
..."Allah, jangan sadarkan aku kalau ini adalah mimpi! Karena ini adalah mimpi terindah sepanjang hidupku,"...
...Fisha...
...***...
Fisha menggeliat saat indra penciumannya mendapati wangi minyak kayu putih. Wangi itu menarik kesadarannya dari pingsan setelah kata 'SAH' tadi terdengar lantang.
Mata lentik Fisha mengerjap karena merasa silau. Tepukan di lengannya membuat Fisha sadar sepenuhnya.
"Fisha, bisa dengar Mama?" Fisha langsung berusaha merubah posisinya menjadi duduk.
"Ma," lirih Fisha gagu, merasa belum terima saat mengingat bahwa dia sekarang adalah istri dari sosok Aiden Aslen, si pria psikopat.
"Kamu ini gimana sih, Sha?! Masa siap akad nikah malah pingsan! Malu sama suami kamu," ujar Layla membuat Fisha meringis malu.
"Mama sama Umma kok matanya sembab?" Heran Fisha melihat kedua wanita itu yang tampak siap menangis.
"Gak papa, Mama sama Umma senang aja. Fisha udah jadi seorang istri sekarang,"
Fisha hanya mengangguk, menyembunyikan rasa sedihnya.
"Ya udah, Fisha di sini dulu. Umma sama Mama tunggu di bawah. Suami kamu udah nungguin kamu bangun di depan pintu," Raima terkekeh di akhir kalimatnya, menambah rasa malu pada diri Fisha.
Fisha menatap pintu kamarnya yang sudah tertutup. Demi apapun, dia sangat gugup sekarang. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana kalau Aiden masuk ke kamarnya.
Tok Tok Tok
Suara ketukan itu menambah ketegangan di hatinya.
"M-masuk aj-aja!" Fisha tak mau membukakan pintu, jadi ia hanya berseru dengan gagu.
Cklek
Berujar kesal dalam hati adalah hal yang Fisha lakukan. Saat pintu mulai terbuka, Fisha menunduk dengan susah payah menelan salivanya.
Sekarang keringat dingin mulai memenuhi tangan Fisha. Tangannya bertautan saat ia mendengar suara langkah kaki mendekat.
Saat kaki itu berhenti di hadapannya, wajah Fisha penuh heran.
Kaki dibalut sepatu pantofel hitam mengkilat. Bukan sepatunya yang membuat ia heran, tapi orang itu tampak menggunakan tongkat.
Dengan perlahan namun pasti, Fisha mulai mendongakkan kepalanya melihat sosok itu yang seharusnya ia yakini adalah Aiden.
Mata yang membola dan tubuh yang refleks berdiri adalah hal yang Fisha lakukan saat melihat sosok itu.
"GUS?!" Pekik Fisha hingga terdengar oleh orang tuanya dan yang sedang menunggu di balik pintu.
Sosok yang Fisha teriaki 'Gus' itu tampak tersenyum tipis namun manis. Mata Fisha seketika memerah, genangan air mulai memenuhi matanya. Tanpa izin dan aba-aba, Fisha langsung memeluk sosok itu begitu erat, menangis tersedu-sedu dalam pelukan yang langsung dibalas oleh orang itu.
__ADS_1
"Gus hiks hiks," Fisha tak mampu berkata-kata. Ia hanya menyebutkan 'gus' di sela-sela tangisnya.
"Maaf," hanya satu kata yang diucapkan oleh sosok gus yang tentu saja maksud Fisha adalah Gus Farel.
Ya!! Shaquille Alfarel Pramayudha sudah kembali!
Fisha menggeleng, "Pasti ini mimpi!" Fisha tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi.
Farel tidak ingin meyakinkan Fisha. Ia hanya semakin mengeratkan pelukannya dan menumpu dagu di kepala Fisha hingga mahkota kecilnya sedikit miring.
Farel tidak menangis, tapi matanya memerah. Gadis yang selama ini ia rindukan dan ingin dia dekap, akhirnya bisa ia temui dan dekap.
Tak ada suara antara keduanya. Mereka hanya diam melepas kerinduannya dengan pelukan erat seakan tak ingin berpisah lagi.
"Sampai kapan mau begini?" Tanya Farel saat pelukan mereka sudah bertahan hampir setengah jam lamanya.
Fisha menggeleng tegas, "Biarin Fisha nikmatin mimpi ini," Farel terkekeh mendengar jawaban Fisha. Ternyata gadisnya masih mempercayai bahwa hari ini adalah mimpi.
"Saya tidak bisa berdiri lama-lama," ungkap Farel membuat Fisha mendongak tanpa melepas pelukannya.
"Ya udah, sambil duduk aja," Fisha tanpa pikir panjang membawa Farel duduk di ranjang, tentu tanpa melepas pelukannya.
Mereka yang sedari tadi menatap haru di balik pintu menjadi terkekeh melihat tingkah Fisha yang seperti bukan seorang Fisha.
"Kalian ngapain di situ?! Sana! Fisha lagi mimpi indah!" Sinis Fisha ke arah pintu.
"Nih, gue cubit!" Nika mencubit gemas pipi Fisha sampai gadis itu meringis sakit.
"Sakit, kan?! Itu artinya bukan mimpi! Tuh, Gus lo udah pulang dengan gak tau dirinya!" Nika dengan lancang menunjuk-nunjuk Farel.
Nika memang berharap Farel pulang, tapi entah mengapa saat melihat sosok Farel muncul, ia menjadi kesal.
"Gimana bisa Gus ada di sini?!" Fisha tak habis pikir.
"Nanti aja jelasinnya! Buruan kalian keluar! Itu penghulunya udah nungguin! Ngurus berkas-berkas dulu!" Tiam datang bersama Karaya. Pria itu berujar dengan kesal, sedangkan Karaya hanya menatap lugu.
Farel mengangguk sebagai jawaban dan berusaha berdiri dengan tongkat barunya. Farel sudah bisa berjalan tanpa harus saat terapi. Tapi ia tak bisa bertahan lama, paling lama hanya dua jam ia bisa berdiri dan harus dibantu dengan tongkat yang tentunya tongkat mahal.
"Kaki Gus kenapa?" Tanya Fisha saat mereka menuruni tangga dengan amat perlahan karena Farel yang tampak kesulitan.
"Saya lumpuh sementara. Sedang terapi dan tidak bisa berdiri atau berjalan lama," jelas Farel membuat Fisha shock. Batinnya tentu bertanya-tanya tentang hal apa yang sudah terjadi pada Farel yang sekarang berstatus suaminya.
Iya, jadi sekarang Fisha itu istrinya Farel, bukan Aiden. Fisha juga tidak tahu bagaimana jelasnya. Yang ia tahu, perasaannya lega dan amat bahagia.
"Baru kali ini saya mendapat tragedi seperti ini saat menjadi penghulu," pak penghulu menatap salut pada kedua pengantin baru itu.
"Telah merepotkan anda," meski wajahnya datar, Farel menunjukkan rasa maafnya dengan sedikit membungkuk.
"Gak papa, pengalaman untuk saya. Silakan tanda tangani surat nikahnya!"
__ADS_1
"Kenapa bisa?!" Heran Fisha menatap buku nikahnya bersama Farel.
"Akan saya jelaskan nanti," jawab Farel sambil menyematkan tanda tangannya dan diikuti oleh Fisha.
"Silakan bertukar cincin, istri mencium tangan suami dan suami mencium kening istri,"
Fisha tersenyum manis menatap cincin indah yang melingkar di jarinya. Cincin itu sangat pas di jari manis kanannya.
Lagi, Fisha kembali menangis saat mencium tangan Farel dengan takzim.
"Saya sudah di sini, kenapa masih menangis?" Farel menghapus air mata istrinya. Untung saja make up-nya tidak luntur.
"Fisha bahagia, tapi Fisha takut kalau semua ini bohong,"
"Saya menepati janji dan ini akan meyakinkan kamu,"
Farel langsung mencium kening Fisha, membuat suasana yang haru semakin haru. Mata keduanya saling terpejam meresapi sentuhan mereka yang berlangsung cukup lama.
"Ya Allah, sesungguhnya aku mohon kepada-Mu kebaikan dirinya dan kebaikan yang Engkau tentukan atas dirinya. Dan Aku berlindung kepada-Mu dari kejelekannya dan kejelekan yang Engkau tetapkan atas dirinya," doa Farel dalam hatinya.
"Jangan pergi lagi!" Lirih Fisha menatap Farel penuh harap.
"Tidak akan!" Farel membawa Fisha dalam pelukannya, berharap pujaan hatinya merasa tenang dan tidak lagi merasa cemas.
"Ya Allah, terima kasih, Engkau adalah Maha Cinta dan sebaik-baiknya memberikan jodoh,"
"Terima kasih, Allah, Engkau masih berikan aku kesempatan untuk memilikinya,"
"Sudahi dulu sesi haru biru ini! Ayah rasa, kamu dan Tiam perlu menjelaskan sesuatu!" Xander dengan tidak sabarnya merusak suasana.
Tiam berdehem, membuat seluruh perhatian beralih padanya, "Sebenarnya,,,"
"Berbicaralah yang benar, Altiam!" Greget Xander membuat Tiam tertawa puas nan mengejek.
"Setidaknya kita selesaikan dulu acara ini dan kita akan ke Jakarta. Aku dan Abang akan menjelaskannya di mansion Abah Tama,"
"Tidak masalah! Awas kalau kalian bermain-main lagi!" Ancam Xander yang kembali dihadiahi Tiam dengan tertawa puas.
"Anak tidak ada akhlak!" Kesal Xander.
Tbc...
Hiks!! Hahahhahahahahaha!!! Tau gak sehh, aku geregetan ngetiknya wkwkwkwk
AKU BAPERRR PARRRAAHH!!
Siapa nih yang masih atau udah buka mata? Jangan lupa tahajjud yaw, kan udah seneng:)
^^^#as.zey^^^
__ADS_1