Mysterious Gus

Mysterious Gus
#23. Kedatangan Adji Barra


__ADS_3

..."Luka yang sudah kucoba untuk sembuhkan selama bertahun-tahun, kembali kau ngangakkan hanya dalam hitungan detik," ...


...Farel...


Farel memasuki sebuah ruangan yang sangat minim cahaya. Namun netra tajamnya masih dapat melihat dengan jelas bahwa ada Sisil yang dirantai dan Ley yang dengan santainya duduk bersila menatap Sisil sambil mengemut permen tangkai.


Farel menggeleng heran dengan kaki yang terus melangkah mendekati Ley. Menatap Sisil tanpa iba, justru amarah kembali menguasai dirinya saat mengingat gadis itu membully Fisha.


"Apa kau tidak ada kegiatan lain?" Tanya Farel heran.


"Untuk apa aku mencari kegiatan lain jika sudah ada kegiatan yang jauh lebih menyenangkan,"


"Dungu,"


"Terserahmu! Kenapa kau lama sekali? Kurasa tak baik menikmatinya sendiri,"


"Apa kau pikir aku punya banyak waktu luang?!"


"Cih, bilang saja kau masih harus menjaga dan mengkhawatirkan Fisha!"


"Bukan urusanmu!" Sewot Farel mendudukkan tubuhnya ke kursi.


"Bodo amat! So, akan kau apakan dia?"


"Saranmu?"


Ley menggelengkan kepalanya sambil mengangkat bahu, "Entahlah. Tapi kalau aku, tentu saja aku akan menyiksanya. Salah sendiri telah mengusik gadisku,"


"Gadisku!" Marah Farel mendorong kepala Ley yang tepat dihadapannya.


"Ck, kau ini pemarah sekali! Itu, kan, IBARATNYA!"


"Oh,"


"Cih! Jadi akan kau apakan?"


Farel menatap tajam kepada Sisil yang sudah tak berdaya dan menatapnya takut. Farel tak peduli dan senyum licik terukir manis di bibirnya.


"Saranmu boleh juga,"


"Of course,"


"Lepaskan saja dia!" Suruh Farel bangkit dari duduknya dan hendak pergi meninggalkan ruangan remang itu.


"Hah?! Apa maksudmu 'lepaskan'? Bukan kau mau menyiksanya?"


"Lepaskan saja! Aku mau pulang," jawab Farel dan setelahnya tubuh tegap itu benar-benar tak terlihat.


"Apa yang akan Asz lakukan padamu, ya, Bi*ch?" Tanya Ley dengan polosnya sambil melepaskan rantai yang mengikat Sisil.


Sisil hanya terdiam. Tubuhnya sudah terlalu lemas untuk menjawab, tubuhnya pun masih bergetar ketakutan.


"Ck, kau ini mental kentang! Baru segitu saja kau sudah ketakutan. Pergilah kau dari hadapanku! Pria di depan gerbang akan mengantarkan kau pulang," sambung Ley setelah ikatan rantai terlepas dari tubuh Sisil.


Sisil dengan senggukan berusaha untuk berdiri dan berjalan dengan terseok-seok agar lebih cepat meninggalkan tempat menyeramkan itu.


***


Farel memasuki rumahnya dengan langkah gontai. Tubuhnya perlu dibasahi air dingin agar lebih rilex. Hari ini adalah hari yang melelahkan untuknya.


"Assalamu'alaikum," ucap Farel saat mendapati keluarganya, termasuk Xander dan Mayang, sedang berkumpul di ruang keluarga.


"Wa'alaikumussalam,"


"Dari mana, Rel?" Tanya Raima.


"Main,"


"Main ke mana lo? Kok gak ajak kita?!" Sewot Dylan.


"Gak penting," sarkas Farel dan segera menuju kamarnya setelah melirik Fisha yang sudah baik-baik saja.


"Kenapa, sih, tuh, anak? Aneh banget,"


"Kecapean kalik,"


"ASZ?! DI MANA KAU?!" Teriak Ley datang tiba-tiba. Sungguh merusuh.


"Hey! Kau kenapa?" Tanya Xander.

__ADS_1


"Ayah, anakmu yang satu itu benar-benar tidak bisa ditebak!"


"Maksudmu? Tenanglah! Duduk sini!"


"Huh! Menyebalkan!"


"Kenapa?"


"Kau tau Ayah? Asz membuat keluarga Sisil, gadis yang membully Fisha tadi siang, bangkrut dalam hitungan detik!"


"Kau serius?"


"Tentu saja! Tiam yang memberi tahuku tadi,"


Xander mengehal napas dan menggelengkan kepalanya tak habis pikir, "Kenapa harus begitu?"


"Tentu saja agar lebih senang," balas Farel datang dan duduk manis di samping Ley.


"Ck, kenapa tadi kau tidak bilang padaku?!" Kesal Ley.


"Tidak penting," singkat Farel berpindah membaringkan tubuhnya di karpet bulu.


"Apa itu tidak berlebihan Farel?" Tanya Raima.


Farel menggeleng tegas, "Dia pantas mendapatkannya,"


"Tapi kenapa?"


"Sudah membully,"


"Tapi Fisha gak papa, Gus," jelas Fisha.


"Aku dan kau berbeda! Bukan hanya kau saja yang dibully dan aku harus menghentikannya,"


"Cih! Gengsi sekali kau! Kami semua tahu kau melakukannya hanya untuk Fisha," ejek Ley.


"Enyahlah kau!" Kesal Farel bangun dari posisinya ingin kembali ke kamar, suasana hatinya tiba-tiba memburuk entah kenapa.


"LEPASKAN AKU! AKU MAU BERTEMU ANAKKU!"


"TUAN! PERGILAH SEBELUM KAMI MEMANGGIL POLISI! TIDAK ADA ANAK TUAN DI SINI,"


Suara ricuh itu mendekati ruang keluarga, membuat mereka semua berdiri untuk melihat siapa yang akan masuk dan sudah membuat keributan di istana Pramayudha.


"RAIMA!! AKU INGIN BERTEMU DENGAN ANAKKU!" Teriakan itu berhasil menghentikan langkah Farel yang baru saja hendak menapaki anak tangga.


Dunianya terasa seperti dihantam ribuan batu besar. Dadanya sesak dan bergemuruh bersamaan. Rasa sakit yang telah lama dia pendam dan dia usahakan untuk sembuh, semua sia-sia. Rasa sakit yang teramat sakit itu kembali terbuka, bahkan lebih lebar.


"Anak anda? Siapa anak anda? Di sini tidak ada anak anda!" Suara Raima yang meninggi saat sosok ayah kandungnya berhasil masuk semakin membuat kaki Farel tak mampu lagi menopang tubuhnya, hingga tubuh tegap itu terduduk meringkuk di lantai.


"Tidak! Tidak Raima! Dia anakku! Aku hanya ingin bertemu dengannya dan meminta maaf,"


"Dia anakku bukan anakmu!" Geram Hutama.


"Pergilah! Permintaan maaf anda tidak berguna! Tidak akan bisa menyembuhkan lukanya,"


"RAIMA?!"


CTAAARRRR!!


Suara pecahan itu membuat semua menoleh ke arah Farel yang berusaha berdiri dari posisi meringkuknya.


"Sudah cukup aku lari dari semua kenyataan ini! Aku tidak akan membiarkan Umma terluka lagi," lirih Farel dalam hatinya.


"Farel?!" Panggil pria itu, yang tak lain dan tak bukan adalah Adji Barra, ayah kandung Farel.


Adji tidak datang sendirian, melainkan bersama istrinya, Asoyya, dan Zacky. Namun juga ada satu pria yang Farel tidak kenal.


"JANGAN MENDEKAT!" Teriak Farel menodongkan sebuah guci kecil saat Adji hendak mendekatinya.


"Farel, ini Papa!"


Farel berdecih sinis dan melempar guci itu tepat di kaki Adji.


"Papa? Papa? Papa? Saya tidak punya Papa! Saya hanya punya Abah! Enyahlah kau!" Murka Farel dan untuk ketiga kalinya memecahkan guci.


"Farel, tenang! Jangan bahayakan diri kamu!" Ucap Hutama melangkah mendekati Farel dan memeluknya erat.


Farel menggeleng dan melepas pelan pelukan itu, "Dia harus pergi! Dia akan melukai Umma! Aku tidak mau Umma kembali terluka karena pria baj*ngan ini!!" Teriak Farel dan menend*ng Adji, hingga ayah kandungnya itu tersungkur ke lantai.

__ADS_1


"Farel, anak Umma sayang, tenang, Nak! Umma gak papa," ucap Raima yang direspon gelengan oleh Farel.


"Rel, Om ke sini mau minta maaf sama lo, sama Umma lo! Gue juga mau minta maaf sama lo. Gue gak tau kalau ternyata kita sepupuan," ucap Zacky yang lagi-lagi membuat tawa menyeramkan terdengar dari Farel.


"Aku tidak butuh maaf kalian! Sampai kalian mencium kaki Ummaku pun, rasa sakitnya tidak akan pernah terobati! KAU TIDAK TAHU BAGAIMANA MENDERITANYA UMMAKU DULU!" Teriak Farel yang kini berganti menend*ng Zacky.


"Bahkan aku tidak mau mengakuimu sebagai saudaraku!"


"Kalau lo gak mau maafin gue, terserah lo! Tapi terima maaf Om gue! Gue gak tega liat dia setiap hari nangis atas penyesalannya,"


Tawa Farel semakin menggema di ruangan besar itu, menambah kesan mengerikan. Terlihat jelas bahwa pria itu sudah seperti psikopat.


"Dia pantas menderita atas penyesalannya! Dia pantas mendapatkan itu! Bahkan apa yang dia terima sekarang, tidak sepadan dengan apa yang aku dan Ummaku tanggung selama 17 tahun!"


"Di mana dia selama 17 tahun ini?! Di mana dia sebagai seorang ayah?! Di mana dia?! Di mana dia dulu?! Kenapa setelah 17 tahun baru menampakkan wajahnya?! Kenapa dia memberikan luka untuk Ummaku?! Karena aku anak pembawa sial?! Iya?!" Teriak Farel semakin tak terkendali.


"Farel," bisik Raima memeluk Farel sangat erat, hingga Farel tak mampu memberontak.


"Jaga emosinya, ya, Sayang?! Kalau kamu marah-marah, adik kamu yang di perut Umma ketakutan," bisik Raima yang berhasil membuat napas Farel mulai beraturan, pertanda emosinya mereda.


"Sudah tenang?" Tanya Raima saat Farel melepaskan pelukannya, Farel hanya mengangguk sebagai jawaban.


Farel melangkah mendekati Adji Barra dengan sorot tajamnya.


"Teruslah merasakan penyesalan Adji Barra! Aku akan sangat senang! Satu hal yang harus kau tahu! Aku selalu mengawasi pergerakanmu dan aku tahu semua yang telah kau lakukan," bisik Farel yang hanya bisa didengar oleh Adji.


"Fa---"


"Jangan sebut namaku! Aku benci saat bibirmu memanggilku!"


"Ta--"


"TUAN ASZ?!" Panggilan itu membuyarkan suasana tegang yang ada, ternyata suara itu berasal dari Tiam yang menghampiri Farel.


"Ada apa?"


"Orang tua Sisil meninggal bunuh diri karena tidak mampu hidup susah," bisik Tiam membuat Farel tersenyum senang, seolah-olah melupakan amarahnya tadi.


"Memang itu yang aku inginkan. Lalu gadis itu?"


"Sempat dijual oleh orang tuanya, namun si pembeli tak memberi bayaran. Bisa dibilang menipu. Sekarang dia dibawa ke Brazil untuk diperbudak,"


Farel tertawa dan mengangguk pertanda puas, "Kerja bagus, Tiam,"


"Terima kasih, Tuan. Namun ada satu hal lagi yang harus saya sampaikan,"


"Katakan!"


"Sedari tadi Nona Karaya menelpon saya menanyakan Tuan. Nona Karaya bilang, nomor Tuan tidak bisa dihubungi, membuatnya khawatir dan berakhir menangis,"


"Si*l, aku lupa," umpat Farel dan berlalu dari tempat keributan itu.


"Oh, ya, Tiam!" Panggil Farel sebelum menapaki anak tangga terakhir.


"Ya, Tuan?"


"Bantu aku usir keempat manusia pengganggu itu!" Titah Farel dan setelahnya benar-benar pergi tanpa berbalik lagi.


"Tanpa saya ulangi, sepertinya kalian mengerti ucapan Tuan Asz. Mau cara kasar atau halus?" Tekan Tiam pada Adji sekeluarga.


"Kami akan datang lagi di lain waktu,"


"Tidak ada 'lain waktu' itu untuk kalian!" Murka Hutama sebelum tamu tak diundang itu pergi meninggalkan istananya.


"Tiam, apakah kau tau hal ini akan terjadi?" Tanya Xander dengan mata berkilat marah.


"Maaf, Tuan, saya tidak tahu. Tuan Asz yang meminta saya untuk berhenti mengawasinya,"


"Selalu awasi dia! Aku tidak mau hal ini terulang lagi!"


"Baik, Tuan!"


"Sudah malam, kalian semua istirahatlah!" Titah Hutama.


"Jadi Bang Farel bukan abang kandung kita?"


Tbc......


^^^#as.zey^^^

__ADS_1


__ADS_2