keluh Farel berteriak di akhir kalimatnya. Panggilan kakek yang biasa ia gunakan untuk mengejek Xander berganti menjadi panggilan yang seharusnya, Ayah.
Xander mengusap lembut punggung Farel, membiarkannya berkeluh kesah.
"Kenapa harus aku?! Apa ini hukuman untukku? Tapi kenapa aku harus menerimannya bahkan saat sebelum aku ada di dunia ini?! Bahkan aku harus memiliki kenyataan keji ini. AKU TIDAK MAU MENJADI ANAKNYA, YAH!!"
"Asz, kau adalah anakku yang kuat. Aku percaya ini bukan hukuman untukmu, tapi Tuhan sedang mengujimu agar kau lebih dekat pada-Nya,"
Farel menggeleng dalam pelukan itu, "Tapi kenapa harus aku dengan cerita menjadi anaknya?! Aku benci kenyataan ini!"
"Asz, seharusnya kau tau, Allah tidak akan mengujimu jika kamu tak sanggup. Berarti kau sanggup melewati ini semua,"
"Ayah, bunuhlah aku! Dengan begitu aku bisa menerima kenyataan ini,"
"Bicara apa kau ini?! Kau ingin meninggalkan Ummamu? Abahmu? Pria yang amat menyayangimu melebihi hidupnya? Kau mau meninggalkan mereka begitu saja, Asz? Tidakkah kau ingin melindungi Ummamu?"
Farel terdiam dan semakin masuk ke dalam pelukan Xander, menumpahkan semua rasa sakitnya dalam pelukan itu. Dia tidak peduli dianggap lemah, cengeng atau apapun itu. Rasa sakitnya lebih penting untuk ditumpahkan dibanding harga dirinya.
"Kau harus menerima takdirmu, Asz. Itu yang sedari dulu kuucapkan padamu. Kau harus bisa menerima dirimu sendiri, meskipun dengan perasaan remuk. Aku tau ini berat untukmu, kau benci dengan kenyataan yang kau miliki, tapi kau harus ingat dengan kenyataan indah yang kau punya! Kau punya aku, Tiam, Ley, Raima, Hutama, adik-adikmu, dan yang lain. Bahkan sekarang kau akan memiliki adik lagi. Tidakkah kau ingin melihat adikmu lahir ke dunia?"
__ADS_1
"Aku takut, Yah. Aku takut. Aku takut dengan fakta yang kupunya. Aku takut adik-adikku membenciku karena aku bukanlah abang kandung mereka, aku tidak sedarah dengan mereka. Aku takut mereka tidak menerimaku, termasuk sahabat-sahabatku. Aku saja tidak bisa menerima diriku sendiri, terlebih lagi mereka,"
"Jika mereka memang mencintaimu, mereka pasti akan menerima faktamu, Asz. Percaya padaku!"
"Aku melihat Adji beberapa hari lalu, tepatnya saat acara ulang tahun sekolah. Dia bersama Zaki, yang ternyata dia adalah sepupuku,"
"Aku tau. Aku tau pria itu sudah kembali menampakkan diri. Dan aku tau keinginanmu semakin besar untuk melindungi Ummamu. Bertahanlah, Asz! Ada aku yang berjalan di belakangmu, yang akan selalu menahanmu saat kau ingin jatuh. Ada Tiam yang berjalan di depanmu untuk menarikmu saat kau ingin lari dari kenyataan. Ada Ley yang berjalan di sampingmu, untuk menuntunmu saat kau hilang arah,"
"Ae Ri," gumam Farel.
"Dan kau masih punya Ae Ri untuk kau jaga dan kau ajak melihat dunia yang sebenarnya. Mempertemukan dia dengan ayah kandungnya. Ada Ae Ri yang harus kau cintai,"
"Di saat aku melindungi mereka, menyayangi mereka dan mencintai mereka, dari mana aku mendaptkan timbal baliknya? Apa harus aku yang selalu berada di posisi itu?"
"Ada Allah yang sangat mencintaimu, Asz. Kau tahu, kan? Semakin besar ujian seseorang, maka semakin besar cinta Allah terhadap hamba-Nya. Juga ada aku,"
"Kau tau Kakek?" Tanya Farel mulai berhenti menangis dan mendongakkan kepalanya menatap Xander. Panggilannya sudah kembali sepertia biasa dan Xander senang mendengarnya.
"Apa?"
"Aku melihatmu bersama seorang wanita. Kau sangat bahagia dengan wanita itu. Dalam mimpiku, aku melihat kau dan dia berada dalam sebuah masjid yang indah," jelas Farel membuat Xander terkekeh.
"Kau ingin aku menikah. Begitu?" Kekeh Xander sambil memapah Farel untuk kembali berbaring. Untung saja bekas jahitan di kepala Farel tidak terbuka.
"Aku tidak mengarang cerita," jawab Farel dan meminum air yang diberikan Xander.
"Aku tidak bilang kalau kau mengarang cerita,"
"Tapi kau bertanya seolah-olah aku mengarang," kekeh Farel yang menular pada Xander. Xander senang Farel sudah mau tertawa.
Dokter Ben dan yang lainnya masuk ke kamar saat mereka melihat dari CCTV menunjukkan Farel sudah membaik.
"Bersihkan dulu luka-lukamu itu!"
"Aku tidak mau," tolak Farel.
"Maka aku tidak akan mengatakannya padamu,"
"Kau mau bilang apa?"
"Setelah lukamu dibersihkan,"
Farel berdecak dan mengangguk pertanda setuju lukanya dibersihkan. Suster pun dengan sigap membersihkan luka Farel dan kembali menginfus Farel.
"Ah, aku lupa kalau aku ada urusan," keluh Xander saat luka Farel telah bersih dan Farel menatapnya dengan tatapan menuntut.
"Jangan berpura-pura!"
"Aku tidak berpura-pura. Lain kali akan aku ceritakan. Istirahatlah dengan baik! Aku tidak mau melihatmu seperti tadi," balas Xander dan tanpa pamit langsung pergi meninggalkan ruangan putih itu sambil menyeret Tiam yang menggerutu kesal.
"Lebih banyaklah istirahat, Farel! Jika kamu istirahat dengan benar, kamu bisa pulang lebih cepat. Saya tinggal dulu," pesan Dokter Ben dan kembali dengan aktifitasnya yang lain sebagai seorang dokter.
Farel menoleh menatap Raima dengan senyum manis dan merentangkan tangannya, "Umma," lirih Farel yang pelukannya disambut hangat oleh sang ibu.
"Jangan buat Umma sedih, Nak! Jangan menyakiti diri lagi! Jangan buat Umma merasa menjadi ibu yang buruk!" pinta Raima kembali menangis.
"Maaf Umma,"
Raima mengangguk dengan senyum hangatnya dan mengusap pelan rambut Farel, "Jangan bikin Umma khawatir!"
"Iya,"
Farel menoleh menatap Hutama yang juga menatapnya dengan tatapan sendu, namun ada senyum hangat di bibirnya.
"Maaf Abah,"
Hutama mengangguk dan turut memeluk putranya dengan kehangatan, "Jangan tinggalkan Abah!"
"Iya,"
"Janji sama Abah kalau kamu akan sembuh! Tidak akan membuat Abah khawatir lagi?"
"Janji,"
"Pintar anak Abah," puji Hutama layaknya Farel itu adalah anak kecil, sedangkan Farel hanya terkekeh kecil diperlakukan seperti itu. Dalam hatinya kembali merasakan sakit dan bahagia secara bersamaan. Sakit karena mengingat Hutama bukan ayah kandungnya dan bahagia Hutama mencintainya.
"Kamu adalah anak Abah! Tidak ada yang bisa mengambilmu dari Abah, termasuk Adji!" Batin Hutama.
__ADS_1
Tbc...
^^^#as.zey^^^